
Di rumah sakit Jaya Husada, dokter Arya tampak kebingungan setelah mendapat kabar keadaan Salma dari perawat yang menelponnya. Ia pun segera bersiap-siap untuk kedatangannya setiap waktu.
Cukup lama menunggu tapi tak ada kabar lagi dari perawat itu.
Dokter Arya pun duduk di kursinya menaruh kedua tangannya di meja dan membenamkan kepalanya disana, dia merasakan kantuk yang kembali menjalar di matanya.
Belum sempat tertidur tapi ponsel yang ada di samping tangan nya kembali berbunyi, membuatnya terkesiap untuk langsung mengangkatnya.
Tiba-tiba mata Arya terbelalak, mendapatkan kode darurat dari perawat Salma, perawat itu juga mengatakan kondisi Salma sekarang yang membuat Arya makin kebingungan.
Panggilan pun di tutup kini Arya membunyikan alarm darurat di setiap ruang dokter maupun para medis, dalam sekejab sudah banyak dokter yang hadir ke ruangannya.
Arya pun meminta para dokter itu untuk segera menyiapkan operasi caesar darurat, juga menugaskan beberapa para medis lain untuk menyiapkan tempat operasi darurat terdekat dengan pintu masuk, karna tak mungkin akan membawa Salma ke ruang khusus operasi yang bisa memakan waktu cukup lama, mengingat ada beberapa lantai disana.
Arya dan para dokter lain menunggu cemas di depan pintu masuk khusus yang di siapkan untuk Hanafi.
Sementara di dalam mobil, Hanafi terus saja menyuruh pak Tono untuk melajukan mobilnya sekencang mungkin agar segera sampai di rumah sakit.
Salma masih ada di pangkuan Hanafi, posisinya masih sama seperti Hanafi menggendongnya tadi.
Hanafi berurai air mata, tidak menyangka semua yang tengah terjadi kini. Ia menatap lekat wajah Salma disana,
"Maafkan aku Salma...Maafkan aku...ini semua gara-gara aku..."
Gumam Hanafi semakin erat memeluk Salma.
Hanafi memegang perut Salma mencari-cari posisi bayinya disana, dia kini juga di landa kekhawatiran tentang apakah bayinya bisa bertahan dengan kondisi Salma yang sekarang.
Mobil pun sampai di rumah Sakit, ketika mobil belum berhenti para medis sudah mendorong bed untuk meletakkan tubuh Salma disana.
Mobil pun berhenti dan pintu di buka oleh seseorang, terlihat dua para medis membantu Hanafi untuk meletakkan tubuh Salma perlahan di bed itu, lalu sesegera mungkin mereka berlari mendorong bed itu menuju ruang operasi darurat yang sudah di siapkan sebelumnya.
Terlihat dokter Arya menghampiri Hanafi dengan berlari, sedikit memberikan pelukan pada tubuh Hanafi yang terlihat lemah.
"Selamatkan mereka...selamatkan Arya...aku mohon padamu..."
tatapan Hanafi memelas penuh harap pada Arya.
"Tentu saja...percayalah pada kami...kami akan berusaha menyelamatkan keduanya..."
jawab Arya cepat sambil memberi isyarat pada seorang yang tak jauh darinya untuk membopong Hanafi ke ruang tunggu.
Tak lama setelah itu, terdengar tangisan dari seorang bayi yang di bawa oleh seorang perawat bersama dokter Arya keluar dari ruang operasi darurat itu.
Bayi mungil dengan paras yang cantik, bibir tipis yang merah merona, kulitnya juga tampak putih bersih dengan wajah yang menggemaskan ala bayi mungil. Hanafi langsung mendekatinya, air matanya semakin mengalir deras melihat bayi itu, tangan nya menutup mulutnya beserta tubuh yang semakin bergetar hebat menahan isaknya yang semakin keras.
"Dia selamat han...tapi maaf Salma tak bisa kami selamatkan..kami sudah berusaha memasang alat bantu pernafasan tapi sama sekali tak bereaksi padanya...jantungnya juga benar-benar berhenti..maafkan kami.."
__ADS_1
Arya berkata dengan menitikkan air mata, sambil menepuk-nepuk bahu Hanafi.
"Maafkan aku..aku harus segera merawat bayi ini...kondisinya masih rentan.. karna dia masih belum cukup umur untuk di lahirkan...semoga dia bisa bertahan..."
Arya berkata lagi, dan berlalu meninggalkan Hanafi disana yang masih terisak dengan kerasnya, tak dapat berkata apapun.
Cukup lama Hanafi terisak di ruang tunggu itu,masih dengan isaknya, Hanafi mencoba menelpon rumah utama. Tepatnya di area pembantu di lantai bawah. Dan kebetulan mbak Risna yang mengangkat telponnya.
Orang-orang di rumah utama sudah tidak bisa terlelap lagi, setelah mendengar suara histeris dari Hanafi tadi, menebak-nebak sebenarnya apa yang terjadi. Kecuali Insha yang lebih santai dan tidak peduli pada semua yang terjadi.
"Hallo m.mbak.."
