2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Jadwal check up


__ADS_3

Insha mengedarkan pandangan kepada sekelilingnya, banyak orang berlalu lalang dengan berbagai expresi. Mungkin disini juga banyak orang menaruh harapan, banyak kesedihan juga banyak kegembiraan.


Contohnya di ruangan yang sekarang sedang Insha tempati, ia sengaja tak memberitahukan kedatangannya kepada pihak rumah sakit. Itu ia lakukan karna ia ingin menjadi seperti orang biasa, ia kangen rasanya mengantri, menunggu dan berkumpul dengan banyak orang.


Insha memandang sekitarnya banyak pasangan muda sampai terlihat sudah mulai menua. Mereka semua gembira menunggu nomor antrian di panggil dan mengetahui kondisi dari yang mereka nantikan.


Ya ini adalah ruang tunggu di dokter kandungan, banyak terlihat pasangan yang mengantri ingin melihat calon anak mereka, atau sekedar memeriksakan keadaan istrinya.


Tidak semua berpasangan, ada juga yang datang sendiri dengan perut yang sudah membesar dan tampak mengelus-elus perutnya lembut sambil tak henti-henti melontarkan senyuman manis.


uuhh..senangnya melihat mereka dengan perut membuncitnya...kapan ya aku akan seperti mereka...


Bayangannya sudah kemana-mana, Insha sudah membayangkan ia dan Hanafi duduk di kursi antrian sambil mengusap-usap perut membuncitnya.


ya ampun..membayangkan saja sudah sesenang ini...


Masih senyum-senyum sendiri menatap ke banyak pasangan yang ada.


Satu panggilan nomor antrian pasien terdengar oleh seorang perawat, sepasang pasutri pun masuk ke ruang praktek.


Perawat tersebut sekelebat melihat seorang yang tak asing tengah duduk di antara antrian yang ada. Ia membulatkan matanya ketika melihat Insha ada disana.


astaga..nona muda kenapa ada di sana..


Perawat itu masuk ke dalam ruang praktek berbisik pada dokter Vina yang biasa menangani sang nona muda Insha.


"Apaa..benarkah...apa kamu tak salah lihat.."


matanya membulat dengan wajah yang terkejut.


"Benar dok..nona muda ada di antara antrian di depan.."


Vina mencoba membuka-buka jadwal yang ada di depannya, tapi tak ada pemberitahuan nona muda akan datang, juga jadwal pemeriksaan rutinnya masih 2 hari lagi.


"Kau pasti salah lihat tidak ada konfirmasi kalau nona muda akan datang hari ini..jadwal nona masih 2 hari lagi.."


mencoba tenang setelah melihat jadwal prakteknya.


"Dokter lihat saja sendiri.."


perawat itu menunjuk ke arah luar.


Sepasang pasutri itu hanya bisa terdiam duduk di depan meja sang dokter, tak faham dengan apa yang sedang mereka bahas.

__ADS_1


Dokter Vina pun tersenyum kepada 2 orang di depannya.


"Hehe ...mohon tunggu sebentar ya bu..pak.."


dua orang itu pun hanya mengangguk faham dengan wajah yang kebingungan.


Dokter Vina segera beranjak mengintip di jendela ruang prakteknya yang terdapat tirai bambu yang dapat di tarik untuk membukanya.


Ia menarik tali yang ada di ujung tirai itu lalu mengedarkan pandangan pada antrian di depan ruangannya.


Ia melihat Insha tengah duduk, lalu sedetik kemudian menghadap tepat pada jendela itu, dokter Vina terbelalak.


haduh benar itu nona muda..


Segera mengedarkan pandangan lagi mencari sosok tuan mudanya dimana, tapi sama sekali tidak ia temukan.


Ia melihat lagi pada Insha, sekarang Insha sudah tersenyum dan melambaikan tangan padanya.


Dengan secepat kilat Vina pun juga melambai padanya, lalu tersenyum seketika yang terlihat di paksakan.


"Benarkan itu nona muda"


perawat di sebelahnya berkata.


Perawat itu pun tanpa menjawab langsung keluar dan menghampiri Insha memintanya untuk menunggu di ruang dokter Vina karna sebentar lagi sang dokter akan memeriksanya.


