2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Kedatangan Prass


__ADS_3

Prass telah sampai di rumah Hanafi dengan memakai sepeda motornya, Ia kini masih berada di gerbang, menunggu Hanafi memberikan ijin untuk masuk ke dalam rumahnya.


Setelah kepergian Insha, Hanafi cukup terguncang. Ia makin tertutup untuk semua orang, ia pun juga jarang pergi ke kantornya. Ia lebih memilih mengendalikan perusahaannya dari rumah. Kriss pun cukup bisa di andalkan untuk mengurus semua pekerjaan di luar. Hanya beberapa pekerjaan yang tidak bisa di wakilkan saja, Hanafi sendiri yang akan turun tangan untuk keluar dan menyelesaikannya.


Hanafi sekarang juga menempatkan beberapa pengawal di rumahnya, untuk menjaga rumahnya, lebih-lebih untuk menyuruhnya melakukan sesuatu yang mendesak atau terburu-buru. Atau sekedar menjemput atau pun mengantarkan beberapa klien yang di temui khusus di dalam kediamannya.


Hal itu sebenarnya sangat berbahaya mengingat ia adalah seorang pemimpin perusahaan besar. Kediamannya bisa saja menjadi incaran para pesaingnya dalam dunia bisnis. Mengingat selama ini tak pernah ada satu pun klien yang mengetahui dimana sebenarnya rumah Hanafi.


Tapi semua itu sama sekali tak mengurungkan niatnya untuk bekerja dari rumah seperti keinginannya.


Maka dari itu Hanafi juga mulai menempatkan beberapa pengawal dalam rumahnya, untuk menjaganya. Meskipun klien yang ia temui khusus adalah klien paling terpercaya yang sudah menjalin hubungan baik dengannya sejak dulu.


Prass mendapat ijin dari Hanafi untuk masuk dalam rumah utama, ia pun memarkirkan sepedanya, lalu masuk dan duduk di ruang tamu menunggu Hanafi turun dari lantai atas.


Tak lama terdengar suara langkah kaki dari tangga, Prass menoleh melihat sumber suara itu. Prass melihat Hanafi dengan rambut yang tidak karuan, juga mulai terlihat memanjang di biarkan begitu saja, tubuhnya juga sedikit lebih kurus dari terakhir kali Prass bertemu dengannya. Penampilannya tampak terlihat kacau dan acak-acakan.


astaga...kehilangan Insha bisa membuat pemimpin perusahaan besar sangat stress rupanya....begitu besar cintamu pada Insha han...tapi sayang kau terlalu bodoh memperlakukannya.


Gumam Prass.


Ada sedikit rasa iba di hati Prass melihat Hanafi yang sekarang.


Hanafi pun mendekat, dengan wajah malas dia duduk di sofa dan menyapa Prass.


"Apa kabar...ada perlu apa kau kesini Prass.."


"Baik han...bagaimana kabarmu.."


"Baik....apa aku terlihat sedang sakit..."


sedikit tersenyum tipis pada Prass.


"Ya kau terlihat sedikit kacau Han..."


jawab Prass dengan mengangkat kedua alisnya memandang meremehkan pada Hanafi.


"Sudahlah...apa perlu membahas keadaanku...aku sangat sibuk...jelaskan apa keperluanmu.."


Hanafi tampak malas-malas meladeni Prass yang selalu memancing amarahnya.


"hmm...ini..."


Prass menaruh paperbag yang sedari tadi di bawanya ke atas meja.


"Apa ini..."


"Jika kau tak membukanya apa kau akan tau isinya...."


Prass menyandarkan kepala kasar pada sofa empuk di belakang kepalanya.


Hanafi membuka paperbag itu dan mengeluarkan isinya.


"Sepatu dan topi...ini untuk Khanza...Hmm..sejak kapan kau peduli pada anakku.."


Hanafi tampak tersenyum tipis dan menaruh hadiah itu di atas meja lagi.


"Bukan aku...tapi itu dari mantan istrimu..Insha..."

__ADS_1


Mendengar nama Insha di sebut, mata Hanafi langsung berbinar senang, apalagi mengetahui itu semua adalah hadiah dari Insha untuk Khanza.


"Benarkah ini dari Insha....kau tau dimana dia sekarang..."


"Hmm...mungkin..."


jawab Prass acuh.


Hanafi memegang lagi topi rajut di meja itu, ia berfikir jika Insha memberikan hadiah pada Khanza, itu berarti dia sudah bisa menerima Khanza.


Insha sudah menerima kehadiran Khanza..dia mengirimkan hadiah untuknya...apa Insha mungkin juga sudah mulai menyadari kalau dia masih mencintaiku...


sejenak Hanafi tenggelam dalam fikirannya sendiri. Sampai Prass menyadarkannya dengan berteriak ringan di depan wajahnya.


