2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Alat test kehamilan


__ADS_3

Hawa terasa menusuk tulang, angin yang berhembus semakin kencang. Suara deburan ombak yang bersambungan silih berganti menghiasi pendengaran. Dari kejauhan hanya terlihat lampu-lampu pantai yang cukup terang menerangi pasir-pasir putih di bawahnya.


Sementara air laut nan luas terlihat menghitam di telan malam, menyisakan riak-riak kecil berkilauan terpapar sinar rembulan.


Setelah menyelesaikan aktivitas malam hari mereka, Hanafi memilih untuk turun dan meninggalkan Insha yang sudah terlelap di bawah selimutnya.


Hanafi membuka lagi laptop nya menyelesaikan pekerjaan sang sempat tertunda, serta mengecek beberapa berkas yang baru saja di kirim oleh Kriss hasil dari pertemuan dengan klien barunya.


Semua berjalan sesuai harapan, kini ia berhasil mulai merambah usaha ke bagian snack atau camilan ringan, bekerjasama dengan klien barunya yang akan mengatur berdirinya kembali perusahaan baru makanan ringan milik Wijaya group ntah sudah masuk urutan perusahaan yang nomer berapa.


"Hmmm...akhirnya semua kelar juga..aku harap perusahaan baru ini nanti akan berkembang sesuai rencana ku...besok aku akan meminta Kriss untuk pergi ke anak cabang bagian properti, untuk mendesain bangunan perusahaan..."


menyandarkan kepalanya pada sofa dengan mata terpejam.


Sedangkan tangannya kini menggambar di udara sebuah desain bangunan perusahaan yang di inginkan nya.


"Aku ingin bangunan yang sederhana, tidak terlalu menonjolkan kesan mewah...yang terpenting bisa menampung tenaga kerja yang cukup banyak..."


"Aku akan membangun perusahaan itu di kota C, setidaknya bisa menghasilkan lapangan kerja di kota yang cukup sepi itu...dan bisa membantu perekonomian warga disana dengan lapangan kerja yang tersedia..."


gumam Hanafi pelan di tengah ruangan yang remang-remang hanya sebuah lampu di sudut ruangan yang menyala, dan wajahnya terlihat terang karna terpapar dari lampu layar laptop yang masih menyala.


Hanafi menegakkan kepalanya, ia mengetikkan beberapa perintah yang sudah menjadi angan-angan nya tadi. Lalu dengan segera ia kirimkan kepada Kriss yang akan menjalankan tugasnya besok menggantikan dirinya.


"Hooam..aku mengantuk sekali.."


sudah mematikan laptop dan menutup nya lalu beranjak meninggalkan laptop itu tergeletak begitu saja di meja . Hanafi menaiki tangga,


kenapa udara disini dingin sekali...


Gumam Hanafi dalam hati, sekarang ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada berharap sedikit meredam hawa dingin yang menusuk kulitnya.


Sekelebat Hanafi melihat sosok seorang berdiri di balkon, secepat kilat ia menoleh lagi dan terkaget ketika melihat Insha yang berdiri di sana menghadap ke arah pantai.


Hanafi segera berlari kecil menghampirinya.


"Insha apa yang kau lakukan disini.."


Memeluk tubuh Insha dari belakang berharap dapat sedikit mengurangi angin malam yang dingin menerpa tubuh mungilnya.


Kini Insha yang terlonjak kaget tiba-tiba mendapat pelukan dari belakang, padahal baru saja ia melihat Hanafi tengah sibuk dengan laptopnya di lantai bawah.


"Eeh..mas han..gak melakukan apa-apa kok....aku tadi terbangun dan melihat mas han tak ada...makanya aku mencari mas han...ternyata mas han masih bekerja ya.."


"Maaf aku meninggalkanmu sendirian tadi..ada pekerjaan yang harus aku selesaikan.."


"Gak apa-apa kok mas..aku tak mau mengganggu mas tadi...dan aku melihat diluar ternyata pemandangan pantai malam hari indah juga ya..."


Insha berbicara masih fokus memandang laut lepas,tangan kanannya memegangi tangan Hanafi tapi tangan kirinya sekarang mengelus-elus perutnya.


Insha benar pemandangan pantai malam hari sangat indah..sudah berkali-kali aku berlibur ke pantai..tapi baru kali ini aku benar-benar mengagumi keindahannya..


Hanafi ikut melihat laut lepas, tapi seketika ia menyadari tangan Insha yang tak biasa.

__ADS_1


"Insha...kenapa dengan perutmu...apa kau lapar.."


