
Dingin AC yang menusuk membuat Insha terbangun dari mimpi Indahnya, mimpi hidup bahagia bersama Prass yang beberapa hari ini menghiasi mimpinya.
Matanya mengerjap menghilangkan rasa kantuk yang mulai memudar di ujung matanya.Bibirnya tampak menyunggingkan senyum ingat kembali akan mimpinya yang baru saja berjalan pergi,
hhmm..mimpi yang indah..
Gumamnya dalam hati.
Tapi kenyataan adalah yang tetap harus di jalani, kehidupan pahit yang harus ia rasakan setiap hari. Setiap detik, menit dan jam yang ia rasakan sama sekali tak menyisakan rasa manis sedikit pun.
Semua pahit, perih seperti luka yang terus tersiram air garam tak akan sembuh dan tak akan pernah sembuh.
Mungkin takdir yang membawa Insha pada semua kehidupan ini, takdir yang di pilih suaminya sendiri untuk menyiksa hati dan hidupnya.
Insha pun tak bisa berbuat apa-apa, lari pun percuma karna bahkan bayangannya saja dapat di tangkap oleh Hanafi dengan mudahnya.
Hanafi juga tak semudah itu akan melepaskan Insha begitu saja, karna rasa cintanya yang teramat padanya.
Tapi Insha tetaplah wanita biasa mempunyai hati yang harus di jaga, dan dimiliki oleh seseorang. Raga nya memang tetap disini bersama Hanafi, statusnya tetaplah wanita yang di cintai Hanafi, tapi ntah hatinya kini milik siapa. Insha tak lagi peduli dengan Hanafi, cintanya seakan sirna begitu saja seiring berjalannya waktu, membuat rumah tangga nya kini terasa hampa.
Insha pun tak dapat menggambarkan bagaimana rasa hati dan hidup yang ia jalani setiap hari, tanpa ada seorang pun pendukung dan penyemangat di sisinya.
Insha berjalan malas ke kamar mandi, menjalani rutinitas membersihkan diri.
Setelah ia membersihkan diri, ia bersujud di hadapan yang maha kuasa mencoba berdoa untuk kehidupan yang lebih baik ke depannya.
Berharap Tuhan merubah segalanya, atau mungkin memberinya kehidupan yang lebih adil kepadanya.
Insha merapikan kembali perlengkapan sholatnya, ia duduk terdiam di tempat tidurnya.
Tokk..tokk..tokk...
suara ketukan pintu.
siapa yang kesini di jam sepagi ini...
gumamnya dalam hati, tapi bibirnya tetap menyuruh seorang tersebut untuk masuk.
"Masuk.."
Pintu pun terbuka, terlihat mbak Risna ada di ambang pintu, sedikit membungkuk kepadanya. Di tangannya juga tak terlihat nampan makanan atau apapun.
Mengapa mbak Risna ke kamar sepagi ini...
seakan tau kalau Risna ragu untuk melangkahkan kakinya, Insha mengeluarkan suara.
"Masuklah mbak..ada apa.."
Risna pun berjalan perlahan masih dengan mulut yang terdiam. Sampailah dia di sisi Insha, Insha menepuk tempat di samping nya berharap Risna segera duduk disana.
"Sini mbak...duduklah..ada apa..tumben mbak kesini pagi-pagi sekali..."
"Iya non..ada yang ingin saya sampaikan.."
Risna terlihat kebingungan disana, bahkan ia sama sekali tidak menatap Insha.
__ADS_1
"Katakan saja mbak ada apa.."
Insha yang mulai penasaran pun menggenggam tangan Risna erat.
"Anu non..itu saya di suruh mas Hanafi untuk menyampaikan berita pada nona Insha.."
masih terdengar bingung menyusun kata-kata yang akan dikeluarkannya.
Insha di buat semakin penasaran apalagi saat mbak Risna tak kunjung meneruskan kalimatnya. Insha mengingat kembali kejadian tadi malam saat Hanafi membangunkannya dengan teriakan kencang dari rumah belakang.
bahkan aku sudah lupa kejadian semalam..karna mimpi indah ku...sebenarnya apa yang terjadi ya...aku penasaran..ada apa ya sampai-sampai Hanafi bisa sepanik itu...
"Apa mbak...cepat katakan.."
Insha sudah menatap mbak Risna dengan wajah penuh harap.
"Anu non.."
Tangan mbak risna terlihat *******-***** sprei di tempat tidur Insha.
"Apa sih mbak...cepat katakan...jangan anu-anu trus..."
Insha masih dengan wajah penasaran, tapi di bibirnya menyunggingkan senyuman menggoda pada mbak Risna.
"Anaknya mas Hanafi sudah lahir mbak...dia perempuan.."
Risna menjawab sambil memejamkan mata takut-takut akan reaksi Insha selanjutnya, karna Risna tau bahwa Insha sama sekali tak menyukai kehadiran bayi itu.
Insha pun terdiam tak menjawab, tatapannya yang semula menatap mbak Risna sekarang berpaling dan menunduk melihat lantai dengan tatapan kosong.
