2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Rumah Insha


__ADS_3

Insha berjalan menuju kamar mandi, pintu kamar mandi terbuka tetapi ada bayangan seorang di dalamnya.


Kak Salma pasti masih berada di musolla, ayah pun sedang sholat di kamar, lalu


siapa di kamar mandi ? mas Han..


Insha pun terdiam mematung jauh beberapa meter dari pintu


kamar mandi


, apa yang di lakukan


mas Han di dalam sana, kenapa pintunya tetap terbuka.. dalam hati Insha


bergumam, ia ingin melihat apa yang di lakukan suaminya disana, tapi ia juga


malu.


Apa aku harus


memanggilnya dulu, atau aku lihat saja langsung ke dalam, ahh tidak-tidak nanti


kalau mas Han tidak pakai baju harus bagaimana aku?


Langkah Insha maju kemudian ia mundur lagi sampai beberapa


kali karna kebingungan apa yang harus ia lakukan. Insha pun memutuskan untuk


kembali ke dalam kamar untuk menunggu Hanafi selesai, tetapi baru saja ia


selanhkah mundur menjauhi  kamar mandi


‘’Insha ini..’’


Hanafi sudah memanggilnya,Insha pun terdiam ingin


membalikkan badan ia takut kalau-kalau suaminya itu tak memakai baju.


Jantungnya berdebar lidahnya seperti kaku ingin menjawab panggilan itu. Dengan


perlahan ia pun menoleh ke arah Hanafi menundukkan kepala, terlihat jelas wajah


merah merona Insha, ia juga sedikit memejamkan matanya.


‘’Insha ini..dimana airnya?’’ melihat Istrinya tak menjawab


dan juga menundukkan kepala dengan wajah bersemu merah itu seakan Hanafi


mengerti apa yang ada di fikiran istrinya itu.Hanafi tergelak kecil dan


berjalan mendekati insha.


‘’Sayang, aku tanya dimana airnya kenapa kau diam


saja’’sambil memegang lembut dan mengangkat dagu Insha, terlihat wajah Hanafi


yang tampan dengan senyum manisnya.


‘’eeh anu mas, itu..iya saya akan mengisinya’’ hati Insha


makin berdebar mendengar panggilan Hanafi padanya, juga karna sentuhan di dagu


Insha yang membuat ia bisa melihat jelas wajah tampan suaminya yang semakin


membuatnya tak bisa berkata-kata.


‘’Dimana tombol airnya Insha’’


‘’Tombol air apa mas?’’


‘’Ya ini buat mengisi air, dimana beri tahu aku, biar aku


yang memencetnya’’kepala Hanafi menoleh kesana kemari berharap menemukannya


sendiri.


Insha belum sempat menjawab ia sudah tertawa geli melihat


perilaku suaminya ‘’saya yang akan mengisi airnya mas, mas Han duduk saja


didapur sebentar ya,’’ Insha pun beranjak membuka pintu belakang dan menuju

__ADS_1


keluar rumah dengan tawanya yang masih melekat di wajah manisnya.


Begitu pintu di buka hawa dingin langsung menyeruak masuk,


tubuh hanafi yang semula terdiam melihat Insha berusaha menyilangkan tangan di


dadanya secepat kilat karna merasakan hembusan angin yang dingin itu.


‘’Insha kau mau kemana, diluar sangat dingin kembalilah’’


tak mendapat jawaban Hanafi mengikuti langkah Insha keluar dan melihat suasana


yang sudah mulai gelap. Ia mendapati istrinya dengan penerangan seadanya di


depan sebuah sumur yang cukup besar dan sedang memegang tali untuk menarik air.


‘’Apa yang kau lakukan Insha, cepatlah masuk disini dingin


sekali’’


‘’Saya sedang mengisi air mas Han,disini tidak ada pemancar


air jadi harus mengambil air dari sumur seperti ini’’ Insha memandangi wajah


suaminya dengan tersenyum.


‘’Mas Han masuk saja, disini memang dingin saya sudah biasa


melakukannya’’


‘’apaa...apa kamu melakukan ini setiap hari’’Hanafi mendekat


masih dengan tangannya yang menyilang di dada. Membuat Insha semakin tergelak


melihat tingkah suaminya seperti anak kecil yang kedinginan.


‘’iya mas, sudah mas Han masuk saja tunggu di kamar


mandi  sebentar lagi airnya juga penuh’’


‘’Kalau begini saja aku juga bisa, mana aku saja yang akan


mengisinya,’’ Hanafi berusaha merebut tali yabf ada di tangan Insha dan mulai


‘’Berat juga ya..apa tidak ada cara lain untuk mengambil air


di sumur ini, kenapa tidak memakai PDAM saja sih, kenapa harus berjuang seberat


ini buat mendapatkan air, berapa kali kamu menarik air disini dalam sehari ‘’


Hanafi bertanya pada Insha sambil nafasnya terengah-engah.


‘’Kan sudah saya bilang saya saja mas yang menarik airnya,


tentu berat kalau mas Han belum terbiasa. Ya setiap airnya habis saya akan


mengisinya, sehari bisa berkali-kali  tidak pasti.’’


