
Menjelang pagi hari, tepat jam setengah 3 pagi Insha terbangun, bukan terbangun karna kebiasaannya. Tapi Insha bangun karna banyak nya suara-suara di surau-surau pondok, yang menyuruh para santri untuk terbangun untuk bersiap malaksanakan sholat malam juga persiapan sholat shubuh. Karena banyaknya para santri, Kamar mandi yang sudah di siapkan setiap kamar pun penuh, bergantian antara satu santri dan santri lainnya, mereka semua tak mau terlambat datang ke masjid yang di bangun di tengah pondok sebagai tempat utama melaksanakan berbagai ibadahnya.
Suara riuh teriakan santri-santri yang tak sabar itu menjadi ciri khas tersendiri saat hari menjelang pagi.
Insha masih mengerjapkan matanya, kelopak matanya menempel pada kelopak mata yang lainnya, enggan untuk terbuka, karna rasa kantuk yang masih bergelayut manja disana.
"Hoooamm..."
Insha terlihat menguap, menutup mulut dengan satu tangannya. Insha mengerjapkan matanya, berfikir keras dimana dia sekarang, pemandangan kamar di depannya tampak asing.
Sedetik kemudian ia teringat bahwa ia semalam belum pulang, dan kamar ini adalah kamar Prass.
astaga..aku ketiduran..jam brapa ini...
Insha mencari keberadaan jam, dan menemukannya, melihat jam pukul setengah 3 pagi. Bergegas Insha langsung terbangun, dan beranjak ke kamar mandi mencuci mukanya lalu keluar dari kamar.
Keadaan di luar kamar tampak sepi, Insha mencari keberadaan Prass dan orang tuanya, tapi sepertinya mereka masih tertidur. Insha menuju ke dapur, ia ingin memasak sesuatu disana tapi tak terlihat bahan makanan disana, di dalam kulkas pun hanya terdapat beberapa minuman dan buah segar. Insha kembali teringat penuturan ibu Prass bahwa rumah ini memang jarang di tempati. Dalam kebingungannya Insha pun memutuskan untuk membuat teh hangat untuk Prass dan juga orang tuanya.
Saat Insha masih mendidihkan air, ia di kejutkan dengan suara ibu Prass yang tiba-tiba menyapanya dari belakang.
"Sayang...sedang apa sepagi ini di dapur.."
Ibu Prass menepuk bahu Insha lembut.
"Emm..eh anu...ini tante lagi mau buat teh..."
Insha terkaget dan berkata dengan terbata.
"Hehe..maaf ya tante mengaggetkanmu.."
"Hehe...gapapa tante...maaf tadi Insha mau memasak sesuatu tapi sepertinya tak ada apapun disini..."
__ADS_1
"Iya sayang...tak usah memasak apapun...nanti ada yang akan mengantar makanan untuk sarapan...orang-orang pondok pesantren biasa memasak makanan untuk kami ketika kami singgah disini..."
Insha dan ibu Prass berbincang hangat, sampai Prass dan juga ayahnya terbangun dan menyusul ke dapur. Mereka minum teh hangat buatan Insha bersama di meja makan, membicarakan tentang Insha apakah mau tinggal di rumah itu. Tentu saja juga tak luput dari bujuk rayu Prass dan juga orang tuanya. Orang tuanya ingin Insha dan juga Prass segera menikah, mereka pun melakukan berbagai cara untuk bisa slalu mendekatkan mereka berdua. Dengan begitu setidaknya tumbuh rasa cinta antara mereka, apalagi pada Insha. Orang tua Prass meragukan perasaan Insha pada anaknya, karna Insha tak pernah menjawab tentang perasaannya pada Prass. Mereka ingin menumbuhkan cinta di hati Insha secara perlahan tanpa adanya paksaan, yaitu dengan cara mereka selalu dekat tiap waktu. Dengan begitu bukan tak mungkin bahwa lama-lama Insha akan mencintai Prass juga.
Tanpa di ketahui oleh mereka Insha sebenarnya juga memiliki cinta di hatinya untuk Prass, akan tetapi ia enggan untuk mengungkapkannya.
Apalagi ia juga belum siap untuk menjalani hidup berumah tangga lagi, dengan trauma yang telah ia bawa dari kehidupannya yang sebelumnya.
Lewat sebuah perbincangan panjang dengan orang tua Prass, Insha pun bersedia untuk tinggal disana. Dan hari itu juga Prass yang mengurus perpindahan Insha, dan mengambil semua barang-barangnya di rumah sebelumnya.
Hari-hari baru Insha ia jalani di lingkup pondok pesantren, ia di berikan kepercayaan oleh orang tua Prass untuk mengajar ngaji santri-santri kecil disana. Juga membantu beberapa kegiatan mingguan yang di adakan di lingkungan pondok.
Insha juga mengajari beberapa santri perempuan yang bersedia untuk membuat kerajinan merajut seperti topi, kaos tangan, kaos kaki dan lain-lain dari benang wol. Ia menerapkan ilmu barunya pada para santri disana, berharap para santri memiliki ketrampilan selain belajar menimba ilmu disana.
Dengan ketekunan dan ketlatenan Insha dalam mengajari, banyak santri perempuan disana yang semakin tertarik akan merajut, tentu itu semua juga di lakukan di luar jam belajar pondok pesantren yang sudah di tentukan.
Dalam kurun waktu satu minggu banyak rajutan yang di hasilkan. Insha pun mencoba untuk menjual hasil rajutan dari para santri maupun dirinya di salah satu situs online.
