
kenapa kau tak jujur padaku kak..tentang kehamilanmu...tentang kondisiku...setidaknya aku tak akan terlalu membencimu seperti ini...
aku kecewa padamu..kenapa kau lakukan semua ini demi aku....lihatlah kondisimu sekarang...kau bahkan menyerahkan nyawamu hanya demi sebuah kehidupan baru...
aku tau niatmu sangat baik..tapi caramu salah kak...bukan kebahagiaan yang kudapat...tapi kau malah menabur duri dalam hidupku..luka yang akan sulit untuk sembuh...
aku pun tak tau ...apa aku sanggup untuk merawatnya...karna melihatnya saja aku tak mampu...aku menginginkan seorang bayi...tapi tidak dengan cara seperti ini....
kau berharap bisa menyatukan kami dalam ikatan rumah tangga...dengan seorang anak di dalamnya...tapi entah kenapa kini seiring berjalannya waktu...kata bahagia itu seakan hilang dalam hidupku...
akibat luka yang kalian buat...akibat semua yang terjadi ini....aku tak tau kehidupan apa yang akan aku jalani nanti...bahkan tak ada lagi cinta dalam hatiku untuknya....
semua telah hilang....telah hancur...
Perasaaan sedih, kecewa, amarah, rasa terhianati, merasa bersalah semua bercampur menjadi satu, apalagi saat mengetahui kondisinya kini yang tak dapat memiliki keturunan, Insha sangat hancur kala itu.
Ntah apa yang benar-benar ia rasakan tapi hatinya terasa sangat perih, bahkan lebih perih dan sakit dari sebelumnya. Ia sampai tak bisa mengexpresikan perasaannya kini, Insha hanya bisa menangis di depan jasad Salma tanpa mengatakan apa pun.
Air matanya terus mengalir di pipi meronanya, menahan semua rasa dalam hatinya, tubuh Insha seperti melayang, ringan dan semakin ringan. Semakin lama ia bahkan tak bisa menahan beban tubuhnya, otot dan tulang disana terasa tak memiliki kekuatan.
Posisi Prass yang lebih dekat dengan Insha menyadari ada sesuatu hal yang aneh darinya. Kakinya yang mulai gemetar bergerak lamban ke kanan dan ke kiri, mengikuti berat tubuhnya.
Prass ingin memgambilkan sebuah kursi untuk Insha, karna melihat tubuh itu yang mulai melemah, tapi belum saja ia menjalani niatannya itu, tubuh Insha sudah ambruk ke belakang.
Prass yang sudah menyadarinya segera merengkuh tubuh lemah itu dalam pelukannya.
Hanafi yang melihat tubuh Insha yang ambruk segera berlari kecil, ia hendak meraih tubuh itu dari pelukan Prass. Tapi Prass lebih dulu menggendongnya dan membawa Insha pergi dari ruangan itu, di ikuti oleh para medis yang sudah berjaga disana.
Hanafi ingin mengekor di belakangnya, tapi di hadang dengan seorang pengawal yang memberitahukan bahwa semua perihal pemakaman Salma sudah siap, Hanafi pun urung mengikutinya, ia mengurus beberapa hal dan memberikan titahnya lagi pada para pengawal itu sebelum melihat keadaan Insha.
Di ruangan khusus Prass berusaha membangunkan Insha bersama para medis.
"Insha...Insha...bangunlah...Insha..."
Prass duduk di samping bed menepuk-nepuk pipi itu lembut dan tangan satunya memegang erat tangan Insha mengelus-elus jemari Insha dengan ibu jarinya.
Setelah cukup lama Insha pun tersadar, seketika Insha kembali berderai air mata disana.
"Jangan menangis Insha...ini sudah takdirnya...biarkan dia pergi dengan ihklas...."
__ADS_1
"Jangan menangis...itu akan membuatmu semakin lemah Insha...."
"Apa kau sudah makan sesuatu tadi..."
Insha tak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya pelan.
Prass pun meminta salah satu perawat disana untuk menghidangkan sesuatu untuk Insha.Satu nampan makanan lengkap pun dengan cepat terhidang disana.
Prass mengambil satu buah mangkok berisi sup ayam hangat , ia mengambil satu sendok dan menyodorkannya pada mulut Insha.
Insha hanya menggelengkan kepalanya, ia malah menoleh ke arah lainnya menghindari suapan itu.
"Insha...ayolah makan sesuatu...beri tenaga untuk tubuhmu..kau sangat lemah...aku tak bisa melihatmu seperti ini.."
Bagaimana pun perasaan yang sudah tumbuh di hati Prass saat pertama kali bertemu dengan Insha di cafe cokelat itu tak bisa hilang begitu saja. Wajah Insha yang cantik sempurna akan membuat siapapun jatuh hati padanya.
