
Mereka meminta maaf satu sama lain. Setelah pertengkaran yang terjadi di antara ketiganya kini Hanafi dan Salma berjanji akan menjaga jarak antara keduanya dan bersikap sewajarnya, kecuali saat di depan ayah mereka akan bersikap selayaknya suami istri sungguhan.
"Dan satu lagi..."
pinta Insha yang sedari tadi meracau memberikan berbagai peraturan yang tak boleh di langgar oleh Salma maupun Hanafi.
"Jangan ada main kecup-kecup..baik di depan ayah maupun tidak..terutama kau mas han...jaga bibirmu itu.."
sekarang wajahnya sudah cemberut memandang bibir Hanafi yang nampak menyunggingkan senyum padanya.
"Memang kenapa...bukan kah kak Salma sekarang istriku juga..sudah halal dong klo kecup-kecup.."
Hanafi kini menyeringai menatap Insha.
"Hanaafii..."
Salma terbelalak cukup kaget mendengar perkataan Hanafi.
Insha tak menjawab, ia semakin memajukan bibirnya, wajahnya tampak kesal mendengar perkataan Hanafi, ia mendengus sambil berlalu pergi meninggalkan sepasang pengantin baru itu di dalam kedai yang sudah tampak berantakan akibat ulahnya tadi.
"Insha tunggu...Hanafi hanya bercanda Insha..jangan marah..."
Salma yang merasa khawatir karna Insha tiba-tiba berlalu begitu saja.
"Hahaha....sayang tunggu..jangan marah dong..aku kan cuma bercanda...kecup-kecup cuma buatmu kok..."
Hanafi malah tertawa karna berhasil menggoda Insha, sekarang ia berlari kecil mengejarnya.
"Bereskan semua kekacauan ini.."
titah Hanafi pada para pengawal yang berjaga di luar kedai es cream itu.
"Dan suruh mereka yang ada di dalam untuk melupakan apa yang baru mereka saksikan tadi.."
titahnya lagi sambil berlalu.
Baru beberapa langkah keluar dari kedai itu, Insha merasa kan mual yang teramat sangat, ia pun segera berlari menengok ke segala arah mencari sesuatu yang dapat menampung muntahan nya yang terasa sudah ada di tenggorokan.
Terlihat sebuah wastafel di ujung kantin, tepat sebelum masuk ke lorong rumah sakit menuju ruangan ayah di rawat.
Byuur....
Insha pun memuntahkan seluruh isi perutnya disana, es cream yang di lahap sedari tadi di kedai es cream keluar seluruhnya. Beberapa kali ia muntah sampai di bagian ulu hatinya terasa sakit karna muntahan yang terus menerus.
Hanafi yang sedari tadi tertawa ringan sambil berlari pun , wajahnya langsung berubah pias saat melihat Insha memuntahkan isi perutnya.
"Insha..kau kenapa...aku akan memanggilkan dokter.."
memegangi bahu insha yang tampak condong membungkuk ke arah wastafel.
"Aku tak apa mas..jangan berlebihan.."
Hanafi pun tak menghiraukan kata-kata Insha, ia memandang salah seorang pengawal yang langsung mengerti arti pandangan tuannya itu, pengawal itu pun berlari memanggil sebuah dokter.
"Aku tak apa sayang...aku hanya terlalu kenyang memakan es cream tadi.."
"Jangan lakukan hal ini lagi Insha..aku tak mau kau menyakiti dirimu sendiri..."
"Maaf..."
Insha mulai lemas karna nyeri yang di rasakan di perutnya.
__ADS_1
"Insha kau tak apa.."
Salma berlari dengan wajah paniknya menghampiri Insha.
"Aku tak apa kak..."
"Kau pasti terlalu banyak memakan es cream tadi.."
"Hmmm..mungkin.."
Salma hendak meneruskan kata-katanya menasehati Insha, tapi terhenti saat melihat sebuah bed rumah sakit yang sedang di dorong ke arahnya oleh 2 orang perawat. Disamping nya sudah ada seorang dokter dan pengawal yang utus Hanafi tadi.
"Apa ini sayang..aku tak mau menaiki itu...aku masih bisa berjalan..."
"Tidak ayo cepat naik Insha, dokter akan memeriksamu..."
sudah menarik tangan Insha untuk menaiki bed pasien tersebut.
"Aku tidak mau.."
rengek Insha pada Hanafi.
Dengan secepat kilat Hanafi mengangkat tubuh mungil Insha hendak menaruhnya di bed pasien tersebut.
Sudah berada di dalam gendongan Hanafi, Insha segera melingkarkan tangannya ke leher suaminya, saat Hanafi membungkuk hendak menidurkannya Insha tetap berpegang erat di disana.
"Sayang..ayo lepaskan tanganmu.."
"Kan aku sudah bilang aku tak mau..."
Insha tersenyum menggoda pada Hanafi.
"Hahaha...kau sudah mulai pintar ya sekarang..."
Hanafi tertawa sampai mendongakkan kepalanya.