"Tidak mas han..aku sungguh kenyang dengan hidangan makan malam tadi.."


"Atau perutmu sakit ya..ayo cepat masuk..angin malam memang tak baik untuk kesehatan..aku akan memanggilkan dokter untukmu.."


gusar sendiri takut kepanikan pagi hari akan terjadi lagi.


"Hentikan mas han..aku tidak apa-apa...aku baik-baik saja...sungguh...hanya saja.."


"Hanya saja kenapa Insha...katakan.."


"Aku merasa aku sudah telat datang bulan.."


"Benarkah...sudah telat berapa hari.."


Wajah gusar Hanafi hilang seketika kini wajanya berbinar senang dan membalikkan tubuh Insha menghadapnya.


"Ntah lah...mungkin 10 hari atau lebih.."


ikut tersenyum mendapati wajah Hanafi yang berbinar senang.


"Mungkinkaaah..."


Hanafi mencoba menebak-nebak.


Insha hanya mengangkat bahunya tinggi-tinggi sambil tersenyum manja pada Hanafi.


Tak di pungkiri keduanya sangat menginginkan hadir nya seorang bayi dalam keluarga kecilnya, yang akan menjadi pelengkap keluarganya. Mengisi hari-hari mereka juga sebagai bukti dari cinta kasih mereka .


Insha sangat menyukai anak kecil, ia suka bermain-main dan menggoda anak siapapun itu ketika di desa. Bahkan ketika di pondok pesantren ia lebih suka memilih untuk mengajar di bagian anak-anak karna Insha sangat menyukai tingkah laku lucu anak-anak tersebut, ia juga dengan sabar menghadapi dan mengajarinya.


Begitu pula dengan Hanafi yang segera ingin memiliki anak dari pernikahannya dengan Insha, ia berharap dengan adanya anak dalam keluarga dapat menghidupkan rumahnya yang selama ini sepi.


"Kita akan pergi ke dokter setempat besok ya.."


"Jangan dulu mas.."


"loh kenapa..?"


"Kita perlu memastikannya dulu.."


"Bagaimana caranya...bukankah lebih baik pergi ke dokter untuk memastikannya.."


"Tidak mas...aku hanya perlu alat test kehamilan untuk memastikannya...nanti jika memang hamil kita baru pergi ke dokter.."


"Baiklah...aku akan menyuruh seorang untuk mendapatkannya...kau butuh berapa alat test kehamilan sayang.."


"Satu saja sudah cukup mas..."


"Baiklah..."


Sudah mengetikkan sesuatu di ponselnya.

__ADS_1


"Besok saja kan bisa mas.."


"Tidak aku ingin sekarang..."


"Mana ada orang berjualan malam-malam begini.."


"Tentu saja ada sayang.."


"Ayo kita masuk dulu...angin malam tak baik untuk kesehatan..kau bisa sakit nanti.."


mendorong tubuh Insha masuk ke dalan ruangan dan menutup pintu kaca di belakang balkon .


Mereka kini berada di lantai bawah terduduk di sofa, Hanafi mengalungkan tangan nya ke leher Insha dan mengelus-elus perut Insha pelan.


"Sayang..."


membisik lembut di telinga Insha


Insha menatap Hanafi dengan senyuman manjanya.


"Ada apa mas han.."


"Panggil aku sayang mulai sekarang.."


"mmm..."


tak sanggup berkata apa-apa lidahnya kelu juga merinding dengan bisikan-bisikan lembut Hanafi di telinga nya.


"Ayolah panggil aku sayang.."


"mmm..iya mas han.."


"Bukan mas lagi...tapi sayang.."


"mmm...iya sa..sayang.."


tersipu malu sendiri dengan panggilannya pada Hanafi.


"Ya seperti itu aku ingin kau memanggilku.."


tersenyum puas lalu mendaratkan kecupan lembut di bibir mungil istrinya.


Baru beberapa menit berlangsung, mereka di kagetkan dengan suara ketukan pintu seorang pengawal.


Hanafi pun tak merasa terusik sedikit pun, seperti biasanya dia menyuruh orang itu untuk masuk. Pengawal itu masuk membawa paper bag kecil dan menaruhkan di meja di depan Hanafi.


Lalu menganggukkan kepala dan segera pergi.


Hanafi meraih paper bag itu dan melihat isinya, begitu juga Insha yang mengintip ketika Hanafi melihatnya.


astaga...aku menyuruhnya membeli satu..kenapa membeli sebanyak itu...dasar tuan muda slalu seenaknya saja...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2