
Sudah 2 minggu setelah kelahiran bayi Salma, Hari ini bayi itu sudah di perbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit. Karna sang bayi sudah memenuhi syarat dan sudah cukup kuat untuk hidup tanpa bantuan alat medis.
Pagi itu Hanafi sudah bersiap untuk menjemput sang bayi. Semalam Hanafi telah di beritahu tentang hal itu oleh dokter Arya melalui pesan singkat.
Kamar untuk sang bayi pun sudah di siapkan 1 minggu yang lalu. Kamarnya berada di lantai 2 cukup dekat dengan kamar Hanafi dan Insha.
Kamar yang bernuansa warna merah muda dan putih itu memiliki ukuran yang cukup luas. Di lengkapi juga dengan bed khusus bayi, berbagai mainan bayi dan beberapa tempat di sudut kamar yang terlihat di hias untuk tempat bermain bayi itu saat sudah besar nanti.
Hanafi juga sudah memesan jasa baby sister untuk menemani dan merawat bayi itu. Ia tak mau membuat kesalahan nanti dalam merawatnya, hingga ia memilih untuk mempercayakan pada orang yang tepat dan sudah berpengalaman.
Pagi itu, Insha masih tampak malas-malas di dalam kamarnya, selesai sarapan Insha masih terlihat berbaring berguling-guling beberapa kali di tempat tidurnya, sambil memegang ponsel yang sedari tadi mencuri perhatiannya.
Rupanya beberapa hari terakhir ini, ia bisa berkomunikasi lagi dengan Prass melalui ponselnya. Nomor ponsel Prass kembali aktif dan menghubungi Insha kembali.
Setiap hari mereka selalu berbalas pesan singkat melalui ponselnya. Itu sedikit membuat Insha bersemangat menjalani harinya, ia slalu menunggu ponselnya berbunyi setiap hari.
Hanafi memasuki kamar ia ingin mengajak Insha pergi ke rumah sakit untuk menjemput bayi yang bahkan belum di beri nama itu. Hanafi ingin Insha yang memberinya nama, tapi Insha tak kunjung memberikan sebuah nama padanya.
"Insha..."
"Hemm..."
jawab Insha sekenanya, masih terus menatapi ponselnya.
"Ikutlah dengan ku...kita menjemput bayi ke rumah sakit..."
Sedikit kaget Insha mendengar itu, karna menurut informasi bayi itu akan berada di rumah sakit selama 1 bulan sampai bayi cukup kuat untuk bertahan. Tapi jauh dari perkiraan hanya butuh waktu 2 minggu bayi itu sudah di perbolehkan untuk di bawa pulang, dan Insha kembali harus menyiapkan hatinya untuk di pertemukan dengan bayi itu bahkan setiap hari.
Beberapa kali Hanafi mencoba membujuk Insha untuk menjenguk bayi itu di rumah sakit melihat keadaannya, tapi Insha menolaknya, ia belum sanggup melihatnya meski bayi itu sama sekali tak bersalah atas semua kejadian dalam hidupnya.
Insha terlihat enggan menjawab, ia hanya memandang Hanafi dengan tatapan bingung.
"Ayolah Insha..dia butuh seorang ibu..."
kata Hanafi memelas pada Insha
"Apa kau masih marah...bukankah sudah aku jelaskan dia bukan tercipta melalui malam panjang yang selalu kau bayangkan...dia hanya bayi tabung Insha..."
bayi tabung atau apapun itu...tapi tetap saja semua tentang kelahirannya banyak menorehkan luka...apa kau masih tak faham dengan semua itu...
gumam Insha dalam hati.
Insha terlihat menghela nafas panjang.
"Baiklah..aku akan ikut menjemputnya.."
Insha pun setuju berangkat ke rumah sakit dengan sedikit paksaan dalam hatinya, yang sebenarnya juga penasaran dengan wajah bayi itu.
Hanafi terlihat sumringah mendengar bahwa Insha bersedia pergi bersamanya.
Mereka pun berangkat ke rumah sakit bersama.
__ADS_1
Sampainya di rumah sakit, Insha dan Hanafi di sambut oleh dokter Arya dan seorang wanita di dekatnya, dia adalah baby sister yang di sewa Hanafi untuk merawat bayinya, selama satu minggu baby sister itu rupanya sudah ada di rumah sakit mempelajari bagaimana cara merawat bayi itu, karna setiap bayi mempunyai cara yang berbeda dalam memperlakukannya. Terutama bayi Hanafi ini yang lahir belum pada waktunya, membuat sang baby sister itu lebih hati-hati lagi dalam merawatnya.
Arya menyapa kedatangan mereka berdua dengan ramah, baby sister pun turut membungkuk pada Hanafi dan Insha.
"Kenalkan Insha...ini Mirna baby sister untuk bayi itu..."
Hanafi memperkenalkan baby sister itu, di ikuti dengan anggukan sopan olehnya.
"Kenalkan dirimu.."
"Saya Mirna nona muda..saya yang akan merawat bayi anda..."
Mirna mencoba memperkenalkan dirinya pada Insha.
