2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Nafkah untuk Salma


__ADS_3

Hanafi pun berangkat ke kantor dengan di antarkan oleh pak Tono sementara Insha masih berada di depan rumah utama, melambaikan tangan pada Hanafi sampai mobil tak terlihat lagi.


Ia sengaja menunggu Hanafi berangkat terlebih dahulu sebelum dia memulai aktivitas barunya bersama Nana.


Mobil Hanafi pun sudah hilang dari pandangan, Insha sekarang beralih menatap Nana yang berada beberapa langkah di belakangnya.


"Nana..."


"Iya nona muda.."


di jawab dengan sigapnya.


"Ayo kita berangkat sekarang...tapi sebelum itu bolehkan aku meminta tolong padamu..untuk mengantarku ke suatu tempat..."


"Tentu saja nona...kemanapun itu akan saya antarkan.."


"Baiklah...ayo kita berangkat...kita akan ke rumah kakakku terlebih dahulu...baru setelah itu kau ajari aku..."


Insha berkata dengan berjalan menuju mobil barunya.


"Baik nona.."


Nana tampak mendahului Insha ia membukakaan pintu mobil di samping kemudi untuk Insha.


Insha pun masuk, lalu di susul Nana setengah berlari memasuki mobil.


Insha tampak mencari-cari kunci mobil yang sudah di berikan oleh Hanafi tadi malam di dalam tas kecilnya.


Kunci mobil belum terlihat tapi suara mobil sudah terdengar menyala, Insha seketika menoleh ke arah Nana yang ada di sampingnya.


"Nana...dari mana kau mendapatkan kunci itu.."


Insha tampak memandang dengan wajah heran.


"Maaf nona...saya mendapatkan kunci ini dari seorang pria bernama Kriss..dia yang meminta saya untuk mengajari nona sekaligus menjaga nona dengan baik..."


Nana tampak merasa salah tingkah dengan pertanyaan Insha barusan.


"oh..lalu dimana ya kunci ku.."


Insha berusaha mencari lagi kunci mobil itu di dalam tas nya.


"Apa nona mau saya bantu untuk mencarinya.."


"Tidak usah...ini dia sudah ketemu.."


Insha tampak menaruh kunci itu di salah satu kantong kecil di dalam tas kecilnya, agar dia tak kesulitan lagi mencarinya.


Nana hanya mengangguk sopan pada Insha.


"Apakah kita bisa pergi sekarang nona.."


"Iya Nana...ayo segera lajukan mobilnya...aku akan memberitahumu jalannya nanti.."


"Baiklah nona .."


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, memasuki sebuah jalanan-jalanan kecil menuju ke arah pedesaan.


Insha tampak melihat-lihat Interior di dalam mobilnya, menatap kagum dan sesekali ia terlihat memegang berbagai fasilitas yang ada.


Mobil juga sudah terpasang AC, membuat Insha makin nyaman berada di dalamnya.


Beberapa saat di dalam mobil tampak hening, Insha pun memutuskan untuk membuka percakapan dengan Nana.


"Nana..."


"Iya nona.."


jawabannya selalu sigap setiap saat.


"Apakah aku boleh bertanya sesuatu.."


"Tentu saja nona...tanyakan apapun..saya akan menjawabnya.."


"Apa kau mengetahui wajah dari pria bernama Kriss yang menyuruhmu kemarin.."


Insha sudah menatap Nana dengan penasaran.


"Sama sekali tidak nona...karna dia memakai jaket hoodie yang menutupi bahkan hampir seluruh dari wajahnya..."


"Hmm..apa dia juga memakai masker nya.."


"Betul nona....."

__ADS_1


tentu saja ya Kriss pasti memakai maskernya kemana pun..kenapa aku masih menanyakannya...


gumam Insha.


"Apa suaranya mirip dengan seseorang menurutmu.."


"Tidak nona..suaranya sangat lantang dan tegas..."


Insha hanya manggut-manggut tak menjawab apapun.


rupanya tak salah mas han memilih Kriss sebagai penggantinya..karna dia sangat pintar menutupi rahasia tentang dirinya dan juga tentang mas han...


"Maaf nona sebelumnya...apakah Kriss itu pengawal dari nona muda.."


Belum sempat terjawab pertanyaan itu Insha meminta Nana untuk menepikan mobilnya. Karna mobilnya sudah hampir sampai di rumah Salma, dan pertanyaan itu terlupakan begitu saja.


Mobil pun masuk ke pelataran rumah Salma dan berhenti disana. Seperti biasa rumah tampak sepi tapi pintu terlihat terbuka lebar.


Salma yang sedang bermain ponselnya di ruang tamu, melihat sebuah mobil asing masuk ke halaman rumahnya ia pun keluar dan melihatnya.


Masih berdiri mematung di depan pintu Salma melihat seorang yang turun dari mobil dan membawa sebuah paperbag yang cukup besar di tangan nya, wanita itu dari kejauhan tampak asing di mata Salma.


Ketika semakin dekat Salma baru menyadari bahwa itu adalah Insha adiknya, Salma dibuat kaget dengan penampilannya sekarang.


"Inshaa...kau...ini kau.."


sambil menunjuk ke arah Insha lebih tepatnya di bagian kakinya.


"Hai kak...apa kabar.."


sudah menghambur memeluk Salma disana.


"Iya kak memangnya siapa lagi.."


Salma segera melepas pelukan itu,


"Ini kenapa penampilanmu jadi begini Insha...kau mau kemana.."


Masih melihat penampilan Insha dari atas sampai bawah.


"Kau terlihat sangat berbeda dari biasanya..."


"Apa kau tak akan menyuruhku masuk terlebih dulu kak..."


Salma menggandeng Insha masuk ke dalam rumah, "kau bersama siapa Insha..?"


