
Pada malam itu, Insha yang sedang berada di dalam bus terlihat terdiam, ia hanya duduk termenung di bangku paling belakang.
Tidak banyak penumpang di bus itu, mungkin hanya beberapa yang dapat di hitung jumlahnya, karna memang saat itu sudah larut malam.
Bus terus melaju, hingga akhirnya sampai di pemberhentian terakhir malam itu di sebuah terminal perbatasan kota B.
"Mbak...bangun mbak..."
seorang sopir bus itu mencoba membangunkan Insha yang sudah terlelap bersandar di bangkunya.
"Mmm.."
seketika Insha terkesiap, menatap kaget pada seorang di depannya.
"Turun mbak..sudah sampai di terminal..."
Tanpa menjawab apapun Insha hanya memberikan sejumlah uang yang di minta oleh sang sopir dan langsung turun dari sana.
Insha mengedarkan pandangan, terminal tampak sepi pengunjung, terlihat juga lampu-lampu redup di beberapa loket yang masih terbuka. Banyak bus yang terparkir disana, Insha pun tak tau dimana dia sekarang dan kemana lagi dia harus pergi.
Insha ingin menghampiri salah satu loket, tapi di urungkannya karna sekarang ia melihat sebuah taksi yang sedang berhenti di pinggir jalan.
Insha pun masuk ke dalam taksi itu.
"Pak antarkan saya..."
"Baik nona....nona mau kemana..."
sopir itu tak memandang penumpang yang baru saja masuk, karna dia tengah menyalakan mesin mobilnya yang sudah dingin karna terlalu lama diam disana tidak mendapatkan penumpang.
"Kemana pun ....yang jauh dari sini.."
jawab Insha acuh sambil menyandarkan kepalanya.
Sopir itu hanya terdiam, bingung terhadap jawaban penumpangnya satu ini.
Biasanya orang pergi akan tau tujuannya...tapi kenapa dengan wanita ini..aneh sekali..
Cukup lama sopir itu kebingungan, hendak menjalankan mobilnya ke arah mana.
Insha pun yang menyadarinya segera berkata.
"Jalankan mobilnya pak...kemana pun...jangan khawatir saya akan membayarnya..."
Insha juga menyodorkan uang 200 ribu kepadanya,
"Ini... saya akan menambahkan kekurangannya nanti..."
Sopir itu pun dengan semangat dia segera melajukan mobilnya sesuai perintah.
Setelah berjam-jam melaju, dan beberapa kali terlihat mengisi bahan bakar mobilnya.
Taksi itu hanya berputar-putar tak tentu arah, sampai pada akhirnya sopir itu pun lelah karna malam yang sudah larut, tapi penumpang di belakangnya belum juga menentukan tujuannya, ia pun bertanya pada penumpang di belakangnya.
"Nona sebenarnya anda akan pergi kemana...saya sudah bingung mau melajukan mobil ini kemana lagi..."
"Hmmm..saya juga tak tau pak akan kemana ...tak ada tempat tujuan buat saya..."
Mendengar jawaban itu, sopir itu memberikan usulan kepada Insha.
"Bagaimana kalau saya antarkan nona ke villa puncak...istirahatlah disana...disana cukup tenang nona..."
__ADS_1
"Apa villa itu jauh dari sini..."
"Tak begitu jauh nona...kalau nona mau..saya akan antarkan kesana..."
"Baiklah pak antarkan saya kesana..."
Insha pun berfikir ia sudah berada jauh dari Hanafi, dan ia akan sulit untuk menemukannya.
Pada akhirnya Insha pun menyewa sebuah villa sederhana di puncak kota A. Ia baru memasuki villa itu di jam 3 pagi, dan langsung ambruk di tempat tidur, dia merasakan lelah yang teramat sangat, sudah lama dia tak melakukan perjalanan jauh.
Hari itu Insha bangun kesiangan, ia terbangun karna perutnya yang terasa lapar. Tentu saja tak ada makanan sama sekali disana.
