2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Kedatangan Hanafi


__ADS_3

Prass berjalan menghampiri Insha sambil menatap Hanafi dengan tatapan tidak sukanya.


Hanafi pun juga demikian, menatap Prass dengan tatapan tajamnya.


"Kak Prass...ada apa..tumben kakak kesini sore hari.."


tanya Insha pada Prass penuh tanya.


"Ntah kenapa aku ingin kembali kesini Insha...tiba-tiba aku khawatir padamu.."


Prass berkata sambil melirik ke Hanafi.


"Dan teryata kekhawatiranku benar...ada harimau gila disini..."


"Kak Prass.."


Insha mencoba mengalihkan perhatian karna melihat tatapan tidak sukanya pada Hanafi, tapi sama sekali tak di hiraukan oleh Prass


"Kau..mengikutiku kan....katakan..."


Prass berkata sambil menatap Hanafi dengan amarah.


"Itu hak ku...lagi pula aku juga tidak mengganggumu kan. ."


jawab Hanafi dengan santainya.


"Jelas saja kau mengganggu...kau mengganggu kehidupan Insha yang sudah tentram tanpa adanya dirimu..."


"Tapi Insha tak terganggu dengan kehadiranku.."


"Dia terlalu baik untuk mengatakannya padamu...pergilah kau hanya akan membuat hidupnya makin tersiksa...kau sumber masalah dalam hidupnya..."


"Kenapa kau slalu saja memancing emosiku...tidak bisakah mulutmu itu sedikit lebih sopan untuk berbicara...."


"Sudah....sudah....aku mohon jangan bertengkar..."


Insha mencoba melerai saat pembicaraan sudah mulai mengarah ke arah pertengkaran.


"Dan aku minta maaf ...ini sudah sore hari...tak baik jika kalian tetap berada disini...jalanan akan gelap ketika malam...lebih baik kalian pulang..."


"Maaf In...aku hanya ingin mengantarkan ini padamu..mungkin beberapa gaun ini cocok untukmu..."


Prass memberikan paperbag yang di bawanya tadi.


Insha menerima paperbag yang di berikan Prass, dan sedikit mengintip isi di dalamnya.


"Terimakasih kak...karna kau slalu memberikan semua kebutuhanku..."


Insha mengarahkan senyum manis pada Prass.


"Apapun yang kau butuhkan..."


Prass juga tersenyum pada Insha, ia sedikit melirik Hanafi merasa senang saat Insha mengarahkan senyum padanya dan mengabaikan Hanafi disana.

__ADS_1


jadi memang benar dia yang selama ini menyembunyikan Insha disini...


gumam Hanafi dalam hati.


Hanafi pun mengeluarkan sejumlah uang dalam dompetnya, meletakkannya di meja teras di depannya, lalu ia berdiri dan memandang Insha.


"Insha...kau bisa menggunakan uang ini untuk mencukupi kebutuhanmu....aku pamit dulu..dan aku mohon kau fikirkan lagi penawaranku tadi...aku tak akan memaksamu.."


"Tidak han...aku sudah bukan istrimu lagi....jangan kau memberiku uang lagi karna itu bukan lagi kewajibanmu..."


Insha menolak uang itu secara halus, ia mengambil uang yang di tinggalkan Hanafi dan mengekor di belakang Hanafi yang sudah berlalu, ingin mengembalikan uang itu.


"Bawalah uang ini han...aku tak pantas lagi menerimanya.."


"Tidak Insha...itu bukan apa-apa...itu rejeki untukmu...bukankah rejeki tak boleh di tolak bukan...aku tak bermaksud apapun...hanya saja..fikirkan lagi perkataanku tadi....kita bisa membina rumah tangga kembali Insha..aku akan mengikuti maumu...aku sangat mencintaimu Insha..aku tak mau kau dimiliki oleh orang lain..."


Hanafi memegang uang dan menggenggamkan uang tersebut di tangan Insha.


Insha pun tak dapat berkata apapun ia hanya diam menunduk, tak berani menatap Hanafi dalam-dalam.


"Baiklah aku pergi dulu...jaga kesehatanmu Insha...jaga dirimu baik-baik..."


tak mendapat respon apapun dari Insha Hanafi pun pergi mengendarai mobilnya, malajukan mobilnya cukup kencang, karna terpacu dengan kobaran api cemburu yang di bakar oleh Prass.


Insha kembali ke teras rumahnya, masih memegang uang yang di berikan Hanafi. Prass yang mengetahui semua pembicaraan terakhir keduanya tadi merasa sangat khawatir kalau-kalau Insha kembali jatuh dalam pelukan Hanafi


"Insha.."


Insha menatap Prass sambil duduk di kursi yang di duduki Hanafi tadi.


"Apa kau masih mencintainya.."


"Tidak kak...aku sudah pernah katakan padamu..aku tidak mencintainya lagi..."


"Apa dia mengajakmu rujuk kembali..."


"Hemm...iya kak.."


"Kalau aku boleh tau...apa kau mau berumah tangga lagi dengannya..."


"Ntah lah kak...aku bahkan sudah tak memiliki rasa untuknya...lalu bagaimana aku harus memulainya..."


"Aku harap kau jangan ceroboh Insha...ingatlah apa yang sudah diperbuat padamu...bagaimana penderitaanmu selama ini ketika hidup bersamanya..."