"Aku bersama Nana.."


"Siapa Nana..."


"Dia yang akan mengajariku mengemudi kak.."


"Kau mau belajar mengemudi...untuk apa Insha..itu kegiatan cukup beresiko.."


"Aku bosan berada di rumah kak...apalagi saat mas han sedang bekerja...aku butuh sebuah kegiatan untuk mengisi hari-hariku..."


"Lalu apa Hanafi mengizinkannya..?"


"Tentu saja..mas han yang memberiku semua ini....dia bahkan membelikanku mobil baru untuk belajar mengemudi..."


"Jadi itu mobilmu..."


Salma sudah mengintip lagi mobil di balik jendela ruang tamu.


Insha pun hanya mengangguk dan duduk di sofa, Insha memandangi ponsel yang tergeletak di atas meja, ponsel menyala terlihat pesan singkat dari Prasetyo disana.


"Wahh...kau sedang berbalas pesan dengan kak Pras ya.."


Insha berusaha menggoda Salma yang tampak malu-malu dan langsung mengambil ponsel itu dari atas meja.


"Iya...dia sedang libur beberapa hari ini..."


"Kapan dia jadi pulang kak..."


"Ntahlah ....dia bilang mungkin sekitar 3 bulan lagi..atau bisa lebih.."


"Hmmm..."


lagi-lagi Insha hanya manggut-manggut faham.


"Oh ya ini..aku hampir lupa...ini dari mas han.."


Insha mengeluarkan amplop coklat dari paperbag yang di bawanya.

__ADS_1


"Dan ini...mas han juga membelikan kita dress dengan model yang sama..."


menyodorkan paperbag itu di depan Salma.


Salma tampak diam sejenak, mencerna kata-kata Insha.


"Apa ini Insha...dan ini dress..dengan model sama ...maksudnya.."


"Iya ....aku juga punya dress yang sama persis dengan ini...mas han membelikan kita dress yang sama kak..hanya saja beda warna...milikku warna merah...sedangkan milik kakak Warna coklat.."


Insha sedikit mengeluarkan dress itu dari paperbag dan menjelaskannya.


Salma pun segera mengeluarkan dress itu dari tempatnya dan membuka lipatannya dengan tangan menggantung di udara.


"Waah...bagus sekali..."


"Iya kak..warna itu pasti cocok untukmu....dan ini..."


Insha melemparkan lagi amplop coklat yang sudah di taruhnya di atas meja.


"Apa ini Insha.."


"Itu uang belanja dari mas han untukmu.."


wajahnya tampak sedikit lesu, mengingat kenyataan lagi bahwa seorang di depannya sekarang juga berstatus sebagai istri Hanafi.


"Uang yang kemarin masih ada Insha...bahkan akan cukup untuk kebutuhan ku 3 bulan ke depan...bawalah aku masih ada uang.."


Salma mengambil amplop itu dan menyodorkan lagi kepada Insha.


"Tidak...mas Han menyuruhku untuk memberikannya padamu...tak apa kak..kau bisa menyimpannya untuk biaya pernikahanmu nanti dengan kak Pras.."


Tangan Salma masih menggantung di udara, lalu seketika meletakkan lagi amplop itu di atas meja.


"Insha..


" Hemmm.."


Insha hanya menatap dan berdehem.


"Aku ingin mengakhiri semua sandiwara ini Insha.."


"Memangnya kenapa kak..?"


Insha sudah menatap Salma dengan heran, tapi jujur di dalam lubuk hatinya yang paling dalam dia merasa senang mendengar itu.


"Aku rasa semua ini sia-sia...aku hanya akan menjadi beban untukmu dan juga Hanafi..lagi pula ayah juga sudah tiada..lalu untuk apa lagi..."


Insha kini tampak termenung memikirkan sesuatu.


"Benar juga kak...tapi semua keputusan itu ada di tangan mas Han...aku akan membicarakannya nanti..."


Insha tampak menghela nafas, lalu meneruskan kalimatnya.


"Bukan sama sekali beban kak...ada atau tidaknya pernikahan ini..aku yakin pasti mas Han juga akan memberikan sejumlah uang untukmu...mas han tak akan membiarkan kau bekerja keras lagi seperti dulu...dia tidak akan mungkin tega melakukannya.."


"Terimakasih Insha...karna semua kebaikan mu dan juga Hanafi, aku menjadi hidup lebih baik sekarang..sampaikan rasa terimakasihku padanya.."


"Iya kak pasti...ya sudah aku akan menyampaikannya nanti...aku akan pergi dulu kak...jaga dirimu baik-baik.."


Insha sudah berdiri ingin memeluk Salma sebagai tanda perpisahan.


"Kenapa kau terburu-buru sekali...apa kau tak ingin tinggal dulu.."


Salma pun juga berdiri dan memerima pelukan itu.


"Aku akan kesini lagi lain waktu...dan akan menghabiskan waktu dengan mu lebih lama...aku sekarang akan belajar mengemudi dulu..."


"Hemm..baiklah..hati-hati ya.."


pandangan nya sudah sedikit kecewa.


"Tentu saja...oh ya setelah aku bisa mengemudi nanti aku akan sering-sering datang kesini...dan aku berjanji padamu kak...kalau aku sudah bisa membawa mobil sendiri pertama kali aku akan mengajakmu jalan-jalan...atau makan ke sebuah restoran...atau emm..apa ya.."


"Hemm...sudah..sudah...iya aku percaya pada janjimu itu..dan aku akan menunggunya.."


Kini keduanya tampak tersenyum ceria, Salma mengantarkan Insha sampai ke dalam mobilnya.


Salma juga menyapa Nana yang sedari tadi setia menunggu disana.


Insha pun berpamitan, dan mobil pun melaju menghilang dari pandangan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2