2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Hilang tanpa kabar


__ADS_3

Mendengar berbagai keributan di halaman rumah utama, teriakan dari Prass maupun Hanafi, Salma tampak gemetar didepan rumah belakang.


Ia mencoba melihatnya, tapi di cegah oleh seorang perawat disana yang selalu memegang tangannya erat untuk tidak beranjak dari sana.


Salma juga terlihat terisak , ia khawatir pada keduanya, karna ia sama sekali tak pernah menyaksikan orang berkelahi apalagi sampai berteriak-teriak dengan amarah seperti itu.


Tubuhnya gemetar menahan tangis nya, rasa penyesalan sekarang hinggap di hatinya, sekelebat ia melihat lagi bayangan Prass yang sedang menangis dan memelas padanya memintanya untuk pergi bersamanya, menikah dengan nya, bahkan dia bersedia untuk bertanggung jawab terhadap bayi yang di kandungnya.


Sekarang kepalanya terasa sangat sakit, membuat tubuh Salma semakin lemas tak berdaya. Hatinya sedang merasa cemburu juga menyesal atas semua yang terjadi, ia juga khawatir karna kedua orang disana yang sedang meluapkan amarahnya. Bayi dalam perutnya sedari tadi menendang-nendang keras seakan tau kegelisahan yang di rasakan oleh ibunya.


Sementara Insha dia sekarang terkunci di dalam kamarnya, pak Sardi memaksanya untuk masuk ke dalam kamar atas perintah Hanafi.


Insha hanya bisa berteriak-teriak memanggil Prass yang sedang berduel dengan Hanafi, Insha ingin pergi dari sana, dari kehidupan Hanafi, ntah kemana Prass akan membawanya tapi yang jelas Insha menaruh harapan banyak pada Prass.


Setelah berteriak cukup lama Insha pun terdiam karna tak ada seorang pun yang mendengarkannya. Insha kini duduk di tepi tempat tidurnya, menitikkan air mata mengingat kembali betapa Hanafi mempertahankan Salma tadi saat bertengkar dengan Prass. Dari situ Insha pun menyadari bahwa perasaan Hanafi pada Salma juga cukup dalam.


Sekarang Insha malah khawatir dengan keadaan Prass karna Hanafi tadi sempat menyuruh pak Sardi untuk memanggil para pengawalnya ke rumah utama, ia takut kalau Prass di hajar oleh para pengawal itu. Hati Insha gelisah, takut dan khawatir tapi tak dapat berbuat apa pun saat ini, kakinya terlihat di hentak-hentakkan beberapa kali ke lantai karna rasa kesalnya.


Tak terasa hari pun sudah berganti sore, Insha yang sedari tadi menunggu kepastian akan Prass tak kunjung mendapat jawaban.


Sampai ada seseorang yang membuka pintu kamarnya, seketika Insha berdiri dan menghampiri pintu itu, teryata Hanafi muncul dari balik pintu.


Wajahnya tampak memar di sana-sini, hidungnya terlihat ada sedikit luka di bagian tengahnya. Insha cukup kaget dengan kondisi Hanafi sekarang, tapi ia sama sekali tak bertanya tentang keadaannya. Insha malah menanyakan Prass pada Hanafi.


"Dimana kak Prass..."


Tanya Insha dengan wajah marah bercampur khawatir, ia juga hendak keluar dari pintu itu untuk melihat apakah Prass masih berada disana, bahkan ia ingin memastikan sendiri keadaannya. Tapi tangan Hanafi segera memegang lengan Insha dan menariknya ke dalam lagi, kemudian ia segera menutup pintu itu.


"Jangan kau cari lagi keberadaannya..dia tak akan pernah datang kesini lagi..."


Jawab Hanafi dengan tatapan kosongnya.

__ADS_1


"Apa yang telah kau lakukan padanya han..."


Insha menatap Hanafi dengan tatapan memelas, khawatir terjadi sesuatu pada Prass.


"Aku melakukan hal yang terbaik untuk kita dan juga untuknya...jadi tenanglah..."


"Itu juga yang kau katakan padaku saat kau ingin menikahi Salma...tapi apa yang terjadi setelahnya....kau malah menghancurkan kepercayaan ku....kau berhianat dan ingkar dengan kata-katamu sendiri...memang benar kata kak Prass kau lelaki yang bodoh han...kau lelaki gila yang menyatukan kakak beradik dalam satu rumah tangga...dan itu membuatku membenci kehidupanku sendiri..."


Insha menghardik Hanafi dengan menitikkan air matanya, tanpa di sadari pun ia mulai membenarkan kata-kata Prass pada Hanafi.


