
Sejak kejadian hari itu sudah 7 hari Prass tak berkunjung ke kediaman pondok pesantren yang di tempati Insha, ponselnya juga tak aktif saat di hubungi. Insha sangat merasa bersalah pada Prass, ia kembali mengingat penuturan orangtua Prass. Tak ingin membuat Prass merasa stress lagi karna cinta, Insha pun mengubur perasaannya dan memilih untuk tetap menikah dengan Prass ia berusaha untuk membuka hatinya lagi meski sulit tapi Insha akan mencobanya.
Hari ini Insha ingin mengunjungi rumah Prass dengan mobilnya. Mobil yang baru saja di belinya hasil dari kerja keras dan kerjasamanya dengan Prass.
Baru saja Insha ingin mengunci kediaman tapi suara langkah kaki seseorang terdengar mendekatinya, Insha pun menoleh dan mendapati Prass yang telah ada di belakangnya dengan tersenyum ceria.
"Kak Prass...maafkan aku kak...kau masih marah denganku...aku akan menikah denganmu...semua yang kau kakatan kemarin salah kak...semua itu tak benar.."
"Semua sudah aku batalkan Insha...aku pun tak marah...aku sudah ihklas dengan semuanya...dan aku tak mau memaksakan perasaan dan egoku hanya untuk kebahagiaanku....apa artinya pernikahan kita jika kau tak bahagia nantinya...hemmm.."
Prass bahkan mengatakannya sambil tersenyum lebar pada Insha.
"Tapi bagaimana dengan orangtuamu kak...mereka pasti akan kecewa..."
"Tentu tidak Insha...lihatlah itu mereka..." Prass menunjuk ke arah pondok pesantren, terlihat kedua orangtua Prass sedang berjalan bersama seorang gadis yang tinggi, putih, cantik berseri, ia mempunyai lesung pipi yang terlihat semakin menambah kesan cantik saat ia tengah berbicara, pipinya juga terlihat kemerahan karna kulitnya yang putih bersih.
"Siapa dia kak..."
Insha menatap Prass dengan heran.
"Namanya adalah Aisyah....dia calon istriku..."
Prass masih terus menatap aisyah dengan senyumnya.
"Ca..calon istri..."
Insha sangat terkaget dengan penuturan Prass,
secepat itukah kak prass jatuh cinta pada wanita...
Gumam hati Insha.
"Iya ....dia calon istri yang di pilihkan oleh kedua orangtuaku..."
Prass memandang Insha dengan senyum yang masih tersungging di bibirnya.
**
Setelah Prass mengatakan pada kedua orangtuanya untuk mencarikan calon istri. Orangtuanya segera menghubungi pihak pondok pesantren, mereka sebenarnya memang sudah ingin menjodohkan Prass dengan Aisyah setelah pernikahan Prass batal dengan Salma.
__ADS_1
Karna menurut mereka Aisyah adalah gadis yang sangat baik dan patuh. Aisyah sudah lama menetap dipondok pesantren itu, sejak usia 5 tahun dia sudah tinggal disana, orangtuanya menitipkan Aisyah di pondok pesantren itu dan tak pernah kembali untuk menjemputnya, hingga kini usianya sudah 23 tahun.
Orangtua Prass lah yang dengan ihklas membiayai semua kebutuhannya, Aisyah sangat patuh dan belajar agama dengan giat, ia jarang sekali keluar pondok, jarang orang melihatnya jika tidak mengenalnya dengan dekat, kegiatannya sehari-hari hanya ia gunakan untuk beribadah, mengaji dan menimba ilmu saja.
Karna ketekunan Aisyah inilah ia dengan mudah menghafalkan 30 juz Alqur'an dengan sangat fasih. Aisyah sangat cerdas, ia sekarang juga menjadi salah satu guru mengaji di pondok, suara merdunya juga mampu menghipnotis semua orang yang mendengarnya.
Hari itu juga Prass dan orangtuanya datang ke pondok untuk mempertemukan Aisyah dengan Prass. Saat itu Aisyah tengah ada di masjid, melantunkan ayat suci alqur'an dengan merdunya. Prass sempat di buat terdiam dan terpesona karna suara merdu itu, Prass menatap orangtuanya dengan penuh tanda tanya, mengapa membawa ia ke masjid yang jelas-jelas masih ada kegiatan mengaji disana.
Ayahnya pun berbicara.
"Dia adalah Aisyah...dia satu-satunya wanita penghafal Alqur'an di pondok pesantren ini...dia wanita yang sangat cantik...patuh dan baik...ayah dan ibu ingin kau menikahinya..."
Ibu Prass pun sudah berjalan terlebih dahulu untuk membawa Aisyah bertemu dengan Prass di luar masjid itu. Ibu Prass menggandengnya dengan hangat.
Telah sampai di depannya, Prass hanya terdiam mengaggumi kecantikan alami yang terpancar dari wajahnya, juga lesung pipi yang menambah kesan manis di wajahnya. Jantungnya berdetak dengan kencang, tangannya juga berkeringat.
Sedangkan Aisyah hanya memandang Prass sekilas lalu tersenyum dan menundukkan kepalanya. Prass mengulurkan tangannya ingin menjabat Aisyah dan memperkenalkan dirinya.
"Aku Prass...Prassetyo ..."
Tapi Aisyah tak menerima jabatan itu, ia hanya menggunakan sebuah isyarat untuk berjabat tangan dengan Prass.
Aisyah menjawab masih dengan wajah tertunduk.
