
Insha dan Hanafi pun masuk ke dalam kolam buatan yang sudah di siapkan. Hanafi berada di belakang tubuh Insha untuk menopang tubuhnya. Sementara Insha yang sudah mengalami kontraksi hebat sulit untuk di ajak komunikasi, sakit yang ia rasakan menghilangkan fokusnya.
Insha beberapa kali merintih dalam pelukan Hanafi, dengan suara gemetar pun Hanafi selalu menguatkan dan memberi semangat pada Insha.
"Kau bisa sayang...kau kuat..."
Sampai pada titik sang dokter menyuruh Insha untuk mendorong bayinya keluar, dengan sekuat tenaga Insha mendorongnya. Air yang tadinya jernih pun sudah berubah warna menjadi kemerahan karna bercampur dengan darah yang di keluarkan dari jalan lahir Insha.
Dokter hanya berada di samping kolam buatan memberi komando pada Insha untuk mulai mendorong, selebihnya Insha lah yang berusaha untuk mengeluarkan bayinya.
Keringat sudah bercucuran di tubuh Insha menahan rasa sakit yang teramat sangat saat kontraksi mulai terjadi beberapa jam sebelumnya, wajahnya terlihat pucat, tubuhnya lemas tapi dia terlihat menguatkan dirinya untuk selalu semangat dan kuat demi untuk melahirkan sang buah hati yang ia tunggu kehadirannya selama ini.
Infus pun sudah terpasang di pergelangan tangannya, untuk memberikan tenaga pada badan yang mulai terlihat letih itu.
Sampai pada suatu titik sang dokter memberi aba-aba lagi untuk mendorong bayinya, wajah Insha terlihat memerah dengan keringat yang makin bercucuran di seluruh tubuhnya, tangannya juga menggengam erat kedua tangan Hanafi yang berada di atas perutnya terdengar juga jeritan dari mulut Insha. Bersamaan dengan itu sang dokter segera memasukkan tangannya dalam air lalu mengangkat seorang bayi yang baru saja terlahir.
Dengan kulit yang masih memerah bayi itu menangis dengan kencang, sang dokter mengangkat tinggi-tinggi sang bayi dan berkata.
"Baby boy...."
Seketika suara tawa dan tangis haru bersahutan di dalam kamar tersebut. Melihat segala perjuangan Insha dan rasa sakit yang ia rasakan beberapa jam sebelum kelahiran anaknya, Hanafi seketika itu juga memeluk erat tubuh Insha yang sedang bernafas lega dengan senyuman dan tangisnya. Hanafi juga tak dapat membendung air mata harunya melihat seorang bayi tampan yang ada di tangan dokter sedang menangis dengan kencang, seorang anak yang dia tunggu-tunggu kehadirannya.
Hanafi menangis di bahu Insha sambil terus berbisik.
"Terimakasih sayang kau telah melahirkan anak kita...terimakasih...kau wanita hebat...kau wanita yang kuat...terimakasih..."
__ADS_1
Hanafi menciumi pipi Insha, karna kepalanya yang bersandar dan menengadah ke langit lunglai di bahu Hanafi.
Insha tersenyum dalam tangisnya melirik sekilas bayi yang berada di tangan sang dokter, rasa sakit yang dia rasakan tadi seakan sirna semua tergantikan oleh tangisan bayi yang sedang menggema di dalam ruangan.
Sang dokter memberikan Instruksi pada Hanafi keluar dari kolam untuk memeluk bayinya agar tidak kedinginan dengan udara yang baru. Sementara Insha masih harus berjuang lagi untuk melahirkan plasenta bayinya.
Beberapa jam setelah kelahiran, Insha dan bayinya sudah berada di tempat tidurnya, begitu juga dengan Hanafi yang selalu setia di sampingnya. Mereka melakukan panggilan dengan layar monitor yang menghadap langsung pada mereka. Panggilan pada rumah mewah Insha yang langsung di angkat oleh kepala pelayan disana.
Persalinan Insha tak diketahui oleh siapapun, pasalnya perkiraan kelahirannya masih 2 minggu lagi, tapi tiba-tiba Insha mengalami kontraksi tanpa di duga.
