2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Kondisi Salma


__ADS_3

Hanafi sedang berada di ruang dokter Arya yang sedang menunggu jam prakteknya.


"Ada apa han..."


tanya dokter Arya yang terkejut Hanafi tiba-tiba memasuki ruangannya.


"Antarkan aku ke dokter kandungan tadi..aku ingin tau hasilnya.."


"Nanti dia akan menghubungiku jika hasilnya sudah keluar.."


"Aku mau sekarang..percepat prosesnya..aku ingin lihat hasilnya secepatnya..."


"Hmm..Baiklah ..tunggu sebentar.."


memang ya...dia ini tuan muda yang suka seenaknya sendiri..


Arya pun terlihat mengetikkan sesuatu dalam ponselnya, lalu segera membawa Hanafi ke ruang dokter Vina seorang dokter kandungan.


Mereka pun memasuki ruangan itu, terlihat seorang petugas lab baru saja keluar dari ruangan dokter Vina, rupanya ia yang membawa hasil dari pemeriksaan Insha.


"Katakan bagaimana keadaan kandungan istriku.."


tanya Hanafi tanpa basa-basi.


Dokter Arya yang duduk di sebelah Hanafi pun menatap tajam pada dokter Vina, berharap ia segera membacakan hasilnya.


Dokter Vina memegang beberapa lembar hasil lab juga USG yang telah di lakukan Insha tadi, ia melihatnya dengan teliti. Vina terlihat menghela nafas panjang sebelum memulai penjelasannya.


"Begini tuan muda Hanafi...saya cukup terkejut dengan kondisi yang dialami nona muda...apa nona pernah melakukan operasi pengambilan salah satu tuba falopinya.."


"Hemm..dulu waktu usianya masih meginjak 2 tahun.."


jawab Hanafi cepat.


Arya pun di buat kaget dengan pernyataan itu, tapi ia tak berani bertanya apapun.


"Baik tuan...terlihat jelas nona muda disini hanya mempunyai satu tuba falopi...sedangkan tuba falopi sendiri adalah tempat sel telur wanita di produksi..tanpa sel telur seorang wanita tidak akan bisa hamil..dan saya sudah melakukan beberapa pemeriksaan tadi terhadap tuba falopi dan sel telur yang ada..."


"Satu tuba falopi yang masih tersisa tidak dalam keadaan baik tuan..ia bisa melepaskan sel telur..tapi sel telur yang di lepaskan dengan ukuran yang kecil dan jauh dari kata normal untuk ukuran sel telur yang dapat di buahi..cangkang luar dari sel telur itu juga keras sehingga sangat sulit sebuah ****** untuk menembusnya..."


"Dari hasil pemeriksaan, tuba falopi ini juga tidak begitu aktif mengeluarkan sel telur...dengan kata lain nona akan terus mengalami mentruasi dengan ada atau tidaknya sel telur...rahim akan terus mengalami peluruhan meski tidak terdapat sel telur yang di luruhkan.. nona memang menstruasi secara teratur setiap bulan tapi tidak pasti dengan sel telurnya..bisa ada atau bisa tidak...jika pun ada itu adalah sel telur dengan ukuran yang kecil tuan..sulit untuk di buahi..."


Hanafi tampak bermuka datar mendengarkan keterangan dari dokter Vina tak ada raut wajah terkejut sedikitpun, Sementara Arya yang malah di buat syok dengan semua penjelasan itu.

__ADS_1


"Apa bisa Insha hamil dengan berbagai pengobatan misalnya.."


tanya Hanafi setelah beberapa saat diam.


"Saya tidak yakin tuan...tapi sepertinya akan sangat sulit mengingat tuba falopi nona yang abnormal itu.."


jawab dokter Vina spontan dengan wajah yang sulit di tebak.


"Berapa persen Insha bisa hamil dengan keadaan ini..."


Doktet Vina di buat bingung dengan pertanyaan Hanafi. Dia terlihat menghela nafas beberapa kali, seakan tak mampu untuk menyampaikannya pada Hanafi.


"Mungkin hanya 1% tuan...dengan melihat semua kondisi nona muda sekarang...itu pun di dukung dengan sebuah pengobatan khusus...untuk menunjang sel telurnya..."


dokter Vina terlihat sedih menyampaikan kenyataan itu.


"Baik....terimakasih...tolong jangan mengatakan semua hal ini kepada istri saya...katakan semua baik-baik saja...ganti semua laporannya..."


