
"Ayah ingin melihatmu menikah Salma.."
suara parau itu terdengar di telinga Hanafi sedikit terbata namun jelas di telinga.
Hanafi menatap kedua orang yang berdiri disana, ia baru saja kembali dan masuk ke dalam ruangan saat ayah mengatakan ingin melihat Salma menikah ia pun cukup kaget di buatnya.
Bukan hanya Hanafi, tapi Insha dan juga Salma sendiri yang sedang berada di samping ayah hanya berdiri mematung dan saling menatap bingung harus menjawab apa setelah ayah benar-benar mengutarakan keinginannya.
Mereka semua terdiam di tempatnya, tak ada yang mengeluarkan suara sepatah kata pun, mereka saling menatap dalam bingung, Insha juga menatap Hanafi yang baru saja kembali.
Di tengah kebingungan yang tercipta masuk lah 2 orang perawat membawa selang yang akan di pasang pada ayah, untuk membantunya makan.
Salah seorang perawat mengatakan maksud kedatangannya pada Hanafi.
Hanafi hanya mengangguk faham mempersilahkan perawat itu melakukan tugasnya, karna sebelumnya ia sudah mengetahuinya dari dokter Arya.
Hanafi pun keluar di ikuti oleh Insha dan juga Salma, meninggalkan ayah bersama 2 perawat yang akan melakukan tindakan terhadapnya.
"Bagaimana kak..."
tanya Insha sesaat setelah keluar dari ruangan.
"Sudah jelas In....kau tau sendiri Pras pulang 5 bulan lagi..dan kita akan menikah setelahnya..."
sahut Salma dengan santai.
"5 bulan..."
pungkas Hanafi sebelum Salma selesai dengan kalimatnya.
"Iya han ...kenapa.."
melihat aneh pada Hanafi yang tiba-tiba suaranya meninggi, Insha juga menatap Hanafi dengan aneh.
Bagaimana ini apa yang harus aku katakan pada mereka berdua tentang keadaan ayah yang sebenarnya...aku takut bahwa itu adalah permintaan ayah yang terakhir...
"Siapa pras itu kak.."
Hanafi menatap Salma dengan wajah penasaran.
"Dia kak prasetyo sayang...pacar kak Salma.."
Sahut Insha dengan cepat.
"Hmm..dimana dia sekarang...kenapa harus menunggu 5 bulan lagi untuk menikah."
kini sudah berganti memandang Insha.
" Dia masih menyelesaikan pendidikannya di Kairo selama 2 tahun...pendidikannya hampir selesai...5 bulan lagi dia akan pulang dan menikahi kak Salma sesuai janjinya ...bukan begitu kan kak..."
Salma hanya tersenyum malu mendengar pernyataan Insha.
"Kalau begitu hubungi dia sekarang...kak Salma harus segera menikah.."
Hanafi berkata menatap Insha dan juga Salma dengan wajah serius.
"Sekaraanng.."
jawab Insha dan Salma bersamaan semakin menatap aneh pada Hanafi.
__ADS_1
"Tidak mungkin han..Pras masih menyelesaikan pendidikannya sekarang...dia baru bisa pulang 5 bulan lagi..itupun kalau dia lulus dengan nilai yang baik..."
"Iya sayang...mereka rencananya akan menikah di pondok pesantren nanti setelah kak Pras pulang..kau tau sayang kak Pras orangnya sangat baik..dia jugaa"
belum sempat Insha menyelesaikan kalimatnya Hanafi sudah memotongnya.
"Sayang...5 bulan terlalu lama..sudah tidak ada waktu lagi...kak Salma hubungi dia sekarang...suruh dia pulang sekarang juga.."
wajahnya terlihat sangat serius sekarang.
"Sebenarnya ada apa sih sayang..."
Insha mulai panik sendiri dengan melihat wajah suaminya yang nampak serius dengan kata-katanya itu.
"Huuffh...ayo ikuti aku...kak ayo ikuti aku..."
Hanafi menggandeng tangan Insha dan menariknya, dia juga memandang Salma berharap ia mengikutinya juga.
aku harus jujur dengan keadaan ayah sekarang..supaya mereka mengerti...ini sudah tidak bisa di sembunyikan lagi...
Klik...
suara pintu dibuka
Mereka bertiga masuk pada ruangan dokter Arya, disana terlihat dokter Arya yang sedang memeriksa beberapa lembar berkas tentang keadaan ayah Insha sekarang, ia nampak kaget dengan kedatangan mereka yang bersamaan.
"Ada apa han..kenapa kalian kemari.."
Arya sekarang sudah berdiri, ia menduga-duga bahwa ada sesuatu yang terjadi pada ayah.
"Tak apa ar...beri penjelasan pada Insha dan kak Salma tentang keadaan Ayah sekarang..."
