2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Hujan Badai


__ADS_3

Langit sore yang biasa berwarna keemasan dengan pancaran mentari yang akan tenggelam selalu membuat takjub penduduk di bumi.


Di hiasi dengan burung-burung yang terbang bebas kembali ke peraduannya.


Menandakan hari akan mulai usai dengan segala kesibukannya.


Tapi berbeda dengan sore ini, langit terlihat tak bersahabat, tampak gumpalan-gumpalan yang menghitam berjejer rapi disana.


Mentari cerah juga tak lagi menampakkan sinar keemasannya.


Beberapa hari ini memang cuaca tak menentu, hujan badai dengan angin yang kencang sering kali menerjang. Membuat siapa pun merasa was-was saat cuaca buruk sedang melanda.


Insha masih berada di tempat tidurnya, menatap malas ke arah jendela, melihat ke arah luar yang terlihat sangat gelap seperti segera menuju malam.


Insha melirik jam digital di sampingnya,


"Masih jam 4 sore..tapi sudah seperti jam 6 sore...sepertinya akan turun hujan sebentar lagi..."


gumam Insha dengan malasnya.


"Mas han pulang jam brapa ya.."


Insha mencoba meraih ponsel di dekatnya, mengetikkan pesan singkat untuk Hanafi


'sayang pulang jam berapa...di luar mendung sekali..cepat pulang ya sebelum hujan turun..'


pesan itu pun terkirim.


Insha masih menggeliat ke kanan dan ke kiri tubuhnya terasa malas untuk bangun. Dilihatnya ponsel yang belum tampak ada balasan dari Hanafi.


Ia pun memutuskan segera beranjak ke kamar mandi membersihkan diri, dengan langkah yang sedikit lamban untuk berjalan.


hmm..kenapa tubuh ini susah sekali di gerakkan ya...apa mungkin aku tadi terlalu lelah...kenapa juga hatiku rasanya aneh begini..


Oh ya...kue coklat lumerku..aku ingin memakan lagi satu, sebelum mas Hanafi datang nanti...


Insha pun seketika tersenyum mengingat rasa kue coklat lumernya yang meleleh di mulut.Seketika semangat nya kembali bangkit, ia membayangkan wajah tampan Hanafi yang tersenyum manis ketika menikmati kue buatannya nanti.


Insha pun berjalan riang ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selesai melaksanakan ritual mandinya yang cukup lama, dan juga melaksanakan sholat di dalam kamarnya.


Insha kini berdiri tepat di depan jendela kaca di ujung kamarnya, kaca itu tampak tinggi menjulang bahkan melebihi tinggi tubuh Insha sendiri.


Insha menatap sedih ke arah luar rumah, mendung semakin menghitam malah sekarang sudah turun hujan ringan, di sertai angin yang terlihat menyapu butiran-butiran air yang mencoba turun membasahi tanah.


Dari kejauhan terlihat juga kilatan-kilatan cahaya petir yang menyambar di tengah hitamnya awan.


Duuuaarrr....


tiba-tiba saja suara petir terdengar sangat keras, membuat Insha terkaget sampai tubuhnya sedikit melompat mundur dari jendela.


Menutupi dada dengan kedua tangannya.


astaga...kencang sekali petirnya...


Ntah kenapa sejak tadi hatinya terasa ada yang mengganjal, Insha sendiri tak dapat menafsirkan rasa apa yang sedang ia rasakan.


kenapa sedari tadi ada yang aneh ya...oh mas han..ada apa denganmu..semoga kau baik-baik saja..


Insha tersadar mengingat Hanafi yang tak kunjung muncul di hadapannya. Tadi siang setelah Insha selesai membuat kue, ia mengirim pesan singkat pada Hanafi beserta foto kue yang telah di buatnya.

__ADS_1


'Sayang..cepat pulang ya..aku merindukanmu..oh ya aku membuat kue coklat lumer..apa sayang mau mencobanya nanti...'


pesan terkirim lalu di sertakan foto kue yang di buat Insha yang terlihat menggoda dengan lelehan coklatnya.


Hanafi pun membalas dengan cepat.


'Aku akan pulang lebih awal hari ini sayang..pekerjaanku sepertinya akan selesai sebentar lagi...tunggu aku ya...aku juga merindukanmu wanitaku...'


sedetik kemudian terlihat pesan lagi.


'aku mau..aku mau..waah..kau pintar sekali membuatnya...kelihatannya juga lezat..'


Sedetik kemudian terlihat pesan lagi.


'tunggu aku pulang ya sayang'


Insha pun membalasnya dengan wajah merona.


'Aku akan slalu menunggu mu sayang..hati-hati di jalan ya...'


Insha berjalan menuju tempat tidurnya segera mengambil ponsel yang tergeletak disana.


Rupanya belum ada balasan dari Hanafi.


Ia pun mencoba untuk mengirim pesan lagi.


'sayang...kau ada dimana..di luar sudah turun hujan...hati-hati ya..'


pesan terkirim.


Insha menatap lagi ke luar jendela hujan pun turun semakin lebat, juga angin yang semakin kencang, kilatan-kilatan petir juga tampak menyambar di tengah hitamnya awan membuat suara gemuruh yang menakutkan.


Insha menatap berkali-kali ponselnya tapi sama sekali tak ada jawaban, padahal biasanya Hanafi selalu membalas cepat pesan darinya.


