
Hanafi segera mengikuti langkah Insha sambil membawa segelas air putih untuknya.
Benar saja Insha muntah di wastafel kamar mandinya, bahkan muntah beberapa kali.
Hanafi pun dengan sabar menemani Insha sambil mengelus-elus punggungnya berharap meredakan rasa mualnya.
Hanafi juga membawakan Insha minyak kayu putih berharap bisa membuatnya lebih tenang dengan mencium aromanya.
Setelah Insha terlihat mulai reda Hanafi memberikan Insha minum.
"Apa yang membuatmu mual sayang..."
"Lemari pakaian itu bau sekali sayang...mungkin ada sebuah bangkai disana...suruh beberapa pelayan untuk segera membersihkannya...aku tak tahan dengan baunya..."
Insha menjawab sambil membayangkan baunya lagi dan seketika Insha terasa mual lagi.
"Lemari...bangkai...?"
Hanafi menatap Insha penuh tanya, pasalnya Hanafi tadi tepat ada di sebelah Insha saat dirinya tengah membuka lemarinya. Tapi Hanafi tak mencium bau apapun dari sana.
"Iya sayang...apa kau tak mencium aroma busuk itu tadi...kesanalah dan cium sendiri baunya..."
Hanafi yang penasaran segera menuju ke ruang lemari Insha berada. Bahkan lemari Insha masih terbuka, jika saja memang ada sebuah bangkai yang Insha katakan pasti baunya sudah menjadi satu ruangan, bahkan bisa sampai tempat tidurnya.
Hanafi juga merasa heran, karna tak mungkin juga ada sebuah bangkai disana, karna pelayan setiap hari pasti membersihkan dan mengecek seluruh isi lemari tentunya.
Hanafi menciumi di setiap baju gantung yang ada, dari atas sampai bawah . Dari ujung ke ujung dia tak menemukan bau apapun disana. Bahkan Hanafi membuka seluruh lemari Insha yang terdiri dari beberapa pintu yang menjulang tinggi. Tapi Hanafi sama sekali tak mencium bau apapun, baunya sama seperti biasa nya.
Ia bahkan juga membuka seluruh lemarinya, tapi sama ia mencium aroma yang sama seperti biasanya.
Hanafi kembali lagi menemui Insha yang sudah keluar dari kamar mandi.
"Aku tak mencium bau apapun sayang sungguh..."
"Kau pasti berbohong...jelas-jelas baunya sangat tak enak....aku tak mau mencium bau itu lagi..."
"Tak ada bau apapun sayang....kesanalah lagi...mungkin tadi kau hanya halusinasi..."
Insha pun menuruti Hanafi dan kembali ke ruang ganti, belum sampai di depan lemari tapi Insha sudah kembali mual dan berlari di kamar mandi.
"Astaga...sebenarnya kenapa sih istriku ini...apa ini termasuk bawaan orang hamil....aneh sekali..."
Dan Insha pun mengalami muntah-muntah lagi di kamar mandi.
__ADS_1
Ia pun berkata pada Hanafi.
"Sayang aku tak mau memakai baju dari lemari....aku tak tahan dengan baunya itu..."
Menyadari bahwa itu adalah salah satu keanehan orang hamil Hanafi pun memakluminya.
"Baiklah sayang...kau tak akan memakai baju dari lemari itu lagi...aku akan membelikanmu baju...tunggulah sebentar...mereka akan segera mengirimnya....sementara itu kau naiklah ke atas tempat tidur sayang...selimuti dirimu...aku tak mau kau kedinginan...ini sudah hampir malam...."
Cukup lama akhirnya baju yang di pesan Hanafi sampai di rumah, Hanafi segera turun untuk mengambil pesanannya langsung.
Telah membawa sebuah paperbag berisi baju Insha, Hanafi di hadang oleh mbak Risna yang menanyakan apa yang sedang di bawa Hanafi.
"Apa itu den..."
"Ini baju ganti Insha mbak..."
"Baju ganti....memangnya baju nona Insha kemana semua den..."
"Itulah dia mbak....dia bilang terasa mual saat membuka lemari...dia bahkan sempat muntah beberapa kali tadi saat akan memilih baju...Dia bilang ada bau seperti sebuah bangkai di dalam lemari...yang membuat dia mual-mual...."