Tanpa di duga respon dari orang-orang luar sangat positif, banyak yang membeli bahkan memesan berbagai macam model topi, kaos tangan, tempat tissu dan masih banyak lagi. Insha juga mencoba sebuah inovasi baru dengan membuat sebuah baju bayi dari rajutan benang wol, celana, jaket dan baju-baju kecil lainnya dengan model yang menggemaskan dan padu padan warna yang serasi.
Kadang ia juga mengkolaborasikan baju biasa dengan sedikit rajutan di beberapa bagian bajunya, membuat bisnis online Insha menjadi ciri khas dari bisnis lainnya yang di cari banyak orang.
Lewat Insha itu pula, kini santri perempuan disana juga semakin rajin membuat ketrampilan, bukan hanya dari rajutan wol banyak ketrampilan lainnya juga yang mulai di kembangkan. Mereka bersemangat untuk membuatnya karna Insha tak mengambil hasil apapun dari para santri itu, uang yang di hasilkan dari penjualan ketrampilan mereka Insha berikan pada para santri kembali. Dengan begitu mereka bisa mencari uang jajan sendiri selain uang dari orang tua mereka, sebagian dari itu juga ada yang mereka tabung untuk apapun di masa depan mereka.
Dalam kurun waktu 6 bulan Insha mampu membuat modifikasi baju rajutan miliknya menjadi trend di kota itu, hingga banyaknya pesanan dari para pelanggan yang cukup membuat kewalahan Insha dan para santri. Tapi itu malah membuat mereka semakin bersemangat, dengan membuat berbagai model modifikasi baru.
Semua yang di capai Insha juga tak luput dari peran Prass disana, yang ikut menjajakan jualan online milik Insha pada teman-temannya. Lewat bisnis itu juga Insha dan Prass semakin dekat, hampir setiap hari mereka berdua menghabiskan waktu dengan saling berdampingan, makan dan apapun mereka lakukan bersama.
lewat kedekatan itu juga makin tumbuh benih-benih cinta di hati Insha. Tak jarang Prass juga mengatakan berbagai lelucon untuk Insha, hingga mampu membuat Insha tertawa dan bahagia. Dengan berbagai keadaan itu semua membuat Insha benar-benar lupa akan masa lalunya, ia lebih fokus dengan kehidupannya sekarang, dengan bisnis onlinenya, para santri dan juga Prass yang slalu ada untuknya.
Hingga suatu sore saat Prass dan Insha tengah ingin menyantap makanan mereka, setelah mulai pagi mereka berdua di sibukkan dengan mengepak banyak baju yang akan di kirim ke berbagai daerah di kotanya.
__ADS_1
Dengan perut yang sudah mulai berbunyi mereka menyantap makanan dengan lahapnya, dengan makanan yang belum habis di masing-masing piring Insha dan Prass.
Prass dengan tatapan ragu-ragu memulai bicaranya.
"Insha...."
"Hemm...makanan ini lumayan pedas ya kak...tidak seperti yang biasanya..."
Insha mengira Prass ingin mengungkapkan pendapatnya terhadap makanan yang mereka makan.
"eh..iya...lumayan ...memang tak seperti biasanya..."
Prass menjawab dengan ringan perkataan Insha, tapi ia berkata lagi setelahnya.
"Insha...maukah kau menikah denganku..."
Prass menatap Insha dengan lekat,terselip senyum tipis disana, takut-takut kalau Insha tiba-tiba menolaknya.
Insha pun hanya terdiam, bahkan ia kini berhenti mengunyah makanannya, ia meletakkan piring dan sendok yang ada di tangannya ke lantai.
*****
Sementara Hanafi, Pagi hari setelah ia tak berhasil dengan rencananya menemukan Insha dengan Khanza. Hanafi jatuh sakit, pagi-pagi sekali ia tampak muntah-muntah, badannya juga panas, kepalanya juga pusing tak tertahankan.
Hanafi dengan jalan yang tertatih keluar dari kamar mandi, ia mencari keberadaan ponselnya, lalu dengan segera menelpon dokter Arya, dan menyuruhnya untuk segera membawa ambulans ke rumah. Setelah itu ia ingin mencoba duduk di tepi tempat tidur tapi belum sempat ia duduk, tubuhnya sudah ambruk di samping tempat tidur itu.
Pada malam itu, semalaman Hanafi tidak bisa tidur, dia trus saja memikirkan Insha. Bagaimana caranya untuk membawa Insha kembali dalam pelukannya.
Belum lagi urusan pekerjaannya di kantor yang semakin menumpuk, karna tertundanya berbagai pekerjaan, karna Hanafi lebih memikirkan dan mementingkan urusan pribadi yang membuatnya kini juga kewalahan dengan pekerjaannya.
Belum lagi karna sikap tak sportifnya ini, yang membuat para klien banyak yang mempertanyakan hasil kerjanya, tak sedikit juga yang urung bahkan membatalkan kerja sama dengannya. Saham Wijaya group menjadi merosot tajam di antara perusahaan-perusahaan besar lainnya. Itu juga menjadi celah bagi perusahaan lain untuk mengambil kedudukan Wijaya group saat ini.
__ADS_1
Semalaman, fikirannya terus berkelut antara Insha dan pekerjaannya. Seperti tidak menemukan jalan keluar untuk keduanya, tubuhnya mulai lemah, kepalanya pusing tak tertahankan, ia juga mengeluarkan semua isi perutnya. Tak ada yang tau ia sedang sakit di kamarnya, bahkan saat pingsan pun tak ada yang mengetahuinya, sampai dokter Arya datang bersama ambulan dan para medis, dokter Arya pun membawanya dan Hanafi menginap di rumah sakit selama beberapa hari karna sakit yang bahkan tak di ketahui penyebabnya.
Bersambung....