2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
negara X


__ADS_3

Hari, minggu dan bulan berlalu begitu cepat, di penuhi dengan segala keanehan serta kejahilan Insha terhadap Hanafi.


Badan Hanafi yang dulu kurus kini menjadi lebih berisi karna sikap Insha yang terus saja ingin memaksa Hanafi untuk makan sesuatu dengan porsi yang berlebihan.


Saat ini Insha dan Hanafi tengah berada di negara X. Mereka baru saja melakukan perjalanan untuk pertama kalinya dalam kehamilan Insha.


Sudah 3 hari mereka bermalam di negara X di apartement mewah yang di sewa khusus untuk perjalanannya kali ini.


Dokter juga telah mengijinkan Insha untuk menaiki pesawat karna kondisi Insha yang tergolong normal dan memungkinkan untuk melakukan perjalanan kemana pun yang dia inginkan.


Tapi Insha tak serta merta pergi begitu saja, mereka membawa beberapa paramedis yang selalu mengecek kondisi Insha secara berkala disana, agar tak terjadi hal-hal yang tak mereka inginkan saat liburannya kali ini.


Insha dan Hanafi berjalan berdua bergandengan tangan menyusuri jalan dengan bebatuan yang sudah di susun indah dan rapi. Di temani juga dengan lampu-lampu indah yang gemerlapan bagai sebuah bintang yang bertaburan.


Negara X di kenal dengan negara cinta, tempat yang menyuguhkan segala keindahan di berbagai model bangunannya, jalannya,pesisir pantai yang indah dengan sunrise dan sunset yang selalu mencuri perhatian berjuta-juta pasang mata saat terlihat, serta ornamen-ornamen khas yang selalu terpajang di berbagai tempat. Tak heran banyak orang memadu kasih di negara tersebut, karna terkenal akan keindahannya membuat siapa saja dapat dimabuk cinta ketika berada disana.


Diantara area-area yang mereka kelilingi tadi tempat ini adalah tempat yang paling sepi, membuat Insha menjadi heran karna tempat seindah ini tak ada satu pun pengunjung yang berlalu lalang.


"Kenapa tempat ini terlihat sepi sekali sayang...padahal menurutku ini adalah tempat yang terindah di antara yang kita kunjungi tadi..."


Hanafi tak merespon apapun ia hanya menatap Insha sambil tersenyum penuh arti. Sampai mereka memasuki area taman dengan lampu kecil berkerlap-kerlip yang menerangi jalanan malam yang tampak gelap. Area paling terlihat terang di antara semua yang ada.


Insha semakin menatap takjub di sekelilingnya, bagian atas mereka banyak tanaman gantung yang memenuhi langit-langit dengan bertabur lampu kerlap-kerlip seakan menggantikan sinar bintang yang terang di malam indah.

__ADS_1


Mereka semakin di buat masuk ke sebuah lorong yang semakin sempit, saat sampai di ujung lorong itu Insha seketika menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangannya. Tak percaya dengan apa yang ada di depannya, teryata Hanafi memberikan sebuah kejutan di tengah taman yang Indah itu.


Lepas dari lorong-lorong indah taman yang di penuhi bunga-bunga gantung. Insha masuk ke area padang rumput luas beratapkan langsung langit yang bertabur bintang malam yang indah. terdapat sebuah lampu yang disusun berbentuk bayi mungil yang sedang tersenyum.


Disebelahnya terdapat sepasang kursi dan meja dengan berbagai hidangan di atasnya. terdengar juga alunan musik romantis yang ntah berasal darimana, karna hanya ada mereka berdua disana. Hanafi semakin menggandeng Insha mendekati meja itu, mempersilahkan Insha duduk.


Hanafi mengambil sebuah kotak di meja itu lalu berjongkok samping Insha, sebuah cincin berlian muncul dari balik kotak. cincin berlian berwarna biru terang di sematkan di jari manis Insha.


"Aku tepati janjiku....membawamu kembali ke negara X ini...negara cinta dengan seluruh keindahannya..."


kata Hanafi sambil mengecup cincin yang ada di jari manis Insha.


