2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Air ketuban


__ADS_3

Pagi hari telah tiba, Insha sudah terbangun di jam 3 seperti biasa. Meski dia tak melakukan aktivitas apapun karna sudah banyak pelayan yang membantunya, juga karna perutnya yang sudah membesar yang mengharuskan dia untuk mengurangi aktivitasnya dia selalu bangun di jam yang sama.


Insha menggeliat pelan di bawah selimutnya, sedikit terkaget karna tangannya menyentuh sesuatu disana. Insha mengerjapkan matanya lagi. Ternyata Hanafi sudah ada di sampingnya, kemarin memang Hanafi bilang akan segera terbang ke negara X untuk menjenguk Insha yang di perkirakan 2 minggu lagi akan menjalani persalinan. Teryata semalam Hanafi sudah datang dan Insha tak mengetahui kedatangannya.


Karna sentuhan itu pula Hanafi terbangun dari mimpi indahnya. Seketika Hanafi tersenyum mendapati Insha yang sudah membuka mata dan memandang dirinya. Secepat kilat Hanafi mencium kening Insha dan langsung memeluknya erat.


"Kau tiba jam berapa sayang..."


"Jam 11 malam...dan kau sudah tertidur...aku tak tega membangunkanmu semalam...aku sangat merindukanmu sayang...semalam aku ingin sekali memelukmu...tapi aku takut kau terbangun..."


Hanafi terus saja menciumi puncak kepala Insha dengan gemasnya, sambil memeluknya erat.


"Apa kau tak merindukanku..."


tanya Hanafi sambil memegang dagu Insha dan mengangkat wajahnya menatapnya lekat.


"Tidakk..."


jawabnya singkat.


"Tidak...kau tidak merindukanku.."


"Tidak jika kau terus saja memelukku seperti ini...bahkan kau melupakan perutku yang sudah membesar ini...aiih lepaskan sayang...kau bisa menyakitinya..."


jawab Insha sambil sedikit menendang kaki Hanafi.


"Hehe maaf sayang maafkan aku...aku sungguh-sungguh merindukanmu...maaf telah memelukmu terlalu erat...."


Hanafi tertawa ringan mengecup pipi Insha, lalu segera memposisikan wajahnya di depan perut Insha.


"Hay sayang....apa kabar...lama ayah tak menyapamu...kau baik-baik saja kan di dalam...oh ya katakan pada ayah..selama 3 minggu ini apa ibumu makan sesuatu yang tak kau sukai nak....atau ibumu makan dengan porsi yang menggila lagi hingga membuatmu sesak didalam sana....katakanlah pada ayah sayang...ayah akan mencubit ibumu nanti...."


Hanafi mendalami perannya berkata sambil sesekali menempelkan telinganya di atas perut Insha seakan mendengarkan sesuatu dari dalamnya.


Tak di sangka saat Hanafi menempelkan telinganya bayi yang ada di dalam perut Insha bereaksi, ia menendang tepat di bagian telinga Hanafi yang menempel di atasnya.

__ADS_1


"Ehh...dia menendang telingaku sayang..."


Hanafi terlihat sangat senang, pasalnya sudah 3 minggu mereka tak bertemu, Hanafi rindu akan gerakan bayinya yang terus menggeliat di perut Insha, dan ketika baru saja Hanafi menyapanya tak di sangka bayi yang ada di dalam perut Insha langsung bereaksi dengan menendangnya.


"Ya biarkan saja dia menendangmu karna kau yang tak kunjung kembali...mungkin dia marah padamu...kau meninggalkan kami terlalu lama...aku sampai bosan di dalam villa ini trus..."


Jawab Insha dengan sedikit di bumbui kata-kata menyindirnya.


"Ya ampun sayang...kau marah...maaf...kan aku sudah mengatakan pekerjaanku sangat banyak..dan juga tentang pabrikmu..aku bahkan selalu pulang larut karna harus mengurus 2 pekerjaan sekaligus...bukankah aku juga sering menelponmu kan di sela-sela kesibukanku..."


Hanafi langsung beralih pada Insha mengelus-elus rambutnya yang sedikit berantakan, merapikannya, menyelipkan di belakang telinganya.


Insha malah tertawa ringan melihat expresi Hanafi, lagi-lagi ia berhasil menggodanya.


"Aku tau sayang...aku hanya bercanda kenapa kau serius sekali sih..."


"Hmm..kau ini makin lama makin jahil ya padaku.."


Dengan gemas Hanafi segera menggelitiki Insha, lalu beralih pada area sensitif Insha menggodanya dengan menggelitiki area di sekitarnya.


"Sayang...kenapa tanganku terasa basah.."


Hanafi berkata sambil mengangkat tinggi-tinggi tangannya.


"Basah..??"


Insha masih di penuhi dengan banyak tanda tanya. Lalu beberapa detik kemudian secara spontan, bersamaan Hanafi juga segera menghidupkan lampu kamar, sementara Insha mengatakan dengan nada bergetar.


"Air ketubanku..."


Saat itu juga Hanafi melihat tangannya yang sedikit ada bercak darah di ujung kukunya. Hanafi segera menyibak selimut dan mendapati area di bawah badan Insha telah basah dengan sedikit bercak darah.


