2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
1%


__ADS_3

Lama nada sambung telpon tak kunjung di angkat oleh dokter Arya. Hanafi pun pergi ke ruangannya.


Ketika Hanafi sampai disana ia melihat dokter Arya yang tengah tertidur pulas di tempat istirahatnya, bahkan saat ponselnya berbunyi keras di sampingnya ia sama sekali tak bereaksi apapun.


"Ya ampun...tidur sudah seperti orang mati saja...ponsel ini berbunyi keras tapi dia sama sekali tak bangun...gila..."


Hanafi terus melangkah mendekati Arya yang sedang berbaring tertidur pulas.


"Hey...Ar....bangun....bangun..."


Hanafi menggoyang-goyangkan tubuh Arya dengan cepat.


Arya hanya menggeliat pelan, sedikit melirik ke arah Hanafi, lalu sedetik kemudian matanya terbelalak, karna mendapati Hanafi ada di hadapannya.


"Loh kenapa disini han...ada apa dengan nona...?"


"Ada apa...ada apa...kau tak dengar aku menekan bel darurat...bahkan aku menelponmu tapi kau sama sekali tak mengangkatnya..."


Jawab Hanafi dengan wajah penuh amarah.


"Maaf...maaf...ada apa dengan nona katakan.."


Arya sudah beranjak dari tempat tidurnya lalu segera berdiri mensejajari Hanafi dengan tangan yang masih mengucek-ucek matanya menghilangkan rasa kantuk.


"Apa kau hanya akan bertanya tanpa melihat keadaannya...."


"Ya tentu saja aku akan kesana, tapi katakan dulu ada apa dengan nona...apa dia pingsan lagi..."


"Dia terus saja muntah-muntah....tapi seorang dokter sudah memberikan dia obat tadi...sekarang lihatlah dia...periksa kondisinya...."


Kalimatnya belum selesai tapi Hanafi sudah berlalu pergi.


"Begini han..kau tak perlu...astaga..."


kalimatnya terpotong ketika menoleh dan melihat Hanafi yang sudah berlalu pergi.


"Hmm...baru saja mau mengatakan tentang kondisi nona ...tapi dia sudah menghilang seperti hantu saja..."


Arya pun mengambil secarik kertas hasil lab Insha, dan segera pergi ke ruangan Insha.


Dokter Arya telah tiba di ruangan Insha, masuk dan mendapati Hanafi yang tengah memeluk Insha dengan tubuh yang lemas.


"Periksalah dia....apa dia baik-baik saja....dia terus mengeluh pusing padaku....pasti terjadi sesuatu dengan tubuhnya.."


pinta Hanafi pada dokter Arya.


"Nona Insha hanya kelelahan han...lain kali jangan biarkan dia bekerja keras..."


"Tapi apa dia baik-baik saja.."


"Kepala ku terasa sangat pusing dokter Arya...aku juga terasa mual-mual..."


jawab Insha sambil memegangi perutnya.


"Apa sekarang anda masih terasa mual nona..."


"Tidak..sudah mereda setelah di berikan obat oleh salah satu dokter yang kesini tadi..."

__ADS_1


Arya pun mendekat dan memeriksa Insha lebih dalam lagi, memastikan dia baik-baik saja.


"Bagaimana Ar..."


tanya Hanafi memastikan lagi.


"Semua baik-baik saja han....dan aku ingin membacakan hasil pemeriksaan lab milik nona Insha...tadi malam aku kesini tapi kalian tengah tertidur....dan aku tak mau membangunkanmu..." kata dokter Arya santai berjalan ke sisi Hanafi sambil berusaha membuka amplop coklat hasil lab milik Insha.


Dokter Arya memberikan secarik kertas hasil lab Insha pada Hanafi.


Hanafi mencoba membaca hasil lab itu.


"Darah dan semuanya terlihat normal Ar...Berarti Insha baik-baik saja bukan..."


Hanafi memandang lekat Arya di sampingnya.


"Ya kau benar..semua normal...tapi kau lihat ini..."


Dokter Arya menunjuk ke suatu kolom pada secarik kertas itu, lalu segera menepuk-nepuk lembut bahu Hanafi yang ada di sebelahnya dengan cukup bersemangat.


" Apa ini..."


tanya Hanafi penasaran karna tak begitu mengerti dengan dunia kesehatan.


" 1% mu mengalahkan ilmu di dunia kesehatan han....ini adalah kuasa Tuhan untuk kalian..."


masih menepuk-nepuk pundak Hanafi tiada henti.


"Maksudmu..?"


Hanafi menatap Arya dengan penuh tanda tanya.


Arya mengatakan berita itu dengan menatap tegas Hanafi. Seketika tangan Hanafi menutup mulutnya sendiri, matanya terlihat berkaca-kaca. Lalu sedetik kemudian air mata mulai berjatuhan dari sana.


"In...insha hamil...."


kata Hanafi terbata karna kaget sekaligus senang dengan kabar yang baru saja di dengarnya.


Arya mengangguk dan berkata.


"Ya han...nona Insha hamil..."


Secepat kilat Hanafi yang masih memegang kertas hasil lab itu segera memeluk Arya yang ada di sampingnya. Memeluk dengan deraian air mata haru yang terus saja mengalir di ujung matanya.


Sementara Insha yang sedari tadi memijit-mijit pelan kepalanya terkaget dengan tingkah 2 manusia yang ada di sampingnya. Insha memandang heran pada keduanya, dua lelaki yang saling berpelukan yang terlihat aneh di matanya.


