2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Villa puncak kota A


__ADS_3

Hanafi secara reflek membuka lebar-lebar bola matanya, ia berusaha meyakinkan apa yang baru saja ia dengar dari pak Sun.


Hanafi menggenggam erat tangan pak Sun, sambil menatap nya penuh keyakinan.


"Benarkah bapak tau dimana dia...."


Pak Sun hanya menjawab dengan anggukan dalam, menatap Hanafi dengan senyuman yang tulus.


"Katakan dimana dia sekarang pak....aku akan menjemputnya..."


Mata Hanafi tampak berbinar senang, teryata kedatangan pak Sun kali ini membawa berita yang sangat ia nanti-nantikan selama satu minggu ini.


"Nona berada di villa puncak kota A....tepatnya berada tak begitu jauh dengan villa yang anda bangunkan untuk saya tuan..."


"Villa puncak kota A.."


kenapa kau bisa sampai sana Insha...bahkan tak pernah terfikir oleh ku...kau akan pergi sejauh itu...


Memang selama pencarian ini semua pengawal dan anak buah Hanafi lebih fokus di kotanya dan juga kota B yang menjadi kemungkinan Insha berada, semua di perkirakan juga lewat penuturan Kriss dalam penyelidikan jejak terakhir yang di dapatnya dari Insha.


Kota A cukup jauh dari sana, apalagi villa puncak yang berada jauh di ujung kota A dengan udara yang sejuk atau tergolong dingin. Perjalanan kesana bisa memakan waktu sekitar 4-5 jam tergantung keadaan jalanan yang ada.


"Iya tuan..."


"Dia bersama siapa pak disana...apa ada orang yang terlihat bersamanya.."


"Nona Insha sendiri tuan...tidak ada siapapun yang menemani..."


"Terimakasih pak....terimakasih atas semua bantuan bapak...saya sangat senang dengan berita yang bapak bawa untuk saya...saya akan menjemputnya...saya merindukannya pak..."


Hanafi kini tengah mencium-cium tangan pak Sun, yang berusaha pak Sun tarik dari Hanafi karna ia merasa tak pantas dengan perlakuan itu.


"Jangan lakukan ini pada saya tuan..."


masih berusaha melepaskan tangannya dari Hanafi.


"Sungguh terimakasih pak..saya akan berangkat kesana sekarang juga...saya tak mau kehilangan dia lagi.."


wajah Hanafi terlihat tersenyum lebar, dia sekarang mengambil ponselnya mengetikkan sesuatu perintah disana.


Hanafi juga menelpon pak Tono dan pak Sardi untuk segera menyiapkan mobil untuknya.

__ADS_1


Hanafi juga menelpon Kriss untuk memintanya ikut dalam penjemputan itu, tapi Kriss tak kunjung mengangkat telponnya. Ia pun memutuskan untuk berangkat terlebih dulu bersama para pengawal yang sigap menemaninya kemana pun, juga dengan kawalan mobil polisi untuk mencegah hal-hal yang tidak diingkan terjadi.


Pak Sun juga ada di sana, Hanafi meminta pak Sun untuk berada satu mobil dengan nya.Dan disana pak Sun terus menasehati Hanafi, bercerita juga tentang semua hal yang di lakukan Insha disana.


Baru 5 menit perjalanan, Kriss menelpon Hanafi ia cukup terkejut dengan di temukannya keberadaan Insha sekarang.


Kriss pun yang baru saja bangun dari tidurnya karna semalam ia bergadang menyelesaikan berbagai pekerjaan yang ada, ia pun bergegas untuk pergi juga menyusul Hanafi ke lokasi yang sudah di informasikan yaitu Villa puncak kota A.


Tepat jam 10:30 Hanafi sampai di puncak kota A, terlihat banyak villa-villa di bangun di puncak itu, mulai dari yang biasa, sederhana sampai yang mewah.


Hanafi memberhentikan mobilnya di depan villa pak Sun. Karna pak Sun bilang kalau jalan menuju villa yang Insha tinggali sekarang cukup menanjak tajam, jalanan juga tak selebar yang ada di sana, dengan mobil sebanyak itu tak mungkin bisa melewati jalan dengan mudah.


