
"Huufh....untung saja hanya semalam...kalau tidak bisa gila aku jauh-jauh dari Insha..."
Gumam Hanafi pelan sambil melajukan mobilnya berangkat menuju kantor.
Ya Insha sore itu juga mual-mual akibat aroma tubuh Hanafi, akibatnya Hanafi semalaman tak di perbolehkan tidur di kamarnya. Karna Insha trus saja mual-mual bahkan muntah saat Hanafi ada di sebelahnya.
Tapi pagi ini saat Hanafi pergi ke kamar Insha dengan membawakan sarapan untuknya, Insha sudah bersikap biasa seakan tak terjadi apapun semalam. Insha malah bersikap manja pada Hanafi dan ingin selalu menempel padanya.
Tapi mulai hari itu Insha tak bisa mentolerir terhadap bau lemari yang membuatnya selalu mual. Ia sama sekali tak mendekat ke ruang ganti. Bahkan Insha sengaja meminta ruangan itu untuk di kunci dan berharap tak pernah mencium bau aneh itu lagi.
Malam pun tiba Hanafi dan Insha sudah berada di atas tempat tidur mereka berdua saling berpelukan di bawah balutan selimut tebal yang menghangatkan.
Mereka terdiam cukup lama setelah lelah bercanda dan tertawa karna membahas hal-hal yang membuat mereka tertawa lebar.
Di tengah diam, Hanafi yang sudah memejamkan mata sedikit terkaget dengan pertanyaan Insha.
"Apa kau juga pernah melakukan ini kepada Salma..."
Seketika Hanafi membuka matanya, seakan bingung dengan pertanyaan Insha, ia pun bertanya balik pada Insha.
"Melakukan apa sayang..."
"Memeluknya di atas tempat tidur seperti ini..."
"Perlukah kita membahas itu....aku tak ingin membahas apapun tentangnya...aku tak mau kau melakukan hal yang sama seperti dulu lagi..."
Insha makin bingung dengan pertanyaan Hanafi ia balik bertanya padanya.
"Melakukan apa maksudmu..."
"Aku tak mau kau meninggalkanku seperti dulu...aku takut....aku anggap kita sekarang sudah bahagia...mempunyai kehidupan yang kita impikan seperti dulu...dan aku kira tak perlu membahasnya lagi..."
"Kau takut...atau jangan-jangan kau..."
"Jangan perfikiran aneh tentangku sayang...aku tak pernah melakukan apapun padanya...sungguh...aku tak berbohong..."
"Kalau begitu jawab pertanyaanku.."
"Hmm...ya aku pernah..."
Hanafi menghela nafas panjang.
__ADS_1
Insha cukup terkaget dengan peryataan Hanafi, Insha menatapnya lekat.
"Pernah??"
"Ya...aku pernah memeluknya seperti ini..."
"Jadi kau..."
"Sudah aku bilang kan...aku tak mau membahasnya...aku tak mau kau terbawa emosi lagi jika membahas soal itu..."
Hanafi berada di dalam dilema besar dia tak mau menyakiti Insha lagi dengan menjawab pertanyaannya, tapi dia juga tak mau berbohong padanya.
"Kau pasti selalu berfikiran buruk padaku sayang saat kita membahasnya...dan aku tak mau itu..."
Insha melepaskan tangannya yang memeluk tubuh Hanafi dan berkata lagi.
"Baiklah aku tak akan berfikiran buruk padamu...tapi aku mohon jawab setiap pertanyaanku..aku ingin tau apa yang terjadi di antara kalian di belakangku.."
"Tak terjadi apapun sayang...aku tak pernah melakukan apapun..seperti yang aku katakan sebelumnya..."
Seakan tak mendengar kata Hanafi barusan Insha bertanya lagi.
Insha cukup penasaran pasalnya dalam diary Salma yang Insha percayai dia menuliskan bahwa Hanafi tak pernah tidur satu tempat tidur dengannya, untuk itu Insha cukup kaget dan penasaran dengan penuturan Hanafi yang mengaku pernah memeluknya.
"Hanya satu kali..."
"Apa kau berkata jujur.."
"Aku tak akan berbohong sayang.."
"Kapan...?"
"Dimalam Salma menghembuskan nafas terakhirnya....aku berada disana..dan aku memeluknya sebelum dia tiada.."
Insha menghela nafas panjang, ada yang tersayat di dalam hatinya.
"Kenapa kau memeluknya..."