Insha sendiri tidak mendengar percakapan kedua orang itu, hanya terdengar sebuah bisikan tak jelas dan saat berbicara tadi keduanya tertutupi oleh kertas hasil pemeriksaannya.


Melihat Hanafi yang tiba-tiba melepas pelukannya pada Arya, dan menoleh ke arahnya dengan wajah penuh airmata. Insha semakin penasaran, takut-takut terjadi sesuatu dengan kesehatannya.


"Ke..kenapa kau menangis sayang...apa terjadi sesuatu padaku..."


wajah Insha sudah sangat ketakutan melihat mata Hanafi yang masih mengalirkan airmata.


Secepat kilat Hanafi merengkuh tubuh Insha dalam pelukannya, ia masih terus saja menangis di bahu Insha sambil mengusap-usap lembut puncak kepala Insha.


"Ada apa sayang....jangan buat aku ketakutan...pasti terjadi sesuatu padaku...katakanlah..."

__ADS_1


tak mendengar jawaban dari Hanafi, Insha menoleh ke dokter Arya dengan wajah meminta sebuah jawaban.


Dokter Arya hanya mengangkat bahunya, sambil tersenyum manis pada Insha.


"Sayang ada apa...kenapa kau menangis..."


Insha berusaha menarik tubuh Hanafi mencoba melepas pelukannya. Hanafi segera melepas pelukan itu, memegang wajah Insha dengan kedua tangannya, wajah mereka sangat dekat sampai-sampai deru nafas keduanya terasa hangat menerpa wajah masing-masing.


"Katakanlah ada apa...."


tanya Insha dengan wajah sedikit kesal karna tak ada yang menjawab pertanyaannya sedari tadi.


Dengan tersenyum dan air mata haru yang masih saja keluar dari matanya, Hanafi dengan terbata dan menatap Insha dengan lekat mengatakan.


"Kau....ha..hamil sayang...."


Air mata Hanafi semakin pecah setelah mengatakan berita itu pada Insha.


Insha dengan wajah tak percaya kembali berkata.


"A..aku...aku....hamil..."


Setitik air mata keluar di ujung matanya, Insha memegang kedua tangan Hanafi yang ada di wajahnya.


"Ya sayang....kau hamil....kau hamil..."


Hanafi masih dengan air mata harunya, berusaha meyakinkan Insha lagi.


Insha pun menangis sejadi-jadinya disana, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


Ia hamil, hal yang sama sekali tak pernah ia bayangkan. Karna semua kondisinya, ia bahkan tak berani berharap untuk itu. Tapi teryata Tuhan berkata lain, Tuhan memberikan ia kesempatan untuk menjadi seorang ibu. Tuhan memberikan dia sebuah anugrah yang bahkan tak pernah ia harapkan untuk terwujud.


Sedangkan Hanafi kini memeluk Insha. Ia masih saja menangis disana, setelah semua yang terjadi, setelah semua yang ia alami. Akhirnya mimpinya memiliki seorang anak bersama Insha terwujud. Hanafi tau sendiri betapa sulitnya kemungkinan Insha untuk hamil, karna kondisinya bahkan kondisi sel telurnya yang sangat sulit untuk di buahi. Tapi Tuhan memberikan keajaiban dan kekuasaannya, Insha hamil setelah 10 bulan melangsungkan pernikahan keduanya.


Insha pun tak pernah mengira karna ia tak pernah meminum obat apapun, atau vitamin apapun untuk menunjang kehamilannya. Bahkan aktivitasnya akhir-akhir ini selalu padat apalagi Insha yang sudah mempunyai pekerjaan sendiri memaksanya untuk tidak pernah berdiam diri di rumah, memaksanya untuk selalu beraktivitas lebih.


Arya yang melihat keduanya yang sedang di selimuti kebahagiaan tanpa terasa juga menitikkan airmata.


Tuhan selalu menyelipkan rahasia di balik rahasia...setelah semua yang kalian alami...Tuhan menghadiahi kalian sebuah anugrah dengan cara yang indah....


Insha masih dengan tangisnya menatap Hanafi yang sekarang tengah mencoba menghapus airmata Insha yang terus mengalir dipelupuk matanya.


"A...aku hamil..."


Insha berkata lagi pada Hanafi sekilas memandangnya, lalu memandang ke perutnya mengelusnya lembut dan berkata lagi.


"Ada sebuah kehidupan baru disana..."


"Ya kau hamil sayang....dia hidup di dalamnya...di dalam rahimmu...dia anak kita..."


Hanafi menaruh tangannya di atas tangan Insha mencoba mayakinkan Insha lagi. Lalu beberapa detik kemudian Hanafi mencium lembut perut Insha dan berkata.


"Sehat-sehatlah kau disana...kau yang selalu ku tunggu kehadiranmu....anakku..tumbuh dan berkembanglah dengan baik....kami menyayangimu...."


Hanafi mencium beberapa kali perut Insha. Insha pun masih menangis sambil mengelus-elus kepala Hanafi yang ada di atas perutnya, masih tak percaya dengan semua yang terjadi.


Cukup lama dokter Arya ada disana melihat pemandangan dua insan dengan perasaan bahagia. Hingga akhirnya Arya pun berusaha mengambil perhatian keduanya dengan berdehem cukup keras.

__ADS_1


"Ehemm..ehemmm..."


Bersambung....


__ADS_2