2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Penuturan Prass ( part 2 )


__ADS_3

Keesokan harinya Prass dan orang tuanya berkunjung di kediaman pondok pesantren untuk membicarakan langsung semua rencana pernikahan bersama Insha.


Insha pun cukup terkaget dengan semua itu, pasalnya ia belum mengatakan apapun pada Prass tapi dia sudah mengajak orang tuanya kesana, bahkan membicarakan soal rencana pernikahan.


Insha masih memiliki kekhawatiran besar tentang kondisinya, apakah orang tua Prass tau tentang semua kondisinya, karna ia tak mau lagi mengulang kejadian yang sama sakitnya.


Apalagi mengingat Prass adalah anak satu-satunya dan orangtuanya pasti merindukan kehadiran cucu dalam pernikahan mereka.


Di tengah pembicaraan mereka yang membahas tentang rencana pernikahannya Insha langsung saja memotongnya dengan berkata.


"Maaf tante dan om sebelumnya tapi mungkin saya tidak bisa menikah dengan kak Prass.."


Insha menatap mereka semua bergantian. Raut wajah terkejut di tunjukkan oleh ketiganya, ibu Prass langsung saja berkata pada Insha.


"Kenapa sayang...kenapa kau tak setuju..."


dengan wajah yang memelas ibu Prass memandang Insha.


"Aku pasti nanti akan mengecewakan kalian nantinya..karna aku.."


Prass langsung saja memotong perkataan Insha, karna dia sudah tau arah pembicaraannya.


"Tak bisa memiliki anak...itu kan yang kau permasalahkan...aku dan kedua orang tuaku sudah mengetahui itu In...dan kami bersedia menerimamu...apapun kondisimu..."


Prass menatap Insha penuh kasih sayang.


"Iya sayang...jangan fikirkan masalah itu...setiap manusia pasti punya kekurangan...lagian kalian kan bisa mencoba program bayi tabung mungkin...dunia medis telah canggih sekarang sayang...mendapatkan seorang anak adalah hal yang mudah sekarang...tenanglah..."


jawab ibu Prass sambil mengelus-elus puncak kepala Insha lembut.

__ADS_1


"Iya Insha...kalaupun itu tidak bisa kalian bisa mengadopsi anak...banyak anak yang terlantar di luar sana yang tak memiliki kasih sayang orang tua...sebutan anak bukan hanya seorang yang keluar dari rahim perempuan...buktinya bukan hanya Prass anakku...masih banyak anak asuhku di luar sana...anak-anak yatim piatu yang butuh kasih sayang dan biaya dalam hidup mereka...mereka semua juga memanggilku ayah, mereka menganggapku sebagai orangtuanya bahkan juga menyayangi kami seperti Prass....iya kan sayang..."


Ayah Prass juga dengan santai menjawabnya, ia sama sekali tak terbebani dengan kekurangan Insha sekarang.


"Yang terpenting dalam rumah tangga adalah adanya rasa cinta dan kepercayaan satu sama lain sayang...soal anak itu adalah rejeki dari yang maha kuasa...Tuhan akan memberikannya jika kita di nilai sudah mampu dan pantas untuk merawatnya....jangan mengkhawatirkan soal itu..."


Ibu Prass bahkan kini memeluk Insha dengan hangat, yang di balas Insha juga dengan pelukan yang sama.


Sementara Prass hanya tersenyum cerah mengetahui kedua orangtuanya tak mempermasalahkan kekurangan Insha.


Tanpa terasa Insha pun menitikkan air matanya, ia merasa memiliki sebuah keluarga yang utuh sekarang, ia seakan mendapatkan kasih sayang kedua orangtuanya lagi.


Pembicaraan pun di lanjutkan membahas tentang rencana pernikahan, seperti tanggal akad, undangan dan siapa saja yang akan di undang, resepsi dan gedung tempat resepsi. Sempat menjadi perdebatan untuk memilih tempat resepsi, ayah Prass ingin mengadakan resepsi di area pondok pesantren saja tapi istrinya tidak setuju karna takut akan mengganggu kegiatan belajar para santri dan akhirnya di putuskan untuk menyewa sebuah gedung di area kota, gedung bintang 5 yang cukup luas dan sering di gunakan untuk resepsi para kaum sosialita elit.


Tanggal pernikahan juga sudah di tentukan, dari hari itu terhitung pernikahan kurang 3 bulan lagi, tentu masih sangat cukup untuk mempersiapkan segalanya dengan sempurna dalam waktu 3 bulan. Mengingat Prass adalah anak satu-satunya dari keluarga itu.


Dan pesta resepsi sudah di pastikan akan sangat ramai dan megah nanti.


