
Mulai saat itu Insha mulai menghandle kembali semua pabriknya, Insha menyewa jasa baby sister untuk membantu mengurus Hafshah. Saat Insha harus pergi mengurus seluruh bisnisnya yang sudah lama dia tinggalkan.
Perusahaan Hanafi dan juga pabrik Insha semakin berjaya setelah kelahiran Hafsah. Insha di buat semakin kewalahan dengan permintaan para pembelinya sementara Hanafi juga semakin kewalahan atas banyaknya permintaan baru kerjasama yang datang dari segala penjuru.
Keadaan di rumah mewah Insha juga semakin ramai dengan kehadiran Hafsah, suara tangis bayi setiap hari terdengar menambah semangat di setiap paginya. Belum lagi dengan segala kejahilan Khanza yang sengaja di perbuat pada para pelayan yang mengundang gelak tawa mereka.
Kehidupan Insha dan Hanafi kini di penuhi dengan banyak harta dan kekayaan, di lengkapi juga dengan canda tawa kedua anaknya Hafsah dan Khanza.
Khanza pun sangat sayang kepada adiknya, dia sering sekali menemani Hafsah di kamarnya kadang juga terlihat memeluk bahkan mencium adiknya. Tak jarang juga mereka tidur di kamar yang sama semalaman.
Karna air susu yang tak lancar juga karna Insha yang sering bepergian ke luar kota untuk mengurus pekerjaannya, kini Insha tak lagi menyusui Hafsah.
Di waktu senggang Insha dan Hanafi menyempatkan membawa kedua anaknya pergi liburan ke berbagai negara, membawa mereka pada tempat-tempat indah yang belum pernah mereka kunjungi. Kadang juga hanya sekedar membawa mereka dalam perjalanan bisnisnya ke berbagai negara dalam waktu yang lama.
Seperti saat ini mereka tengah berada di negara B untuk mengurus bisnis Hanafi dengan kliennya yang berada di negara B. Setelah urusan bisnis selesai mereka tak langsung pulang karna Insha ingin menikmati keindahan pesisir pantai di samping villa yang di sewanya.
Insha ingin menetap disana beberapa hari sebelum akhirnya pulang dan menjalankan rutinitas sibuknya lagi.
Insha tengah menikmati Indahnya pantai dengan berteduh di bawah pohon kepala dengan daun yang rimbun, sambil melihat Khanza dan Hafsah bermain-main pasir pantai yang putih berkilau.
Hafshah baru saja merayakan ulang tahunnya yang pertama, ia kini tengah belajar berjalan dan berbicara beberapa kata. Hafshah tumbuh dengan sehat dan sempurna, dia adalah anak yang aktif dan cerdas. Ketampanan yang di milikinya kini menurun dari sang ayah, mereka bagai buah pinang yang di belah dua. Foto masa kecil Hanafi pun sangat-sangat mirip dengan Hafsah saat ini. Warna kulit, garis wajah dan postur tubuh semua sangat sama dengan Hanafi.
Sedangkan Khanza kini berusia 4 tahun, di usianya yang sekarang dia sangat mengerti dan selalu mengalah kepada adik lelakinya. Dia selalu melindungi adiknya dari bahaya apapun, menyayanginya dan menjaganya disaat mereka sedang berdua. seiring berjalannya waktu tubuh Khanza sangat mirip dengan Salma, semua sifat dan sikapnya mengingatkan Insha pada sosok Salma yang selalu melindungi dan menyayanginya dulu.
Tak jarang Insha selalu ingat pada Salma ketika melihat Khanza di Hadapannya.
Khanza dan Hafsah kini sedang membangun istana pasir ditemani dengan baby sister masing-masing. Insha sendiri sedang santai memakan camilan dengan menikmati terpaan angin laut yang menerpa tubuhnya.
Tak lama Hanafi terlihat mendekat ke arah Insha, ia baru saja tiba menemui kliennya menyelesaikan kesepatan yang baru mereka buat semalam.
"Hay sayang....dimana anak-anak..."
sapa Hanafi sambil mencium pipi Insha lalu duduk melingkarkan tangannya di bahu Insha.
"mereka sedang bermain istana pasir disana..."
Insha menjawab ringan sambil menunjuk ke arah kedua anaknya.
