2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Rawat inap


__ADS_3

Setelah banyak berbincang di ruangan dokter Arya, Hanafi menitipkan Khanza pada mbak Fatimah untuk di bawa pulang ke rumah utama, Hanafi tak mau Khanza lama-lama di rumah sakit karna tak baik juga untuk kesehatannya.


Khanza pun pulang bersama mbak Fatimah dan kembali di asuh oleh Mirna yang sudah sembuh dan dapat berjalan lagi.


Hanafi pergi menuju ruang VVIP tempat Insha di rawat, Hanafi masuk dan mendapati Insha ternyata sedang terjaga disana.


Hanafi pun mendekatinya, memegang kening Insha lagi, memastikan keadaannya lagi.


"Bagaimana rasanya sayang...apakah sudah lebih baik...kau masih pusing kah..."


Hanafi sedikit tenang karna tubuh Insha ternyata sudah tidak mengalami demam, sepertinya juga suhu tubuhnya sudah kembali normal.


"Sudah lebih baik sayang...cuma masih sedikit pusing..."


Jawab Insha sambil memijat pelan kepalanya yang terasa pusing.


"Lain kali jangan menolakku lagi untuk membawamu ke rumah sakit...atau menolak kedatangan dokter...lihatlah apa yang aku takutkan terjadi...kau bahkan pingsan tadi...kau tak tau betapa khawatirnya aku saat itu.."


"Maaf sayang..."


Insha tersenyum tanpa merasa bersalah.


"Aku takut terjadi sesuatu padamu...jangan kau lakukan itu lagi ya..."


Hanafi mengecup kening Insha lembut.


"Sayang...aku lapar..bisa minta tolong ambilkan makanan itu untukku..."


Insha menunjuk nampan makanan yang ada di meja sebelahnya, mencoba mengalihkan pembicaraannya.


"Tentu saja sayang...aku akan menyuapimu..."


jawab Hanafi sambil tersenyum dan mengambil semangkuk sup ayam yang ada di dalam nampan lengkap dengan nasinya.


Suapan demi suapan masuk ke mulut Insha dengan perlahan. Hanafi membuka percakapan lagi tentang Mirna yang sedari tadi terasa mengganjal di hatinya.


"Sayang apa kau memang sudah tau kalau Mirna sudah sembuh dan pulang pagi tadi..."


Hanafi bertanya sambil menyendokkan lagi sup yang ada di tangannya.


" Iya sayang aku sudah tau..."


Jawab Insha ringan tanpa beban.

__ADS_1


"Lalu kenapa kau tak bilang padaku....aku kan bisa mengantarkan Khanza padanya..."


Hanafi menyuapkan lagi sup dalam mulut Insha yang sudaaaah kosong.


"Aku ingin memberikan waktu 1 hari lagi untuknya beristirahat sayang...agar dia bisa benar-benar pulih..."


jawab Insha dengan mulut penuh makanan.


"Dia sudah pulih sayang...bukankah dokter Arya sudah mengatakannya padamu waktu itu.."


"Iya sayang aku tau..tapi aku ingin memberikan dia waktu lagi untuk beristirahat sebelum dia menjalankan tugasnya lagi nanti..."


"Kau peduli pada kesehatan Mirna memberinya waktu untuk beristirahat...tapi kau tak peduli dengan kesehatanmu sendiri.."


Hanafi berkata dengan penuh penegasan sambil terus menyuapi Insha makanannya.


"Aku hanya berfikir hari ini aku libur...aku tak kemana pun..jadi aku ingin bermain di rumah seharian bersama Khanza..."


"Dengan kondisimu yang seperti itu...bahkan kau pun tak bilang padaku kalau kau sedang sakit..."


"Sudahlah sayang...aku baik-baik saja....jangan membesar-besarkan masalah....aku bahkan sudah baikan sekarang..."


"Aku tak membesar-besarkan masalah..tapi mengertilah aku khawatir padamu...aku tak mau terjadi apapun padamu....kau sampai pingsan tadi...itu bukan keadaan yang baik-baik saja Insha...lain kali aku mohon jangan mementingkan orang lain lagi...lihatlah kondisimu dulu...dan tolong jangan menyembunyikan apapun dariku...apa kau bisa berjanji untuk itu..."


"Hmm..baiklah..baiklah maafkan aku ya telah membuatmu khawatir..."


Insha mengusap pelan mulut Hanafi yang terlihat menggemaskan dimatanya, karna aksinya memajukan sedikit bibirnya.


Hanafi menaruh mangkuk sup yang sudah kandas isinya dalam tempatnya lagi. Membantu Insha minum segelas jus alpukat yang sudah di sediakan oleh rumah sakit.


