
Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah, malam belum begitu larut. Terlihat jam dinding masih menunjukkan pukul 9 malam.
"Siapa yang bertamu malam-malam begini"
Gumam Salma yang ingin membukakan pintu rumahnya.
"Biar saya saja yang melihatnya nyonya.."
Perawat yang berada di sampingnya menahan tangan Salma untuk tidak beranjak dari tempat tidurnya.
Salma hanya mengangguk, ia kembali merebahkan tubuhnya.
Beberapa saat kemudian munculah Hanafi di ambang pintu kamarnya.
"Mas han.."
pekik Salma kaget mendapati Hanafi tengah berada di sana.
Sejak Salma mulai mengandung anak dari Hanafi ia mengganti panggilannya pada Hanafi, sebagai rasa hormatnya kepada sosok ayah dari anak yang di kandungnya. Begitu juga Hanafi, ia tak pernah lagi memanggilnya sebagai kakak, ia mulai memanggil Salma dengan namanya saja.
"Bagaimana keadaanmu...dan dia.."
Hanafi menghampiri Salma yang berusaha bangun dari tidurnya, ia pun duduk di sampingnya lalu mengusap perut saat mengatakan kata 'dia' dalam kalimatnya.
"Kami baik-baik saja mas..ada apa mas han malam-malam kesini..."
tanya Salma sambil memandang Hanafi heran.
"Bersiaplah...aku akan membawamu tinggal di rumah utama.."
masih fokus memandang perut Salma.
"Apaa...tinggal disana...?"
sudah membulatkan bola matanya kaget dengan perkataan Hanafi
"Iya ..kenapa kau tak mau.."
"Bagaimana dengan Insha mas...bahkan dia belum memaafkan aku.."
Hanafi tampak menghela nafas panjang, pandangannya sekarang lurus kedepan, fikirannya mengingat kembali kemarahan Insha beberapa minggu yang lalu. Melihat itu Salma seakan tau apa yang ada di fikiran Hanafi.
"Tidak mas...lebih baik aku disini saja..lagi pula aku sekarang juga tak sendiri..sudah ada mereka berdua yang menemani dan membantuku...mas tak usah khawatir lagi.."
"Tapi cepat atau lambat warga pasti juga akan tau tentang kehamilanmu...apalagi saat perutmu sudah membesar nanti...lalu apa yang akan kau katakan pada mereka.."
Salma hanya diam, tak bisa menjawab kata-kata Hanafi yang memang ada benarnya.
"Aku akan pelan-pelan berbicara pada Insha, dia pasti bisa memahaminya..."
"Tapi mas..."
belum selesai Salma berkata, tapi Hanafi sudah memotong kalimatnya.
"Sudahlah...bersiaplah sekarang juga...kau akan tinggal bersamaku.."
Hanafi sudah berdiri akan keluar dari kamar itu.
"Sekarang mas..."
"Sekarang Salma...memangnya kapan lagi..tenang saja..orang-orangku nanti yang akan mengatur dan membawa barang-barang penting milikmu..."
Hanafi pun keluar dari kamar itu menunggu Salma duduk di sofa ruang tamu.
Hanafi dan Salma pun menaiki mobil mewah itu, melaju pelan di jalanan desa yang sunyi menuju rumah utama.
__ADS_1
Sebelum menaiki mobilnya Hanafi sudah berbicara pada perawat dan pembantu dirumah Salma untuk membereskan barang-barang milik Salma.
Dia juga menyudahi pekerjaan mereka, memberikan uang lebih untuk membungkam mulut mereka dari fakta kehamilan Salma.
Sedari sore hari Hanafi sudah berfikir tentang membawa Salma ke rumah utama, dia tak ingin warga desa tau kalau Salma tengah hamil.
Apalagi dengan statusnya yang belum memiliki suami, ia takut akan menimbulkan sebuah fitnah pada Salma nantinya.
Hanafi pun memutuskan untuk membawanya tinggal di rumah utama.
Sebenarnya ia pun ingin membicarakan semua keputusannya pada Insha, tapi ia berfikir semua akan sia-sia bahkan Insha pun tak mau memandangnya apalagi berbicara serius dengannya.
Hanafi memberikan Salma kamar di lantai bawah, kamar yang cukup besar dengan fasilitas yang lengkap.
Tapi tetap saja lebih besar kamar yang di tempatinya dengan Insha sekarang.
Dan malam itu akhirnya Hanafi pun membawa Salma ke rumah utama, untuk tinggal disana.
**
Mbak Risna hendak beranjak mengambil piringnya dan piring milik Insha untuk menuju ke lantai atas, menemani Insha makan di dalam kamarnya, sesuai permintaannya tadi.
Tapi Salma tiba-tiba berdiri dan berkata.
"Biar aku saja mbak yang membawanya.."
"Jangan Salma..dia dalam keadaan marah sekarang..bisa berbahaya untuk dirimu nanti..."
Hanafi manarik tangan Salma menyuruhnya untuk duduk lagi.
"Tak apa mas han...aku tau sifatnya...aku bersamanya sejak kecil.."
