
Keadaan kala itu cukup ramai riuh orang yang membicarakan mengapa para pengawal dari perusahaan besar Wijaya group bisa sampai di resto 99.
Tak hanya disana, mereka dengan jumlah yang cukup banyak berpencar menyisir di setiap pertokoan maupun gang-gang sempit di sekitar resto itu.
*
"Aku telah membayar mahal kalian semua...kenapa mencari satu orang saja tidak becus..."
Hanafi trus mengumpati para pengawal yang telah berkumpul di depannya, yang memberikan laporan bahwa mereka tak berhasil menemukan Insha dimana pun.
"Bagaimana pun cari istriku sampai ketemu..."
Hanafi membalikkan badan, lalu berkata pada Kriss yang sedari tadi ada di belakangnya.
"Tugaskan mereka untuk berjaga disini sampai 24 jam kedepan...aku yakin Insha pasti akan mengambil mobilnya..dia tak akan berada jauh dari sini..."
"Baik tuan.."
jawab Kriss, ia pun segera menyampaikan titah Hanafi pada salah satu pemimpin para pengawal itu, lalu beberapa detik setelahnya kerumunan para pengawal itu pun berpencar lagi melakukan tugasnya masing-masing.
Sementara Hanafi kini tengah duduk di sebuah bangku di depan resto 99.
Banyak orang yang menyaksikan langsung berbagai kejadian itu, terutama para pengunjung resto 99 yang melihatnya dari dalam kaca resto yang transparan.
Kali ini mereka yang penasaran dengan wajah sang pemimpin Wijaya group itu pun dapat melihatnya secara langsung, betapa tampan nya tuan muda itu yang jarang terekpos media, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihat dan bertemu dengannya, mereka semua juga saling berbisik penasaran dengan wajah istri dari tuan muda yang sedang di carinya.
Juga penasaran pekara apa yang membuat istrinya sampai bisa lari darinya, melihat kehidupan nya yang mapan, harta dan tahta juga rupa yang sempurna. Tapi istrinya masih saja bisa pergi meninggalkannya.
Pembicaraan para pengunjung masih trus berlanjut, dengan berbisik-bisik satu sama lain.
Sang manager resto 99 itu pun memberanikan diri untuk keluar dan menemui Hanafi yang duduk di depan restonya dengan perasaan yang sangat kacau itu.
"Maafkan saya sebelumnya tuan atas kelancangan saya..."
Pria itu tiba-tiba berbicara di sebelah Hanafi.
Kriss yang mengetahuinya langsung mencoba untuk menghadang manager itu sedikit memberikan jarak aman pada tuan mudanya, takut terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan.
"Hemmm..."
Hanafi tak melihat siapa yang tengah berbicara, dia hanya berdehem sambil menumpukan wajah di kedua tangannya.
"Apa saya boleh melihat foto istri tuan...siapa tau saya bisa membantu anda..."
Masih berbicara dengan menunduk takut pada Hanafi.
Hanafi hanya memberi isyarat pada Kriss untuk memperlihatkan foto Insha pada manager itu dan saat melihat foto itu pun.
Hemm..jadi benar nona cantik itu adalah istrinya....luar biasa mereka adalah pasangan yang sempurna...untung aku tak berbuat apapun padanya tadi...kalau tidak bisa di gantung hidup-hidup aku sekarang..
__ADS_1
Pria itu pun bergumam dalam hati sambil bergidik ngeri membayangkan dirinya sendiri, jika tadi sampai menggoda sang istri dari tuan muda di hadapannya ini.
"Saya melihatnya tadi..."
Perkataan sang manager itu langsung mengalihkan pandangan Hanafi dan juga Kriss.
"Dimana...dimana kau melihatnya.."
Hanafi sudah berdiri menatap tajam padanya, juga Kriss yang selalu sigap berada di belakangnya.
"Disana tuan...nona tadi makan di resto saya...cukup lama nona berada disana.."
Manager itu masuk ke dalam resto menunjuk bangku yang tadi di tempati oleh Insha.
Hanafi dan Kriss langsung menuju meja yang di tunjuk.
"Dia makan apa disini...dan ini minuman apa.."
memperhatikan piring yang telah kosong isinya, juga beberapa gelas besar yang tergeletak disana, hanafi mengangkat satu gelas yang masih terdapat bongkahan es di dalamnya.
Mencium bau dari minuman yang tersisa.
"Minuman apa yang di minum istriku disini..."
