2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Bandara


__ADS_3

Hanafi pun sampai di bandara, dia segera menepikan mobilnya menaruh di parkiran bandara dengan sembarangan, tidak memperdulikan security memeriakinya. Hanafi langsung saja berlari masuk dalam bandara. Ia melihat jadwal penerbangan menuju negara X yang tepat lepas landas jam 8 pagi. Sedangkan sekarang sudah menunjukkan jam 8 tepat.


Hanafi segera melihat ke arah landasan pesawat, benar saja ada salah satu pesawat yang sudah siap lepas landas bahkan sudah berjalan perlahan untuk segera terbang menyibak gumpalan awan.


Hanafi segera berlari sekencang mungkin menuju ruang tunggu di dekat landasan, tempat orang-orang yang siap untuk segera menaiki pesawatnya. Hanafi bahkan menerobos security yang berjaga disana, menerobos palang besi dengan merangkak di bawahnya, tentu saja itu membuat keributan disana, para security dan petugas yang berjaga segera mengejar Hanafi yang sudah berlari menuju landasan pesawat.


Seorang petugas landasan yang tau keributan itu segera mencegah Hanafi, menyeretnya menuju tepi, karna aksi yang dilakukannya sangat berbahaya. Mereka semua bahkan menarik Hanafi dengan kasar, menuju keluar area landasan.


Hanafi menangis saat mengetahui pesawat yang ada di depannya sudah lepas landas dan terbang melesat dengan cepat. Tubuhnya lunglai di aspal menangis sambil memukul-mukul aspal, banyak calon penumpang yang melihatnya dengan perasaan iba. Tubuhnya yang kurus itu terduduk lunglai di bawah sana di kelilingi oleh banyak petugas yang masih berusaha membawanya keluar.


Dari para calon penumpang pesawat yang akan terbang selanjutnya semua melihat kejadian itu dengan jelas. Banyak yang mulai membicarakannya, ruangan khusus itu pun gaduh dengan pembicaraan masing-masing mereka, beberapa terlihat menunjuk-nunjuk ke arah Hanafi dan menatapnya dengan iba.


Terlihat seorang lelaki kurus yang terduduk lemas di aspal, terisak dan di kelilingi oleh banyak petugas. Saat pria itu di tarik kasar oleh seorang petugas untuk membawanya keluar, wajahnya menghadap ke para calon penumpang, yang sedang membicarakannya, mereka pun semakin iba melihatnya karna penampilan lelaki itu terlihat sangat kacau dan acak-acakan.


Tak lama setelahnya, 2 orang lelaki datang dan berbicara pada para petugas bandara, lalu dengan mudahnya mereka membawa Hanafi dari pusat keramaian dan mata-mata yang mulai memandang dan membicarakannya.


Sementara Hanafi masih dengan isak tangisnya ia pasrah di bawa pergi oleh kedua lelaki itu, ia tak tau mungkin karna keributan yang di buatnya ini ia akan di bawa ke kantor polisi.


Hanafi hanya mengikuti kedua lelaki yang membopong badan lemasnya ke suatu tempat. Hanafi sudah sangat sedih dan meracau menyalahkan dirinya sendiri yang tak bisa mencegah Insha pergi darisana, dia juga menyalahkan dirinya kenapa dia tak datang waktu itu, waktu dimana Insha memberinya kesempatan untuk kembali lewat undangan pesta pernikahan palsu itu.


Di suatu ruangan yang cukup sempit dengan ukuran 3x3meter. Ruangan yang di dominasi dengan warna putih, di dalamnya hanya ada beberapa kursi. Sepertinya ini adalah ruang tunggu khusus bandara yang di peruntukan untuk orang-orang yang bermasalah dengan berkas-berkas ilegal atau pun orang-orang yang bertindak kriminal akan di bawa ke ruangan ini.


