
Seketika keduanya menatap dokter Arya, menatap dengan tatapan penuh kebahagiaan dan haru bersamaan.
"Terimakasih Ar..."
Hanafi memulai pembicaraan.
"Jangan berterimakasih padaku han....berterimakasihlah pada Tuhan yang telah memberikan keajaibannya untuk kalian.."
jawab Arya masih dengan senyuman manisnya.
"Apa benar aku hamil dokter Arya...aku masih tak percaya...apalagi dengan semua kondisiku..."
Insha menatap Arya penuh tanya dan rasa tak percaya.
"Benar nona anda hamil...lihatlah hasil pemeriksaan lab anda..."
Arya menunjuk secarik kertas yang tergeletak di tepi bed Insha.
Insha segera meraihnya dan melihat tulisan di dalamnya. Seketika matanya tertuju pada tulisan HCG dalam kolom dengan nilai melebihi batas normal.
Insha kembali menitikkan air matanya menempelkan kertas itu di depan dadanya.
Hanafi segera mengusap lagi air mata Insha seakan tak rela Insha membuang banyak air matanya.
"Jangan menangis sayang...jangan buat anak kita juga bersedih karna melihat ibunya menangis.."
Hanafi berkata sambil tersenyum menggoda pada Insha.
"Ya benar nona...sebuah kesedihan bisa membuat janin di dalam rahim nona juga ikut merasakan sedih..."
Sambung Arya lagi.
Insha hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum dan menghapus air matanya.
"Nanti jam 7 pagi saya sudah menjadwalkan nona untuk melakukan USG...untuk mengetahui kondisi bayi nona dan untuk mengetahui usia kandungan nona..nanti akan ada seorang perawat yang menjemput nona...."
Saat Arya mengetahui hasil lab pemeriksaan Insha bahwa Insha tengah hamil, Arya langsung saja menghubungi dokter kandungan yang bernama Vina dan segera membicarakan tentang kondisi Insha.
Dokter Vina juga cukup kagum dengan kehamilan Insha karna ia mengetahui persis bagaimana keadaannya. Bagaimana sulitnya Insha dengan kondisinya untuk bisa hamil.
Malam itu bahkan dokter Vina menitikkan air mata saat mendengar berita kehamilan Insha. Ia ikut bahagia dan ikut terharu karna hamilnya Insha.
__ADS_1
Dan malam itu dokter Vina menyarankan pada dokter Arya untuk menyuruh Insha menjalankan USG besok pagi untuk mengetahui kondisi dari janinnya, apakah janin yang di kandung Insha normal, mengingat kondisi sel telur yang Insha hasilkan adalah sel telur yang abnormal. Juga untuk mengetahui usia kandungan Insha, mengingat Insha yang sangat sering mengalami mentruasi yang tidak teratur.
"Baiklah jam berapa sekarang...?"
tanya Hanafi lebih pada dirinya sendiri karna ia mencari sendiri keberadaan jam dinding di ruangan itu.
"Masih jam 4 pagi...masih 3 jam lagi....aku benar-benar tak sabar ingin melihatnya...."
Hanafi kembali mengelus-elus perut Insha dengan lembut dan menciumnya.
"Jangan kencang-kencang sayang..kau bisa menyakitinya..."
Protes Insha karna melihat perlakuan Hanafi yang mencium perut Insha dengan semangat sampai membuat tubuh Insha sedikit terguncang.
"Hehe maaf sayang...aku sangat tidak sabar ingin melihatnya..."
jawab Hanafi sambil mencium kedua pipi Insha.
"hmm..ya sudah kalau begitu...saya sarankan nona untuk banyak istirahat untuk sementara waktu...agar tubuh nona beradaptasi dengan kondisi kehamilan nona sekarang...memang beberapa gejala pasti muncul di awal kehamilan...dan setiap orang pasti tak akan sama tergantung kondisinya....sepertinya pusing dan mual yang nona alami akhir-akhir ini juga merupakan gejala awal dari kehamilan nona....nona tak perlu khawatir karna itu merupakan hal yang wajar..."
dokter Arya berusaha menjelaskan tentang semua kondisi yang di alami oleh Insha, kondisi normal yang di alami oleh sebagian besar wanita di awal-awal kehamilannya.
"Baik dok....terimakasih...saya pasti bisa menjalani semuanya..."
"Berapa hari biasanya seorang yang hamil merasakan gejala seperti itu ar...."
tanya Hanafi tiba-tiba dengan wajah khawatirnya.
"Emm...biasanya di 3 bulan awal kehamilan han..dan seiring berjalannya waktu semua akan hilang dengan sendirinya..."
