
Siti Humairah dan Abdullah Anwar baru 2 bulan yang lalu melaksanakan pernikahannya. mereka tinggal di kota B di rumah peninggalan orang tua suaminya.
Abdullah hanya dua bersaudara, ia adalah anak terakhir sedangkan kakaknya tinggal di sebuah desa yang sejuk dengan banyak persawahan disana.
Safi'i anwar namanya, ia tinggal bersama istrinya Suswanti yang sudah di nikahi selama 4 tahun.
Mereka tinggal di rumahnya yang sederhana di tengah persawahan, udara disana juga cukup dingin dan sejuk mengingat daerah tersebut lumayan dekat dengan daerah pegunungan.
Sudah 2 minggu ini Abdulla dan sang istri bolak-balik dari kota B menuju ke pedesaan tempat tinggal kakaknya itu. Untuk melihat dan menemani istri dari kakaknya yang sendirian dan tengah hamil besar dan mungkin beberapa hari lagi akan segera melahirkan
Semenjak menikah dengan safi'i ini adalah pertama kalinya ia hamil, dalam kurun waktu 4 tahun segala cara telah di lakukan untuk segera mendapatkan keturunan. Akhirnya Tuhan pun menjawab doa mereka suswanti hamil di tahun ke 4 pernikahan mereka.
Sungguh butuh kesabaran yang extra karna 4 tahun bukanlah waktu yang sebentar.
Tapi takdir lebih pedih lagi disaat kehamilan yang memasuki usia 6 bulan sang suami tercinta harus meninggalkannya untuk selamanya, karna sebuah kecelakaan kerja yang di alaminya.
Safi'i bekerja di sebuah proyek di perkotaan membangun sebuah gedung mall di sana, saat sedang mengerjakan bagunan di lantai 9 ntah karna panas terik matahari atau karna tubuh yang sudah sangat lelah, tubuh safi'i oleng dan terjatuh ke lantai dasar.Seketika itu juga ia menghembuskan nafas terakhirnya disana dan sampai sekarang pun belum di ketahui akibat jatuhnya safi'i dari sana.
Selama berbulan-bulan sang istri Suswanti mencoba untuk menyambung hidupnya, bekerja ala kadarnya untuk mencukupi kebutuhannya juga janin yang ada di kandungannya. Ia bekerja membantu menjaga toko yang tidak jauh dari rumahnya.
Tapi kini menjelang kelahiran anaknya ia tidak di perbolehkan untuk bekerja, karna sang pemilik toko juga takut jika sewaktu-waktu ia akan melahirkan.
Selama itu pula yang mencukupi kebutuhan hidupnya adalah Abdullah adik dari safi'i, karna tak ada lagi sanak saudara yang dimiliki safi'i selain Abdullah.
Siti Humairah selama 2 hari tidur di rumah sang kakak ipar, ia mengerti keadaannya sekarang. Bagaimana pun kakaknya perlu dukungan seorang di sampingnya, karna ini kali pertamanya akan melahirkan seorang bayi. Siti slalu membantu kegiatan sehari-hari Suswanti yang sudah nampak susah melakukan aktifitasnya karna perutnya yang membesar.
Ini adalah malam ketiga Siti tidur disana, begitupun Abdullah juga tidur disana karna ini adalah akhir pekan yang berarti besok pekerjaannya libur, ia pun memilih menemani istri dan kakak iparnya dan membiarkan rumah di kota B kosong untuk sementara.
"Tidur lah mas..kau pasti lelah.."
ungkap Siti sambil memberikan selimut pada suaminya yang berada di kursi ruang tamu berbaring seorang diri.
"Pakailah...aku tak usah pakai selimut.."
menyerahkan lagi selimut itu pada istrinya.
"Pakai saja mas..disini sangat dingin..apalagi mas tidur di ruang tamu seperti ini.."
"Lalu bagaimana denganmu dik..."
"Masih ada selimut kok mas di dalam..mas pakai saja.."
"Baiklah..jangan tidur terlalu malam ya.."
__ADS_1
"Iya mas...mas juga ya.."
tersenyum cerah lalu masuk ke dalam kamar.
Siti masuk dalam kamar, dilihatnya Suswanti sudah tertidur pulas, ia pun tampak lega melihatnya pasalnya hari ini kakak iparnya itu mengatakan kalau perutnya terasa sedikit nyeri di bagian bawah.
