
"Apa..ke...kehamilan.."
Insha masih menatap tak percaya kepada dokter Rizal.
Seketika juga Insha mengingat semua penjelasan dokter Vina tentang HCG yang sering di jelaskannya mengenai kehamilan.
Insha lalu menatap Salma yang hanya diam mematung menatap dokter Rizal.
Bagaikan sebuah sambaran petir, Insha seketika merasakan lemas di seluruh badannya, tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
Sementara disana dokter Rizal terus.menjelaskan berbagai kondisi yang mungkin terjadi di awal kehamilan.
Insha sama sekali tak mendengarkan itu, fikirannya jauh melayang.
apa mungkin itu anak....tidak...mas han tak mungkin melakukan itu padaku...
tapi dia juga istri mas han sekarang..bukan tidak mungkin kalau yang di kandung kak Salma adalah...anak mas han..
Seketika itu expresi wajahnya berubah, wajahnya memerah menahan sesuatu yang mencoba meluap.
Braakk...
suara pintu di buka dengan keras.
Dokter Arya tiba-tiba datang dengan nafas yang terengah-engah.
Dokter Rizal pun tampak kebingungan dan menghentikan penjelasannya.
"Maaf nona muda...anda tadi mencari saya..saya baru saja selesai melakukan operasi...apa ada yang bisa saya bantu..."
Arya tiba-tiba berkata pada Insha.
Sementara Insha hanya menatap Arya dengan tatapan tajamnya yang di penuhi dengan amarah.
Tanpa berkata apapun, Insha langsung mengambil secarik kertas yang sedang di pegang dokter Rizal, dan meraih beberapa obat yang sudah khusus di resepkan untuk Salma, Insha sepertinya samar-samar mendengar penjelasan dokter Rizal kepada Salma.
Insha pun menarik tangan Salma untuk meninggalkan ruangan itu.
apa salahku kenapa menatapku tajam seperti itu...dan nona langsung pergi begitu saja..tanpa sepatah kata pun...
ya Tuhan...selamatkanlah gajiku bulan ini...
Gumam Arya yang sekarang tampak duduk kebingungan di kursi yang di duduki Insha tadi.
Ia berniat hendak mengantarkan Insha dan Salma kedalam mobilnya, tapi urung dia lakukan dia takut melihat wajah Insha yang seperti tadi.
__ADS_1
Bodohnya aku...kenapa aku memajukan jadwal operasi hari ini...
Arya tak henti-hentinya bergumam dalam hati mengutuki kebodohannya.
Sementara di tempat parkir khusus yang sudah di sediakan jika Hanafi berkunjung kesana, di samping mobil Insha sudah terdapat beberapa pengawal yang membukakan pintu ketika ia dan Salma mendekati mobilnya.
Mereka pun menaiki mobil itu, dan mobil pun melaju dengan cukup kencang menyibak jalanan yang cukup ramai para pengendara.
Insha tampak menyalip beberapa mobil yang ada di depannya membunyikan klakson nya berkali-kali membuat Salma yang berada di dekatnya merasa ketakutan karna cara mengemudi Insha yang sekarang.
"Insha..turunkan kecepatan mobilnya...jangan mengemudi seperti ini...berbahaya Insha.."
Insha pun sama sekali tak menghiraukan kata-kata Salma, fikirannya tengah sibuk terbang kemana-mana. Menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi antara Hanafi dan Salma di belakangnya.
Tapi ntah kenapa Insha masih tak percaya jika Hanafi tega melakukan semua itu kepadanya.
Dalam kepalanya kembali terdengar suara Hanafi dengan janji-janjinya sebelum pernikahannya dengan Salma berlangsung.
"Hanya kau wanita yang aku cintai Insha...aku bersumpah...aku berjanji padamu aku tak akan menyentuhnya...demi ayah Insha...aku mohon..lihatlah keadaan nya yang sekarang..."
Kata-kata Hanafi itu terus berulang terdengar di telinga Insha sekarang. Matanya sekarang memerah membendung air mata yang akan siap tumpah kapan saja, tapi ia berusaha menahannya.
