
"Kau gila ya kak...Hanafi sedang berada di rumah sekarang...bagaimana kalau dia tau kau datang kesini...apalagi menemui Salma..."
Insha sudah menghardik Prass dengan wajah geramnya.
"Aku mohon Insha sebentar saja..."
wajah Prass sekarang memelas pada Insha.
Bagaimana pun hatinya rindu pada Salma, ia hanya ingin melihat wajahnya meski kini Salma bukan miliknya lagi.
Relung hatinya memang terasa sakit apalagi saat ingat kembali bahwa Salma telah bersuami dan tengah mengandung sekarang.
Tapi hati kecilnya terus saja merindu dan ingin segera menemuinya. Rasa cintanya pada Salma tak dapat menghilang begitu saja, ia masih saja berharap bahwa Salma bisa menjadi miliknya.
Tapi jujur saja Prass juga sedikit mempunyai perasaan pada Insha, sejak pertemuannya kemarin karna melihat kecantikannya ia mulai tertarik pada Insha. Apalagi kini muncul perasaan ingin melindungi karna semua yang sudah terjadi padanya. Seakan dia ikut bertanggung jawab atas semua yang terjadi, karna dia yang tak bisa datang kala itu, ia juga merasa bersalah pada Insha, hingga ia ingin membawanya lari dari Hanafi dan membahagiakannya.
"Kak tolong jangan melakukan hal yang gila disini...aku tak mau kau bermasalah lagi dengan Hanafi...semalam dia sudah marah padaku dan menyita mobil ku...lebih baik....aiiissh...Kak Prass..."
Insha berkata sambil sesekali menoleh kebelakang takut-takut kalau Hanafi tiba-tiba saja muncul dan melihat Prass disana, tapi saat Insha belum selesai dengan semua kalimatnya, Prass sudah terlihat berlari kecil menuju arah rumah belakang yang membuat Insha seketika terkejut dan menepuk dahinya sambil ikut berlari di belakangnya.
"Hey ..tunggu berhenti kak..."
runtuknya sambil berlari mengejar Prass.
Sementara Salma tadi sedang berjalan di samping rumah utama, setiap pagi ia rutin berjalan-jalan santai di sekitaran rumah. Itu ia lakukan karna untuk memperlancar persalinannya nanti, mengingat perutnya yang sudah tampak membesar dan semakin mendekati waktu persalinan.
Sudah bolak-balik beberapa kali Salma di jalanan samping rumah itu, melangkah maju ke arah depan lalu kembali lagi ke taman begitu seterusnya.
Ia sudah merasakan cukup lelah, di wajahnya terlihat bintik-bintik keringat yang mulai bermunculan.
Ia pun duduk perlahan di bangku taman sambil mengelus-elus perutnya lembut. Sesekali Salma tampak tersenyum merasakan tendangan bayi di dalam perutnya, lalu mengelus-elusnya lagi, berharap yang di dalam sana memberikan respon dengan menendang lagi.
Tiba-tiba suara seorang lelaki mengaggetkannya dari belakang.
"Apa kabar Salma..."
Salma tampak terkesiap dengan suara lembut itu, ia sangat mengenalnya, juga sangat merindukan suaranya. Suara yang selalu memuji kecantikannya, memuji betapa merdu suaranya, suara yang selalu di rindukan di setiap malam.
Tangan Salma tampak gemetar hebat, ia menoleh ke arah sumber suara itu.
Terlihat seorang lelaki yang sangat tampan, dengan kulit yang putih bersih,hidung mancung, bibir yang merah alami, memiliki lesung pipi,badannya tinggi juga memiliki tubuh yang lumayan kekar, rambut nya di potong rapi, ia memakai hem hitam dan celana jeans hitam membuat penampilannya semakin tampan menawan.
Ia tersenyum penuh cinta pada Salma, lalu sedetik kemudian ia memandang Salma yang sekarang sudah berdiri menghadapnya dengan perut yang sudah cukup membesar, kedua tangannya juga terlihat memegang lembut perutnya seakan melindungi apa yang ada di dalamnya.
"P..Prass...."
Salma berkata dengan terbata, matanya kini berkaca-kaca sedikit mundur dari tempatnya tadi.
Prass hanya tersenyum tipis sekarang, menatap tubuh indah yang selalu di kagumi dulu kini tlah jauh berubah. Prass semakin di buat teriris saat melihat sesuatu yang ada di dalam perut itu bergerak perlahan yang tentu bisa di tangkap jelas oleh matanya yang sedari tadi tak melepaskan pandangan dari sana.
__ADS_1
Salma kini terlihat semakin berkeringat, tangannya gemetar, mulutnya seakan kelu tak dapat mengeluarkan kata apapun, ia terkaget dengan kedatangan Prass disana.
Tamu yang sama sekali tak di harapkan kedatangannya.
"Kenapa Salma.. kau terkejut aku ada disini..."
Prass masih setia dengan senyum tipisnya.
"Aku telah memenuhi janjiku..aku pulang.. dan aku menemuimu..."
Salma hanya terdiam di tempatnya, perlahan ia menitikkan air mata.
"Kenapa kau menangis Salma...bukankah hidupmu sudah bahagia sekarang..."
"Kau sudah memiliki suami...bahkan kau sudah mengandung anaknya...sebuah anugrah yang selalu kau rindukan sejak dulu..."
"Jangan menangis karna aku...aku pun turut bahagia dengan kehamilan mu..."