Prass terus membujuk Insha disana, hingga akhirnya Insha bersedia makan dari tangan Prass.
Tepat saat itu Hanafi masuk dalam ruangan, melihat pemandangan Prass yang menyuapi Insha disana, sesekali tangan Prass mengusap bibir Insha karna sup yang menetes di ujung bibirnya.
Hatinya terasa terbakar , bayangannya kembali pada saat Hanafi membawa Salma ke rumah utama dan mereka makan di satu meja makan yang sama.
*mungkin ini yang dirasakan Insha dulu...terasa sakit melihatku bersama*nya...
Hanafi menitikkan air mata disana, ia memilih mundur menutup pintu dan membiarkan semua yang terjadi disana.
Mereka pun sudah ada di pemakaman, sebuah pemakaman di perkotaan dengan kondisi terawat, tak ada rumput-rumput liar yang tumbuh, juga pohon-pohon yang di tanam sembarangan. Semua terlihat rapi dan bersih. Pemakaman hanya di hadiri oleh beberapa orang yang di kenal baik oleh Hanafi.
Hanafi baru saja menaruh tangannya di bahu Insha menjadi sandaran tubuh lemahnya. Tapi seorang pemuka agama disana berseru.
"Apakah jenazah sudah memiliki suami..."
tersentak dengan perkataan itu, Hanafi sempat ragu mengatakannya, tapi pada akhirnya ia mengaku karna memang mereka masih berstatus suami istri meski tidak tercatat di dalam negara.
"Ya pak...saya suaminya.."
Beberapa orang yang datang disana pun cukup terkaget dengan pernyataan Hanafi, tapi mereka hanya terdiam tak berani bertanya satu sama lain. Sebuah kejanggalan di hati mereka karna mendapatkan informasi bahwa kematian Salma terjadi setelah melahirkan seorang bayi. muncul sebuah praduga bahwa anak siapa sebenarnya yang di lahirkan, mengingat Hanafi mengaku sebagai suaminya.
Beberapa orang disana terlihat kebingungan menatap satu sama lain, tapi tak berani berspekulasi sedikit pun.
__ADS_1
Hanafi melepas tangannya pada bahu Insha pelan, belum sempat terlepas tapi tangan Prass sudah siap menjadi sandaran lagi untuk Insha, Prass malah menaruh satu tangannya di bahu Insha mencoba memperkuat pegangan tangannya pada tubuh Insha.
Pandangan orang-orang yang ada disana kembali teralihkan melihat Prass. Seorang lelaki yang lebih tinggi dari Hanafi berwajah sangat tampan, juga gagah memeluk istri pemilik Wijaya group dengan eratnya.
Banyak praduga yang muncul lagi disana, tapi praduga apapun itu, tak berani di utarakan siapa pun mengingat siapa Hanafi. Tak ada satu orang pun yang berani menyebarkan berita apapun tentangnya, atau ia akan berurusan langsung dengan sang pemilik perusahaan terbesar di negaranya itu.
Hanafi pun turun ke liang lahat, ia mengadzani dan mengiqamahkan Salma untuk yang terakhir kalinya. Matanya terlihat berkaca-kaca dengan suara yang sedikit gemetar menahan tangisnya.
"Kak Prass"
kata Insha lirih.
"Ada apa In..."
berusaha menatap Insha yang berada dalam pelukannya.
"Bawa aku pergi dari sini...aku tak sanggup melihatnya..."
Prass tak menjawab, ia membopong tubuh Insha pelan menjauhi area pemakaman.
"Kak Prass...aku tak sanggup bersama Hanafi lagi...kau tau...bayi itu hanya akan mengingatkanku pada luka itu..meski aku sudah tau semuanya..."
Insha berkata sambil berjalan dan semakin menyandarkan kepalanya di dada Prass.
"Lalu kau akan kemana lagi Insha..Hanafi masih suamimu...Salma melakukan ini semua demi kau juga..."
Tak dapat di pungkiri sebenarnya Prass juga menginginkan Insha berada disisinya.
"Tapi aku tak sanggup...aku merasa tak berdaya...aku yang tak bisa mempunyai ke..."
kalimat Insha dipotong langsung oleh Prass dengan cepat.
"Huuushh...setiap manusia pasti punya kekurangan Insha...jangan bersedih...Tuhan pasti akan memberikan kelebihan pada sebuah kekurangan itu sendiri Insha..."
aku bahkan bisa menerimamu dengan segala kekuranganmu...jika kau bersedia hidup bersamaku...
Gumam Prass dalam lubuk hati yang paling dalam.
Sementara Hanafi yang baru saja naik dari liang lahat, tak melihat Insha di tempatnya tadi. Ia pun mengedarkan pandangan kesekeliling dan mendapati Insha yang tengah berjalan pelan di peluk erat oleh Prass menjauhi area pemakaman.
__ADS_1
Bersambung...