"Diam lah Insha...cukup...sungguh aku benar-benar pusing dengan keadaan ini..."


tak di sangka Hanafi malah menjawab acuh pada Insha, dan di pun keluar dari kamar itu, sambil memegangi hidungnya yang terasa perih, ia pun kembali berkalimat.


"Makanlah..mbak Risna akan mengantarkan makanan mu setelah ini..."


"Kau benar-benar lelaki gila Han...aku benci padamu..."


**


Dan sejak hari itu sudah berminggu-minggu Insha mencoba menghubungi Prass dengan ponselnya, tapi sama sekali tak ada jawaban, nomornya juga sudah tidak aktif.


Insha semakin di buat frustasi dengan keadaan ini, orang satu-satunya yang bisa membuat dia bebas dari keadaan rumah tangga yang penuh penderitaan ini tiba-tiba menghilang tanpa kabar.


Insha juga sudah mencoba untuk mencarinya ke tempat yang sering di kunjungi Prass menurut penuturannya, tapi Insha sama sekali tak bertemu dengannya. Tentu juga dengan pengawasan pengawal yang selalu mengekor di belakangnya, yang kapan saja bisa mengadu pada Hanafi, tapi Insha tak peduli dengan itu, Insha terus mencarinya kemana pun.


Sudah seperti patah hati untuk kedua kalinya, Insha kini terlihat murung, berminggu-minggu setelah ia mencari keberadaan Prass yang bak di telan bumi, menghilang begitu saja tanpa jejak.


Terlepas dari hilangnya Prass, sejak saat itu Insha juga mendengar kabar dari para pembantunya bahwa keadaan Salma juga terlihat kurang sehat, dia sering bolak balik ke rumah sakit untuk mengecek keadaannya dan bayinya.


**

__ADS_1


Malam ini Hanafi seperti biasa tertidur di kamar Insha dengan jarak yang masih memisahkan mereka berdua, Insha bahkan terlihat tidur dengan sangat menepikan diri di tepian tempat tidur.


Tepat jam 01.20 Insha terbangun dari tidurnya karna terkejut dengan suara seorang yang membuka pintu kamarnya, seketika Insha menoleh, terlihat Hanafi yang berjalan perlahan keluar dari kamar itu dan menutup lagi perlahan pintu itu.


Hanafi sama sekali tak menyadari Insha yang melihatnya, karna ia keluar kamar sambil terus fokus menatap layar ponselnya.


Mau kemana dia malam-malam seperti ini...


gumam Insha dalam hati.


Karna terlalu mengantuk Insha pun langsung tertidur, bahkan saat dirinya belum membetulkan posisinya, ia masih menghadap ke arah pintu. Insha terlelap kembali ke dalam alam bawah sadarnya.


Insha terkesiap lagi saat sebuah suara tiba" berteriak dengan kerasnya,


"Siapkan mobil..cepat..."


Suara itu terdengar histeris juga bernada tinggi, ya itu adalah suara Hanafi, ntah apa yang terjadi tapi yang jelas suara itu berasal dari luar rumah tepatnya di rumah belakang.


Insha menatap jam di sampingnya 02:49 , Insha pun cukup penasaran sebenarnya apa yang terjadi di tengah malam seperti ini, sampai-sampai Hanafi berteriak sangat kencang dan mungkin membangunkan seluruh isi rumah utama.


Insha pun berjalan dengan tergesa, tidak khawatir dengan apapun dan siapa pun ia hanya merasa penasaran dengan apa yang terjadi disana.


Insha membuka tirai jendelanya sedikit untuk mengintip apa yang terjadi, terlihat Hanafi disana sedang menggendong Salma dengan perut yang sudah membesar. Tak terlihat juga wajah Salma kala itu karna tertutup oleh badan Hanafi, hanya temaram lampu yang menyinari sosok Salma dengan perut besarnya dengan tangan yang menjuntai begitu saja ke bawah.


Hanafi juga tampak sangat panik, ia menggendong Salma sambil berlari, menuju mobil yang sudah di siapkan bahkan di depan taman rumah belakang itu. Dalam fikiran Insha mungkin Salma sedang tidak sadarkan diri makanya Hanafi sepanik itu, takut-takut terjadi sesuatu pada Salma dan calon anaknya.


Hmm..drama apa lagi yang dia buat sekarang...di tengah malam seperti ini...tidak mungkin juga dia melahirkan usia kandungannya bahkan masih 8 bulan..


"Hmmm...."


Insha mendesah kesal, mendengar dan melihat semua kejadian itu di tengah malam yang mengganggu tidurnya, Ia pun melemparkan tubuhnya begitu saja di tempat tidur membiarkan matanya terpejam lagi dan tak peduli dengan semua yang terjadi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2