Suara Hanafi terdengar terbata menahan isaknya.
"Kabarkan pada semuanya...bahwa anakku telah lahir..dia perempuan dan..."
Hanafi terdengar tak sanggup mengatakannya.
"Syukurlah den...lalu bagaimana keadaan nona Salma ....dan apa den.."
wajah Risna terlihat lega mendengar kabar dari Hanafi, tapi ia terus mendengarkan telpon rumah itu, terdengar isak tangis Hanafi. Risna pun penasaran kenapa Hanafi diam disana tak meneruskan kalimatnya, akhirnya Risna kembali bertanya.
"Dan apa aden..apa semua baik-baik saja.."
cukup lama Risna menunggu jawaban hingga akhirnya Hanafi pun menjawabnya.
"Kabarkan juga pada insha...bahwa Salma.... telah tiada..."
Kabar itu pun dengan cepat sampai di telinga semua yang ada disana. Dan mbak Risna yang di beri titah oleh Hanafi seakan tak sanggup mengatakan berita itu pada Insha, karna ia tahu Insha sangat tak menginginkan kehadiran bayi itu.
***
Insha masih menatap diam pada Hanafi seakan tak percaya dengan semua yang baru saja ia dengarkan, ia masih mencerna baik-baik perkataan itu.
"Salma meninggal.."
tanya Insha pada Hanafi tatapannya meminta penjelasan lagi.
"Ya Salma meninggal..."
Ntah kenapa tak ada sama sekali gurat kesedihan di wajah Insha, ia malah terlihat acuh dengan apa yang baru saja di dengarnya.Pandangannya sekarang kembali kosong menunduk ke lantai. Hanafi yang melihatnya pun terheran, ia segera mendekati Insha yang sedang duduk di lantai di samping tempat tidur itu.
Hanafi berjongkok di depan Insha, kemudian menatap Insha lekat dan berkata.
"Apa kau sama sekali tak merasa sedih dengan kepergiannya Insha..."
kata Hanafi dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
__ADS_1
"Untuk apa aku bersedih untuk wanita yang sudah menghancurkan rumah tanggaku...untuk wanita yang sudah berhianat di belakangku...wanita yang sudah merebut suami dariku...yang sudah membuat hidup ku menderita..penuh luka...bahkan sekarang dia juga meninggalkan bayi itu...yang menjadi sumber dari segala penderitaan ku..."
"Aku tak akan datang ke pemakaman nya...biarlah dia pergi...dia pantas mendapatkan semua itu..setelah semua yang dia lakukan..."
"Dan aku tak mau mengasuh bayi ular dalam hidupku lagi...suatu saat pasti dia akan mematukku lagi...seperti ibunya yang hina itu..."
terlihat jelas kebencian di wajah Insha kala itu, Insha ingin berkalimat lagi tapi Hanafi tiba-tiba membentak Insha dengan kerasnya.
"Cukuuup....cuukupp Insha....sudah cukup semua kata kotormu itu...jangan kau hina lagi Salma di depanku..."
Wajah Hanafi terlihat berapi-api, tangis nya sudah tidak ada lagi, dia sekarang berdiri tegap di depan Insha yang terduduk di bawah.
"Kau bahkan sudah sangat mencintainya...sehingga kau membelanya di depanku..."
tanya Insha dengan wajah penuh emosinya.
"Sudah cukup aku menuruti Salma untuk merahasiakan semua ini dari mu...adik yang bahkan tak tau terimakasih sepertimu..."
"Rahasia apa yang kau tutupi bersamanya...rahasia bahwa kau mempunyai hubungan spesial dengannya...bahkan sebelum kau menikahinya...katakan han..."
Insha berdiri di depan Hanafi dengan berani.
"Cukuuup Insha...aku bilang cukup...jangan hina Salma lagi...aku mohon padamu..."
ntah kenapa Hanafi malah meneteskan air mata lagi, masih dengan wajah penuh amarah tapi suaranya berubah pelan dan lirih.
Insha pun terdiam melihat reaksi Hanafi, lalu Hanafi segera berkalimat lagi.
"Dia bahkan telah menyelamatkan rumah tangga kita Insha...dia berkorban banyak untukmu..untuk kita...untuk kehidupan kita kedepannya...jangan kau menghardik dia lagi aku mohon..."
"Menyelamatkan...maksudmu..."
tatapan Insha penuh dengan pertanyaan.
"Dia rela mengandung untuk meneruskan keturunanku dalam keadaannya yang seperti itu...semua demi kau Insha...bayi itu untukmu...untuk kita.."
Insha semakin di buat geram dengan kata-kata Hanafi, ia segera menjawab dengan cepat.
"Aku bisa mengandung seorang anak..aku tidak perlu bantuannya untuk itu..."
Hanafi pun secepat kilat juga menjawab.
"Tidak bisa..kau tidak bisa insha..."
Hanafi menjawab di iringi isaknya yang kembali keras, ia pun berkalimat lagi.
"K...kaau tak bi..saa memiliki keturunan..."
__ADS_1
Jawab Hanafi menunduk dalam isaknya.
Bersambung...