Duuaarrr...


suara petir terdengar semakin mengamuk di luar sana.


Insha pun mengurungkan niatnya untuk melakukan panggilan pada Hanafi, ia takut bermain ponsel saat keadaan hujan petir seperti ini.


Insha pun meletakkan ponselnya begitu saja di tempat tidur, sekarang ia terlihat berjalan bolak-balik di dalam kamarnya, ada rasa khawatir dan juga rasa aneh di hati yang sedang ia rasakan sekarang.


Di tengah kekhawatiran itu, Insha teringat ia belum makan apa pun sedari siang tadi, hanya mencicipi kue coklat lumer buatannya . Di bayangannya kembali terlintas wajah Hanafi yang marah saat Insha menunda-nunda jadwal makannya.


Insha sempat bergidik takut, lalu sedetik kemudian tersenyum karna ia bahagia bisa mendapat suami yang perhatian seperti Hanafi, meski kadang perhatiannya pada Insha terlalu berlebihan, tapi Insha bahagia dan menikmatinya.


Ia pun memilih berjalan dan sedikit melupakan rasa khawatirnya untuk turun ke lantai bawah, untuk memakan sesuatu disana.


Insha memilih untuk membuat sandwich dengan daging asap yang sudah sangat ia kuasai cara membuatnya.


satu buah Sandwich pun sudah selesai di buat, ia meletakkannya ke dalam piring, dan mengambil 1 kotak kecil jus jambu merah di dalam kulkas, lalu membawanya ke meja makan.


Insha pun menyantapnya sambil terus mendengar suara gemuruh petir di luar sana.


Ia tampak melihat-lihat ke segala arah, rumah juga tampak sepi, tak ada seorang pun yang terlihat di dapur seperti biasanya.


Setelah menghabiskan sandwich dan jus buahnya, ntah kenapa ia masih merasa lapar ia teringat kembali kue coklat yang di buatnya.


Ia pun mengambil satu buah dan memakannya di meja makan yang ia tempati tadi.


Ia menyiapkan kue coklat lumer pada sebuah piring marmer cantik, ia menata rapi beberapa kue disana, juga menyiapkan dua sendok kecil di sebelahnya. Berharap nanti ketika Hanafi pulang ia akan memakannya bersama.

__ADS_1


Ia pun membawa piring berisi kan kue itu ke dalam kamarnya, sambil menunggu sang suami pulang.


Hari pun sudah gelap, tapi hujan di sertai angin dan petir belum saja mereda. Insha berulang kali mencoba menghubungi ponsel Hanafi tapi tak ada jawaban ataupun balasan darinya.


Tok...tok..tok..


suara ketukan pintu.


"Masuk"


Risna pun masuk membawa satu nampan makanan untuk Insha.


Belum sempat masuk ke dalam kamar tapi Insha sudah bertanya padanya.


"Loh kenapa mbak Risna membawa makanan saya kesini mbak...saya akan makan malam nanti bersama mas Hanafi..."


"Sepertinya mas Hanafi akan pulang telat non, mengingat hujan yang semakin deras dan angin pula...lebih baik nona Insha makan dulu saja.."


sudah berjalan menaruh nampan itu di meja di dekat tempat tidur.


Memang sudah masuk waktu makan malam, Risna tak mau mengulangi kesalahannya yang dulu, ia lebih baik memaksa nona mudanya makan terlebih dahulu dari pada harus menunggu tuan mudanya yang tak tau kapan akan pulang.


Tak berusaha mencela atau pun membantah Insha pun langsung menyantap makanan yang di bawa Risna bahkan saat Risna masih ada disana.


"Terimakasih ya mbak Ris.."


kata Insha dengan mulut yang di penuhi makanan.


"Sama-sama nona..kalau begitu saya permisi dulu...kalau nona membutuhkan sesuatu nona bisa menghubungi saya...saya berada di dapur non.."


"Eemm..baik mbak.."


Risna pun menutup pintu dan berlalu pergi.


Setelah menghabiskan hidangan makan malamnya di dalam kamar, Insha masih saja gelisah melihat berkali-kali ponsel yang tak kunjung berbunyi.


"Sebenarnya kau kemana mas..aku khawatir sekali...cepatlah pulang..."


kini ada sesuatu yang menganak di ujung matanya.


Waktu pun bergulir begitu cepat jam menunjukkan pukul 10 malam, tapi Hanafi tak kunjung terlihat.


Insha menatap nanar kue coklat lumer yang sudah ia tata dengan rapi di meja kamar tidurnya.


Lalu menatap jendela kamar yang belum ia tutup dengan sempurna itu dengan tatapan sedihnya.


"kemana kau mas han.."


gumamnya pelan seraya menitikkan air mata.


Tepat pukul jam 11 malam ponsel Insha pun menyala, Insha yang sudah mulai mengantuk pun seketika terkesiap melihat cahaya ponsel di tengah kamar yang hanya di terangi lampu tidur itu.


"Mas han.."


seketika bergumam sambil menatap ponselnya.


Terlihat sebuah pesan dari Hanafi.


"Sayang..maaf aku tak bisa pulang malam ini...di luar terjadi hujan badai di sertai angin yang kencang...banyak pohon di jalan yang bertumbangan...maaf aku tidur di kantor malam ini...jaga dirimu baik-baik ya...aku mencintaimu wanitaku"


Insha pun tampak tersenyum lega membaca pesan yang sedari tadi di tunggunya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2