"Dan aku bersyukur kini aku bisa membawamu kembali kesini dengan calon anak kita ini...rasa bahagiaku terasa berkali-kali lipat di banding sebelumnya..."


Hanafi mengelus perut Insha yang sudah membesar lalu menciumnya beberapa kali.


jawab Insha sambil tersenyum cerah.


"Ya tentu saja....aku menyewa tempat ini untuk semalam agar tak ada yang mengganggu kita..."


Hanafi berjalan ke kursinya.


"Kau tau di tempat ini biasanya tempat berkumpul banyak pasang mata yang akan menyaksikan langsung keindahan malam bertabur bintang....dan kau lihat itu..."

__ADS_1


Hanafi menunjuk ke arah langit luas, tergurat beberapa instrument warna yang bergerak di langit, dengan gelombang-gelombang indah yang tak akan membiarkan mata siapapun berpaling ketika melihatnya.


"Kau adalah salah satu orang yang beruntung bisa melihat aurora di langit negara X ini sayang...pemandangan yang selalu di nanti oleh banyak pasang mata....banyak orang yang selalu menunggu moment ini...dan aku juga salah satunya...."


"Apa kau sering melihatnya disini..."


tanya Insha yang sama sekali tak memalingkan pandangannya dari langit malam.


"Aku sering datang kesini dulu..ingin melihat aurora itu langsung...tapi aku tak pernah berhasil melihatnya...tapi ntah mengapa mungkin sekarang kita sedang beruntung dapat melihatnya...dan aku sangat beruntung dapat menyaksikannya dengan kalian berdua..."


Masih memandang langit luas dengan segala keindahannya, tiba-tiba Insha merasa pusing dan seketika badanya melemas hendak terjatuh dari kursinya tapi Hanafi yang menyadarinya segera berlari dan menopang tubuh Insha sebelum akhirnya Insha tak sadarkan diri disana.


Makan malam romantis itu gagal, Hanafi segera memberi kode pada para pengawal yang bersiaga di sekitarnya untuk segera memanggil ambulan untuk membawa Insha ke rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit dokter disana mengatakan jika Insha baik-baik saja dia hanya perlu beristirahat karna tubuhnya terlalu lelah menjalani aktivitasnya.


Beberapa hari ini memang Insha dan Hanafi selalu berjalan-jalan di berbagai tempat pariwisata disana, berniat mengajak Insha liburan dan bersenang-senang tapi sekarang Hanafi malah di buat khawatir oleh kondisi Insha.


Ketika Insha sudah sadar dia di minta untuk melakukan USG untuk mengetahui kondisi dari bayinya. Dengan alat USG yang lebih canggih disana usia kandungan Insha berbeda dengan yang sebelumnya, selisih sampai 2 minggu. Tentu saja Insha dan Hanafi tak langsung mempercayainya.


Dokter disana menyarankan Insha untuk tidak bepergian menaiki pesawat lagi karna itu membahayakan kesehatannya dan juga bayinya. Apalagi melihat kondisi Insha sekarang yang mudah lelah, dengan segala pertimbangan akhirnya Insha memilih untuk menjalani proses persalinan di negara X dengan alat yang lebih canggih. Ia juga mengingingkan proses kelahiran secara normal dengan segala resikonya.


Di kehamilannya yang sudah menginjak usia 8 bulan ini Hanafi berpindah dari apartement menuju ke sebuah villa dekat dengan rumah sakit yang sudah di tunjjuk Insha untuk menjalani persalinan. Hanafi juga sering bolak balik ke negaranya untuk mengurusi berbagai pekerjaannya, mengecek keadaan Khanza juga mengajak serta pelayan yang di tunjjuk Insha untuk menemaninya di negara X menjelang persalinannya.

__ADS_1


Insha menjalani berbagai terapi di negara X yang di percaya bisa melancarkan persalinan secara normal. Insha juga mengikuti class cara merawat bayi baru lahir, cara menyusui dan masih banyak lagi. Waktunya disana hanya di curahkan Insha untuk fokus pada kehamilannya yang tinggal menghitung minggu itu.


Bersambung....


__ADS_2