2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Sholat bersama


__ADS_3

"Hoaammm..."


Insha menggeliat di bawah selimut.


astaga aku ketiduran ya...siapa yang memberiku selimut ini...


Semalam Insha tidur sangat nyenyak, bahkan tak sedikitpun merubah posisi tidurnya, ia juga tak menyadari siapa yang masuk dan telah menyelimutinya.


Insha melihat sebuah bungkusan yang tergeletak di meja sebelah tempat tidurnya.


apa itu...


masih berfikir karna otak yang belum seratus persen terbangun sempurna, jelas-jelas disana terdapat logo sebuah resto yang biasa Insha datangi, resto yang menyediakan ayam goreng kering terenak menurutnya.


oh ya...astaga.. aku semalam memesan ayam goreng..ingin istirahat sebentar di kamar ini sambil menunggu makanan itu datang...eh tapi malah ketiduran ya...


hmmm...pasti mas han yang menyelimutiku..


Insha pun terduduk, melihat sebuah jam yang menempel pada dinding di depannya.


masih jam tiga ya...


Ia mengucek-ngucek matanya lagi mencoba menghilangkan kantuk yang masih tersisa, tapi tiba-tiba saja dia terkesiap, dan segera beranjak dari tempat tidur, keluar dari kamar itu.


Insha melihat Hanafi sedang terlelap di sofa, sedangkan Salma rupanya tertidur di kursi di samping ayah berbaring.


Insha menghela nafas lega, fikirannya masih saja curiga dan takut jika Hanafi dan Salma melakukan hal-hal yang membuat Insha cemburu lagi karnanya.


Ia tadi beranjak dari tempat tidur dengan sedikit di bumbui rasa penasaran dan cemburu, dalam bayangannya Hanafi sedang tidur memeluk Salma disana, ketika Insha sudah tertidur pulas semalam.


Hal yang tidak akan di lakukan Hanafi mengingat ia sekarang sedang berada di rumah sakit, terlebih ada 2 orang perawat yang berjaga semalaman disana tanpa tertidur sama sekali.


Apalagi Hanafi juga sama sekali tak memiliki perasaan pada Salma, perasaan nya hanya sebatas peduli dan menyayanginya sebagai adik saja tak lebih.


Insha pun tersenyum, hendak beranjak ke kamar mandi membersihkan diri, ketika ia melewati bed ayah, ia baru tersadar teryata ayah sudah terjaga.


"Ayah.."


Insha pun mendekati ayah dengan senyumnya.


"Kenapa ayah sudah bangun..apa yang ayah butuhkan...apa ayah lapar..."


ayah hanya menggeleng, sedangkan perawat yang berjaga disana berbicara.


"Saya baru saja memberikan makanan pada tuan nona..."


Insha menatapnya sekilas melihat sebuah suntikan besar yang masih ada di tangannya, yang ia gunakan untuk memasukkan sebuah bubur lewat selang makanan yang terpasang di hidung ayah.


"Terimakasih ya..."


jawab Insha tersenyum pada perawat itu.


"Tentu saja nona, itu sudah tugas saya.."


membungkuk sopan pada Insha.


"Insha ke kamar mandi dulu ya ayah..."


mengusap-usap tangan ayah lembut. Ayah hanya menatap Insha dengan senyumnya.


Insha pun memasuki kamar mandi, beberapa menit kemudian Salma terbangun dan juga Hanafi yang terbangun hampir bersamaan.

__ADS_1


Mereka pun bergantian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Adzan pun berkumandang,seorang perawat memamggil Insha yang berada disana.


"Nona..."


"Hmm.."


di jawab Insha dengan berdehem saja.


"Tuan memanggil anda.."


ayah nampak memanggil siapa pun yang ada disana, kebetulan Insha berada tak jauh darinya.


"Ada apa Ayah.."


Insha menghampiri ayah dan duduk di samping tempat tidurnya.


"Sholat.."


tertatih ayah mengatakan perlahan dan pelan, namun dapat di dengar jelas oleh Insha.


"Ayah Ingin sholat..."


Insha tersenyum dengan manisnya.


"Baiklah..tunggu kak Salma dulu ya..kita sholat bersama..mas han akan menjadi imamnya.."


ayah pun di bantu Insha untuk malakukan tayamum, sedangkan Salma mempersiapkan peralatan sholat Insha dan juga Hanafi.


Mereka pun melakukan sholat shubuh bersama dan Hanafi yang bertindak sebagai imam.


Sholat pun telah selesai di lakukan, Hanafi mengulurkan tangan pada Insha, Insha pun mengecup punggung tangan Hanafi dengan lembut. Lalu Hanafi mengulurkan tangannya juga pada Salma, Salma sedikit enggan menerima tangan itu mengingat kejadian kemarin yang sangat menyakiti hati adiknya.


Terlihat ayah dengan senyum merekahnya melihat ke arah mereka, kemudian Insha pun berdiri mendekati ayah. Insha mengecup lembut punggung tangan ayahnya, lalu mengecup juga kening ayah sambil berkata..