" Sudah sekarang tidurlah...kau butuh banyak istirahat..."


"Hmm...Khanza dimana sayang..aku tak melihatnya sama sekali..."


tanya Insha yang tampak heran.


" Khanza pulang ke rumah utama bersama mbak Fatimah tadi...sebenarnya dia tak mau pulang...dia terus merengek ingin tidur dengan mu....tapi aku tak mengijinkannya..udara rumah sakit tak baik untuk kesehatan anak kecil, bukan..."


"Kau benar sayang...lebih baik Khanza di rumah..."


"hmm...kalau begitu tidurlah sekarang..."


Hanafi membelai kepala Insha lembut dan menciumnya, lalu berkata lagi.

__ADS_1


"Kalau kau butuh sesuatu katakanlah...aku akan tidur disini.."


Hanafi menunjuk sofa di sebelah bed Insha.


"Sayang...aku ingin kau tidur di sebelahku..aku ingin kau memelukku..."


Pinta Insha dengan nada suara manjanya.


"Jangan sayang...kau sedang sakit..bed itu terlalu kecil untuk tidur berdua..."


jawab Hanafi dengan wajah membujuk.


"Jadi kau tak mau tidur di sebelahku ya..."


jawab Insha dengan wajah cemberuta.


"Ehh...iya..iya...aku akan tidur di sebelahmu..."


Hanafi berjalan di sisi Insha, memasang pengaman besi di sisi Insha. Agar ia tak terjatuh saat tidur. Lalu Hanafi berjalan ke tempatnya lagi. menggendong Insha dan menggeser posisinya agar lebih ke tepi, lalu Hanafi segera berbaring di sampingnya.


Menempatkan kepala Insha dengan hati-hati tepat di bahu kirinya, lalu merengkuh Insha dalam pelukannya sambil mengelus kepala Insha berharap bisa membuatnya segera tertidur.


Tak lama setelahnya, Insha pun tertidur pulas dalam pelukan Hanafi. Setelah memastikan Insha tertidur Hanafi juga segera memejamkan mata tertidur juga di samping Insha.


Saat Hanafi sudah tertidur pulas, tiba- tiba ada yang membuka pintu kamar. Terlihat dokter Arya masuk dalam ruangan sambil membawa secarik kertas hasil lab Insha. Melihat Pemandangan yang ada di hadapannya, Hanafi dan Insha yang tidur di bed yang sama dan saling memeluk dokter Arya pun mengurungkan niatannya untuk membacakan hasil lab nya.


Ia memandang Hanafi dan Insha dengan wajah penuh senyuman.


aku benar-benar bahagia bisa melihat kalian seperti dulu lagi...semoga Tuhan selalu memberikan kebahagiaan untuk kalian...


Dokter Arya pun segera mundur dari tempatnya, sangat berhati-hati dalam mengambil langkah, tidak membiarkan sepatunya menciptakan suara saat berjalan.


Dengan langkah pelan ia menuju pintu dan meninggalkan ruangan itu. Sesekali wajahnya menyunggingkan senyuman, merasa bahagia juga melihat Insha dan Hanafi bisa bersama kembali, setelah semua yang mereka lewati selama ini.


Dokter Arya terus tersenyum berjalan ke ruangannya sambil memeluk secarik kertas hasil lab Insha di dadanya. Sampai akhirnya ia masuk ke dalam ruangannya dan bersiap beristirahat karna jadwalnya malam ini sudah selesai ia jalankan semua.


Menjelang pagi hari tiba-tiba Insha terbangun karna perutnya terasa mual, Seketika itu juga Hanafi terbangun dan segera mengambil sebuah bak kecil di kamar mandi untuk Insha. Dan benar saja Insha muntah disana, mengeluarkan semua isi perutnya. Insha bahkan sampai muntah beberapa kali sampai dia terasa lemas.


Semakin takut dengan keadaan Insha, Hanafi segera memanggil para dokter dengan tombol darurat yang ada disana.


Dengan cepat beberapa dokter dan perawat datang ke ruangan Insha, memeriksa kondisinya dan seorang dokter memberikan obat anti mual dan muntah . Mereka tak berani menangani Insha lebih jauh karna Insha bukan pasien dibawah penanganannya dan yang bertanggung jawab atas Insha adalah dokter Arya. Setelah itu mereka pergi dari sana. Hanafi yang tak melihat dokter Arya datang segera menelponnya, nada sambung telpon pun berbunyi tapi dokter Arya belum mengangkatnya.


Sementara di ruang dokter Arya, telpon berbunyi dengan kerasnya tapi Arya masih tertidur di ruang istirahatnya dengan sangat nyaman.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2