
Insha masih ragu ia berdiri di tepian kolam renang, hanya memandangi Hanafi yang kini berada di dalam kolam, dengan hanya memakai celana pendeknya saja.
"Insha ayolah...temani aku..sini.."
"Aku takut mas..."
masih mematung di tempatnya.
"Takut kenapa..?"
"Aku tidak bisa berenang..."
"haha...tenang Insha kau tak akan tenggelam..airnya tidak dalam...hanya segini.."
menandai genangan air kolam yang sebatas perutnya.
ya aku tau mas...aku juga melihat..tapi kan badan mas han tinggi..kalau aku yang masuk ke kolam pasti tinggi airnya lebih dari itu...bisa-bisa sampai dadaku nanti...
Melihat Insha yang mematung di tempatnya, Hanafi pun keluar dari kolam dan menghampiri Insha.
Sambil tersenyum dengan manisnya Hanafi menggandeng Insha dan perlahan menariknya ke dalam kolam.
"Ayolah..temani aku Insha.."
Insha pun mengangguk meski dengan terpaksa, Hanafi melompat dahulu ke dalam kolam lalu mengulurkan kedua tangannya pada Insha. Perlahan Insha pun turun dan masuk ke dalam kolam, Hanafi memegangi pinggang Insha menurunkannya perlahan dalam kolam.
Benar saja dugaan Insha air kolamnya kini setingga dada nya,
"Apa kau mau belajar berenang...aku akan mengajarimu.."
memegang dagu Insha dan mengangkatnya pandangan mereka pun menyatu.
"Tidak mas han...aku takut..lagi pula kita kan tidak setiap hari akan berenang.."
sudah tersenyum manja menggoda Hanafi.
"Haha pintar juga kau rupanya.."
mencubit pipi Insha dengan gemasnya.
"Baiklah...kau bisa merasakan senangnya berenang sekarang.."
Hanafi sudah berbalik membelakangi Insha
"Maksud mas han apa.."
"Naiklah..."
"Naik...naiik kemana mas.."
Sudah bingung sendiri dengan kelakuan suaminya.
"Sini naik ke punggung ku.."
tangannya sudah melakukan gerakan hendak menggendong Insha dari belakang.
"Yang benar saja...apa tidak apa-apa mas han.."
"Memangnya kenapa kau istriku..siapa yang akan melarang...ayo cepat naiklah ke punggungku.."
Insha pun menurut dan naik ke punggung Hanafi.
__ADS_1
"Berpeganglah pada dadaku sayang...jangan lepaskan sebelum kita sampai di ujung sana.."
Hanafi memberikan instruksi dan menunjuk tepian kolam di ujung yang cukup panjang.
apa mas han bilang...sayang...
Belum sempat Insha menjawab tapi Hanafi sudah mulai berenang dengan membawa Insha di punggungnya, Insha pun terpejam sejenak merasakan takut kalau-kalau ia tenggelam bersama Hanafi yang tidak kuat menahan tubuhnya. Tidak mudah memang berenang dengan menggendong seperti itu.
Tapi bagi Hanafi apapun akan ia lakukan untuk membuat istri tercinta bahagia, karna di dalam batinnya tidak ada lagi yang dapat di bahagiakan, orang yang terdekat dengan nya sekarang adalah istrinya Insha.
Siang yang panas itu mereka habiskan di dalam kolam renang, ntah sudah berapa kali Hanafi bolak-balik berenang dari ujung ke ujung dengan menggendong Insha di punggungnya.
Merasa lelah pun Hanafi menelpon bagian pengelola villa untuk segera menyiapkan makan siang untuknya.
Makan siang pun sudah di siapkan di ruang makan dengan segala masakan khas negara X tersebut bau lezatnya nampak menggugah selera mereka berdua yang sudah nampak kelaparan setelah bermain air cukup lama.
Mereka berdua makan masih menggunakan piyama handuk putih dengan rambut yang masih sedikit basah.
Juga ada dua orang pramusaji di samping mereka membantu menyajikan dan mengambil makanan untuk mereka.
Perut pun sudah terisi penuh mereka beranjak menuju kamar, Hanafi berjalan sambil mengalungkan lengannya pada leher Insha.
"hmm kenyang sekali aku...keringkan rambutmu lalu ganti baju...kita sholat dulu lalu segera tidur ...aku ngantuk sekali.."
mengelus-elus perutnya sendiri lalu membelai lembut rambut Insha yang masih tergerai.
"Lohh kok tidur mas.."
memandang Hanafi dengan bingung.
"Memang apa yang kau mau sayang...apa kau menginginkan ku...katakan saja..."