‘’Lebih baik uangnya dibuat untuk makan setiap hari mas daripada


saya harus membayar air perbulannya yang tentunya tidak murah’’ jawab Insha


sambil beranjak ke dalam melihat air di kamar mandi yang sudah mulai penuh


Hanafi yang merasa bersalah bertanya seperti itu kepada


istrinya ia terdiam. Memikirkan keluarga istrinya setiap hari harus menarik air


seperti ini yang tentu tidak mudah baginya apa lagi bagi seorang perempuan


seperti Insha.


Maafkan saya Insha,


saya menyesal tidak mengenalmu dari dulu dan harus membiarkanmu hidup seperti


ini. Saya akan mengurusnya besok, mulai besok tidak ada orang yang akan menarik


air di sumur ini lagi. Gumam Hanafi didalam lamunannya.


‘’Sudah cukup mas Han, airnya sudah penuh’’ teriak Insha

__ADS_1


dari dalam kamar mandi


‘’Oh iya..tinggal satu lagi Insha’’


Hanafi pun masuk kedalam rumah dan mengunci pintu belakang


seperti semula. Setelah itu Insha dan Hanafi bergantian mengambil air wudlu dan


melakukan sholat magrib. Sedikit terburu-buru karna waktu magrib segera


berakhir. Itu karna terlalu lama Hanafi menarik air tadi. Belum sempat makan malam


adzan isya’ sudah berkumandang, Hanafi pun segera menunaikan sholat isya’ juga


sebelum beranjak meninggalkan kamarnya.


Kamar yang di tempati Insha pun tak terlalu luas hanya


berukuran 3x3 meter di sudut ruangan terdapat lemari berukuran sedang, di


sebelahnya ada sebuah meja kecil tempat beberapa bedak Insha tergeletak disana


juga tempat tidur yang mungkin cukup sempit untuk 2 orang dewasa. Ruangan


dikamarnya menyisakan sedikit celah untuk melaksanakan sholat. Dirumahnya tak


ada tempat khusus untuk melakukan sholat. Sebenarnya Hanafi pun ingin mengajak


istrinya untuk sholat berjamaah yang pertama kalinya, tapi melihat keadaan


disana Hanafi mengurungkan niatnya.


Setelah melakukan sholat isya’ di kamar Salma Insha beranjak


untuk segera menyiapkan makan malam di dapur. Salma pun baru terlihat pulang


dari musolla dengan mengenakan mukenahnya.


‘’Ayo kak cepat taruh mukenaknya kita makan malam bersama’’


‘’ iya In..sebentar ya kamu duluan saja, aku akan memanggil


bapak juga’’


‘’Iya kak, aku akan mengajak mas Hanafi juga untuk makan’’


Insha berjalan menuju kamarnya yang bersebelahan dengan


kamar Salma. Terlihat Hanafi telah selesai dengan sholatnya dan sedang memegang


ponselnya mengetikkan sesuatu disana. Yang tentu Insha tidak tahu Hanafi sedang


berhubungan dengan siapa.


‘’Mas Han’’


‘’Iya sayang’’Hanafi menoleh secepat kilat dan tersenyum


manis, masih dengan mengenakan baju yang ia kenakan untuk sholat tadi dan juga


sarung yang masih menempel pada kakinya.


‘’Ayo kita makan dulu mas,bersama kak Salma dan ayah juga’’


‘’Oh iya, kamu duluan ya, aku mau ganti baju dulu, setelah


itu aku kesana’’


Insha mengangguk faham dan meninggalkan Hanafi  menuju dapur dengan jantung yang masih


berdebar mendengar panggilan sayang dari Hanafi tadi.Hanafi pun segera mengganti baju dan berjalan menuju dapur. Disana sudah terlihat mertuanya, Salma dan juga Insha duduk menunggunya.


''Sini le, kita makan dulu'' Sambut ayah Insha sambil menunjuk kursi di sampingnya.


''Iya pak, maaf sudah menunggu lama'' jawab Hanafi sambil duduk di kursi.


Insha pun mengambil piring yang telah diisi nasi lengkap dengan lauk pauknya, dan juga Salma telah asyik dengan makanannya sendiri. Meja di dapur itu cukup kecil untuk ukuran 4 orang disana. Di tambah lagi dengan lauk pauk yang cukup banyak, yang telah di masak oleh para pembantu Hanafi sore tadi, membuat meja itu semakin sempit dengan menyisakan sedikit celah di pinggir meja untuk makan. Mereka menyantap makanan dan berbincang-bincang, dalam beberapa menit Hanafi sudah akrab dengan keluarga inti istrinya itu. Tidak di ragukan lagi itu karena Hanafi telah banyak berpengalaman dalam menghadapi banyak orang saat berbisnis. Membuatnya semakin pandai dalam mengambil hati siapa saja lawan bicaranya.


Makan malam telah usai, ayah dan juga Salma kembali ke dalam kamar untuk beristirahat. Menyisakan Hanafi dan juga Insha yang masih berada didapur. Insha mencuci piring yang telah di gunakan tadi, sedangkan Hanafi membantu Insha membereskan makanan yang masih tersisa di meja. Malam pun semakin larut Hanafi beranjak menuju kamar begitu pun Insha yang berada di belakangnya, ia sedikit berjalan tertinggal karena ia masih mematikan lampu di dapur. Hanafi pun sudah terlihat memasuki kamarnya Insha berjalan perlahan mengikutinya.


 

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2