Sementara Hanafi kini hanya terduduk di kursinya menanti dengan pasrah bahkan saat polisi akan membawanya nanti. Satu orang lelaki tadi masih ada di samping Hanafi berdiri menjaganya agar tidak kemana pun. Satu orang lagi tengah berjaga di ambang pintu seperti menanti seorang datang.


Tak lama setelahnya seorang wanita datang dengan langkah yang tegas, melangkah cepat masuk kedalam ruangan itu dan berdiri langsung di hadapan Hanafi.


Hanafi hanya acuh tak acuh, ia masih tetap dengan tangisnya, menunduk tak melihat siapa orang yang datang dan berdiri di hadapannya, karna kini hatinya terasa telah hancur lagi, semangat hidupnya telah hilang lagi.


Ia berniat setelah ini, mungkin ia akan membayar denda di bandara karna telah membuat kekacauan, setelahnya Hanafi akan pergi mencari Insha di negara X. Ia akan mencari keberadaannya sampai ketemu bagaimana pun caranya, meski itu sulit dan sangat mustahil, mengingat negara X adalah negara yang luas, tapi ia tak peduli bagaimana pun caranya ia harus menemukan cintanya kembali.


Hanafi melirik sekilas wanita di hadapannya yang memakai sepatu dengan celana hitam, memakai jaket panjang berwarna abu tua, dengan sebuah baju rajut putih bermodel pendek sampai di pinggangnya, lalu Hanafi menunduk lagi tak melihat ke arah wanita itu.


wanita itu memakai kerudung simple, sebuah kacamata hitam dan sebuah topi yang menutupi wajahnya dan tas kecil yang menjuntai di samping lengannya

__ADS_1


Dengan nada tertatih Hanafi berkata pada wanita itu.


"Katakan berapa denda yang harus aku bayarkan padamu...aku ingin segera pergi dari sini..."


Hanafi mengira wanita di hadapannya adalah seorang pemilik bandara, karna penampilannya yang memakai pakaian mahal dan bermerek.


"Kenapa kau jadi seperti ini..."


Seketika Hanafi tersentak mendengar suara dari wanita di hadapannya, ia sangat mengenal suara itu, suara yang sangat di rindukannya, dan dia rela melakukan apapun untuknya. Hanafi segera mendongakkan kepalanya menatap wajah wanita itu dengan seksama.


Seketika wanita itu juga segera melepas topi dan kacamatanya melihat langsung ke wajah Hanafi yang sedang menatapnya dengan intens.


Hanafi tak dapat berkata-kata lidahnya terasa kelu, hatinya sangat senang melihat Insha berada di hadapannya, wanita yang di cintainya dan dirindukannya. Tangis haru keluar lagi dari matanya, ia segera bangkit dan memeluk Insha dengan eratnya, mendekapnya hangat seakan tak ingin melepasnya lagi.


**


Ya Insha mengganti tiketnya dengan tujuan negara A ia ingin berlibur dulu kesana, di negara yang terkenal dengan keindahan alamnya, ia berniat bermalam beberapa hari disana sebelum pergi ke negara X untuk memulai hidup barunya. Dengan jadwal yang selisih 20menit, Insha akan lepas landas di jam 08.20 menuju negara A terlebih dahulu.


Lalu Insha melihat sebuah keributan di area lepas landas, dan mendapati seorang pria kurus tengah terisak disana, saat petugas bandara menariknya paksa keluar dari area itu sekilas Insha melihat seorang yang sangat di kenalnya. Karna rasa ibanya dan rasa cinta yang masih tersisa di dalam hati kecilnya, ia menyuruh 2 orang pengawalnya untuk membawa Hanafi ke sebuah ruangan karna ia tak tega melihat Hanafi di tarik-tarik kasar dan menjadi pusat perhatian karna keributan yang di buatnya.