"Iihh...tidak mas han...maksudku.."
"Apa..."
sudah mau mengecup bibir Insha tapi di tahan olehnya.
"Bukannya satu jam lagi mas akan menghadiri resepsi pernikahan teman mas han.."
"Haha..kau pikir aku datang ke negara ini untuk menghadiri acara itu.."
tertawa lepas dan mendorong tubuh Insha untuk berjalan lagi.
"Lalu mas datang kesini untuk apa memangnya.."
"Kau mau tau..."
menghentikan langkahnya dan memandang Insha lagi, kini tawanya sudah hilang seketika.
Wajahnya serius sekali...mas han marah ya..memang ada yang salah dengan yang aku tanyakan..
Takut sendiri dengan expresi Hanafi yang sekarang.
Mengangguk pelan mengiyakan kalimat Hanafi barusan.
"Aku kesini untuukk..."
secepat kilat menggendong tubuh mungil Insha dengan kedua tangannya, kini wajahnya sudah berubah tertawa lagi.
"Heyy mas...turunkan aku..ada yang melihat kita nanti.."
__ADS_1
"Biarlah memang apa yang akan mereka lakukan saat melihatnya..."
Memasuki kamar lau menurunkan perlahan tubuh Insha di tempat tidur.
"Sudah tau tujuan kita datang kesini.."
Insha pun tak menjawab hanya tersipu malu di hadapan Hanafi yang sekarang ada di atas tubuhnya.
"Untuk ini..."
******* bibir mungil Insha sampai membuatnya gelagapan.
"mas...mmmm"
tidak bisa berkata apa pun.
"Mas han....hentikan nanti waktu sholat keburu habis.."
Berkata sambil menutup mulutnya menghindari serangan Hanafi lagi.
"Hehe...oh iya..ayo ganti baju dulu..lalu sholat.."
menggaruk kepalanya merasa malu karna lupa tujuan awalnya pergi ke kamar.
Mereka berdua pun mengganti baju yang sudah di siapkan dan di bawa khusus dari rumah sehari sebelum mereka berangkat ke negara X.
Kemudian mereka pun melaksanakan sholat bersama dan terlelap sambil berpelukan mesra.
**
Ruangan tunggu VVIP gedung termegah negara X tempat di gelarnya resepsi pernikahan Reyhan.
Terlihat seorang lelaki memakai jas lengkap dengan dasi dan sepatu yang mengkilap tengah duduk sendiri di sofa empuk.
Di dalam ruangan itu juga berdiri seorang pengawal di depan pintu, ia tampak mematung berjaga untuk memastikan tak ada satu orang pun yang masuk tanpa ijin dari sang pemilik acara.
kenapa aku harus di kirim ke acara yang membosankan ini...
Kriss nampak jengah dengan keadaan sekitar sudah 15 menit berlalu setelah kedatangannya dengan puluhan pengawal yang di persiapkan mengantarnya dari villa menuju ke gedung acara.
Ia di persilahkan untuk berada di ruang tunggu tanpa ada seorang pun yang menemaninya kecuali pengawal yang mematung tanpa sepatah kata pun di depan pintu itu.
Kriss tampak mendengus beberapa kali sambil menatap layar ponselnya, melihat apapun yang menurutnya bisa menghilangkan rasa bosannya.
Klik....
suara pintu terbuka.
Kriss pun menoleh tampak seorang berjas pengantin datang menghampirinya lalu disusul dengan sang pengantin wanita yang berjalan mengekor di belakangnya, ya..dia adalah Reyhan dan sang istri pencetus bulan madu dadakan sang tuan muda karna undangan resepsi pernikahannya.
Reyhan memeluk Kriss dengan hangatnya yang tentu saja tak di sadari olehnya bahwa yang di peluknya sekarang bukanlah Hanafi teman masa kecilnya melainkan Kriss sang pria bayangan tuan muda.
Tak ada seorang pun yang curiga akan penyamarannya, karna mereka bagaikan 1 manusia salam 2 tubuh sulit untuk membedakannya asalkan Kriss tak melepas masker yang slalu di pakainya maka semua akan aman.
Lagi pula tak akan ada orang yang berani melepasnya ketika berhadapan dengan lelaki yang mereka kira pemilik Wijaya group itu. Semua orang akan merasa hormat padanya, jangankan hanya teman masa kecilnya para petinggi negara saja sangat menghormati kehadirannya.
"Terimakasih han...kau sudah menyempatkan hadir di resepsi pernikahan ku..."
Perkataan Reyhan memecah keheningan sambil menepuk-nepuk pelan punggung Kriss.
Bersambung...
__ADS_1