
Suara gemericik air hujan masih terdengar lirih di luar rumah, rupanya hujan sedari tadi sore masih terus berjatuhan.
Tetapi petir sudah tak terdengar lagi, angin pun sudah sedari tadi berhenti.
Jam makan malam telah tiba, Insha dan Hanafi pun turun hendak menyantap makan malam mereka.
Kali ini Hanafi nampak bersemangat sekali karna Insha tadi sore menghabiskan waktunya di dapur untuk memasakkan sup daging kesukaannya.
Insha banyak belajar berbagai resep dari bu Ririn, resep yang Hanafi sukai terutama makanan yang sering di masak oleh ibu Hanafi dulu.
Setelah Insha menunaikan sholat tadi, ia berbincang hangat dengan Hanafi di atas tempat tidur, mereka membahas banyak hal disana. Sampai Hanafi mengutarakan keinginan nya memakan sup daging yang di masak sendiri oleh tangan Insha.
Menurutnya apapun yang di masak oleh Insha rasanya akan berbeda ketika sampai di mulutnya. Ntah apa yang membuatnya berbeda, atau mungkin Insha memasaknya dengan penuh cinta untuk Hanafi.
Kembali ke meja makan malam itu.
Sudah terhidang berbagai menu yang di masak oleh tiga pembantu disana, tapi hanya ada satu menu yang membuat Hanafi sangat tertarik memakannya yaitu sup daging buatan Insha.
Hanafi makan dengan sangat lahapnya, beberapa kali ia kedapatan tengah menyuapi Insha dari piring nya. Insha pun sama sekali tak menolak, ia juga sesekali berbagi isi piringnya dengan Hanafi.
Ketiga pembantu itu sudah tak asing lagi dengan pemandangan itu, mereka bahkan sangat menikmati keromantisan dua sejoli itu, yang seakan-akan di mabuk asmara di setiap waktu.
Hanafi bahkan terlihat menambah porsi makannya, sampai isi dalam mangkuk besar berisi sup daging itu habis tanpa sisa.
Insha tersenyum puas melihatnya, sambil memakan beberapa kue hidangan penutup yang telah di buat oleh mbak Fatimah tadi sore.
Hanafi menyandarkan kepalanya di kursi, mendongak sambil tersenyum mengelus-elus perutnya yang tampak datar saja, meski sudah memakan banyak makanan malam itu.
"huuuhh....kenyang sekali rasanya perut ku...sudah lama aku tak merasakan kenyang seperti ini...iya kan bude.."
"Iya den..saya senang melihatnya.."
bu Ririn hanya tersenyum puas menatap Hanafi yang masih nyaman dengan posisinya sekarang.
Terbayang di lamunan bu Ririn terakhir kali Hanafi makan dengan porsi yang cukup banyak adalah saat mendiang ibunya dulu memasakkan menu yang sama seperti saat ini sup daging.
Saat itu Hanafi terlihat enggan untuk memakannya, ia pun sempat menolak dan bilang pada ibunya bahwa sup daging itu membuatnya tidak berselera makan.
Tapi saat Hanafi sedikit saja mencicipi menu itu, ia terlihat berkali-kali menambahkan porsi di dalam piringnya, sampai sup dalam mangkuk itu sama sekali tak tersisa. Mulai saat itu Hanafi sangat menyukai sup daging.
Pemandangan yang sama pun terlihat kembali saat ini di depan mata bu Ririn seakan-akan dia mengulangi lagi masa itu. Senyumnya sedari tadi tak henti-hentinya mengembang menyaksikan tuan muda makan dengan lahapnya.
Tiing....tiinng
suara bell rumah berbunyi.
"Siapa yang bertamu malam-malam seperti ini..tumben sekali.."
Insha menatap heran pada Hanafi, selama ini ia tak pernah menerima tamu selain mendiang ayah dan Salma, apalagi malam-malam dengan cuaca hujan seperti ini.
Hanafi tak menjawab Insha, dia hanya semakin melebarkan senyumnya, lalu meraih kepala Insha dengan satu tangannya dan memberikan belaian lembut disana.
__ADS_1
"Saya akan melihatnya"
mbak Risna pun berkata sambil berjalan menuju pintu depan yang tak terlihat dari sana.
"Siapa mas yang kesini..katakan..."
rengek Insha ingin diberitahu Hanafi siapa orang yang datang ke rumahnya malam-malam, yang tentu saja Hanafi tak mungkin tak mengetahuinya.
