
Hanafi berhasil menyeimbangkan tubuhnya kembali, ia lalu segera tegak berdiri. Masih membelakangi Prass di sana hatinya sekarang bergumam.
Jadi ini prass kekasih Salma itu...
Sekarang hatinya sedang kalut, ia merasa memiliki Salma karna ia sekarang adalah suami sah nya, apalagi ada benih cintanya dalam diri Salma.
Tapi dia juga merasa bersalah pada Prass telah merenggut kekasih yang sudah ia cintai dan jaga selama bertahun-tahun.
pantas saja Insha dan dia terlihat dekat kemarin...tapi apa ada sebuah hubungan juga antara mereka...sampai mereka sedekat itu...
Setelah kepulangannya dari kafe cokelat kemarin Hanafi memang tak bertanya sama sekali tentang siapa lelaki yang bersama Insha.
Ia hanya meluapkan amarahnya saat sampai di dalam kamar karna Hanafi pikir Insha berselingkuh di belakangnya, menemui lelaki tanpa sepengetahuannya.
Hingga Hanafi pun memutuskan untuk mempersulit gerakan Insha di luar sana dengan menyita mobilnya dan tidak membiarkan dia pergi kecuali dengan seorang pengawal.
Hanafi pun membalikkan badan, masih memegangi hidungnya yang masih memar dan bahkan sekarang mendapat pukulan lagi membuatnya semakin perih saja.
Tak mau bertengkar dengan Prass ia memilih menyuruh Prass untuk pergi dengan baik-baik. Karna ia tau ia telah berbuat salah kepadanya, merebut Salma darinya.
"Pergilah dari sini...aku tak ingin bertengkar lagi dengan mu...aku memintamu baik-baik..sebelum aku menggunakan kekerasan..."
Hanafi berbicara dengan perlahan dan berharap Prass bisa langsung menurutinya.
Tapi Prass yang sudah di liputi amarah yang membara ia tak akan pergi begitu saja.
"Pergi kau bilang...mudah sekali kau menyuruhku pergi setelah semua yang kau lakukan pada ku.."
"Kau merebut Salma dariku...kau bahkan menitipkan benih harammu itu padanya..."
Prass berbicara sambil menunjuk-nunjuk ke arah Hanafi yang tak jauh darinya.
"Jangan kau katakan bayi itu haram..dia bahkan belum memiliki dosa...dan aku adalah suami sah nya..."
Jawab Hanafi dengan angkuhnya.
"Kau bukan suami yang baik untuknya..."
Belum selesai Prass dengan kalimatnya Hanafi langsung menjawabnya.
"Tentu saja aku suami yang baik untuknya..."
__ADS_1
Hanafi menjawab dengan meninggikan suaranya.
"Haha...kau suami baik...aku bahkan sedih mendengar kata-katamu itu..."
Prass tertawa dengan seringai meremehkan pada Hanafi.
"Lelaki baik mana yang menyatukan dua orang kakak beradik dalam satu rumah tangga yang sama...bahkan orang bodoh pun tau kalau itu suatu hal yang gila..."
"Apa kau tak bisa melihat Insha...bagaimana dirinya kini menjalani harinya dengan rumah tangga yang gila ini...kau bahkan sama sekali tak berfikir tentang perasaannya..."
"Dan Salma apa kau benar-benar bahagia mengandung benih nya.."
sekarang Prass melihat Salma tajam.
Hanafi menoleh ke arah lain, ia tak ingin semakin tersulut emosi karna perkataan Prass.Sedangkan Salma hanya diam membisu tak berkata apapun.
Keadaan hening beberapa saat, akhirnya Prass berkalimat lagi.
"Aku tak percaya kau benar-benar bahagia dengan kehidupanmu sekarang Salma...kau melupakan semua tentang kita..kau memilih berumah tangga dengan pria jahanam ini..."
Prass menatap tajam pada Salma dengan amarahnya seakan kini hilang semua rasa pedulinya terhadap Salma.
"Siapa namamu..Hanafi...ya Hanafi..lihat lah aku sekarang .."
Prass kini mulai menatap Hanafi dengan wajah seriusnya.
"Kau tak bisa meneruskan rumah tangga seperti ini...kau bahagia...tapi lihat mereka tanyakan pada hati kecil mereka...adakah bahagia di hatinya...terutama Insha...berfikirlah han..."
