
Hanafi pun baru selesai membersihkan diri, ia masih menggunakan piyama handuk nya .
Di pandangnya Insha yang masih saja terlelap dengan posisi yang sama saat Hanafi baru saja pulang tadi.
"Astaga lelap sekali tidurmu sayang.."
terkikik pelan sambil berdiri di depan cermin memandangi bayangan dirinya disana.
Hanafi mengacak-acak rambutnya yang masih setengah basah, membiarkannya berantakan begitu saja. Ia lalu melirik lagi kue yang ada di atas meja, lalu segera mendekatinya dengan mata berkaca-kaca.
Maafkan aku sayang..bahkan kau sudah menyiapkan kue nya disini..
"Kau sudah susah payah membuatnya sayang...aku akan memakannya.."
Hanafi pun mulai mengambil sendok kecil di piring itu, lalu membelah kue yang ada di depannya, coklatnya masih meleleh dengan sempurna.
Ketika di masukkan ke dalam mulutnya, seharusnya Hanafi memperoleh rasa renyah di luarnya dan lembut di bagian dalam dengan coklat yang meleleh disana. Tapi kini hanya rasa lembut dan coklat yang meleleh di dalamnya, karna dari bagian luarnya sudah tampak basah dan menghilangkan rasa renyah yang seharusnya tercipta.
Terlintas senyum di wajahnya,
sepertinya jika aku kemarin pulang dan memakannya...pasti kue ini sangat lezat...bahkan lebih lezat dari yang biasa aku beli...
hmmm...rupanya pintar juga ya istriku membuatnya..
Memandang Insha lalu tersenyum cerah sambil terus memasukkan kue coklat itu ke dalam mulutnya.
Hanafi memandang di luar jendela,
bahkan jam masih menunjukkan pukul 2 siang tapi mendung sudah menghitam seperti itu...
hmm...untung saja aku sudah pulang..sepertinya hujan badai akan segera datang lagi...
Sepertinya aku juga harus menjadwalkan untuk pulang lebih awal beberapa hari kedepan..mengingat prediksi cuaca yang tak menentu seperti ini...atau aku akan terjebak hujan badai lagi seperti kemarin...
hmm..bahkan semalam saja tak melihatnya aku sudah sangat merindukannya...
Belum sempat Hanafi menyelesaikan gumamannya, tiba-tiba
Duuuaarr...
suara petir terdengar sangat kencang, membuat Insha yang sedari tadi terlelap mulai mengerjapkan mata terkaget dengan suara petir itu.
Insha beringsut di dalam selimutnya, merasakan lagi ketakutan dan kekhawatirannya kemarin, ketika ia membuka mata yang ia lihat hanya jendela dengan awan menghitam di luar persis seperti yang dilihatnya kemarin.
Ntah mungkin karna otaknya yang belum sepenuhnya sadar, kini matanya berkaca-kaca sambil memanggil-manggil nama Hanafi.
"Mas han...mas han...kau dimana...apa kau tak akan pulang lagi hari ini...aku sangat merindukanmu..."
Hanafi yang duduk di belakangnya mendengar samar-samar suara panggilan itu, ia pun tersenyum, lalu menaruh piring yang sudah kandas sepenuhnya, hanya menyisakan goresan-goresan coklat meleleh yang masih tertinggal.
Hanafi pun langsung memeluk tubuh Insha dari belakang,
"Aku juga sangat merindukanmu sayang.."
suaranya lembut terdengar di telinga Insha.
__ADS_1
Insha pun terkesiap tiba-tiba menerima pelukan dari belakangnya, dan mendapati tangan dan suara yang ia rindukan semalam.
"Sayang...kau sudah pulang.."
Insha langsung memutar tubuhnya, kini ia dan Hanafi berhadapan.
"Tentu saja aku pulang sayang..."
menghujani wajah Insha dengan banyak kecupan.
Insha melingkarkan tangannya pada leher Hanafi, lalu tubuhnya sedikit turun dan menempel-nempelkan hidungnya pada leher Hanafi menghirup aroma khas yang sangat ia rindukan.
Leher itu tercium bau wangi sabun, membuat Insha sedikit mengeryitkan dahinya,
"Kau baru selesai mandi sayang..."
Insha mendongak, pandangannya sedikit kecewa karna aroma khas tubuh Hanafi sudah hilang tertutup bau wangi sabun yang ia gunakan saat mandi.
"Iya...kau tak melihat, bahkan aku masih mengenakan handuk sayang...dan ini..."
Hanafi menggeleng-gelengkan kepalanya, menciptakan sedikit cipratan air dari rambutnya yang masih setengah basah.
"Rambut acak-acakkan yang kau sukai.."
sudah tersenyum menggoda, tapi Insha terlihat memajukan bibirnya dan cemberut setelahnya, Hanafi pun bingung melihat expresi Insha itu.