"Dia bukan bayiku..."
jawab Insha spontan..dan langsung berlalu meninggalkan mereka bertiga lalu masuk ke dalam gedung rumah sakit.
Mirna yang mendapat jawaban itu merasa bersalah dan bingung karna dia tak tahu permasalahan di belakang ini semua. Dia hanya di minta berkerja merawat bayi tuan muda Wijaya group itu oleh atasannya. Dia berfikir jika Hanafi adalah ayahnya maka Insha juga ibunya, karna yang dia tau bahwa Insha adalah istri satu-satunya dari pemilik perusahaan besar Wijaya group itu.
"Maafkan saya tuan...saya salah...saya lancang..."
Mirna membungkukkan badan dalam pada Hanafi.
"Tak apa...dia perlu waktu....ayo kita masuk..."
Jawab Hanafi ringan lalu mengekor berjalan di belakang Insha.
Insha cukup terkesan dengan pemandangan itu, bagaimana pun seorang bayi juga sebuah impiannya. Insha berjalan mendekati box itu, dan terlihatlah seorang bayi mungil nan cantik, bibirnya merah tipis dengan pipi merona terlihat begitu menggemaskan di matanya.
Tanpa sadar Insha pun menggendong bayi itu dalam pelukannya, tersenyum manis ketika menatapinya, mengaggumi seorang bayi yang ada di gendongannya.
Insha terlihat sangat gemas dan mencium beberapa kali pipi chubby nya, juga mengelus-elus lembut wajah mungil itu dengan tangannya.
Hanafi yang melihat pemandangan itu hanya terdiam, hatinya bahagia ternyata Insha bisa menerima bayinya dengan sangat baik dan terlihat sangat menyayanginya.
"Aku beri nama kau Khanza...."
celetuk Insha tiba-tiba sambil terus tersenyum memandanginya.
"Baiklah..mulai sekarang namanya adalah Khanza..."
jawab Hanafi dengan antusias.
Terhipnotis dengan kekagumannya dengan seorang bayi, Insha terus saja memandang bayi itu dengan gemasnya, bahkan tak memperdulikan sekitarnya. Hanafi yang bicara di sampingnya seakan tak terdengar, Insha tak merespon sama sekali masih terus fokus pada bayi di dalam gendongannya itu.
Tiba-tiba saja dalam telinga Insha kembali teriang suara Hanafi di pagi duka itu.
"K..kaau tak bi..sa memiliki keturunan"
Seketika hilang senyuman diwajah Insha ketika mengingat hal itu. Di Ingatannya juga kembali tergambar Salma dengan perut besarnya bersama Hanafi duduk di taman rumah belakang berbicang-bincang sambil sesekali mengelus lembut perut besar itu.
__ADS_1
Seketika Hatinya terasa sangat sakit,
bayi ini...ya bayi ini yang ada di dalamnya...
gumam hati Insha.
Saat itu juga Insha menaruh bayi itu dalam box nya lagi, lalu terduduk di sofa yang ada di ruangan itu.
Hanafi yang melihat itu segera mendekati Insha,
"Ada apa denganmu In...apa kau baik-baik saja.."
"Maaf aku tak bisa..."
Insha malah berdiri dan keluar dari sana.
Insha duduk di sebuah kursi di ruang tunggu di depan kamar bayi itu, menunduk dan terisak disana. Hatinya tiba-tiba saja terasa sakit dan sangat perih, seperti merasakan lagi sakit yang pernah dia rasakan saat melihat bayi itu.
Hanafi segera mengikuti Insha dan mendapati Insha duduk terisak disana, Hanafi duduk di sebelahnya.
"Kau kenapa In..."
"Ma..maaf aku tak bisa..."
"Apa maksudmu dengan tak bisa..."
"Aku tak bisa menerimanya.."
"Kau bahkan telah memberikan nama padanya tadi...sekarang kau berkata tak bisa menerimanya..."
"Apalah Arti sebuah nama...aku bahkan tak bisa lagi melihat wajahnya...melihatnya aku seperti mengulang rasa sakitku dulu..."
"Insha...dia hanyalah seorang bayi...dia tak bersalah sama sekali...lihatlah tatapan teduhnya padamu...dia bahkan merindukan pelukan seorang ibu...dan kau juga ibunya In..."
jawab Hanafi menegaskan
"Aku tau dia hanyalah bayi tak berdosa..tapi ingat kembali han bagaimana proses kelahirannya...ada hati yang tersakiti disana...dan itu aku...kau bahkan tak peduli akan hal itu..."
"Maafkanlah aku in...apakah kau tak bisa melupakan semua itu dan memulai kehidupan baru lagi denganku...dengan khanza..."
"Maaf han aku benar-benar tak bisa..."
Insha beranjak pergi dari sisi Hanafi, sebelum ia melangkah ia berkata lagi pada Hanafi tanpa menatapnya.
"Rumah tangga apa yang akan di jalani tanpa adanya cinta...."
"Apa maksudmu Insha..."
Hanafi mengeryitkan dahinya mencoba mencerna kata-kata Insha barusan, ia hanya diam berfikir dan melihat Insha melenggang pergi darisana.
Bersambung...
__ADS_1