"Kenapa kau tak ikut bermain dengan mereka..."
"Biarkan lah mereka bermain puas dulu nanti aku akan mengajak mereka bermain ombak di pinggiran pantai..."
"Kenapa harus nanti....ayo sekarang saja..."
__ADS_1
Hanafi sudah berdiri dan menarik tangan Insha untuk ikut berdiri juga.
"Aah sayang...aku masih ingin menghabiskan buah ini..."
Insha menunjuk buah apel di dalam mangkuk yang sudah di iris dengan rapi.
"Nanti kau bisa memakannya lagi ....ayolah..."
pinta Hanafi sambil terus menarik tangan Insha.
Insha pun menurutinya, mereka mendekati Hafsah dan Khanza mengajak mereka bermain air. Insha menggandeng Khanza sedangkan Hanafi menggendong Hafsah mereka bermain ombak di pinggiran pantai. Sedikit berlari-larian menggoda anak-anak mereka, gelak tawa terdengar dari mereka di iringi oleh suara deburan ombak yang terus bersahutan.
Khanza dan Hafsah yang masih ingin bermain pasir pun segera kembali pada dunia mereka lagi, meninggalkan Insha dan Hanafi yang masih asyik bermain air berbasah-basahan dengan air laut.
Keduanya saling menggoda berkejaran semakin melangkah masuk ke dalam air, hingga sapuan ombak kadang menghantam keras tubuh keduanya. Di suara sapuan ombak yang tiada henti dan juga suara angin laut yang menerpa telinga dengan kencang, menciptakan suara berdesis yang cukup keras.
Di tengah keadaan itu Insha berkata pada Hanafi dengan setengah berteriak.
"Kau akan menjadi seorang ayah lagi...."
Hanafi yang pada saat itu tengah di tabrak oleh sebuah ombak tak mendengar sama sekali perkataan Insha, dia pun bertanya lagi.
"Apaa...kau mengatakan apa.."
"Aku...ayah..."
Hanafi terlihat berfikir sejenak lalu sedetik kemudian.
"K..kau...kau hamil lagi sayang..."
Hanafi berkata dengan mata yang membulat sempurna.
Insha tak berkata apapun ia hanya tersenyum manis dan mengangguk pada Hanafi.
Seketika keduanya berpelukan di dalam air laut dengan ombak yang terus menggulung.
Hanafi mengangkat tubuh Insha dalam pelukannya lalu tanpa malu-malu mencium bibir Insha lembut. Keduanya lalu tersenyum cerah sambil menempelkan kening mereka.
Ya Insha hamil lagi setelah Hafsah baru genap berusia 1 tahun. Mereka semakin bahagia karna akan menambah 1 anak lagi di dalam keluarganya.
Dan sejak saat itu kehidupan Insha selalu di selimuti dengan kebahagiaan. Insha tak pernah lagi menangis. Tangis yang ia keluarkan hanyalah tangis haru kebahagiaan. Hidupnya sangat sempurna sekarang, dekat dengan orang yang di cintainya, bergelimang harta hasil dari kerjanya sendiri, mempunyai anak dan kebahagiaan-kebahagiaan lainnya yang tak tertuliskan dengan kata-kata.
Bahkan Insha dalam kurun waktu 5 tahun setelah kelahiran Hafsah, Insha melahirkan 2 orang putra lagi untuk Hanafi.
__ADS_1
Kehidupan mereka pun semakin ramai dan bahagia setelah mempunyai 4 orang anak dalam rumah tangganya.
Seperti pepatah mengatakan akan ada pelangi setelah turunnya hujan.
Karna kesabaran Insha setelah melewati berbagai kesedihan dan penderitaan dalam hidupnya, Tuhan menggantikannya dengan banyak kebahagiaan dalam hidupnya, termasuk menghadirkan 3 orang putra yang tercipta dan tumbuh di dalam rahim Insha.
..."2 Bunga Setangkai "...
..." Musim 2"...
..."Tamat"...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih author ucapkan untuk kalian yang selalu setia mensuport karya pertama author
" 2 bunga setangkai".
Terimakasih juga untuk segala dukungan yang kalian berikan melalui vote,koment, like favorit dan hadiahnya...😁😁
Jangan bosan" ya membaca karya author
Salam manis dan sehat selalu....😁😁😁
__ADS_1