Siti hanya menyarankan kakaknya itu untuk banyak minum agar rasa nyerinya berkurang, karna dia juga tak berpengalaman soal kehamilan, dia juga belum di karuniai anak di pernikahannya yang baru berjalan dua bulan.
Malam itu Siti tertidur di samping kakaknya, ntah kenapa di tengah malam ia terbangun karna merasakan sesuatu yang aneh di tempat tidurnya.
Di luar sedang hujan gerimis udara tentu sangat dingin kala itu, Siti terduduk dan mendengarkan suara di luar.
"Hmm sedang hujan rupanya.."
Ia menarik selimutnya lagi menutupi tubuhnya ingin kembali berbaring tapi ia merasakan sesuatu yang basah di tempat tidurnya.
Ia meraba tempat tidur,
"Air apa ini...bocor ya.."
menatap langit-langit kamar tidak ada tanda-tanda air menetes dari sana.
padahal di luar juga cuma hujan gerimis..tapi kemarin pun hujan lebat disini juga tidak ada yang bocor...
Gumam Siti dalam hati, ia melihat kakaknya sedang tertidur pulas di sampingnya.
jangan..jangan..ini air ketuban..
Siti segera melihat tubuh bagian bawah kakaknya yang sedang tidur miring membelakanginya, benar saja daster yang di kenakan basah dan sedikit terlihat juga noda darah disana.
"Astaga...bagaimana ini.."
gumamnya pelan sambil menutup mulutnya.
Di tengah kebingungannya ia segera beranjak dari kasur dan memberitahu suaminya yang sedang tertidur pulas juga di ruang tamu.
"Mas..mas...bangun lah...mas.."
menggoyang-goyang tubuh Abdullah dengan sedikit kasar
Abdullah yang masih teramat ngantuk ia berusaha membuka matanya, samar-samar ia melihat istrinya sedang ada di depannya dengan wajah panik.
Seketika itu juga Abdullah membuka matanya lebar-lebar.
__ADS_1
"Kenapa dik...ada apa denganmu..."
sudah terduduk dan hendak berdiri mensejajari istrinya.
"Itu mas..itu air ketuban mbak Sus pecah, membasahi tempat tidur..bagaimana ini..."
Kini wajah keduanya terlihat panik,
"Bagaimana ini mas apa yang harus kita lakukan..."
"Tenang kan dirimu dulu, apakah mbak sudah bangun sekarang.."
berusaha mengatur deru nafasnya sendiri sambil memegangi kedua pundak istrinya.
"Belum mas.."
"Ya sudah sekarang kau bangunkan dia dulu aku akan mencari bantuan ke warga terdekat.."
"Baiklah mas...mas cepat kembali ya aku takut.."
Siti segera membangunkan kakaknya yang masih tertidur itu,
"Mbak...mbak.."
menepuk-nepuk tangannya pelan.
Suswanti pun bangun, dia tampak sedikit meringis kesakitan. Rupanya sedari tadi ia bermimpi kalau perutnya sedang sakit, dan teryata saat dia bangun perutnya benar-benar terasa nyeri.
"Ada apa dik.."
berusaha memutar tubuhnya menghadap Siti.
"Itu mbak...mbak kenapa perutnya sakit ya...sini saya bantu.."
Suswanti melihat pada arah yang ditunjuk Siti, ia melihat beberapa noda darah yang ada di bagian jalan lahirnya juga daster yang nampak basah, seketika Suswanti menjadi gemetar ketakutan, kini sakit di perutnya semakin kuat terasa.
Sementara Abdullah sedang berjalan di jalanan kampung yang nampak sepi itu, dari kejauhan nampak beberapa orang sedang berjalan membawa lampu senter menyorot-nyorot ke berbagai arah.
"Rupanya ada orang ronda ya...syukurlah.."
Abdullah pun setengah berlari pada orang-orang itu dan meminta bantuan kepada mereka.
5 orang itu pun membagi tugas masing-masing ada yang mencari kendaraan, meminta bantuan pada warga perempuan, juga ada yang langsung ke rumah Suswanti membantu apa pun disana.
__ADS_1
Di tengah malam yang dingin dan gerimis itu rumah Suswanti seketika ramai para warga yang ingin membantunya, lalu ia pun segera di bawa menuju bidan terdekat untuk menjalani persalinan.
Bersambung...