Arya pun menjelaskan setiap kondisi yang tengah dialami oleh ayah sekarang, dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi padanya dalam waktu dekat.
Tak bisa di bendung lagi, Insha kini terisak di bahu Hanafi, sementara Salma terduduk di kursi yang tersedia disana, tubuhnya tampak gemetar menahan tangis yang tak bersuara.
"Seperti itulah keadaan ayah sekarang...untuk itu aku menyuruh kak Salma untuk segera menikah...aku takut kalau itu adalah permintaan ayah untuk terakhir kalinya.."
Hanafi memulai berbicara lagi setelah Arya selesai dengan penjelasannya.
"Tapi bagaimana han...tak mungkin mas Pras akan pulang dalam waktu 2 hari ini...aku tak percaya...pasti ayah akan bisa bertahan lebih lama lagi...bukankah kematian itu hanya rahasia Tuhan.."
jawab Salma dengan wajah kebingungan.
"Saya tau Nona...saya pun berharap begitu..itu hanya sebuah prediksi..jikalau memang masih di berikan umur yang panjang beliau pasti masih bertahan ntah sampai kapan...Tapi melihat keadaannya yang sekarang aku tak yakin nona...lebih baik turuti kemauannya...kalau pun ayah masih bisa bertahan...beliau pasti lega melihat keinginannya terwujud...kalau pun tidaak.."
Arya menggantung kata-katanya.
"Kalau pun tidak kenapa dokter..."
Insha kini ikut berkata juga.
"Kalau pun tidak itu akan menjadi permintaan terakhirnya Nona...maaf"
Arya tertunduk dalam, menyadari kalimatnya sudah sangat menyakitkan untuk di dengar.
"Sekarang hubungi kak Pras...bilang padanya untuk segera pulang saat ini juga..."
"Baik han..."
__ADS_1
sudah bergerak memegang ponselnya.
"Tapi kalau pun dia bisa pulang, dia tidak akan bisa sampai dalam 2 hari ini...tiket pesawat tidak akan semudah itu di dapat..apalagi keadaan mendesak seperti ini...dan aku harus bicara apa dengannya.."
Imbuh Salma lagi.
"Bicara keadaan ayah yang sebenarnya kak jujurlah....kak Pras pasti akan mengerti...karna dia sangat sayang pada kakak..."
jawab Insha secepat kilat.
"Katakan dimana alamat dia tinggal sekarang..suruh dia untuk mendatangi bandara terdekat...pesawat pribadiku akan menjemputnya sekarang juga..."
Hanafi berkata sambil mengetikkan sesuatu pada ponselnya, menyuruh kru khusus pesawatnya untuk siap lepas landas kapan saja.
"Pesawat pribadiii...kau punya pesawat pribadi haaan...?"
Arya terbelalak dengan perkataan Hanafi, ia menatap Hanafi dengan penuh tanya.
Sedangkan Hanafi hanya menatap Arya dengan senyum tipisnya.
gilla...Hanafi sampai punya pesawat pribadi...Benar-benar tuan muda kaya raya ya dia...aahh jiwa miskin ku bergejolak rasanya...
gumam hati Arya.
Beberapa kali Salma mencoba menghubungi Prasetyo yang berada jauh disana, sudah 10 panggilan yang Salma lakukan tapi sama sekali tak ada jawaban.
"Bagaimana ini, mas Pras tak menjawab telponku sama sekali.."
"Kapan terakhir kak Salma menghubunginya.."
jawab Hanafi yang masih setia memeluk Insha dan menenangkannya yang masih terisak.
"Hmmm..mungkin 2 hari yang lalu.."
"Kakak tau dimana alamat tinggalnya disana..orang-orang ku akan mencarinya dan menjemputnya sekarang juga.."
"Aku tidak tau han...aku tak pernah bertanya tentang tempat tinggalnya disana.."
Salma masih berkutat dengan ponselnya berusaha untuk menghubungi kekasihnya kembali.
Tiba-tiba Salma terkesiap mengingat pesan singkat yang di kirim Prasetyo 2 minggu yang lalu.
"Tanggal berapa sekarang In..."
menatap Insha meminta jawaban, tapi Insha tampak masih terisak di dada Hanafi, dan rupanya enggan untuk menjawab.
"Tanggal 10 kak..ada apa.."
Hanafi pun yang menjawabnya.
huuuhh...
Salma menghela nafas dalam..
"Dia tak akan bisa di hubungi untuk 1 minggu kedepan..dua minggu yang lalu dia mengirim pesan padaku kalau mulai tanggal 10 sampai seminggu kedepan dia mengikuti tour pendidikan ke suatu wilayah disana..."
Salma meletakkan ponselnya di meja dengan pandangan yang putus asa.
Bersambung...
__ADS_1