2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Rencana Orang Tua Prass


__ADS_3

Sesuai rencana hari itu acara di selenggarakan pada siang hari. Acara shalawatan, santunan pada anak-anak yatim, dan di lanjutkan acara pengajian. Semua rangkaian acara sudah di susun sesuai urutannya, hanya saja acara sedikit mengalami kendala dan di mulai pada siang hari.


Orang-orang di sekitaran pondok selalu menunggu acara ini di selenggarakan setiap tahunnya. pondok pesantren milik ayah Hanafi memang akan mengadakan acara rutin tahunan itu, Acara semacam syukuran, berbagi rejeki juga santunan pada anak-anak yatim. Dalam acara itu biasanya juga di sediakan makanan dalam jumlah besar untuk siapa saja yang hadir . Saat acara selesai pun akan di berikan bingkisan kepada setiap orang, bingkisan biasanya berupa perlengkapan sholat untuk laki-laki atau pun perempuan juga berbagai jajanan kering untuk di bawa pulang.


Insha terlihat menguap, matanya juga mulai mengantuk saat ini sudah jam 8 malam Insha memang biasa tidur lebih awal. Saat ini di sampingnya ada ibu Prass yang slalu menemani sedari acara di mulai tadi, ia slalu duduk di samping Insha, kadang terlihat berbincang-bincang juga dengannya. Mereka duduk di kursi khusus yang sudah di sediakan untuk para keluarga pondok pesantren, tentunya di pisahkan antara laki-laki dan perempuan.


Kedatangannya juga menyita banyak perhatian orang, banyak yang bertanya-tanya siapakah Insha hingga bisa duduk di kursi para tamu, wajahnya yang cantik juga menjadi daya tarik tersendiri para santri-santri lelaki. Banyak yang tak bisa mengalihkan pandangan darinya, terpesona akan kecantikan Insha, tak heran ia menjadi salah satu pusat perhatian disana.


Insha mulai gelisah, bergonta-ganti posisi duduk karna dirinya yang mulai mengantuk.


Ibu Prass yang menyadarinya segera bertanya pada Insha.


"Sayang...apa kau sudah lelah...ayo kita masuk..."


Ibu Prass memegang tangan Insha lembut.


"Hehe...maaf tante saya mulai sedikit mengantuk..."


jawab Insha sambil membetulkan posisi duduknya.


"Baiklah ayo kita ke dalam, udara disini juga dingin...kita tunggu Prass di dalam saja ya..."


Insha hanya mengangguk pelan, dan mereka pun beranjak menuju ke kediaman keluarga pondok, dengan berjalan beriringan tangan ibu Prass juga terus menggandeng tangan Insha dengan hangat sepanjang jalan.


Mereka pun masuk ke dalam, Insha menggosok-gosok bagian kedua tangannya karna dinginnya udara malam.


Ibu Prass terus membawanya masuk sampai pada sebuah kamar, kamar dengan cat berwarna biru tua dan putih. Terdapat bed yang cukup besar di tengah, 1 kursi santai di sampingnya. Di sisi kiri terdapat sebuah meja dengan lampu tidur, di dinding depan meja itu terdapat sebuah kaca dengan panjang yang menjulang juga sebuah lemari besar di sebelahnya. Di sisi kanan sebelah kursi santai terdapat sebuah pintu yang sudah bisa di pastikan itu adalah kamar mandi.


"Istirahatlah disini Insha...aku akan segera kembali..."


"Tante mau kemana..."


"Aku mau ke acara dulu...mungkin acara sebentar lagi akan selesai..."


Ibu Prass ingin kembali ke acara itu, untuk menemui para tamu yang sebentar lagi akan beranjak pulang, tentu dia tak enak hati jika tak berada di sana, mengingat ia adalah keluarga pemilik pondok yang menyelenggarakan acara.


"Baiklah tante...maaf ya Insha merepotkan disini..."


"Tentu tidak sayang...aku senang kau kesini...istirahatlah...aku akan segera kembali..."


Insha hanya menjawab dengan sebuah anggukan, Ibu Prass pun tersenyum padanya dan segera keluar dan kembali ke dalam acara.

__ADS_1


Sementara Insha yang berada di kamar itu, merebahkan dirinya dalam kasur empuk dan memandang seluruh isi kamar.


"Sepertinya ini kamar kak Prass..."


gumam Insha pelan. Karna Insha melihat beberapa foto Prass terpajang di dinding sebelah lemari besar.


Tubuh Insha yang memang lelah, juga rasa kantuk yang semakin menjalar setelah ia merebahkan diri di kasur itu membuatnya perlahan tenggelam dalam alam mimpinya.


Satu jam setelahnya, Prass terlihat masuk ke dalam kediamannya, mencari keberadaan Insha ,Ibunya sudah mengatakan bahwa Insha sedang berada di kamarnya, istirahat menungggu acara selesai karna dia terlihat sangat mengantuk dan lelah.


Prass melihat di balik pintu yang terbuka sedikit, ia melihat Insha yang sudah tertidur pulas, Prass memandangi wajah itu. Semakin cantik dan menggemaskan, baru kali ini Prass melihat Insha saat tertidur, dan itu membuat Prass semakin terpesona akan kecantikannya, hatinya tak bisa lagi mengelak bahwa ia sangat mencintainya, dan ingin memilikinya seutuhnya.