Insha hanya menatap Hanafi dengan tatapan manjanya, dengan sedikit menggoyang-goyangkan kakinya dan semakin menempelkan wajahnya di dada Hanafi.
Hanafi pun menggendong Insha berjalan melewati para perawat dan dokter yang tampak kebingungan.
Pasalnya tadi seorang pengawal berseragam hitam berlari memberitahukan nona muda sang pemilik rumah sakit sedang dalam keadaan yang gawat darurat.
Dokter dan perawat yang sedang standby berjaga malam pun di buat panik karna pemberitahuannya. Terlebih lagi pengawal itu bilang nona sedang berada di area kantin rumah sakit yang cukup jauh dari tempatnya berjaga.
Sang pengawal memberikan intruksi untuk membawa sesuatu untuk menopang tubuh nona mudanya jika mungkin keadaannya sangat lemah, karna pengawal itu sendiri menyaksikan Insha yang sedang memuntahkan isi perutnya begitu banyak.
Di tengah kepanikan itu dokter dan perawat itu pun tergesa-gesa pergi ke tempat yang sudah di sebutkan, dengan berlari seakan tengah menangani pasien yang gawat darurat, dalam waktu belum sampai 2 menit mereka sudah sampai disana.
Dan betapa bingungnya mereka melihat Insha terlihat baik-baik saja, sekarang malah tuan muda dan nona mudanya tampak tertawa sambil berjalan melewatinya menggendong sang istri.
apa aku tadi salah dengar ya...lelaki itu bilang keadaan nya sedang gawat...bahkan kami di suruh membawa bed untuk membawa nona muda..Suara hati sang dokter.
apa ini...bahkan nona terlihat baik-baik saja...mereka malah terlihat seperti pengantin baru sekarang..berjalan tanpa memperdulikan sekitar...benar-benar dunia milik berdua.. suara hati perawat A
kami berlari tergesa-gesa hanya untuk melihat adegan mesra ini...astaga kenapa jomblo selalu tersiksa...suara hati perawat B
Mereka menatapi Hanafi dan Insha yang berlalu begitu saja dengan tatapan dan fikiran mereka masing-masing.
Sementara sang pengawal hanya terdiam malu sendiri akibat ulahnya yang membuat petugas kesehatan panik di tengah malam.
"Rupanya aku salah mengartikan tatapan tuan muda..."
__ADS_1
Salma pun hanya tersenyum dan menggelengkan kepala berjalan mengekor di belakang dua sejoli yang tampak tak merasa bersalah sama sekali itu.
Sementara yang menjadi pusat perhatian.
"Sayang...aku lapar..."
sambil mengusap-usapkan wajahnya pada dada Hanafi manja.
"Kau lapar...setelah memakan es cream sebanyak itu kau masih lapar..."
"Ahhh sayang...aku belum makan apapun sejak tadi siang..."
"Benarkah...kenapa kau diam saja.."
Sekarang Hanafi yang mulai panik.
"Kau ingin makan apa sayang katakan ..."
"Ayam goreng kering dengan sambal dan nasi hangat..."
tersenyum dengan cerahnya menatap Hanafi.
"Kau dengar Kriss..."
Kata Hanafi yang mulai mendekati pintu VVIP yang di jaga oleh Kriss.
"Baik tuan.."
Kriss pun berlalu pergi begitu saja, sudah mengerti yang di minta tuannya.
"Turunkan aku sayang.."
Hanafi pun menurunkan Insha tepat di depan pintu ruang VVIP itu.
Mereka berdua pun masuk di ikuti oleh Salma di belakangnya.
Terlihat ayah yang sedang tertidur dengan pulas, masih dengan beberapa alat kesehatan menempel di tubuhnya juga monitor yang terus berbunyi seiring detak jantungnya.
"Bagaimana keadaannya.."
tanya Insha pada salah seorang perawat disana.
"Tuan Abdullah dalam keadaan baik dan stabil nona..beliau baru saja tertidur.."
Tanpa melontarkan pertanyaan lagi mereka pun beristirahat, Insha memasuki kamar yang sudah tersedia disana ia merebahkan tubuhnya, Salma memilih memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri, sementara Hanafi duduk di sofa sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya.
20 menit kemudian, Kriss sudah kembali membawa bungkusan ayam goreng yang di pesan Insha tadi, ia menyerahkannya pada Hanafi.
Hanafi memberikan satu pada Salma yang berada di samping ayahnya, menyuruhnya untuk makan karna sedari tadi ia juga belum melihat Salma makan.
Lalu Hanafi memasuki kamar, ia melihat Insha yang sudah tertidur pulas dengan posisi terlentang.
hmmm dia yang memesan makanan...tapi malah terlelap sekarang...
Perlahan Hanafi mendekat, membelai lembut pipi Insha disana.
"Maafkan aku sayang...telah membuatmu sangat kacau hari ini...aku mencintaimu wanitaku.."
gumam pelan Hanafi dan mengecup kening Insha lembut.
Bersambung...
__ADS_1