
Di ruang VVIP yang sudah di sulap khusus menjadi ruangan ICU oleh staff rumah sakit, ketika mengetahui sang ayah mertua dari tuan muda sedang dalam keadaan yang serius.
Beberapa staff juga di tugaskan khusus untuk stanby di dalam ruangan itu 24jam penuh.
Tiit...tiit...tiit..
Suara detak jantung terdengar saat baru saja membuka pintu ruang itu, sejuknya AC juga berhembus membuat siapa saja nyaman berada disana.
Ruangan itu sangat luas, terdapat juga sofa-sofa empuk berjajar rapi disana, tempat tidur untuk keluarga pasien, kamar mandi, televisi, kulkas dengan berbagai macam makanan, minuman dan camilan, juga tempat khusus yang di sekat untuk tempat istirahat para perawat yang berjaga.
Tapi semua kenyamanan itu tidak dapat di nikmati oleh keluarga maupun pasien. Karna senyaman apapun kita, ketika melihat orang yang kita sayangi tengah berbaring lemah, semua itu tak berarti apapun.
Kejadian 6 bulan yang lalu di makam tak yang mengubah apapun tentang hubungan Salma kepada Insha maupun ayah, semua berjalan seperti biasanya. Mereka tetap menyayangi satu sama lain layaknya sepasang kakak beradik dan keluarga yang semestinya.
Insha memasuki ruangan itu bersama Salma yang mengekor di belakangnya. Tampak ayahnya berbaring lemah dengan kedua mata terpejam, seorang perawat juga sedang mengecek keadaannya, lalu segera berlalu pergi dari sana ketika melihat kedatangan Insha.
Monitor di sebelah ayahnya juga terus berbunyi seiring detak jantungnya, juga bertuliskan informasi-informasi lain tentang tanda-tanda vital ayahnya.
Insha kini berada di samping ayahnya, ia berlinang air mata. Ayahnya masih belum sadar sepenuhnya, tubuhnya terlihat pucat pasi juga tarikan nafas yang semakin berat.
" Ayah...ini Insha..bangun lah ayah...jangan seperti ini...aku mohon.."
duduk di sebelah bed pasien sambil memegang tangan ayahnya.
Salma pun berada di belakang Insha memegang erat kedua bahu adiknya.
Insha menyandarkan kepalanya perlahan pada bahu ayah, mengingat kembali hal yang sering ia lakukan saat masih kecil dulu. Ia mengangkat tangan ayahnya mengusap-usapkan tangan itu juga di kepalanya.
"Seperti ini ayah...seperti ini aku merindukanmu...lakukan lagi padaku ayah.."
"Ayah pasti kuat..ayah harus bertahan..demi aku..demi kak Salma.."
"Jika ayah pergi siapa lagi yang akan menyayangi kami..."
"Bangun lah ayah..aku mohon.."
Insha terus saja meracau sambil terisak di samping ayahnya, sementara Salma lebih memilih untuk membacakan ayat-ayat suci alqur'an di sana.
*
"Nona Insha baru saja mengunjungi rumah sakit, beliau berkunjung ke ruangan dokter Vina.."
Sebuah laporan pesan singkat khusus masuk pada ponsel Hanafi.
"Dokter Vina...astaga apa hari ini jadwal check up rutin Insha..kenapa aku bisa melupakannya.."
Gumam Hanafi pelan yang masih berada di ruangan rapat di kantor anak cabang kota D.
__ADS_1
Ia mencari kembali dalam ponsel jadwal check up yang sudah di berikan dokter Arya padanya.
"Jadwal check up masih 2 hari lagi...kenapa Insha datang sekarang..."
menatap heran lurus ke depan, beberapa detik kemudian ia mengetik sesuatu pada ponselnya.
"Cari tau Kenapa nona pergi ke rumah sakit hari ini..dan apa yang dia lakukan disana.."
pesan terkirim pada seorang di sebrang sana yang langsung di balas olenya.
"Baik tuan"
Hanafi pun menaruh ponselnya dan segera melanjutkan rapat yang tertunda karna peaan singkat khusus yang masuk pada ponselnya tadi.
Baru saja beberapa menit rapat itu berjalan kembali, ponselnya sekarang bergetar, terlihat di layar ponsel panggilan dari dokter Arya masuk.