"Dia terus mengeluh sakit di bagian kepalanya..badannya panas..dan dia memintaku untuk memeluknya...maafkan aku sayang..aku telah melanggar janjiku...aku menyentuhnya...tapi tidak berhubungan dengannya...aku memeluknya malam itu...ntah kenapa aku merasa iba dengan kondisinya yang sangat lemah dengan perut yang membesar seperti itu.."
"Apa dia mengatakan sesuatu sebelum dia..."
__ADS_1
"Ya....dia berkata ingin meminta maaf kepadamu...atas semua yang terjadi...dia ingin hubunganmu dan dia kembali seperti dulu..."
"Apa hanya itu yang dia katakan..."
Hanafi diam cukup lama, sampai Insha berkata lagi padanya.
"Apa hanya itu yang dia katakan..."
"Tidak..."
"Lalu apa..."
"Aku sungguh tak ingin membahasnya Sayang...lebih baik kita tidur...ini sudah larut tak baik untuk kesahatanmu..."
"Aku mohon...aku tak akan marah..."
"Apa kau berjanji tak akan marah..."
"Ya aku berjanji..."
"Tapi aku mohon jangan potong pembicaraanku sebelum aku selesai menjelaskan semuanya padamu..."
"Hmm..baiklah aku berjanji juga untuk itu..."
"Dia bertanya padaku apa salah jika dia mencintaiku...aku cukup bingung dengan pertanyaannya...dan maaf sayang aku pun menjawab mungkin aku juga akan mencintainya seiring berjalannya waktu...tapi sungguh aku sama sekali tak ada niatan untuk itu...aku tak memiliki rasa apapun padanya...saat itu dalam fikiranku kembali teringat perkataan Arya...bahwa suasana hati Salma harus selalu dalam keadaan senang, dia tak boleh ada beban fikiran...karna itu akan membantu penyembuhan tumor di otaknya..."
"Semua yang aku lakukan selama itu juga karna alasan tumor Salma...Arya selalu mengatakan untuk menjaga perasaan, hati dan fikirannya...karna sedikit saja suasana hati dan fikiran yang buruk bisa berdampak besar pada kesehatannya...."
"Terbukti memang...sejak kedatangan Kriss ke rumah utama waktu itu bersamamu...mungkin hati dan fikirannya sedikit terguncang...mulai saat itu juga keadaannya semakin memburuk...dia sering mengeluhkan sakit di kepalanya..hingga dia harus sering-sering pergi ke rumah sakit untuk mengecek kondisinya...kondisi tumor dan khanza yang masih ada dalam kandungannya.."
"Maaf juga untuk waktu itu aku membawanya ke rumah utama...karna aku tak mau kehamilannya menjadi fitnah di antara warga...tanpa warga tau apa yang telah terjadi di belakangnya...jadi aku memilih untuk membawanya ke rumah utama...dan tak ku sangka teryata itu menjadi sebuah kekacauan untuk hidupku.."
"Jujur sebenarnya aku sama sekali tak mengingingkan bayi itu...pernah sekali aku mencoba untuk membubuhkan sebuah obat kepada makanan Salma...obat untuk menggugurkan bayi itu yang sudah aku beli lewat situs online...fikiranku saat itu sedang kacau...aku tak ingin kehilanganmu...apalagi saat kau terus saja menghindari dan menjauh dariku...aku terasa harus menjadi 2 orang dalam diriku...di satu sisi aku harus selalu tersenyum untuk menjaga perasaan Salma..tapi di balik senyum itu ada tangis yang tak bisa tertahan saat aku kembali teringat tentangmu...tentang rumah tangga kita....di sisi lain aku ingin berusaha menyingkirkannya dari kehidupan rumah tangga kita dan ingin kembali menjalani hidup yang bahagia hanya denganmu..."
"Aku mengurungkan memasukkan obat itu...aku fikir semua ini memang salahku...salahku yang tak mengatakan semuanya dari awal...hingga terjadi kekacauan di antara kita...dan bayi itu adalah bayi yang tercipta karna keegoisanku..."
"Perhatian yang kau lihat untuk Salma semua hanyalah sekedar rasa tanggung jawabku terhadap bayi yang di kandungnya...juga terhadap penyakitnya yang selalu menuntutku untuk menjaga suasana hatinya...tapi demi Tuhan...sulit untukku melakukannya...apalagi saat melihat kau terluka..."
"Aku berperan seperti orang yang jahat untukmu demi Salma...aku minta maaf sayang...bahkan aku pernah membentakmu waktu itu karna itu...aku terlalu khawatir karna kondisinya...dan sekali lagi aku tak berdaya karna ada bayiku dalam kandungannya..."
Bersambung....
__ADS_1