Insha pun membersihkan dirinya di kamar mandi, lalu segera beranjak untuk keluar villa mencari makanan apapun yang ada disana.
Insha keluar dari villa itu, masih mengenakan jaket hoodie yang di belinya semalam. Dari kejauhan terlihat ada sebuah supermarket, Insha pun segera pergi kesana.
supermarket itu cukup lengkap menyediakan berbagai kebutuhan para travelling yang banyak menghabiskan waktu di villa puncak yang akan ramai di akhir pekan.
Udara disana juga cukup dingin dengan pemandangan yang menakjubkan.Terlihat juga jalanan yang berkelak-kelok dengan mobil yang lalu lalang disana.
Jalanan menurun dan menanjak yang cukup jelas terlihat dari puncak, juga perkebunan yang mengelilingi jalan itu berbentuk tetasering yang tertata rapi.
Insha membeli berbagai kebutuhan untuknya, makanan, minuman, camilan dan pakaian.
Cukup banyak dia membeli berbagai kebutuhan itu untuk persediaan beberapa hari di dalam villanya, dia tak mau terlihat mondar-mandir disana karna ia takut di temukan oleh para pengawal Hanafi, meski villa ini cukup jauh dari rumah utama.
Telah selesai membeli semua perlengkapan yang ada, dia pun kembali ke dalam villa nya, memakan beberapa bahan yang telah ia beli.
Sekarang Insha terlihat duduk diam di dalam balkon kecil di villanya, dengan dua bangku yang sudah di sediakan disana.
Dia mendudukinya satu dan bangku satunya ia gunakan untuk menaruh makanan ringan yang ia beli tadi.
Insha sangat nyaman dengan udara disana, juga pemandangan lereng gunung yang indah dari puncaknya.
Insha pun duduk santai disana, dan memakan makanan ringan itu sambil terus memandangi apapun yang ada di depannya.
Tinng...tingg...
suara bell villa berbunyi.
Insha cukup terkesiap dengan suara itu, ia terlihat takut persembunyian nya di ketahui oleh Hanafi.
Cukup lama bell itu berbunyi tapi Insha tak segera membukanya, ia turun mengintip sedikit dari balik tangga. Terlihat seorang wanita yang cukup tua berdiri di depan pintu kacanya. Ia tak mengenal sama sekali wanita itu.
"Hemm mungkin salah satu penghuni villa disini.."
Insha pun bergegas untuk membukanya, sambil tersenyum ramah padanya.
"Selamat pagi nona..."
sapa wanita tua itu.
"Selamat pagi nyonya..apa ada yang bisa saya bantu..."
Insha pun tersenyum ramah padanya.
Tapi wanita itu hanya tersenyum tak mengatakan apapun, dan beberapa detik kemudian dari arah belakang berjalan seorang lelaki yang tua sosok yang tak asing di mata Insha.
Insha pun terkaget dengan kedatangan sosok itu " Pak Sun..."
dengan segera Insha berjalan mundur dan menutup pintu itu, dia membalikkan badannya masih bersandar di pintu kaca itu, jantungnya kini berdegub kencang.
__ADS_1
"Kenapa bisa ada pak Sun disini..."
seketika itu juga Insha teringat perkataan Hanafi saat pak Sun berkunjung ke rumah ayahnya saat ayah meninggal. Hanafi membicarakan sebuah villa mewah yang di bangun untuk pak Sun dan istrinya di puncak kota A.
"Kenapa aku sama sekali tak menyadarinya...bodoh sekali..."
Insha masih mengumpati kebodohannya di balik pintu itu.
Pak Sun dan istrinya terlihat membujuk Insha untuk membukakan pintu untuk mereka.
Hingga pada akhirnya Insha pun mempersilahkan mereka masuk. Pak sun yang tentu sudah mengerti dengan kabar pelarian Insha,ia pun menanyakan alasan ia pergi dari Hanafi, dan dari situlah pak Sun mengetahui semua rahasia tentang hubungan rumit antara Insha, Hanafi dan Salma.