Tepat 2 bulan sebelum rencana resepsi itu, Prass merasakan ada hal yang aneh dari Insha. Ia lebih banyak diam akhir-akhir ini, tidak ceria seperti biasanya, ia bahkan sering sekali melamun, kadang juga tidak nyambung ketika di ajak berbicara. Dengan perubahan sifat Insha ini Prass menjadi ragu apakah Insha benar-benar mencintainya atau tidak. Sampai sekarang pun Insha tak pernah menjawab kata iya ketika Prass menanyakan tentang kemauan Insha menikah dengannya. Dengan berani pun Prass kembali bertanya pada Insha, ia tak ingin ketika ia sudah menikah nanti Insha tak bahagia hidup dengannya, atau bahkan Insha menyesali telah menikah dengannya, karna Prass hanya ingin kebahagiaan untuk Insha.


"Insha...aku ingin bertanya sekali lagi denganmu...apa kau mau menikah denganku..."


Prass memegang kedua lengan Insha dan menatapnya lekat.


Hati Insha berdebar melihat tatapan serius Prass padanya, memang Insha masih ragu untuk menjalani kehidupan rumah tangga dengan Prass.Fikirannya menerima Prass sebagai calon suaminya, tapi ntah kenapa hati kecilnya seakan menolak. Ketika ia bertanya pada dirinya sendiri apakah ia mencintai Prass, ia ingin berkata "iya" karna ia selalu nyaman dan tenang saat berada di sampingnya bahkan ia khawatir saat Prass tak datang menemuinya. Tapi saat Prass menginginkan Insha menjadi Istrinya hati kecilnya seakan tak rela menjalaninya, ada sesuatu yang tak bisa Insha jelaskan disana. Semakin ia memaksa dirinya untuk menikah dengan Prass semakin terasa sesak hatinya.


Melihat Insha yang hanya memandangnya tanpa sepatah kata pun Prass kembali berkata, sambil melepas tangan dari kedua lengan Insha dan menyeringai lebar.


"Ya aku sudah tau jawabannya...kita batalkan semua rencana pernikahan kita...aku tak akan menikahimu..."Eder

__ADS_1


"Apa maksud kak Prass..."


"Kau tak pernah mencintaiku....itu sebabnya kau tak pernah menjawab pertanyaanku..."


"Bukan begitu kak Prass dengarkan aku dulu..."


"Tak ada yang bisa di dengarkan lagi...aku bahkan sudah menduganya...rasamu padaku hanya sekedar rasa sayang saja In...kepada seorang kakak tak lebih dari itu...dan rasa cintamu tetap pada 1 orang yaitu Hanafi...meski kau slalu mengelak untuk mengatakannya...tapi dalam hati kecilmu masih ada rasa cintamu padanya..."


"Kak Prass dengarkan aku dulu...itu hanya prasangkamu...semua tidak seperti itu..."


"Jangan kau menerimaku sebagai suamimu hanya karna balas budimu kepadaku dan orangtuaku In....aku dan orangtuaku sama sekali tak mengharapkan itu....kami memenuhi semua kebutuhanmu karna kami peduli kepadamu...bukan karna ingin menjadikanmu istriku In...semua itu terserah padamu...bagaimana perasaanmu...jika kau mau menikah denganku karna semua yang telah aku berikan padamu dan kau hanya ingin balas budi pada semua itu...maka urungkan niatmu itu...karna aku hanya akan menikah dengan orang yang benar-benar mencintaiku..."


Prass menatap Insha dengan penuh kekecewaan.


Sedangkan Insha hanya bisa terisak disana karna semua yang di katakan oleh Prass memanglah benar adanya.


Prass pun beranjak dari hadapan Insha, sebelum ia pergi ia berkata sambil memalingkan wajahnya.


"Aku akan batalkan semuanya...dan aku tak akan menikahimu Insha... karna bahagiamu bukan aku..."


Prass pun melenggang pergi, dan menuju ke rumah orang tuanya. Disana Prass bercerita semua yang telah terjadi padanya, Prass membatalkan pernikahannya karna Insha yang tak mencintainya. Orangtuanya pun tak marah karna penuturan Prass karna bagaimana pun peraasaan cinta memang tak bisa di paksakan, mereka tak ingin Insha nantinya malah tersiksa karna pernikahan ini, setelah menjalani pernikahan sebelumnya mereka tak mau Insha tersakiti lagi karna rumah tangga keduanya.


Tak ingin berlarut-larut dalam kesedihannya Prass dengan pasrah pun mengatakan kepada orangtuanya.


"Carikan aku calon istri....aku akan patuh pada ayah dan ibu dan aku akan menikahinya...siapapun itu...carikan aku wanita yang terbaik menurut kalian...bukan untuk pelampiasan tapi aku akan menikahinya karna Allah..."


Prass pun dengan rasa kecewa masuk kedalam kamarnya, kedua orangtuanya hanya menatap sedih kepada Prass, karna anaknya kembali mengulang luka yang sama.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2