2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Pak Sun


__ADS_3

Malam itu setelah Salma dan Hanafi makan berdua, Hanafi mengantar Salma untuk beristirahat di kamarnya.


Sedangkan ia sendiri memilih tidur di kamar Insha sendirian, memeluk guling yang selalu di pakai Insha, juga terkadang menciumi aroma tubuh yang masih tertinggal di tempat tidurnya. ia merasakan rindu yang teramat sangat, ia pun sering tertidur dalam isaknya.


*


Hari terus berganti, sudah satu minggu berlalu tapi Insha belum juga bisa di temukan.


Hanafi di buat sangat kacau dengan keadaan ini, dia sering marah-marah tidak jelas membentak para pengawal atau siapapun yang menelpon memberikan informasi yang tidak sesuai dengan harapannya.


Hanafi juga sama sekali tidak mengurusi perusahaannya. Hingga banyak klien yang di buat kecewa oleh sikapnya. Hanya dalam waktu satu minggu kedudukan semua saham perusahaannya merosot tajam. Tak sedikit juga klien yang gagal bekerjasama atau pun memutuskan untuk mundur dari kerjasamanya karna tidak sportifnya sikap Hanafi dalam menjalankan bisnisnya.


Desas-desus tentang perginya istri tuan muda Wijaya group itu telah sampai di banyak telinga terutama para klien, juga kolega-kolega yang bekerjasama dengan nya.


Sikap Hanafi yang lebih mementingkan urusan pribadinya, menjadi sebuah alasan banyak klien yang memutus kerjasama dengannya.


Dengan menurunnya kedudukan saham di perusahaan, Kriss lah yang di buat kalang kabut dalam menanganinya. Dia berusaha menjalin lagi hubungan baik dengan para klien yang masih bertahan.


Dia juga masih di buat khawatir karna belum di temukannya Insha dalam pelariannya.


*


Pagi itu tepat jam 05:00 pagi Hanafi sudah terbangun dari tidurnya.


Dia menatap tempat tidur di sebelahnya,


Insha...pulang lah aku merindukanmu...aku merindukanmu yang selalu membangunkanku setiap pagi...rindu melihatmu tertidur pulas di sampingku...


Hanafi pun menghela nafas panjang, akhir-akhir ini dia sering bangun kesiangan, karna waktu tidurnya yang tak menentu, ia juga sering bangun tengah malam hanya karna teringat dengan Insha, juga karna mimpi buruk yang selalu menghantuinya.


Ia sering bermimpi Insha yang pergi dan tak pernah kembali, sering bermimpi kalau Insha tengah berduaan bersama lelaki lain dan mimpi-mimpi buruk yang lainnya tentang kekhawatirannya pada Insha.


Hanafi pun berjalan malas ke kamar mandi hendak menjalankan rutinitasnya mandi setiap pagi. Setelah beberapa saat dia terlihat keluar dari kamar mandinya dengan rambut yang setengah basah, juga handuk yang masih melekat di tubuhnya.


Ia berdiri di depan cermin menatapi bayangan tubuhnya.


"Kehidupan apa yang akan aku jalani tanpamu Insha..."


Ia lalu mengacak-acak rambutnya, seperti yang sering Insha lakukan padanya.


"Kau menyukainya kan...menyukai rambutku yang seperti ini..."


"Aku selalu menuruti apapun yang kau mau...tapi kenapa kau masih saja pergi dariku Insha..."


Hanafi mengingat lagi saat Insha bergelayut manja di lehernya, dengan duduk di pangkuannya, menatapnya dengan tatapan penuh cinta.


Insha sering kali menggoda Hanafi dengan tatapan manjanya, tatapan yang membuat Hanafi selalu luluh dibuatnya.


Kenangan-kenangan indah itu terus saja berparade dalam fikirannya, melukiskan sebuah senyuman tipis di bibir manisnya.


Tokk..tokk..tokkk


suara ketukan pintu.


Tiba-tiba saja Hanafi terkesiap dengan suara ketukan pintu itu, seketika juga lamunannya tentang Insha buyar begitu saja.

__ADS_1


Ia cukup heran siapa yang mengetuk pintu kamarnya sepagi ini, karna beberapa hari belakangan tak ada yang berani mengganggunya, mengingat sang tuan muda ini memiliki emosi yang labil akhir-akhir ini.


"Masuk..."


Hanafi menjawab ringan.


Terbukalah pintu kamar itu, ia melihat sosok seorang yang tak asing di matanya meski dengan tubuhnya yang mulai menua.


"Pak Sun..."


Seketika Hanafi menghambur memeluknya, bahkan saat pak Sun masih ada di ambang pintu, Hanafi sangat senang karna kedatangannya


Pelukannya selalu hangat untuk Hanafi, seakan ia menemukan pelukan tangan yang sama seperti tangan ayahnya dulu.


"Apa kabar tuan muda.."


pak Sun menepuk-nepuk pundak Hanafi lembut.


"Saya baik-baik saja pak...bagaimana dengan bapak..."


Hanafi tersenyum ceria, untuk beberapa saat ia lupa akan kesedihannya.


"Saya juga baik-baik saja tuan..."


"Mari masuk pak..."


Mereka pun berjalan dengan satu tangan Hanafi yang masih tertaut pada bahu pak Sun.


Hanafi memberikan isyarat untuk pak Sun duduk bersamanya di tepi tempat tidur.


"Bapak kesini pagi-pagi sekali...jam berapa pak Sun berangkat dari villa bapak..bukannya perjalanan cukup memakan waktu ya..."