Hanafi hanya diam saja tak menjawab apapun, sampai sesaaat kemudian mbak Risna kembali dan mengatakan.
"Kriss mencari aden..di sedang ada di luar .."
"Suruh dia masuk mbak"
jawab Hanafi ringan.
"Kriss..."
pandangan Insha penuh tanya.
Kriss pun masuk ke dalam dan menemui Hanafi di meja makan, kini Hanafi merubah posisinya.
"Semua sudah beres.."
tanya Hanafi pada Kriss yang masih diam mematung di tempatnya.
"Sudah tuan, sesuai dengan yang anda inginkan.."
menepuk-nepuk pundak Kriss.
"Maaf tuan...saya akan makan nanti... masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan.."
"Hmm baiklah...terimakasih Kriss atas kerja kerasmu hari ini..."
pandangan Hanafi bangga menatap pengawalnya yang selalu melaksanakan keinginannya dengan sangat baik.
"Mbak fat...bungkuskan beberapa makanan untuk Kriss bawa pulang ya.."
menoleh pada Fatimah sekarang.
"Siap den.."
Fatimah dengan sigap langsung saja segera membungkus beberapa makanan untuk Kriss.
"Ini tuan.."
Kriss mengeluarkan amplop coklat berukuran sedang yang ada di tas kerja yang ia bawa, lalu menyerahkannya pada Hanafi.
Hanafi terlihat memeriksa beberapa berkas disana, lalu menggengam sesuatu yang ia ambil dari dalam amplop itu.
Setelah menerima bungkusan makanan dari Fatimah, Hanafi pun menyuruh Kriss untuk undur diri, beristirahat karna Hanafi tau pekerjaannya hari ini sangat banyak dan melelahkan.
__ADS_1
Kriss pun sudah menghilang dari pandangan. Hanafi memandang Insha yang tampak acuh dengan kedatangan Kriss tadi, dia lebih memilih menghabiskan hidangan dessert yang ada di hadapannya dengan lahapnya, mencicipi berbagai macam kue di sana, juga buah segar tak luput dari mulutnya.
"Sayaang..."
Hanafi membelai kepala Insha yang masih tertunduk dengan mulut penuh makanan.
"Hmmm.."
Insha menatap Hanafi masih dengan mengunyah makanan nya dan itu membuat Hanafi semakin gemas melihatnya.
Apalagi saat mengetahui ada sedikit selai stoberi yang menempel di ujung bibirnya, Hanafi pun tertawa ringan melihatnya, lalu segera mengusap selai itu dengan tangannya, lalu ia memilih memasukkan selai yang ia ambil ke dalam mulutnya.
Insha pun hanya tersenyum manja pada Hanafi sambil mengelap lagi ujung bibir yang baru saja di pegang Hanafi, memastikan tak ada lagi sisa makanan yang menempel disana.
"Apa sudah selesai makan nya."
Insha hanya mengangguk-anggukan kepalanya karna mulut nya masih terdapat makanan.
"Kalau begitu ayo ikut aku..."
Menarik tangan Insha untuk mengikutinya.Insha pun mensejajari langkah Hanafi dan mereka pun berlalu pergi.
Melihat kedua orang itu berlalu pergi, ketiga pembantu itu pun membereskan semua yang ada di meja makan.
Sekarang Hanafi membawa Insha menuju pintu berjalan sambil memeluk bahu Insha.
"Sayang...kenapa malam-malam mengajakku keluar rumah..disini dingin.."
Insha merasakan hawa dingin yang sedikit menusuk.
"Sebentar saja sayang...aku hanya ingin memperlihatkan sesuatu padamu.."
Semakin mempererat pelukannya pada Insha, berusaha menghalau hawa dingin di luar sana.
"Apaa.."
Insha mendongak menatap Hanafi penuh tanya.
"Lihatlah disana.."
Hanafi menunjuk ke arah garasi mobil yang luas terlihat beberapa mobil berjejer disana, tapi Hanafi lebih fokus menunjuk pada sebuah mobil putih disana.
Insha pun menutup mulutnya, lalu seketika menatap Hanafi juga.
"Sayang.."
Belum sempat Insha berkata lagi tapi Hanafi sudah menjawabnya.
"Iya...itu mobil baru untukmu sayang...mulai besok kau akan belajar mengemudi bersama asisten yang sudah aku sewa khusus untuk mengajari mu..."
Hanafi menatap Insha lekat sambil menggantungkan kunci mobil di depan wajah Insha.
__ADS_1
Bersambung...