Salma bergumam pelan yang masih terdengar oleh Prass.
"M...maaf.."
bahkan satu kata ia ucapkan dengan terbata menahan isaknya yang semakin keras.
Mendengar kata itu Prass segera mendekati Salma, perlahan ia melangkahkan kakinya.
"Maaf..."
"Maaf..."
"Bahkan jutaan kata maaf pun tak akan bisa mengobatinya Salma..."
"Aku selalu menjaga hatiku...pandanganku..perasaanku...cintaku..semua untukmu...tapi kenapa kau lakukan ini padaku..."
"Kau juga lakukan pada adikmu...kau bagi cinta suaminya...suami yang bahkan kau tau Insha sangat mencintainya.."
Prass menaruh kedua tangannya di bahu Salma lalu sedikit menggoyang-goyangkan tubuhnya.
"Katakan Salma...kenapa kau lakukan semua ini..."
Sementara Insha mendengarkan semua yang terucap disana, ia sekarang berada tak jauh dari taman itu, menjaga situasi agar tak ada seorang yang mengetahui Prass sedang bersama Salma, selain pak Sardi yang sudah di beri isyarat oleh Insha untuk membantunya diam.
"Bahkan orang tuaku juga mencari keberadaanmu Salma..mereka selalu membahas tentang pernikahan kita.."
"Apa yang akan di katakan orang tuaku jika mereka tau tentang dirimu yang sekarang...Kau sungguh mengecewakan mereka Salma.."
"Apa kau masih tak percaya dengan cintaku...masih tak percaya dengan kesetiaanku...."
Prass kini berbicara dengan menitikkan air mata.
__ADS_1
"Maafkan aku mas Prass.."
Salma kini menatap mata Prass dalam isaknya.
"Jika aku memaafkan mu...apa kau mau ikut dengan ku...aku tak peduli statusmu sekarang...dengan keadaan mu...ikutlah dengan ku...bahkan aku bisa memberikan kehidupan yang layak untukmu....aku akan bertanggung jawab dengan bayi ini...meski aku bukan ayah kandungnya..."
"Ikutlah dengan ku Salma.."
Prass terlihat memelas pada Salma, ia mengatakan banyak hal disana meyakinkan Salma untuk ikut dan berbahagia dengan nya.Ia mengesampingkan rasa sakitnya demi bisa hidup bersama Salma.
Sementara Insha yang sedang berjaga tiba-tiba di kagetkan dengan suara langkah kaki ke arahnya, ia seketika menoleh dan terlihat Hanafi sedang berjalan ke arahnya.
astaga....Hanafi....Hanafi datang...siapa yang memberi tahu nya...Kak Prass ....bagaimana ini..
Insha yang kebingungan segera berlari ke arah Prass dan Salma yang masih berdialog dengan isaknya masing-masing.
Insha seketika menggandeng tangan Prass dan menariknya untuk pergi, ia tak mau Hanafi melihatnya disana dan takut kalau perkekahian kembali terjadi.
"Kak Prass ayo pergi dari sini...Hanafi datang, dia pasti akan marah jika tau kau disini...ayo.."
Insha mencoba menarik-narik tangan itu tapi tubuhnya sama sekali tak bergeming ia masih saja menatap Salma dengan lekat, meminta Salma untuk mengiyakan permintaannya hidup bersama.
Salma yang melihat Insha disana seketika terkaget, mengetahui fakta teryata Insha yang membawa Prass untuk menemuinya. Ketika melihat Insha menggandeng tangan Prass dengan erat ntah kenapa Salma merasakan cemburu padanya, apalagi saat Insha benar-benar memohon pada Prass dan menarik wajah Prass untuk fokus melihatnya dan mendengar semua permintaan nya untuk pergi. Salma merasakan perih di hatinya melihat kedekatan mereka.
"Kenapa kau datang kesini.."
Bentak Hanafi yang teryata sudah ada di belakang Insha.
Seketika Insha melepaskan tangannya dengan Prass. Prass terkaget ia menatap Hanafi dengan tatapan yang tak kalah tajam sekarang.
Sementara Salma yang baru mengerti kemarahan Hanafi, ia sedikit memundurkan langkahnya, ia ketakutan melihat expresi Hanafi saat ini.
Hanafi segera berdiri menengahi jarak antara Prass dan Salma.
"Kenapa kau ada disini...aku sudah memaafkan mu kemarin setelah kau menggoda Insha istriku...sekarang kau malah kesini dan membuat Salma menangis...sebenarnya siapa kau.."
Hardik Hanafi dengan tatapan tajamnya pada Prass.
"Apa kau masih tak mengenalku Hanafi...Apa Insha Istrimu yang cantik ini tak menceritakan siapa aku..."
jawab Prass dengan seringainya pada Hanafi, kini ia mendekati Insha dan sedikit mencubit pipi Insha manja. Prass rupanya malah ingin membuat Hanafi semakin marah karna tingkahnya.
Hanafi yang melihatnya seketika mengepalkan tangannya dan ingin melayangkannya pada wajah Prass tapi berhasil di tangkap tangan itu oleh Prass, lalu di hempaskannya tangan Hanafi dengan kasar ke bawah.
"Aku Prass....Prasetyo kekasih Salma..apa kau kira aku akan diam saja setelah kau renggut Salma dariku..."
Prass melayangkan pukulan langsung ke wajah Hanafi dengan keras yang membuat Hanafi seketika oleng dan hampir tersungkur di taman.
Bersambung...
__ADS_1