Dengan sigap Hanafi segera menekan tombol yang ada di sebelah Insha. Tombol darurat yang sudah di siapkan Hanafi untuk memanggil para pelayan saat Insha sedang sendiri.


Tak menunggu lama semua pelayan yang ada di villa sudah ada di dalam kamar, melihat perihal apakah yang terjadi sampai sepagi ini panggilan darurat sudah terdengar.

__ADS_1


"Panggil dokter dan paramedis yang menangani nyonya Insha sekarang....katakan air ketubannya keluar..."


perintah Hanafi dengan tergesa, tangannya sampai gemetar karna mengetahui air ketuban Insha yang sudah merembes keluar ntah sejak kapan, karna Insha sendiri tak merasakannya.


Insha ingin menjalani persalinan dengan metode waterbirth. Metode yang di yakini dapat sedikit mengurangi rasa sakit saat persalinan. Metode melahirkan di dalam air hangat, seperti selayaknya mandi air hangat melahirkan di dalam air yang hangat juga dapat membuat tubuh menjadi rileks dan dapat bernafas dengan lebih teratur sehingga mampu meredakan nyeri kontraksi.


Dalam sekejab paramedis dan dokter sudah tiba di villa Insha. Mereka membawa peralatan untuk melakukan persalinan dengan menggunakan metode yang sudah Insha pilih.


Insha memang belum mengalami kontraksi tapi ketika Hanafi mengkonfirmasi bahwa ketuban Insha sudah pecah maka dokter menyimpulkan persalinan akan segera terjadi dalam waktu dekat.


"Apa anda merasakan sesuatu nyonya..."


Salah satu paramedis yang bisa berbahasa yang sama bertanya pada Insha.


"Tidak saya tidak merasakan apapun... tiba-tiba saja saya melihat sprei saya sudah basah seperti ini...apakah dia baik-baik saja di dalam..dengan kondisi ketuban yang seperti ini..."


"Tidak masalah nyonya...ini biasanya menandakan persalinan akan segera terjadi..tapi jika kontraksi tidak terjadi dalam kurun waktu 12 jam kami harus segera melakukan tindakan pembedahan pada anda karna bisa membahayakan kondisi bayi anda..."


Paramedis segera menyiapkan semua keperluan dalam persalinan Insha. Persalinan akan di lakukan langsung di kamar Insha sesuai permintaannya, Insha mengungkapkan ia malah takut jika melakukan persalinan di rumah sakit dengan semua suasana rumah sakit, apalagi melihat alat-alat yang ada disana. Dia takut itu malah akan membuat dia tak bisa fokus untuk melahirkan bayinya.


Dengan pertimbangan itu pun Insha memilih melahirkan di villanya dengan suasana yang tenang. Dan tentu semua pilihannya itu di bayar dengan harga yang sangat fantastis. Persiapan semua sudah selesai di lakukan, kolam buatan dengan pengatur suhu air di dalamnya sudah di isi dengan air hangat sesuai metode yang akan di jalankan.


Dan benar saja sesuai perkiraan dokter setengah jam setelah itu Insha mulai mengalami kontraksi. Dengan keadaan ketuban Insha yang sedikit mengalami kebocoran Insha hanya di perbolehkan untuk berjalan-jalan ringan di sekitar kamarnya.


Semakin lama kontraksi yang di rasakan Insha semakin intens ia terlihat beberapa kali merintih di dalam pelukan Hanafi yang selalu ada di dekatnya. Menggandeng tangan Insha berjalan-jalan di sekitar kamar. Saat kontraksi terjadi Hanafi dengan sigap mengelus-elus perut bagian belakang Insha dengan lembut berharap bisa mengurangi rasa sakit kontraksinya. Insha kadang terlihat sesekali menggenggam erat tangan Hanafi karna menahan rasa sakit kontraksinya.


Dokter dan paramedis yang sudah bertugas standby disana, selalu mengecek keadaan Insha dengan berkala. Setiap 3 jam sekali dokter melihat pembukaan rahim Insha, melihat kesiapan rahim untuk mengeluarkan bayi yang ada di dalamnya.


Selama 12 jam Insha mengalami kontraksi yang hebat, tangis dan rintihan selalu terdengar dari dirinya yang menahan rasa sakit. Hingga dokter mengecek ulang pembukaan rahim Insha yang teryata sudah siap untuk melahirkan bayinya.


Semua tenaga medis yang sudah ahli memposisikan diri untuk membantu Insha dalam persalinannya. Semua paramedis yang ada adalah perempuan dan di dalam ruangan kamar itu hanyalah Hanafi lelaki satu-satunya sebagai pemdamping Insha. Hanafi memang mensyaratkan untuk memilih tenaga medis perempuan karna ia tak mau ada tenaga medis lelaki yang membantu persalinannya mengingat ini adalah hal yang cukup sensitif.


Karna persalinan yang di pilih Insha sendiri mengharuskan dirinya untuk memakai baju yang simple dan terbuka, yang sudah jelas memperlihatkan bagian tubuhnya dengan jelas.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2