Hanafi tak memberikan respon apapun, ia hanya menatap Prass dengan geram berusaha menahan emosinya.
"Kalau begitu pilih satu di antara mereka..Insha atau Salma..."
Hanafi seketika kaget dengan kata Prass ia segera menjawabnya.
"Apa hak mu disini untuk menyuruhku memilih di antara mereka...mereka istriku...dan kau bukan siapa-siapa disini..."
Hanafi mulai tersulut amarah.
Ia melihat ke arah Insha yang sedari tadi hanya diam saja menatap ngeri ke arah Prass yang sedari tadi meluapkan emosinya.
"Sudah kuduga kau egois dan tak bisa memilih di antara mereka.."
__ADS_1
menyeringai ke arah Hanafi dan Insha bergantian.
"Sekarang lebih baik kau pergi darisini...karna kehadiranmu disini sama sekali tidak di inginkan ..."
Hanafi meninggikan suaranya ia menunjuk ke arah luar agar Prass segera pergi dari sana.
"Baik aku akan pergi dari sini...bersamanya..."
Prass seketika menggandeng tangan Insha yang sedari tadi berada tak jauh darinya, ia melangkahkan kaki nya sambil menggandeng tangan Insha.
Insha pun tak terlihat melakukan penolakan, dia sekarang bahkan mensejajari langkah Prass.
"Apa kau serius kak.."
tanya Insha sambil berjalan dan menatap Prass lekat. Sementara Prass hanya menatap lekat Insha dengan senyuman manisnya.
Salma yang melihat pemandangan itu, hatinya terasa perih, apalagi menatap wajah Prass menggandeng Insha berjalan dan tersenyum manis pada Insha, Ia hanya bisa mempererat pelukan tangan pada perut buncitnya.
Sementara Hanafi tangannya terkepal kuat juga terlihat gemetar, ia terus memanggil Insha yang sama sekali tak merespon panggilan itu. Melihat wanitanya berlalu bersama lelaki lain ia pun tak bisa tinggal diam, Hanafi segera berlari mengikuti langkah mereka berdua dengan tangan terkepal kuat disana.
Seketika Hanafi menarik kasar tangan Insha dari genggaman Prass dia bahkan mendorong tubuh Prass dari belakang, yang membuat Prass tersungkur ke halaman rumah utama itu.
Perkelahian pun tak bisa di hindarkan, mereka kembali beradu kekuatan dan melampiaskan amarah disana. Dalam perkelahiannya Hanafi berteriak kepada pak Sardi untuk menelpon para pengawal dan juga mengamankan Insha menguncinya ke dalam kamar.
Cukup lama mereka saling melemparkan pukulan di wajah maupun bagian tubuh, tendangan juga tak luput di lakukan. Pak Tono berusaha memisah keduanya, ia juga terkena pukulan beberapa kali ntah dari tangan siapa.
Hanafi pun kalah lagi ia tersungkur di tanah dengan darah yang terlihat di wajah juga kemeja nya ntah itu darah dari siapa, mereka berdua terlihat kacau.
Sampai akhirnya pak Sardi membuka gerbang dan muncullah mobil pengawal yang di kemudikan dengan kencang, karna mendapat kode darurat dari sang tuan, mobil itu sampai berdecit ketika akan berhenti.
Belum benar-benar berhenti mobil itu, tapi beberapa pengawal sudah turun dari sana, tergopoh-gopoh memberi bantuan pada Hanafi yang tersungkur di tanah, sementara yang lainnya memegang tangan Prass ke belakang badannya, memegangnya erat karna Prass terus saja memberontak dan menghardik Hanafi dengan kata-kata sarkasnya.
Ia bahkan masih ingin menghajar Hanafi yang sudah sulit untuk berdiri itu.
Hanafi di bopong ke dalam rumah oleh para pengawalnya.
Sebelum Hanafi berlalu ia berkata pada pengawal di sampingnya.
"Tenangkan pria gila itu...setelah dia bisa tenang, bawa dia ke ruangan kerja ku...aku akan berbicara padanya...dan jaga kamar Insha dengan ketat jangan sampai dia kabur dari sana..."
titahnya dengan nafas yang tersengal-sengal.
__ADS_1
Bersambung...