Itulah awal pertemuan mereka, dari situ Prass berjanji akan membuka hatinya untuk Aisyah dan ia akan menikahinya karna Allah. Prass bahkan sudah menganggap bahwa Aisyah adalah jodoh yang memang sudah di takdirkan untuknya.
**
Aisyah pun bertemu dengan Insha dan Prass disana, Aisyah juga tentu mendengar rumor kedekatan Insha dan Prass, tapi ia sama sekali tak merasa cemburu, ia malah ingin berteman baik dengan Insha yang sudah memajukan pondok pesantren tempat tinggalnya.
Setelah mereka saling berkenalan dan berbincang-bincang ringan, Insha pun dengan suara pelan menunduk meminta maaf pada kedua orangtua Prass. Tanpa di sangka orangtua Prass sama sekali tak merasa marah padanya, mereka berkata bahwa tak ingin memaksa perasaan Insha. Bahkan mereka malah mengutarakan akan mengatur rencana untuk menggelar 2 pernikahan secara langsung, antara Prass dan Aisyah dan Insha dengan Hanafi tapi itu pun jika Insha memang berkenan rujuk dengan Hanafi. Mereka pun mendukungnya, bahkan akan menjadi wali Insha disana dan akan membiayai semua biaya pernikahannya.
Insha tentu saja menolak, karna sudah banyak yang telah di lakukan Prass dan orangtuanya pada Insha yang tentu tak dapat di balas olehnya. Insha juga tak tau masih adakah cinta Hanafi untuknya, ia juga masih meragukan perasaannya, ia enggan untuk berkata jujur bahwa ia masih menyimpan perasaan pada Hanafi.
Karna Insha menolak, akhirnya Prass menikah dengan Aisyah tepat 2 minggu sebelum tanggal undangan resepsi Insha dan Prass yang di batalkan itu, Aisyah tak ingin pernikahan yang megah, ia hanya ingin pernikahan sederhana tanpa adanya resepsi. Prass dan orangtuanya pun menurutinya.
Dan saat itu juga ternyata Prass mengirimkan undangan yang sudah di gagalkan tentang pernikahannya dengan Insha. Prass mengirimnya kepada Hanafi, ia mempunyai suatu rencana disana, bahwa Prass akan menemuinya di gedung itu dan berbicara bahwa Insha masih memiliki perasaan untuknya, dan Hanafi harus kembali berjuang untuk mendapatkannya.
Prass tak langsung menemuinya karna ia mempunyai maksud, jika memang Hanafi benar-benar mencintai Insha maka ia akan datang dan menyaksikan kebahagiaan Insha disana lewat undangan palsu itu.
__ADS_1
Dan hari itu pun tiba, Prass sudah menunggu Hanafi di depan gedung itu sendirian, sambil bersandar di samping mobilnya.
Sementara Insha saat ini tengah berkunjung di kediaman pondok untuk mengambil beberapa barangnya yang tertinggal. Ya Insha membeli rumah baru yang cukup dekat dengan pondok pesantren itu, pasalnya setelah Prass dan Aisyah menikah mereka menempati kediaman pondok dan Insha pun memilih membeli rumah baru tak ingin mengganggu kebahagiaan mereka. Sebenarnya Prass maupun orang tuanya tak memperbolehkan Insha untuk pergi dari sana, karna kediaman itu sebenarnya terbagi menjadi 2 bagian. Kediaman itu sendiri dan kediaman tamu, bangunannya menjadi satu tapi terpisah dengan sebuah tembok, dan Insha di minta untuk tinggal disana di kediaman tamu.
Fasilitas rumahnya sama hanya saja kediaman itu hanya memiliki satu kamar. Tapi Insha menolaknya ia lebih memilih membeli rumah baru dengan uang jerih payahnya sendiri dan itu cukup.membuat Insha bangga dengan dirinya sendiri.
Insha melihat Aisyah yang sedang menyapu di halaman rumah, Insha pun menyapanya.
"Aisyah...aku ingin mengambil beberapa barangku di dalam..bolehkah..."
"Tentu saja Insha..ambilllah...masuklah tak ada orang di dalam..."
"Tak ada orang...memangnya kemana kak Prass.."
"Dia sedang pergi ke gedung Graha..."
"Gedung Graha...?"
Insha mengeryitkan dahinya, tak asing dengan nama gedung Graha. Insha teringat bahwa itu gedung yang akan di gunakan ia resepsi dulu.
"Untuk apa kak Prass kesana.."
"Dia bilang untuk menunggu mantan suamimu...dia ingin bicara dengannya...mas Prass mengirim undangan kalian dulu agar mantan suamimu datang kesana..ia ingin menjelaskan sesuatu..."
Sebenarnya Prass sudah melarang Aisyah untuk mengatakannya pada Insha. Tapi Aisyah yang pada dasarnya adalah gadis polos dan tak bisa berbohong, ia pun mengatakan yang sebenarnya pada Insha.
"Mengatakan apa..."
Insha menatap Aisyah dengan tatapan penuh tanya.
"Bahwa kau masih menyimpan perasaan untuknya...dan mas Prass akan menyuruh dia untuk mendekatimu kembali...berharap kalian bisa rujuk kembali..."
Bahkan Aisyah kini berbicara dengan senyum manisnya.
"Sudah gila ya..."
Insha tampak terkejut dengan penuturan Aisyah, ia pun segera menuju mobilnya dan menyusul Prass ke gedung Graha.
Bersambung....
__ADS_1