"Lohh..kok malah cemberut..memangnya kenapa...tak suka lagi dengan rambut model seperti ini..."
"Bukan itu...aku merindukan wangi khas tubuhmu sayang..."
"Hmmm...rupanya sekarang kau menyukai bau keringatku ya.."
"Bukan keringatmu..tapi bau tubuhmu..itu berbeda tau..."
"Aah..katakan saja jangan malu-malu...emmm ya sudah kalau begitu biarkan aku membuat keringat sekarang.."
"Membuat keringat..maksudnya.."
sudah memandang Hanafi dengan wajah kebingungan, tapi belum sempat ia berbicara lagi Hanafi sudah ******* habis bibir Insha sampai ia gelagapan.
"Jangan lupa bernafas sayang.."
membisikkan lembut pada telinga Insha, kemudian bermain dengan cukup lama disana.
Sekarang kecupannya sudah mulai turun dari telinga itu, turun ke bagian leher lalu terus ke bawah, sementara Insha hanya bisa menggeliat di bawah tubuh Hanafi tanpa melakukan sedikit pun perlawanan.
Duuuaaar....
suara petir kembali menyambar.
Insha pun kembali terkaget dengan suara itu, matanya yang semula terpejam seketika terbelalak, sementara Hanafi tak memberikan reaksi kaget sama sekali ia tengah asyik dengan aktivitasnya sekarang.
Hendak terpejam lagi, Insha melihat jam digital yang tepat ada di penglihatannya.
jam 14:15...sudah jam dua lebih ya sekarang..rupanya aku tidur cukup lama ya...astaga aku kan belum sholat dhuhur...
__ADS_1
"Sayang..."
suara Insha terdengar terbata-bata.
"Hmmm"
Hanafi yang masih asyik dengan aktivitasnya pun hanya berdehem saja.
"Aku belum sholat dhuhur sayang..hentikan.. sebentar lagi sudah masuk waktu ashar.."
Insha kini sedikit mendorong tubuh Hanafi agar menjauh.
"Apaa..."
Hanafi sedikit terpaku dengan kata-kata Insha barusan, lalu melihat ke arah jam di sebelahnya, kesempatan itu Insha gunakan untuk lebih mendorong tubuh Hanafi yang kekar itu.
Dan usahanya pun tak sia-sia kini Hanafi berguling jatuh di sebelah Insha, dengan segera Insha beranjak dari tempat tidurnya membenarkan lagi bajunya yang sudah tampak berantakan karna aktivitas Hanafi barusan.
Ia pun berjalan menuju kamar mandi sambil melihat ke arah Hanafi yang menatapnya dengan perasaan kesal sambil menunjuk-nunjukkan jarinya pada Insha.
"Awas kau ya.."
gumamnya lirih yang masih bisa di dengar jelas oleh Insha.
Insha pun semakin terkikik di buatnya, ia lalu semakin mempercepat langkahnya takut-takut kalau Hanafi tiba-tiba menyergapnya lagi seperti biasanya.
Langkah Insha terhenti melihat piring marmer yang berisi kue coklat lumernya tiba-tiba kosong.
"Loh...mas han memakannya..."
Hanafi mengangguk dengan antusias, lalu tersenyum mengingat lagi rasa saat melahap kue coklat itu.
"Sungguh sayang rasanya sangat lezat...apa masih ada lagi...aku ingin memakannya lagi.."
tatapan kesalnya sudah menghilang, berganti dengan senyuman sekarang.
"Kenapa kau memakannya sayang..itu kan kemarin..pasti sudah basi.. maaf aku lupa mau membuangnya tadi.."
"Enak sekali sayang sungguh... seharusnya aku yang meminta maaf telah melewatkan menikmati kue buatanmu kemarin..yang sudah kau buat dengan penuh cinta...aku bahkan bisa merasakan cintamu di setiap lelehannya..."
Mata Insha berbinar senang mendengarnya, senyuman Hanafi itu sama persis dengan bayangannya kemarin.
"Benarkah..."
"iya sayang...aku bahkan menginginkannya lagi..." Hanafi sudah beranjak dari tempat tidurnya, yang membuat Insha sedikit memundurkan tubuhnya semakin menjauh dari tempat tidur.
"Sebagai rasa terimakasih ku karna kau telah membuat kue lezat itu untukku...aku akan memberikan aroma khas tubuhku padamu.."
Hanafi tampak menyeringai tipis pada Insha.
Insha yang sudah sangat hafal dengan arti seringai Hanafi itu, ia pun segera berlari kecil ke dalam kamar mandi sambil berkata.
"Berterimakasih dengan ucapan sudah cukup untukku..."
Pintu kamar mandi pun tertutup dan terdengar suara klik, Insha menguncinya dari dalam.
__ADS_1
Hanafi pun hanya tertawa sambil melemparkan tubuhnya begitu saja ke tempat tidur.
Bersambung..