"Iya tuan, saya berangkat tengah malam tadi...saya pikir akan menemui tuan muda di pagi hari..."


"Bapak mengendarai mobil sendiri.."


"Tentu tidak tuan, saya bersama sopir yang mengantar saya..."


"Baguslah kalau begitu...tidak baik juga di usia bapak yang sekarang harus mengemudi sendirian.."


Hanafi tiba-tiba mengambil posisi di tengah tempat tidur, lalu memberikan isyarat kepada pak Sun untuk duduk di sebelahnya.


"Pak..bolehkah saya tidur di pangkuan bapak..."


Hanafi memelas pada pak Sun.


"Tentu saja tuan..lakukan apapun yang tuan inginkan..."


Pak Sun terlihat tersenyum ramah pada Hanafi, karna dia tahu suasana hati Hanafi saat ini. Itu juga yang sering di lakukan Hanafi dulu saat kehilangan kedua orang tuanya.


Hanafi menaruh satu tangan pak Sun di kepalanya, dan pak Sun mulai mengelus kepala Hanafi lembut.


Untuk beberapa saat keadaan hening, Hanafi terpejam merasakan belaian tangan hangat pak Sun yang selalu dirindukannya.


"Bangkitlah tuan muda...Wijaya group membutuhkan anda..."

__ADS_1


"Aku tak bisa berfikir tentang apapun sekarang pak...apa bapak tau tentang..."


Hanafi masih memejamkan matanya, pak Sun berkata sebelum ia selesai dengan kalimatnya.


"Tentu saya tau tuan....tentang nona Insha bukan..."


"Hemmm...mungkin memang aku yang bodoh pak...Insha pergi karna salahku.."


"Salah tuan atau bukan...tapi bukan seharusnya tuan muda meninggalkan Wijaya group begitu saja "


pak Sun terdengar bernafas dalam.


"Tuan muda lupa bagaimana tuan besar mendirikan perusahaan tersebut dengan susah payah sampai menjadi seperti sekarang...Wijaya group butuh anda tuan...jangan biarkan kerja keras tuan selama ini menghilang begitu saja..."


Hanafi membuka matanya, mencoba menghela nafas dalam.


"Saya mengerti apa yang tuan muda rasakan sekarang...tapi saya mohon...berusahalah untuk tegar..berikan dorongan untuk tuan bangkit kembali..jangan terpuruk dengan keadaan ini...setidaknya lakukanlah semua untuk calon penerus Wijaya group nanti...seperti yang tuan besar lakukan dulu, untuk menjamin kehidupan tuan muda selanjutnya..."


Hanafi kini menatap pak Sun masih dalam pangkuannya, pak Sun pun menghentikan elusan tangannya.


"Pak Sun tau tentang Salma..."


Hanafi menatap pak sun dengan penuh kebingungan.


"Tentu saja tuan...saya tau semua tentang tuan muda...tentang nona Insha..nona Salma dan kehamilannya.."


pak Sun menjawab ringan dengan wajah yang datar.


Seketika Hanafi pun bangun dan duduk di samping pak sun memandangnya lekat.


"Siapa yang telah memberitahu pak Sun tentang ini....katakan siapa saja yang telah mengetahuinya pak..."


"Tidak penting siapa yang mengatakannya tuan...tak mudah seorang perempuan untuk menerima pernikahan kedua ...itu mungkin yang membuat nona Insha pergi dari tuan.."


"Aku harus bagaimana pak...aku terjebak dalam situasi ini...aku sangat mencintai Insha...aku tak mau melepasnya begitu saja...dan juga Salma dia sedang mengandung anakku sekarang...aku tak bisa memilih satu di antara mereka..."


Hanafi kini mulai berkaca-kaca, mencoba menahan tangisnya.


"Nona Insha tentu tak bisa menerima semua kenyataan ini tuan...dia butuh waktu untuk menerimanya...dan itu tidak sebentar...seorang wanita tak akan rela membagi cintanya pada orang lain.."


pak Sun sekarang mengelus-elus bahu itu lembut, yang membuat Hanafi semakin tak bisa menahan tangisnya.


"Berlakulah adil tuan...lakukan apapun yang di inginkan nona Insha..buat dia menerima keadaan ini pelan-pelan....jangan memaksa nya...hati nona Insha sedang rapuh sekarang...dia perlu kasih sayang tuan untuk menguatkannya kembali.."


"Bangkitlah tuan...berikan semangat kepada diri anda...anda harus bertanggung jawab kepada semua..pada nona Insha...nona Salma maupun Wijaya group yang sangat membutuhkan pemimpin seperti tuan..anda orang hebat..anda kuat...anda harus tetap tegar menghadapi semua...percayalah pada kemampuan tuan untuk menghadapinya.."


pak Sun berusaha memberikan semangat kepada Hanafi yang sedang terpuruk sekarang.


"Semua sudah terlambat pak...bahkan sekarang Insha sudah pergi dariku..dia pergi jauh ntah kemana..bahkan aku tak tau bisakah aku bertemu lagi dengannya..tak ada lagi semangat untukku bangkit..."


Hanafi menatap nanar pada pak Sun dengan masih menitikkan air matanya.


"Semua belum terlambat tuan...nona Insha tak pergi jauh dari tuan..."


Hanafi menatap bingung karna perkataan pak Sun, lalu sedetik kemudian pak sun meneruskan kalimatnya.

__ADS_1


"Saya tau dimana nona Insha sekarang..."


Bersambung....


__ADS_2