Mulai saat itu Prass semakin terang-terangan mendekati Insha, ia lebih sering berkunjung ke rumahnya. Prass tak mau Insha jatuh dalam pelukan Hanafi lagi, ia lebih perhatian pada Insha. Prass ingin membuat Insha jatuh cinta kepadanya dan benar-benar melupakan Hanafi dalam hidupnya.


Begitu juga dengan Hanafi, ia juga beberapa kali berkunjung kesana dengan membawa berbagai macam keperluan Insha. setiap hari ia juga mengirimkan Hadiah untuknya lewat pengawal yang di perintahkan khusus kesana. Bahkan tak segan Hanafi membelikan Insha perhiasan, juga berbagai barang branded lainnya.


Setangkai mawar tak lupa selalu ia sematkan dalam hadiah-hadiahnya sebagai tanda cinta Hanafi padanya.


****


Hari-hari pun berganti pagi itu Prass mengajak Insha ke acara syukuran yang di selenggarakan di pondok pesantren milik orang tuanya. Syukuran yang memang setiap tahun diadakan disana.

__ADS_1


Dengan menggunakan sebuah mobil Prass menjemput Insha untuk di bawa ke pondok pesantren itu. Ini juga pertama kalinya Insha keluar, melakukan perjalanan setelah beberapa minggu berdiam diri dalam rumahnya. Insha cukup senang bisa keluar rumah lagi, hanya berdiam diri di rumah rupanya juga cukup membuat Insha bosan.


Mobil pun sampai di pelataran pondok pesantren yang cukup besar dengan beberapa gedung yang menjulang di sekelilingnya. Keadaan disana sangat ramai orang berlalu lalang, banyak dari orang tua para santri yang juga di undang dalam acara itu, orang-orang di sekitaran pondok, juga beberapa orang-orang penting negara yang mengenal baik orang tua Prass.


Tak lama setelah mobil Prass sampai, ada seorang wanita yang menghampirinya bahkan membukakan pintu untuk Insha.


Wanita itu adalah ibu dari Prass. Insha pernah bertemu sekali dengannya, waktu dulu saat menemani Salma bertemu dengan orang tua Prass di pondok pesantren di desanya. pondok pesantren cabang dari pondok besar ini.


Kala itu Prass mengenalkan Salma pada orang tuanya, dan Prass juga mengatakan niatannya untuk menikahi Salma meminta restu pada orang tuanya. Salma yang gugup meminta Insha untuk ikut bersamanya menemaninya menemui orang tua Prass.


"Insha....kau sungguh tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik sayang..."


pujian dan pelukan hangat menyambut kedatangan Insha disana.


"hehe...apa kabar tante..lama tidak bertemu.."


Insha membalas pelukan hangat itu dan tersenyum dengan manis pada ibu Prass.


"Aku sangat-sangat sehat sayang...bagaimana dengan kabarmu....wahh...sungguh aku bagai melihat dua orang yang berbeda...kau dengan dirimu dulu sangat lah berbeda sayang..."


Ibu Prass terus saja memeluk Insha dengan hangatnya sambil berjalan menuju pintu masuk pondok khusus kediaman orang tua Prass ketika berkunjung kesana.


Prass turun dari mobil, ia mengekor di belakang Insha dan ibunya dengan menatap keduanya penuh senyuman.


Ibu Prass yang menyadarinya pun segera mengusir Prass dari sana.


"Hey...anak nakal...kenapa kau malah mengikuti kami...pergilah...ayahmu sudah menunggumu..."


"Ayolah ibu...aku masih sangat lelah...kami menempuh perjalanan yang cukup lama.."


Prass menatap ibunya dengan expresi lelah yang di buat-buat. Padahal Prass juga sering mengunjungi Insha dirumahnya, ia sama sekali tak merasakan lelah, hanya saja Prass masih sangat enggan untuk melakukan berbagai kegiatan di pondok pesantren, yang sama sekali tak ia sukai meski ia sudah menjalani pendidikan agamanya di kairo.


"Apa kau akan membiarkan tubuh tua ayahmu untuk mengerjakan semuanya..."


jawab ibu Prass yang sudah sangat hafal dengan tingkah anaknya.


"Yaa...ya...baiklah...baiklah..aku akan kesana..." dengan langkah malas-malas Prass melangkah pergi dari sana, tapi sebelum itu ia berkata pada Insha dan ibunya.


"Insha...istirahatlah...kau pasti lelah...dan ya ibu...jangan buat Insha bekerja disini...biarkan dia istirahat dan menikmati acara ini..."


Insha tak menjawab ia hanya tersenyum, apalagi melihat tingkah Prass yang slalu tegas di hadapannya ternyata memiliki tingkah dan sifat kekanakan ketika bersama ibunya.


"Iya ibu sudah tau....sudah..sudah sana pergi...bantu ayahmu...dia sudah menunggumu sejak tadi.."


Ibu Prass berusaha mengusir dengan tangannya.


Pandangan jengkelnya pada Prass seketika berubah menjadi senyuman saat melihat Insha.


"Ayo kita masuk sayang...aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu..."


ibu Prass memeluk bahu Insha dan menggiringnya untuk masuk ke kediamannya sambil terus berbincang-bincang hangat dengannya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2