Hanafi menatap tajam pada sang manager, curiga karna resto itu tentu menjual banyak minuman haram di dalamnya.
"Itu hanya sebuah minuman soda tuan...nona telah memesan beberapa gelas sebelum pergi dari sini.."
pria itu menjawab dengan yakin karna dia memang sedari tadi memperhatikan Insha disana.
"Dengan siapa dia datang kemari...apa ada seorang yang terlihat bersamanya..."
"Nona datang kemari seorang diri tuan...tak ada siapapun yang terlihat menemaninya.."
"Apa kau yakin..."
"Iya tuan saya yakin...karna saya memperhatikan nona sejak ia datang kesini.."
Manager itu terlihat sedikit menutup mulutnya rapat, karna mengatakan yang seharusnya hanya menjadi rahasianya dirinya sendiri.
matilah aku...mulut sialan .. kenapa kau tak bisa bekerja sama....
gumamnya dalam hati.
Hanafi spontan memegang kerah baju manager itu, sedikit menariknya maju, membuat pria itu sedikit tercekik karna tarikan tangan Hanafi.
"Jadi kau memperhatikan istriku...."
"Ma...maaf tuan maaf...saya tidak tau kalau nona itu adalah istri tuan...sekali lagi maaf.."
__ADS_1
Dahinya sudah mengeluarkan keringat dingin, dan sekarang tangannya gemetar, ketakutan melihat Hanafi dengan tatapan amarahnya.
Kriss segera memegang tangan Hanafi, ia tak ingin tuannya ini terbawa oleh emosi sesaat apalagi di dalam resto ini banyak sekali pasang mata yang menyaksikannya.
Tentu tak baik untuk penilaian baik terhadap sosok pemimpin Wijaya group yang sudah di jaga sejak dulu.
"Tuan tolong lepaskan...kuasai emosi tuan...dia hanya memperhatikan nona...itu bukan sebuah masalah besar.."
bisik Kriss pelan pada Hanafi.
Kriss pun juga perlahan melepaskan tangan Hanafi di kerah sang manager itu.
Hanafi melepaskan tangannya lalu mendorong tubuh pria itu dengan kasar,
"Aku maafkannkau kali ini...karna kau tlah memberikan informasi padaku..."
"Kini tugasmu adalah kirim rekaman cctv hari ini kepada sekretarisku secepatnya..."
Hanafi masih menatap manager itu dengan penuh amarah.
Lalu ia segera berpaling darinya dan melihat gelas yang masih ia pegang di tangan satunya.
Hanafi menaruh gelas itu lagi dengan kasar,
bahkan es di dalam gelas ini belum sepenuhnya mencair...tapi aku tak dapat menemukanmu...sebenarnya dimana kau Insha...
Saat Hanafi akan berlalu dari meja itu tiba-tiba saja tubuhnya oleng dan membuatnya hampir tersungkur, untung ada Kriss di sana yang menangkap tubuhnya.
"Tuan..tuan sebaiknya istirahat ini sudah larut malam..saya akan mengantar tuan untuk pulang.."
Hanafi yang sudah merasa sangat pusing dengan semua kejadian ini, juga tubuhnya yang sudah sangat lelah akhirnya dia pun pulang diantarkan oleh Kriss.
Malam itu Hanafi tidur di kamar Insha, dia terisak cukup lama, memeluk guling dengan erat membayangkan Insha yang berada disana.
Terlihat jelas wajah penyesalan dalam dirinya, penyesalan atas semua penghianatan yang di lakukan pada Insha.
Sementara Kriss malam itu tak pulang, ia tengah sibuk meretas rekaman cctv di jalanan kota di sekitar resto 99 berharap menemukan suatu petunjuk sekecil apapun untuk menemukan keberadaan Insha.
Ia masih fokus dengan layar laptopnya, jemari nya terlihat sangat lihai memainkan keyboard disana, mengetik sebuah sandi-sandi rumit untuk memperoleh informasi yang di inginkan.
Tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundaknya lembut sambil terdengar suara.
"Mas han belum tidur....bagaimana dengan Insha mas.. apa sudah ketemu.."
Kriss seketika menoleh, dan menghindari tepukan lembut di pundaknya saat mengetahui siapa yang sedang ada di belakangnya.
nona Salma...dia ada disini...
Astaga pantas saja nona muda sampai pergi dari rumah...
__ADS_1
Tuan muda apa yang anda lakukan...kenapa terjebak di dalam hubungan yang rumit ini...
Bersambung...