Prass segera menutup pintu itu rapat-rapat membiarkan Insha tidur di kamarnya, juga mencegah dirinya yang ingin sekali mendekat pada Insha melihatnya dari dekat.


Prass menuju ruang tamu, ayah dan ibunya baru saja masuk dan menanyakan Insha pada Prass.


"Dimana Insha...."


"Dia tertidur di kamar bu..sepertinya dia lelah..."


"Biarlah dia tidur disini malam ini Prass...lagi pula ini sudah malam hari..rumah Insha juga jauh dari sini....lebih baik kau mengantarnya besok pagi..."


"Iya Prass...kau tidurlah di kamar tamu...biarkan Insha tidur disini...."


jawab ibu Prass ringan dan duduk di sebelah suaminya.


Prass hanya tersenyum sambil mengangguk, ia juga duduk di hadapan kedua oarang tuanya menyandarkan kepalanya di sofa.


Sesaat kemudian ayah Prass kembali berkalimat.


"Prass.."


"Hemm.."


Prass menjawab hanya dengan deheman saja, ia sudah lelah, bahkan matanya sekarang terpejam, malas untuk membuka lagi.


"Bagaimana kalau Insha tinggal disini.."


Prass langsung membuka mata, ia menatap ayahnya dengan wajah kaget sekaligus senang.


"Ti..tinggal disini..."

__ADS_1


"Iya Prass..lagi pula rumah ini kan sangat jarang kita kunjungi...akan lebih baik jika ada yang tinggal dan merawatnya..."


"Iya Prass...dan kau tak perlu lagi jauh-jauh mengunjungi Insha di rumahnya yang sekarang...yang butuh waktu berjam-jam untuk sampai kesana..."


imbuh Ibu Prass


"Ya....Insha juga bisa membantu mengajar disini...seperti di pondok cabang sebelumnya...dia akan lebih banyak teman disini Prass....dia tak akan kesepian lagi..."


ayah menatap Prass dengan tersenyum, seakan tau bahwa Prass sangat setuju dengan ide dari orang tuanya itu.


"Em...tapi bagaimana dengan Insha..apa dia mau tinggal disini...."


Prass menunjukkan sedikit gurat sedih di wajahnya, khawatir kalau-kalau Insha tak mau tinggal disini, Padahal ia sudah sangat antusias dan senang. Ya...karna Prass tentu tak perlu lagi jauh-jauh menempuh perjalanan untuk menemui Insha. Karna jarak rumah Prass dan pondok pesantren ini cukup dekat. Dan tentu Insha juga lebih aman disini karna banyak santri juga guru-guru yang mengajar yang tentu akan membaur dengan Insha. Dan satu lagi Prass bisa lebih tenang Karna Hanafi tak akan tau keberadaan dan mengunjungi Insha disini. Prass masih saja takut kalau Insha jatuh cinta lagi padanya, apalagi karna sikap Hanafi yang akhir-akhir ini sangat baik kepada Insha. Prass juga faham bahwa Hanafi ingin Insha mencintai dan bisa menerimanya lagi.


Percakapan antara Prass dan orang tuanya pun berlanjut sampai larut malam.


Prass tengah sangat senang dengan rencana kedua orang tuanya, sedangkan di lain tempat ada seorang yang tengah sangat kecewa dan bersedih.


Ya dia adalah Hanafi, dia sedang menunggu Insha di depan rumahnya. Sejak siang hari ia sudah berada disana, bersama baby sister Mirna dan juga Khanza yang slalu ada dalam gendongannya.


Hanafi berharap dengan membawa khanza yang sudah mulai tumbuh besar dan menggemaskan bisa membuka hati Insha lagi untuknya, Hanafi khusus membawanya kesana supaya bertemu dengan Insha. Keyakinannya masih tetap kuat bahwa Insha suatu saat nanti bisa menerimanya lagi.


Dari siang sampai sore bahkan malam, Hanafi hanya mondar mandir didepan rumah Insha. Ia sudah membawa berbagai kebutuhan Khanza tentunya untuk seharian berkunjung di rumah Insha. Tapi apa yang di dapatnya, ia dan Khanza malah tak bertemu dengan Insha sampai malam hari.


Hanafi mencoba bertanya pada sebagian orang yang lewat dan tetangga terdekatnya, tapi tak ada yang tau kemana Insha pergi saat itu.


Sampai udara menjadi semakin dingin. Mirna yang khawatir kepada keadaan Khanza mencoba membujuk Hanafi untuk pulang.


"Tuan...apa tidak sebaiknya kita pulang saja...kasian nona Khanza...udara sangat dingin disini tuan...saya takut itu berdampak pada kesehatan nona..."


Mirna menatap Hanafi penuh permohonan.


"Kau benar mbak lebih baik kita pulang..."


Hanafi menatap balik Mirna dengan rasa kecewanya, kemudian beralih menatap Khanza yang berada dalam gendongan Mirna.


"Maaf sayang...ayah lagi-lagi mengecewakanmu....ayo kita pulang...mungkin lain waktu kau bisa bertemu dengan ibu Insha mu.."


Hanafi mencium Khanza dengan hangat, lalu beranjak menuju mobilnya, pergi pulang dengan rasa sedih dan kecewa yang teramat sangat.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2