Ntah kenapa sikap acuhnya kini menghilang, hatinya terasa sakit kembali mendengar berita itu. Tak ada sama sekali rasa senang dalam dirinya, yang ada ia malah membenci bayi mungil yang bahkan belum dia lihat sama sekali. Sekarang setitik air mata jatuh dari ujung matanya, sesuatu yang ia khawatirkan kini sudah terjadi. Yaitu bayi yang terlahir dari Salma, bayi yang nanti akan semakin merebut kasih sayang, cinta dan perhatian dari Hanafi. Bahkan Salma mungkin akan lebih di puja dari padanya, lebih di hormati karna dia berhasil memberikan keturunan untuk Hanafi.
Lamunan Insha di sadarkan kembali oleh mbak Risna yang ingin berkalimat lagi.
"Tapi non.."
belum selesai kalimat itu Insha sudah menunjukkan isyarat pada mbak Risna untuk segera diam. Insha tak ingin mendengar apapun lagi saat ini.
"Mbak boleh pergi.."
jawab Insha sambil menunjuk ke arah pintu, tanpa memandang mbak Risna sedikit pun.
Risna pun keluar dari kamar itu, ia juga menitikkan air mata melihat kesedihan di wajah Insha kala itu, hatinya juga ikut tersayat membayangkan ia yang ada di posisi Insha sekarang.
Insha terisak di dalam kamar, sambil memandangi foto pernikahannya dengan Hanafi. Foto yang cukup sederhana yang di ambil di rumahnya dulu saat akad nikah telah usai. Senyuman kebahagiaan yang muncul dari wajah keduanya benar-benar senyum bahagia yang tak di buat-buat.
"Kenapa semua jadi seperti ini mas...kau melukis cinta di hatiku...tapi kau juga yang merusaknya."
gumam Insha sambil terisak pelan.
Cukup lama Insha terduduk di lantai di samping tempat tidurnya, isaknya pun kini sudah mereda. Mentari juga sudah terlihat menyinari bumi dengan hangatnya.
Terdengar seorang yang membuka pintu kamar, seketika Insha menoleh masih dengan posisi duduk yang sama. Terlihat Hanafi masuk ke dalam kamar.
"Insha...kenapa kau.."
__ADS_1
Belum selesai kalimatnya tapi Insha sudah berkata.
"Selamat kau telah menjadi seorang ayah sekarang..."
Insha berkata tapi sama sekali tak memandang Hanafi disana. Ia hanya sekelebat melihat Hanafi saat masuk tadi, ia menggunakan pakaian jas lengkapnya, dengan rambut yang tersisir rapi.
"Selamat juga karna kau juga menjadi seorang ibu.."
Jawab Hanafi cepat.
"Aku bukan ibu dari anak itu..."
Insha menjawab acuh.
"Seorang anak hanya mempunyai satu ibu...dan dia adalah Salma...wanita yang sudah berhasil mengandung pewarismu..tentu kau sangat bahagia sekarang kan..ini adalah hal yang kau mimpikan sejak dulu.."
"Sudahlah Insha..perlukah kita membahasnya sekarang...bahkan dalam keadaan yang seperti ini.."
"Aku akan selalu membahasnya...hal yang menjadi luka terdalam dalam hidupku...bahkan sampai matipun aku tak akan bisa melupakannya..."
"Cukup Insha aku mohon...sekarang bersiaplah...kita akan segera berangkat.."
"Aku tak akan sudi untuk menjemput bayi itu apalagi bersamamu dan ibunya itu..."
"Apa maksudmu...apa kau tak mau datang ke.."
"Pergilah han aku tak mau mendengar apapun darimu lagi...berbahagialah bersama anak dan istrimu...dan aku mohon lepaskan aku...ceraikan aku...jangan kau siksa aku seperti ini...dan katakan dimana kau menyembunyikan Prass...kau bahkan tak dapat menjawab apapun tentangnya...kau pasti telah mengancamnya kan..."
jawab Insha dengan nada yang semakin tinggi.
"Insha aku sama sekali tak mau membahasnya...ayo cepat bersiaplah.."
Hanafi tampak malas-malas menanggapi perkataan Insha, dia tak ingin tersulut emosi.
"Sudah aku katakan...aku tak akan sudi menjemput bayi harammu itu han..."
Jawab Insha semakin meninggikan suaranya.
"Apa kau benar-benar tak mau melihat bayi itu Insha....bayi yang bahkan sudah tidak memiliki ibu sebelum dia di lahirkan..."
tatapan Hanafi kini berubah memelas pada Insha.
Mendengar perkataan Hanafi itu Insha seketika menatap Hanafi penuh tanya.
"Maksudmu..."
"Apa mbak Risna tak mengatakan sama sekali padamu..."
Hanafi menatap Insha heran, ia menunggu dan melihat Insha yang tak kunjung menjawab, Hanafi pun kembali meneruskan kalimatnya.
"Salma telah tiada Insha...dia pergi untuk selama-lamanya.."
Hanafi menatap Insha penuh penegasan.
Bersambung ..
__ADS_1