Dalam perjalanan menuju bandara tadi, ia dengan hati yang sedih menatap ke arah jendela mobilnya, berat rasanya meninggalkan negara kelahirannya hanya untuk mencari sebuah kehidupan baru, dalam hatinya masih berharap Hanafi akan datang dan mencegahnya pergi. Tapi dia merasa itu semua tak mungkin terjadi, mengingat sudah lama sekali mereka tak bertemu, tak mungkin juga Hanafi tau jika Insha akan berniat pergi.


Dan saat melihat Hanafi tengah menjadi pusat perhatian karna keributan dan kegilaannya, sejenak Insha merasa tercengang, heran sedang apa Hanafi disana, apa ada seorang wanita lain yang sedang menjadi tambatan hatinya. Tapi saat samar-samar Insha mendengar Hanafi menyebut namanya, ia pun segera menyuruh kedua pengawalnya untuk membawa Hanafi pergi dari sana dan dia berniat akan menemuinya.


**


Kedua pengawal yang ada disana segera mendekat ingin menjauhkan Hanafi dari Insha. Tapi dengan isyarat tangan Insha, kedua pengawal itu kembali mundur dan membiarkan Hanafi dengan pelukan hangatnya.


Saat itu juga Insha merasakan sebuah pelukan hangat yang sudah lama tak ia rasakan, pelukan yang membuatnya nyaman, dan tenang. Dan jujur dalam hati Insha ia merindukan pelukan itu, tapi ntah kenapa saat ini Insha enggan membalas pelukan itu, ia hanya diam merasakan pelukan hangat Hanafi.


Setelah cukup lama Insha pun berkata.


"Apa kau akan membiarkanku kehabisan nafas disini..."

__ADS_1


Seketika itu Hanafi baru tersadar ia terlalu erat memeluk Insha, ia segera melepas pelukannya.


"Maafkan aku Insha..."


Sejenak Hanafi memandang penampilan Insha yang jauh sangat berbeda dari dulu, semua barang yang di pakainya kini juga barang-barang mahal. Dalam fikirannya bertanya-tanya sesukses apa usaha Insha sampai bisa membeli semua barang-barang itu, dan Hanafi juga menoleh ke arah 2 orang yang membawanya tadi. Berfikir kembali apa mereka orang-orang Insha atau memang petugas bandara. Masih sibuk dengan fikirannya sendiri Hanafi di kagetkan dengan suara Insha.


"Kenapa kau kemari han...bahkan membuat keributan seperti tadi..."


Baru tersadar akan tujuannya kemari Hanafi pun menggenggam kedua tangan Insha.


"Aku mohon jangan pergi dariku lagi In...jangan tinggalkan aku..sungguh aku tak bisa hidup tanpamu...aku mohon kembalilah bersamaku...aku akan menuruti semua keinginanmu..."


"Siapa yang memberitahumu aku ada disini..."


sedetik Insha terdiam lalu berkata lagi.


"Astaga...pasti kak Prass kan..."


"Iya Insha...dia datang ke rumahku menceritakan semuanya padaku...semua yang terjadi selama ini...maaf aku tak datang waktu itu..aku mengecewakanmu..."


"Tak apa han...lupakanlah yang lalu biarlah berlalu...itu semua ide kak Prass bukan aku..."


Insha berkata sambil memalingkan wajah dari Hanafi, berjalan selangkah menatap keluar ruangan dari jendela kaca kecil yang ada di sudut ruangan itu.


"Insha..."


Hanafi melangkah kembali ke depan Insha dan memegang tangannya. Tak mau berbasa-basi lagi Hanafi segera mengungkapkan maksud kedatangannya.


"Maukah kau berumah tangga lagi denganku....aku berjanji padamu aku akan menuruti semua keinginanmu ...aku tak akan memaksa apapun darimu...aku tak bisa hidup tanpamu Insha...bahkan cintaku padaku tak berubah sedikit pun...aku masih dengan hatiku yang dulu..berilah aku kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya..."


Hanafi menatap Insha dengan wajah memelasnya.


Insha masih tak menjawab, dia diam menatap Hanafi dengan lekat.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2