Seketika panggilan itu membuat seluruh isi rumah bergembira mereka bersorak penuh kebahagiaan menyambut kehadiran tuan kecil mereka. Tak luput dari Khanza, dia sangat gembira melihat wajah sang adik lelakinya yang sudah lahir ke dunia. Ketika Hanafi pulang Khanza terus saja bertanya tentang bayi Insha, dan ketika Khanza menerima panggilan itu dia melompat-lompat kegirangan sambil berteriak-teriak penuh semangat.
"Aku mempunyai adik....aku mempunyai adik..."
Kepulangannya itu pun di sambut dengan pesta yang sangat meriah yang sudah di siapkan khusus untuk menyambut tuan kecil baru keluarga Hanafi.
Rumahnya sudah di sulap dengan banyak dekorasi berwarna biru, para tamu undangan terpilih juga sudah hadir menyambut kepulangan mereka.
Para kolega bisnis Hanafi dan Insha yang di undang khusus untuk acara tersebut juga datang dengan suka cita, banyak juga yang membawakan hadiah untuk bayi kecil Insha. Hadiah bahkan sudah menumpuk di satu ruangan penuh yang sudah di sediakan khusus untuk itu.
Papan ucapan selamat juga berjejer rapi di sepanjang jalan menuju rumah mewah Insha.
tak lupa juga Prass dan Aisyah juga orang tuanya di undang dalam acara penyambutan tersebut.
Saat mobil yang membawa Insha dan juga bayinya mulai memasuki pelataran rumah para undangan yang ada di dalam dan luar ruangan segera berdiri dan memandang ke arah mobil yang sedang di tumpangi Insha.
__ADS_1
Sorak sorai ketika Insha keluar dari mobilnya dengan menggendong bayi bergema di halaman luasnya. Banyak yang bersalaman memberi selamat untuknya, klien dan kolega bisnisnya kadang juga berbasa-basi untuk bertanya tentang bayi Insha.
Seluruh tamu pun terdiam saat Hanafi dan Insha mulai naik ke atas altar khusus yang di buat dengan aksen berwarna biru dan di hiasi dengan balon-balon lucu berwarna senada, yang di bentuk sedemikian rupa menambah kesan lucu tapi elegan saat melihatnya.
Khanza selalu menempel pada Insha untuk melihat adik barunya, ia terlihat selalu mencium lembut pipi menggemaskan adik barunya itu berkali-kali.
Hanafi mulai membuka suaranya.
"Terimakasih untuk kalian semua yang telah hadir di dalam acara pesta penyambutan bayi laki-laki kami....kami bahkan tak menyangka pesta akan di buat semeriah ini untuk menyambut bayi kecil kami...."
Hanafi menggendong dengan hati-hati bayinya memperlihatkan wajah bayinya dengan jelas ke seluruh tamu undangan.
Dengan suara yang tegas dan lugas Hanafi berkata lagi.
"Saya beri nama bayi laki-laki saya Hafsah Abqari agam....Semoga dia selalu di berikan kesehatan dan kesejahteraan di dalam hidupnya....semoga dia selalu dalam lindunganNya dan tumbuh menjadi anak yang pintar dan sholeh...dia akan menjadi penerus keluarga Hanafi bersama anak perempuan saya bernama Khanza az-zahra sebagai kakak dari Hafsah adik lelakinya....Semoga mereka selalu rukun menjadi satu keluarga yang utuh bersama saya dan istri saya Insha..."
Insha menggandeng Khanza di sebelahnya dan Hanafi tanpa canggung langsung saja mencium pipi Insha di hadapan para tamu, lalu mencium pipi kedua anaknya bergantian.
Setelah itu pesta pun di lanjutkan dengan acara makan-makan dan hiburan musik yang sudah di sediakan oleh para pelayan rumah yang sudah mengaturnya dengan sangat rapi.
Insha pun masuk dan beristirahat sambil menyusui Hafsah, Sementara Hanafi menemui para tamu yang sudah hadir, menyapa mereka satu persatu dan mempersilahkan mereka menikmati pesta yang telah di mulai.
Pesta di lanjutkan sampai malam hari, karna masih banyak saja tamu yang hadir sampai larut malam.
Bersambung....
__ADS_1