Sampai mobil tiba di pelataran rumah Salma, Saat itu terjadi hujan gerimis disana, dan hari sudah akan masuk waktu malam, mendung juga terlihat menggumpal abu-abu di langit luas itu.
Insha meminta Salma untuk turun dengan suara yang cukup mengagetkan Salma disana.
Salma dan Insha pun bersama-sama turun dari mobil itu, Salma terlihat tergesa-gesa membuka pintu rumahnya, yang membuatnya semakin kesusahan untuk membukanya.
Pintu pun terbuka Salma masuk lebih dulu di susul oleh Insha yang berada di belakangnya.
Untuk beberapa saat Insha diam mematung berdiri di depan Salma, sedangkan Salma hanya duduk di sofa tertunduk menatap apapun yang ada di bawahnya.
"Jawab pertanyaanku...anak siapa yang ada dalam kandunganmu itu.."
Insha masih berdiri dengan tatapan tajamnya pada Salma.
Salma terlihat sekilas melihat Insha lalu tertunduk lagi, lalu terdengar suara isak tangis dari sana, tubuhnya tampak bergetar menahan air mata nya.
"Aku tak ingin melihat tangismu itu...jawab pertanyaanku Salma..."
Suara Insha sudah mulai meninggi, amarahnya semakin meluap.
"Inshaa..aku..."
Salma tak sanggup berkata-kata, ia sekarang semakin terisak keras.
__ADS_1
Insha pun seketika berjongkok di depan Salma, meraih dagu yang tertunduk itu menatapnya tajam.
"Jawab pertanyaanku..."
Salma pun melihat mata Insha yang mencoba membendung air matanya.
"Demi Tuhan Insha aku tak akan melakukan perbuatan zina..."
Salma menjawab pelan di iringi dengan isaknya yang bertambah keras.
Mendengar jawaban itu, seketika air mata Insha tumpah membasahi kedua pipinya. Keduanya menetes bersamaan di lantai ruang tamu itu.
Tangan Insha yang kala itu sedang memegang dagu Salma seketika melemas dan melepaskannya begitu saja.
Dengan air mata yang masih mengalir, Insha berdiri dan mengeluarkan obat yang tadi di bawanya dari meja dokter Rizal dari tas kecilnya, melemparkan begitu saja tepat di depan Salma yang kini menunduk diam.
Insha pun berjalan keluar rumah, tapi terdengar suara Salma dan langkah kaki yang mengejarnya, juga tangannya sekarang telah di pegang erat oleh Salma.
"Insha tunggu, dengarkan aku..."
Insha enggan menoleh ia menepiskan tangan yang memegangnya itu dengan kasar.
"Maafkan aku Insha.."
Salma pun tampak terbata-bata.
Mendengar kata maaf dari Salma amarahnya semakin memuncak, ia pun seketika membalikkan badan menatap Salma yang berada tepat di belakangnya.
Insha pun berkata dengan suara yang pelan dan melemah.
"Maaf...perbuatan apa yang bisa aku maafkan darimu...bahkan kau sekarang mengandung anak dari suamiku sendiri...kakak mana yang tega melakukan semua itu...."
"Teryata selama ini orang tuaku memelihara ular dalam hidupku...kau lupa dengan kasih sayang tulus yang di berikan orang tuaku padamu...sekarang ini balasanmu...balasan untuk anak dari kedua orang tua asuh yang telah membesarkanmu..."
Insha tampak mengusap air mata di pipinya.
"Bahkan apa itu..air mata pura-pura yang kau perlihatkan padaku...tapi di belakangku diam-diam kau menggoda dan menghabiskan malam dengan suamiku hah..."
"Sungguh tiada wanita yang lebih hina lagi daripada dirimu Salma.."
Salma tak dapat berkata apapun, dia semakin terisak keras disana, berusaha memegang tangan Insha yang terus di tepisnya dengan kasar.
Insha pun segera beranjak dari sana masuk ke dalam mobilnya, ia pun segera melajukan mobilnya dengan kencang di jalanan desa yang sempit dan tampak banyak lubang, mobilnya pun terdengar berdecit dan membunyikan klasonnya berulang kali di persimpangan jalan yang tak jauh dari sana.
Bersambung...
__ADS_1