"Villa berwarna putih abu-abu itu tuan...nona berada disana..."


Pak Sun menunjukkan dengan jarinya, villa yang berjarak sekitar 5 bangunan villa darinya.


"Terimakasih pak..."


Hanafi segera memberi isyarat pada semua pengawalnya untuk menuju villa itu.


Dengan berlari kecil ia menuju villa yang di tempati Insha. Terlihat di pandangan Hanafi villa itu tergolong villa yang sederhana, tapi tetap memberikan kesan yang elegan dalam bangunannya.


Bangunan nya juga sebagian besar terbuat dari kaca, sehingga siapapun bisa melihat setiap ruangan yang ada di dalamnya.


tinng...tinng...


bunyi bell villa.


Hanafi menekannya berulang, tapi sama sekali tidak ada jawaban. Tak sabar ia pun menggedor-nggedor pintu itu meski terbuat dari kaca.


"Inshaa...insha...bukalah pintunya...ini aku..."


tak ada jawaban sama sekali dari dalam.


Hanafi pun juga mengintip lebih Intens dari luar tak ada pergerakan apapun dari dalam.


"Kemana Insha....apa dia kabur lagi...kenapa tak ada jawaban...siapa yang telah memberitahukan kedatanganku..."


Hanafi pun terlihat panik.


"Minta sebuah kunci cadangan villa ini dari pemiliknya...cepat..."

__ADS_1


Hanafi menatap tajam pada salah seorang pengawal di sampingnya.


"Baik tuan.."


pengawal itu pun segera berlari pergi untuk mencari kunci cadangan.


Setelah cukup lama, pengawal itu pun kembali lagi dengan membawa sebuah kunci dan menyerahkannya pada Hanafi.


Klikk..


suara pintu terbuka.


Hanafi segera masuk dan menghambur ke segala penjuru ruangan, tak terlihat Insha di dalamnya.


Hanafi pun memasuki sebuah kamar yang cukup berantakan, dengan sampah makanan ringan tergeletak di lantai juga beberapa kaleng minuman soda di biarkan begitu saja disana.


Ia menyisir ke seluruh kamar itu tapi tak di temukan apa pun disana.


Hanafi segera keluar dari kamar itu ia pun berteriak dengan amarahnya.


"Cari nona Insha sampai dapat...dia telah kabur dari sini..."


Mendapati teriakan itu seketika para pengawal itu berlari berpencar ke segala arah mencari dimana Insha berada.


Hanafi melemparkan tubuhnya begitu saja di sebuah sofa lalu menendang meja kaca yang berada di hadapannya hingga pecah menjadi dua dan mengacak-acak rambutnya dengan kasar.


Baru beberapa jam dia merasakan kesenangan akan bertemu dengan Insha kembali dan membawanya pulang, tapi kini Insha sudah menghilang lagi, Hanafi merasa putus asa dan benar-benar stress dengan kepergian Insha.


Padahal Hanafi pun sudah tergesa-gesa segera menjemput Insha disana, dia berangkat jam 6 pagi setelah pengakuan dari pak Sun tadi. Dia juga belum sempat melakukan sarapan atau memakan apapun, dalam fikirannya hanya ingin segera menemui Insha dan minta maaf atas semua kesalahannya.


Drrrtt....drrrtt...


suara ponsel bergetar.


Tiba-tiba ponsel di saku jas Hanafi bergetar, ia pun melihat pada layar ponsel terlihat Kriss menelponnya.


"Hallo...ada apa Kriss kau sudah sampai...Insha tak dapat di temukan lagi dia menghilang dari villa....ntah siapa yang telah membocorkan kedatanganku kemari..."


Hanafi menyandarkan kepalanya kasar pada sofa di belakangnya.


Hanafi terlihat sangat kecewa, menemukan kenyataan bahwa Insha memang menghindari nya, Insha juga tak mau lagi bertemu dengannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2