Hanafi melihat sekilas ponsel itu lalu menghentikan lagi rapatnya, ia terlihat menyingkir menjauh dari meja rapatnya.
"Ada apa..apa ada yang penting, aku sedang sibuk sekarang...kirimkan saja lewat pesan apa saja yang di lakukan istriku bersama dokter Vina.."
sudah memberondong dengan panjangnya, padahal yang menelpon di sebrang belum berbicara apapun.
"Kau dimana sekarang han.."
Seakan tak peduli perkataan tuan mudanya ia langsung saja bertanya pada Intinya.
sudah mau memutuskan sambungan telpon seperti biasanya.
"Ayah..."
seketika menjawab sebelum Hanafi mematikannya, karna kata itu selalu saja menjadi kata yang dapat mengalih kan perhatian Hanafi.
"Ayah ada apa dengan ayah.."
Nada bicaranya sekarang terdengar serius.
"Ayah tidak sadarkan diri dia sekarang berada di ruangan ICU.."
"Apaa...apa yang terjadi Arya..."
"Dia jatuh tak sadarkan diri di kamar mandi Han...segeralah kemari..."
Tanpa menjawab apapun Hanafi mematikan telponnya, lalu meminta sekretarisnya melanjutkan rapat yang sedang berjalan, sementara ia segera melakukan perjalanan untuk ke rumah sakit.
Yang di sebrang sana, setelah Hanafi mematikan telponnya.
"Huuh...untung saja dia ada di kota D...dia akan memakan waktu yang cukup lama untuk sampai di rumah sakit...setidaknya bisa memberikanku waktu untuk sampai lebih dulu disana.."
__ADS_1
"Hmm..kenapa aku tak bisa santai sehari saja di hari liburku ini...oh segelas kopi dan roti selaiku...maafkan aku....aku harus segera pergi sekarang.."
segera berkemas tergesa-gesa lalu meraih segelas kopi itu, meminumnya hingga separuh lalu meraih juga roti selai di sampingnya memasukkannya ke mulut sambil berjalan meninggalkan ruangan.
*
Di lorong rumah sakit, dokter Vina sedang berjalan menuju ke ruang perawat yang ada di ujung lorong, ia berpapasan dengan dokter Arya yang baru saja tiba disana.
"Dokter Arya..."
pekiknya pelan melihat Arya berjalan tergesa-gesa ke arahnya.
Vina terperanjat karna baru saja ia mendengar fakta bahwa dokter Arya tengah libur hari ini, tapi kenapa sekarang ia terlihat di lorong rumah sakit.
matilah aku...dia pasti kesini ingin memarahi kebodohanku...Vina kenapa kau terus saja mengulangi kesalahanmu...
gajiku benar-benar akan terpotong bulan ini..ahh tolong aku nona muda...
Vina terlihat salah tingkah sendiri apalagi melihat dokter Arya yang berjalan semakin dekat dengannya. Dokter Arya terlihat memandangnya sambil terus melangkah maju.
"Selamat siang dokter.."
Sapa Vina dengan tubuh gemetaran saat Arya barada di depannya, Vina membungkukkan kepalanya dalam.
"Hmmm.."
sementara Arya hanya berdehem dan berlalu begitu saja.
Hahh..hanya lewat saja...apa aku tak salah lihat dia juga tersenyum ramah padaku tadi...dia tak jadi marah padaku ya...atau dia datang kesini untuk urusan lain..
Ahhh...urusan apapun itu...terimakasih Tuhan telah menyelamatkan ku dari lelaki menyeramkan itu...
tapi ngomong-ngomong wajahnya tampan juga ya kalau sedang tersenyum seperti tadi...
Vina segera melanjutkan jalannya menuju ruang perawat yang sempat tertunda, dengan terus bergumam dalam hatinya.
Dokter Arya telah sampai di ruang dokter yang menangani ayah Insha.
"Bagaimana keadaan nya sekarang..."
Dokter itu tak menjawab apapun, ia hanya menyodorkan beberapa berkas tentang laporan keadaan ayah Insha sekarang.
Arya membacanya dengan sangat teliti, menggeleng perlahan dan bergumam.
"Hanafi...mungkin sudah waktunya kau harus ihklas...."
Bersambung...
__ADS_1