Kata Hanafi dengan wajah yang sedih , ia lalu mengambil semua dokumen hasil pemeriksaan itu dan segera meninggalkan ruangan dokter Vina, bersama Arya yang terus mengekor di belakangnya.


Di lorong rumah sakit Hanafi masih memegang dokumen hasil pemeriksaan Insha, Hanafi pun berkata.


"Pegang ini Ar...jangan sampai Insha tau tentang semua ini....ganti semua dokumen ini...suruh dokter itu mengatakan semua dalam keadaan baik...aku tak mau Insha sedih mendengar semua kenyataan ini..."


tanya Arya dengan wajah bingungnya karna melihat wajah Hanafi yang sedari taldi terlihat tenang bahkan saat mengetahui semua kondisi buruk yang terjadi pada Insha.


"Ya...aku sudah tau semuanya..."


jawab Hanafi sambil berjalan dan berwajah datar.


"Lalu kenapa kau tetap menikahinya han..."


Arya makin menatap Hanafi dengan heran.


"Karna aku mencintainya...aku tak bisa hidup tanpanya...aku tak peduli dengan kondisinya..tapi aku akan terus berusaha...katakan pada dokter itu untuk meresepkan obat untuk Insha...untuk kandungannya...meskipun sedikit kemungkinan untuk hamil aku tetap akan melakukannya...dan aku percaya akan kekuasaan Tuhan..."


jawab Hanafi dengan ringan, ia masih berharap Insha bisa mengandung anaknya kelak, meski sangat mustahil itu terjadi.


***


Insha makin terisak di tepi tempat tidur itu, mendapati kenyataan yang pahit dalam hidupnya, kenyataan yang selama ini di sembunyikan darinya.


Hanafi pun merengkuh tubuh Insha yang masih terisak dalam pelukannya. Hanafi memeluk tubuh itu semakin erat, tubuh yang sudah lama di rindukan tangannya, tubuh yang sudah lama menjauh dan tak ingin di sentuhnya.

__ADS_1


"Kenapa aku han...kenapa harus aku.."


kata Insha terbata dalam tangisnya.


Hanafi hanya berusaha menenangkan Insha dengan menepuk-nepuk lembut tubuh yang di peluknya.


Setelah cukup lama Insha menangis dalam pelukan Hanafi ia pun berusaha melepas pelukan itu, lalu menatap Hanafi dengan lekat.


"Apa maksudmu..Salma mengandung dengan kondisinya...apa yang terjadi dengan Salma..."


"Tidak ada yang terjadi Insha...lupakan...Salma sudah tenang disana..."


"Tidak han...katakan apa yang terjadi pada Salma..."


Hanafi pun menghela nafas panjang, ia menceritakan semua pada Insha apa yang terjadi selama ini di belakangnya.


Ingatan Hanafi kembali ke beberapa bulan yang lalu tepatnya 2 minggu setelah kepergian ayah. Siang itu Hanafi selesai melakukan rapat di kantornya, ia ingin pulang lebih awal tapi sebelumnya ia menuju ke rumah sakit karna ada dokumen yang harus di tanda tanganinya.


Dokumen tentang persetujuan perluasan rumah sakit yang harus ia tanda tangani langsung sebagai pemilik rumah sakit tersebut.


Tanpa memberikan konfirmasi terlebih dahulu Hanafi langsung menuju rumah sakit, dan dia langsung menuju ruangan dokter Arya, masuk tanpa mengetuknya.


Hanafi masuk dan terkaget ada seorang perempuan yang di kenalnya, ya dia adalah Salma. Salma tampak duduk di depan meja dokter Arya sepertinya dia baru saja menerangkan hasil pemeriksaan Salma disana.


"Kak Salma...kenapa kak salma disini...apa kak Salma sakit..."


wajah Hanafi terlihat khawatir.


"Tidak han...emm..hanya sakit biasa...sedikit meriang..mungkin karna flu...iya kan dokter Arya..."


jawab Salma secepat kilat dan memberikan sebuah isyarat pada dokter Arya untuk merahasiakan sesuatu.


"Eeh...iya nona..anda baik-baik saja.."


jawab dokter Arya juga cepat.


Hanafi yang mendapati ada sesuatu yang mencurigakan ia pun segera meraih sebuah kertas yang di pegang dokter Arya di tangannya.


"Apa ini Ar...jelaskan..."


Hanafi juga fokus pada meja dokter Arya yang terdapat hasil CT scan dan juga MRI disana yang tergeletak begitu saja.


Hanafi pun menatap Arya dan Salma bergantian dengan wajah penuh pertanyaan dan butuh sebuah penjelasan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2