Insha bercerita sambil terisak di pelukan istri pak Sun yang terus membelai-belai lembut kepalanya. Dengan sabar mereka menasehati Insha, memeluknya dan memberikan kasih sayang kedua orang tua, hingga membuat Insha cukup nyaman menceritakan semua penderitaannya.
Saat itu juga pak Sun dan sang istri bersedia menyembunyikan pelarian Insha dari Hanafi. Mereka malah sering mengirim berbagai kebutuhan Insha disana, makanan dan minuman setiap hari ia berikan pada Insha. Mereka juga sering berkunjung kesana untuk sekedar mengetahui keadaan Insha yang seorang diri.
Hingga pada suatu malam pak Sun mendengar desas-desus akan kabar merosotnya saham perusahaan Wijaya group karna sikap pemimpin nya yang tidak sportif dalam menjalankan bisnis, dia juga mendengar keadaan Hanafi kini yang sangat kacau karna hilangnya Insha.
Malam itu pak Sun tidak bisa tidur ia terus saja di hantui fikiran bersalahnya telah menyembunyikan Insha di sana, juga mengingat kembali pesan tuan besar padanya untuk bagaimana pun dia harus selalu menjaga dan berada di belakang tuan muda untuk meneruskan perusahaan yang sudah didirikan sejak lama.
Malam itu pun pak Sun berangkat ke rumah utama untuk memberikan kabar keberadaan Insha pada Hanafi.
**
Pagi hari telah tiba, seperti biasa Insha melakukan harinya seorang diri di villa nya.
Ia memakan menu sarapan yang sudah di kirim kan istri pak Sun pagi-pagi sekali bahkan saat Insha baru terbangun.
Waktu pun bergulir, Insha kini sedang duduk santai di balkonnya, menikmati pemandangan dan udara yang menenangkan.
Ia juga menatapi jalanan di samping perkebunan berbentuk terasering yang Indah dan rapi.
Insha melihat sesuatu yang aneh disana, mobil yang tak asing di matanya sedang berjalan menanjak ke arah puncak.
Insha membelalak kan matanya lagi melihat dengan jeli mobil yang terlihat kecil itu.
"Itu kan mobil Han..."
seketika jantungnya berdegup kencang.
"Siapa yang telah memberitahukan keberadaan ku disini..."
Insha melihat lagi banyak mobil di belakangnya, juga ada mobil polisi di bagian depan dan belakang rombongan mobil-mobil itu.
Insha pun segera berlari dengan jantung yang terus berdegup kencang, ia membereskan barang-barangnya, memakai lagi dengan tergesa jaket hoodie juga kaca mata yang sempat ia pakai di malam pelariannya.
Ia terus berpacu dengan waktu, mengingat rombongan mobil itu melaju cukup kencang meski di jalanan menanjak seperti itu.
Insha tak sempat membereskan beberapa bungkus makanan yang telah ia makan tadi malam, membiarkannya tergeletak begitu saja di lantai kamarnya.
Benar saja ketika Insha mengintip semua mobil itu sudah terlihat di depan villa pak Sun yang terlihat dari sana.
Insha pun kebingungan dan ia memutuskan untuk keluar dari pintu belakang.
Insha pun berlari menuruni sebuah perkebunan di belakang villa nya, lalu menuju ke jalanan aspal yang terlihat menurun, sesekali Insha menoleh ke belakang melihat lagi tak ada seorang pun yang mengikutinya.
Berjalan tergesa sambil trus menutupi wajah dengan jaket hoodienya, menunduk berharap tak melihat siapapun di jalan, Insha menoleh ke belakang lagi dan...
Buukkkk...
Insha menabrak seorang lelaki di hadapannya.
__ADS_1
Insha mendongak melihat siapa yang di tabraknya, seketika itu pula ia membelalakan matanya.
Bersambung...