Salma mencoba meyakinkannya dengan sebuah senyuman.
Akhirnya Hanafi pun membiarkan Salma untuk pergi ke lantai atas menuju kamar Insha dengan membawa piring makanannya.
Insha pun menyadari ada suara langkah kaki.yang masuk ke kamarnya.
"Masuk mbak...temani aku makan disini...aku tak berselera makan di bawah.."
Insha berkata sambil memutar tubuhnya, Insha pun terkaget dengan siapa yang datang dan membawa makanan untuknya.
"Stopp...jangan teruskan langkahmu.."
"Insha..."
"Diam... aku tak menyuruhmu untuk ke kamarku...pergi dari sini.."
Insha menunjuk-nunjuk Salma dengan jari-jarinya, melangkah mundur mengikuti langkah Salma yang terus maju mendekatinya.
"Jangan bersikap seperti itu padaku Insha...aku mohon maafkan aku.."
Salma mendekati Insha dengan mata berkaca-kaca,
"Aku akan menemanimu makan...seperti dulu..kita selalu makan bersama...apa kau tak ingat...aku bahkan merindukan masa-masa itu.."
"Aku bilang berhenti...berhenti disitu...aku tak mau dekat-dekat dengan wanita sepertimu..."
Sudah terpojok di dekat jendela kamarnya Insha tak dapat memundurkan langkahnya lagi.
"Berhentiiii...."
bentak Insha dengan suara yang sedikit menjerit.
Salma tak memperdulikan semua kata-kata Insha ia malah semakin berjalan mendekatinya, sekarang dia hanya berjarak 2 langkah di depan Insha, menyodorkan piring makanan milik Insha.
__ADS_1
"Ayo..makanlah bersamaku sekarang..."
"Aku tak mau makan dari tangan kotormu itu..."
Insha semakin geram, ia pun menghempaskan piring yang di sodorkan Salma ke lantai.
Pyyaaarrrr...
Piring yang di penuhi makanan itu pun pecah, membuat isi di dalamnya berhamburan di lantai.
Salma tak bisa berkata apapun , ia sekarang tengah terisak tak menyangka Insha masih semarah itu dengannya.
Ia melihat wajah Insha sekarang yang semakin merah di penuhi oleh amarah dan juga terlihat menitikkan air mata di kedua matanya.
*
Pyyaaarrr....
Hanafi mendengar suara pecahan piring yang berasal dari lantai atas, ia pun segera beranjak dan berlari menuju kamar Insha.
Saat Hanafi menaiki tangga ia samar-samar mendengar suara Insha yang membentak dan berteriak pada Salma.
"Sudah ku bilang pergi dari sini..."
"Kau telah menghancurkan hidupku..."
"Kau rebut Hanafi dariku...kau bahkan mengandung anaknya dalam rahim kotormu itu.."
"Sekarang kau datang kesini..kau mau rebut rumah ini juga hah..."
"Cuukuup Insha...hetikan bicaramu itu.."
Hanafi berlari kecil masuk ke dalam kamar, dan meraih kedua bahu Salma menariknya sedikit mundur dari tempatnya.
"Bahkan sekarang kau sudah berhasil membuat Hanafi membelamu...dengan air mata palsumu itu..."
Salma hanya dapat terisak diam seribu bahasa.
"Insha...aku tak membela siapa pun disini..jangan berkata seperti itu...aku hanya tak ingin kalian bertengkar seperti ini..."
"Lalu kenapa kau memeluknya sekarang..."
"Tunjukkan belas kasihmu Insha...Insha yang aku kenal dulu...setidaknya kasihanilah bayi yang ada dalam perutnya sekarang..."
Hanafi berusaha memegang perut Salma perlahan.
"Hebat sekali kau ...belum lahir pun kau sudah mendapat perhatian dari ayah tercintamu itu..."Insha sekarang menatap tajam pada perut Salma
"Ayo Salma...ayo kita keluar dari sini...pertengkaran ini tak baik untuk kesehatanmu..."
Hanafi bergumam lirih yang masih bisa di dengar Insha.
"Pergi..pergi kalian dari sini...aku tak mau melihat kalian lagi..."
Insha pun semakin terisak di tempatnya, melihat Hanafi yang lebih memilih dan membela Salma, bahkan memeluknya di depan Insha, meninggalkan dia sendiri disana.
Saat Hanafi keluar, sedetik kemudian Fatimah dan Risna segera masuk ke kamarnya.
Fatimah segera berjongkok membersihkan pecahan piring dan juga makanan yang berhamburan di lantai.
Sedangkan Risna menghampiri Insha yang tengah terisak duduk di lantai menekuk kedua lututnya, ia membenamkan wajah kedalam tangan yang bertumpu di atas lututnya.
Risna memeluk Insha erat dan berbisik di telinganya.
"Menangislah nona...menangislah sampai nona puas...sampai nona lelah...saya tau rasanya...saya tau apa yang nona rasakan sekarang..."
__ADS_1
Risna pun juga meneteskan air matanya di bahu Insha sambil mengusap-usap lembut punggung Insha.
Bersambung...