Perawat itu kembali masuk ke dalam ruangan dan berbisik pada dokter.


"Aku sudah mencoba membujuk nona muda..tapi beliau tetap bersikekeh ingin mengantri disana..."


Vina terdiam dengan expresi wajah kebingungan.


cobaan apa lagi ini...baru saja gajiku naik bulan kemarin...sepertinya akan kena potong lagi bulan ini...oh Tuhan sungguh aku tak mau lagi berurusan dengan dokter Arya...


Memang sudah 6 bulan berjalan, Insha dan Hanafi slalu check up kandungan ke rumah sakit bersama dokter Vina mereka menjalani program kehamilan.


Sebenarnya Insha menolak untuk melakukan pemeriksaan rutin itu, yang mengharuskannya minum vitamin setiap harinya.


Tapi Hanafi berusaha untuk membujuknya, berharap Insha bisa segera hamil dan meneruskan keturunannya.


Setiap bulan pun Insha slalu priksa di dampingi oleh Hanafi, pihak rumah sakit sudah memberikan jadwal khusus untuk tuan dan nona muda. Jadwal dengan fasilitas VVIP dan penanganan khusus dan tentunya tidak perlu mengantre seperti sekarang.


Hari ini kebetulan Hanafi sedang mengunjungi kantor anak cabang di kota D.

__ADS_1


Sebenarnya jadwal check up Insha sudah di tuliskan 2 hari lagi, tapi Insha datang hari ini sendirian, ia pun tak memberitahu pada Hanafi perihal dirinya yang akan menemui dokter Vina, ia juga tak mengkonfirmasi kedatangannya pada pihak rumah sakit.


Ia sengaja melakukannya karna ia rindu sekali bisa mengantre bersama banyak orang seperti sekarang, yang sudah lama kebiasaan itu hilang dari dirinya.


Semenjak menjadi Istri Hanafi ia selalu di dahulukan dalam hal apapun, tidak ada istilah mengantre lagi di hidupnya, semua fasilitas yang ia dapatnya juga selalu yang terbaik dan super mewah.


Insha pun telah selesai melakukan pemeriksaan bersama dokter Vina. Masih dengan keinginan awalnya mengantre seperti pasien yang lain dan Insha mendapat urutan yang terakhir disana.


Antrean hari ini pun tak seperti biasanya, karna hari ini pemeriksan yang di lakukan dokter Vina lebih cepat dan tergesa-gesa.


Karna Vina tak ingin dokter Arya mengetahui perihal nona muda yang sedang mengantre di jadwal prakteknya, bisa-bisa ia tak mendapatkan gajinya bulan ini.


Padahal tanpa sepengetahuan Vina sekarang dokter Arya tengah bersantai di apartemen miliknya, karna hari ini adalah jadwal libur dokter Arya.


Insha pun keluar dari rumah sakit hendak pulang dengan naik taxi yang sudah di pesannya.


Tak sengaja ia bertemu dengan kak Salma yang berjalan ke arah sebaliknya.


" Insha..."


"Kak Salma.."


nampak heran karna melihat mata yang sudah sembab dan memerah.


"Sedang apa kau disini..."


"Kak Salma sendiri sedang apa.."


"Ayah baru saja di pindah ke ruangan.."


"Ayahh...bukan kah kemarin ayah baru saja melakukan cuci darah...sekarang cuci darah lagi..?"


Sudah menekankan kata ayah dalam kalimatnya.


Pasalnya Insha kemarin baru saja mendapat pesan singkat dari Salma kalau ayahnya sedang melakukan cuci darah.


6 bulan berlalu dari kejadian di makam yang berurai air mata itu. Dulu ayah di jadwalkan untuk cuci darah selama 2 minggu sekali, tapi kini ayah harus rutin melakukan cuci darah 3 hari sekali. Pasalnya ginjal yang di miliki ayah sudah tidak berfungsi dengan baik.


Sesaknya juga hampir tiap hari kambuh, membuat Insha semakin khawatir akan keadaan ayahnya yang trus mengalami penurunan.


Hanafi sampai menempatkan perawat di rumah ayah selama 24jam penuh untuk merawatnya.


"Ayah tak sadarkan diri Insha ia terjatuh di dalam kamar mandi..."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2