"Ayah...cepat sembuh ya.."


Ayah hanya tersenyum matanya menatap Insha lekat, lalu tersenyum lagi semakin cerah. Ntah apa yang sedang di fikirkannya, yang jelas Insha merasa lega karna melihat ayah nya dalam keadaan yang semakin baik.


Hanafi dan Salma juga bergantian mengecup punggung tangan ayah.


Lalu mereka kembali ke posisinya tadi membereskan alat sholat yang mereka gunakan.


Sambil membereskan alat sholatnya Hanafi berkata.


"Kalian ingin sarapan apa..aku akan memesannya.."


"Aku ingin makan sandwich dan susu saja mas.."


tak di pungkiri kini Insha mulai menyukai juga menu-menu makan yang di sukai Hanafi.


"Apa cuma sandwich...kau belum makan tadi malam sayang..apa perutmu bisa kenyang cuma makan sandwich.."


"Tak apa mas..aku ingin makan beberapa sandwich juga susu hangat.."


"Hmm ya sudah..bagaimana dengan kak Salma.."


"Aku terserah saja...apapun itu.."


jawab Salma yang fikirannya tampak kosong tak menginginkan apapun.

__ADS_1


"Hmm baiklah.."


Hanafi pun meraih dan mengetikkan sesuatu di ponselnya, memesan makanan itu pada pengawal yang semalam berjaga di luar ruangan.


Insha menumpuk alat sholat yang baru saja mereka gunakan di dalam rak yang tersedia, ntah sejak kapan sudah ada alat sholat yang di sediakan disana, dengan ukuran yang pas untuk ketiganya.


Insha sudah tak kaget lagi dengan kejadian ini, pasalnya sang suami memang slalu mempersiapkan semua hal tentang kehidupannya dengan matang, dan dia juga slalu mendapatkan apa yang dia inginkan dengan mudah.


Cuma selang beberapa menit selama membereskan alat sholat itu, Salma melihat ayah yang sudah menutup mata disana.


"wah..rupanya ayah tertidur lagi ya..."


"Iya mungkin ayah mengantuk kak...karna tadi ayah juga sudah bangun sebelum aku bangun rupanya.."


jawab Insha ringan dan pelan-pelan takut membangunkan ayahnya.


"Hmmm..biarkanlah..ayah juga sudah makan tadi bersama perawat.."


"Hmm...iya..semoga saja ayah cepat pulang ya..aku tak tega melihat selang makanan itu di hidung nya...ketika selang itu di lepas nanti, aku orang pertama yang akan menyuapinya.."


Insha sudah tersenyum ceria membayangkan.


"Iya Insha..semoga ayah cepat sembuh ya.."


Hanafi terduduk di sofa menatap layar ponselnya, tapi dia masih bisa mendengar percakapan dua kakak beradik itu.


Hanafi mendengarkan suara yang aneh dari arah ayah..


ayah mendengkur...sepertinya tadi malam saat ayah tidur tak terdengar apa pun..


"Apa ayah selalu tidur dengan mendengkur dirumah.."


Hanafi mencoba bertanya pada keduanya.


"Ntah lah..apa iya kak.."


Insha menjawab sekenanya, karna ia tak mengerti kebiasaan-kebiasaan baru ayah di rumah, ia sudah sekitar 7 bulan tak pernah menginap disana, dan juga kamarnya yang dulu jauh dari kamar ayah. Ia tak pernah mendengar apapun saat tidur kecuali hewan-hewan malam di luar.


"Tak pernah..ayah sama sekali tak pernah mendengkur han.."


Salma menatap Hanafi heran, sambil mendengarkan suatu suara yang di tangkap telinganya, suara mendengkur dari arah sang ayah.


Hanafi pun segera berlari kecil menghampiri ayah, Hanafi mencoba mendengarkan lagi suara itu, lalu menggoyang-goyangkan pelan tubuh ayah mencoba membangunkannya, tapi tak ada respon sama sekali.


Spontan Hanafi langsung menekan tombol darurat di sana, memanggil petugas kesehatan ke ruangannya.


Perawat yang semalam berjaga juga sedang keluar, Hanafi memang menyuruhnya untuk istirahat sebentar setelah semalaman berjaga tanpa tidur. Hanafi menyuruh para perawat itu memanggil ganti perawat yang lain.


Seketika Insha dan Salma terkaget dengan tindakan Hanafi, mereka mendekati Hanafi.


"Ada apa sayang..kenapa kau menekan itu.."


tanya Insha menatap Han dengan penasaran.


"Ayah kenapa han..apa mendengkur itu berbahaya.."


Salma bertanya dengan polosnya.


"Sekarang ayah dalam keadaan tak sadarkan diri lagi.."


Jawab Hanafi cepat lalu dia segera mengumpati petugas kesehatan yang tak segera datang, padahal memang baru saja sirine darurat itu berbunyi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2