"Sudah gila ya...Insha akan mengalami pusing dan mual dalam waktu 3 bulan...apa tak ada obat untuk itu..."
jawab Hanafi spontan dengan wajah terkejutnya.
"Memang seperti itu han...sebagian besar wanita mengalaminya di 3 bulan awal kehamilannya...dan tak ada obat untuk mencegah semua gejala itu..semua gejala itu timbul karna hormon HCG yang ada di dalam tubuh nona,hormon itu di produksi semakin banyak untuk menunjang pertumbuhan bayi di dalam rahimnya..."
Hanafi menatap dokter Arya dengan kesal, lalu segera beralih pada Insha dengan tatapan yang seketika melunak.
"Sayang...apa kau sanggup menjalaninya dalam waktu yang panjang itu...3 bulan bukan waktu yang sebentar....jika kau tak sanggup katakanlah...aku tak mau memaksamu untuk melakukan itu....sungguh aku tak mau membuat dirimu tersiksa dengan kehamilan ini..."
Karna perkataan Hanafi Insha malah tersulut emosi, tatapannya kini pada Hanafi berubah tajam.
__ADS_1
"Lalu apa maksudmu...bukankah ini kehamilan yang kita tunggu-tunggu...kau bahkan sudah berniat untuk menggugurkannya bahkan sebelum ia memiliki jiwa..."
Insha berkata sambil mendorong-dorong Hanafi menjauh.
"Bukan begitu maksudku sayang...aku hanya tak mau kau tersiksa...apalagi kau yang terus mengeluh kepalamu pusing...aku tak tega mendengar dan melihatnya..."
"Apa kau tau...bahkan setelah mendengar berita kehamilanku, pusing di kepalaku seketika menghilang...lalu dengan jahatnya kau berniat untuk menghilangkan kebahagiaanku ini..."
Pandangan Insha masih terlihat berapi-api.
"Sayang...dengarkan aku dulu...aku tak berniat begitu....aku juga sangat-sangat mengharapkan kehamilanmu ini sayang...aku sangat bahagia dengan kahamilanmu...sungguh aku tak berbohong..."
"Lalu kenapa kau mengatakan itu tadi padaku...kata-katamu terdengar jahat sekali...aku tak suka mendengarnya..."
Akibat sedikit perkataan Hanafi membuat keduanya menjadi beradu argumen cukup lama, membuat Arya yang berada di satu ruangan yang sama hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa ringan.
Dokter Arya pun pamit undur diri dari ruangan Insha, dia ingin meneruskan tidurnya sebelum mentari cerah keluar dari peraduannya, dan memulai aktivitas sibuknya yang sudah terjadwal dengan rapi bahkan untuk beberapa hari kedepan.
Hanafi mengantarkan dokter Arya ke depan pintu kamar.
"Aku menghawatirkan keadaannya tapi dia malah marah denganku sekarang..apa aku salah khawatir padanya...3 bulan bukan waktu yang sebentar..."
Hanafi berjalan mensejajari Arya sambil bergumam yang masih bisa di dengar jelas oleh Arya.
"Ya itulah orang hamil han....mereka mudah berubah-ubah suasana hatinya dengan cepat...kau harus pintar-pintar dan berhati-hati dalam berkata..."
"Apa semua wanita hamil seperti itu.."
"Ya sebagian besar seperti itu yang aku tahu..."
"Hanya untuk 3 bulan kan...bukan waktu yang lama untukku..."
jawab Hanafi tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu Arya.
Sementara Arya hanya tersenyum lalu menaikkan bahunya dan bergumam dalam hati.
Sepertinya jika suasana hati ibu hamil bukan hanya untuk 3 bulan...tapi selama masa kehamilan...ku harap kau bisa bersabar han...hehehe...
Arya pun keluar dari ruangan lalu menutup pintu dengan pelan. Ia tersenyum sepanjang jalan ikut merasakan kabahagiaan yang tengah dialami oleh sahabat baiknya sekaligus tuan mudanya.
Semoga hasil USG nanti semua baik-baik saja...dan semua berjalan normal sampai bayi itu terlahir ke dunia...tentu saja aku juga tak ingin kebahagiaan ini berhenti sampai disini saja...Tuhan jangan ada lagi kesedihan di antara mereka...semoga airmata yang mereka keluarkan setelah ini hanyalah airmata kabahagiaan....
__ADS_1
Doa Arya dalam Hati sambil menengadahkan kepalanya ke atas dan berjalan kembali ke ruangannya.
Bersambung....