"Bangkai...dimana mas...kalau boleh saya akan membersihkannya...kasihan nona Insha...."
"Tak ada bangkai apapun disana mbak....saya pun tak mencium bau apapun dari dalam lemari.. baunya sama seperti biasanya....tapi entah kenapa Insha terus saja mual-mual mendekat dengan lemari itu..dia juga tak mau memakai baju dari dalam lemarinya....dan akhirnya saya memesan baju baru untuknya....saya tak mau terus menyiksanya dengan terus memaksanya mencium bau lemari yang katanya seperti bangkai itu mbak..."
jawab mbak Risna sambil memandang Hanafi heran dan menggaruk kepalanya yang bahkan tidak gatal.
"Itu bukan aneh....itu bawaan bayi den...memang setiap ibu hamil berbeda-beda...mungkin yang di alami nona Insha sekarang memang begitu...orang biasa seperti kita tak bisa merasakan yang orang hamil rasakan...kadang kita merasa aneh dengan semua tingkahnya...tapi memang itulah yang mereka rasakan den....mereka ada di dunianya sendiri.."
Jawab bu Ririn yang tiba-tiba saja ada di belakang Hanafi.
"Iya den...mungkin itu juga pengaruh hormon kehamilan yang ada di tubuh nona Insha sekarang...membuatnya asing dengan segala penciuman yang ada di sekitarnya...memang orang hamil itu unik den....setiap wanita pasti punya cerita sendiri-sendiri saat kehamilannya..."
imbuh mbak Fatimah yang ada di sebelah bu Ririn dengan tersenyum manis.
"Hmm...jadi kira-kira sampai kapan sikap Insha yang satu ini terus berlanjut ya bude..mbak Fat dan mbak Ris..."
"Ya sampai nona selesai dengan masa kehamilannya mungkin den..."
jawab Fatimah singkat sambil mengangkat bahunya.
"Apaa...jadi setiap hari aku harus membelikannya baju ganti yang baru...?"
jawab Hanafi sambil menelan air liurnya dengan kasar.
__ADS_1
"Kembali lagi kepada nona Insha den...Setiap wanita berbeda-beda....kita tak tau sampai kapan...semoga saja cepat kembali seperti dulu lagi...kasian juga kan kalau harus melihat nona Insha mual-mual terus..."
Bu Ririn menjawab dengan lebih santai.
"Dan aden gak perlu beli baju baru setiap hari...aden hanya tidak perlu menaruh baju bersih di dalam lemari...kan dengan begitu aroma lemari yang tak di sukai nona Insha tidak menempel di baju...."
imbuh bu Ririn lagi.
"Bener tuh den...tinggal di taruh di rak atau apapun yang terpenting terlindung dari debu..."
Risna menambahkan.
"Hmm..baiklah...terimakasih buat semuanya....saya ke atas dulu...agar Insha segera ganti baju...saya takut Insha nanti kedinginan..."
Hanafi bicara sambil berlalu pergi, ke lantai atas.
"Semangat den....jangan pantang menyerah..."
Serentak Risna dan Fatimah berteriak bersamaan.
Hanafi hanya menoleh dengan senyuman manisnya.
aku akan selalu semangat pastinya karna ini adalah waktu yang ku tunggu-tunggu dari dulu...Tuhan telah memberikan kesempatan untukku..aku akan menikmati setiap prosesnya....Inshaku sayang tunggu aku...
"Sayang...ini bajunya...ayo ganti baju dulu..."
"Bantu aku ganti baju...aku tak mau masuk ke dalam ruangan itu..."
jawab Insha dengan suara pelan karna perutnya terus saja merasa mual.
"Tentu saja sayang...aku akan membantumu...ayo sini..."
Hanafi membantu Insha berdiri.
Saat Hanafi mulai memeluk tubuh Insha ingin membantunya berdiri dari tempat tidur, Insha tiba-tiba merasa mual lagi.
"Sayang...kenapa bau tubuhmu seperti ini..."
Seketika Hanafi menoleh pada Insha.
ya Tuhan....apa lagi yang salah...
Bersambung....
__ADS_1