"Han...aku harus pamit dulu ada banyak hal yang harus aku kerjakan..."


"Katakan dulu dimana Insha sekarang berada...aku akan menemuinya...aku akan mengucapkan terimakasih untuk hadiahnya..."


"Tak perlu kau menemuinya...aku yang akan mengucapkannya pada Insha..."


"Prass apa kau yang menyembunyikan Insha selama ini..."


"Itu semua bukan urusanmu han...dia sudah bukan siapa-siapa mu lagi...."


"Katakan padaku dimana Insha sekarang.."


Hanafi tampak tersulut emosinya lagi, pasalnya dia memang masih terus mencari keberadaan Insha lewat para pengawalnya, untuk sekedar mengetahui keadaannya baik-baik saja.


Tapi tanpa di sangka malah Prass yang mengetahui keberadaannya.


Prass tak menghiraukannya, ia langsung saja keluar dan menaiki sepedanya lagi, tak memperdulikan teriakan Hanafi yang terus menanyakan dimana Insha.


gumam Prass sambil menaiki sepedanya kencang pergi dari rumah utama.


Hanafi sendiri memberikan isyarat kepada salah satu pengawalnya untuk mengikuti kemana pun Prass pergi.


****


pagi itu sesuai janjinya Prass kembali ke rumah Insha untuk sekedar mengantarkan beberapa kebutuhan Insha, Prass juga berkata bahwa kemarin ia telah mengantarkan topi buatan Insha pada Khanza dan di terima langsung oleh Hanafi.


Seperti biasa Prass berbincang-bincang sebentar dengan Insha lalu segera pulang.


Sore hari telah tiba, Insha baru saja selesai mandi dia sedang menonton tv di ruang tamunya. Beberapa kali ia terlihat tertawa karna acara di tv yang tampak lucu baginya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


"Siapa yang kesini sore-sore seperti ini...tak biasanya..."


Insha berjalan menuju pintu dan membukanya.


Melihat sosok yang ada di ambang pintu seketika tubuh Insha melemas, tubuhnya terlihat sedikit gemetar, jantungnya berdegup kencang tidak karuan, Insha terlihat sedikit memundurkan tubuhnya beberapa langkah dari pintu.


"Apa kabar Insha..."


Suara itu terdengar jelas di telinga Insha.


Hanafi...hanafi...kenapa dia ada disini...kenapa dia bisa tau keberadaan ku....


"Ka..kau...kenapa kesini.."

__ADS_1


"Aku hanya ingin melihat keadaanmu Insha...itu saja..."


jawab Hanafi sambil tersenyum.


Melihat Insha yang tampak tak ingin menjawab apapun Hanafi pun berkata lagi.


"Bolehkah aku masuk..."


"Kita bukan lagi suami istri han...tidak baik jika berada dalam satu rumah...mari bicara di luar..."


Insha langsung menjawab secepat kilat tidak memperbolehkan han masuk.


Hanafi yang mendengar kalimat itu, sedikit terdengar aneh di telinganya, biasanya mereka berada dalam satu tempat yang sama, satu tempat tidur yang sama. Bahkan sekarang Insha saja menjaga jarak dengannya dan tidak memperbolehkan ia masuk ke rumah yang di tempatinya.


Hanafi pun duduk di teras bersama Insha yang tetap menjaga jarak dengannya.


" Tempat ini tak baik untukmu Insha...ini sangat sempit..."


" Tapi aku sangat bahagia berada disini..."


" Aku bisa memberimu rumah yang lebih baik dari ini Insha..."


"Sudahlah Han...memang aku sangat tau sebanyak apa hartamu...aku tau semua...jangan basa-basi lagi padaku....katakan apa maksud kedatanganmu kesini..."


Hanafi pun menatap terheran kepada Insha, terhadap perubahan Insha dengan sikap tegasnya.


"Aku ingin mengajakmu untuk rujuk kembali Insha...kau bisa tinggal dimana pun yang kau mau...aku tak akan melarangmu....tapi ijinkan aku untuk tetap memilikimu...karna hanya kaulah yang aku cinta...dan hanya kau wanitaku Insha...ku mohon..."


"Kau bahkan mengirimkan Hadiah untuk Khanza..itu bukankah arti kau sudah mulai menerimanya.."


Tatapan Hanafi berubah penuh harap.


"Bukankah dia hanya seorang bayi yang tak berdosa...yang tercipta karna keegoisan kalian...perlahan aku bisa menerimanya...tapi bukan berarti aku juga bisa menerimamu lagi han..."


jawab Insha sambil memalingkan pandangannya.


"Insha...bukan untuk sekarang...aku akan menunggumu untuk bisa menerimaku lagi...aku tak akan memaksamu...tapi setidaknya beri kesempatan lagi untukku..."


Hanafi menatap Insha yang hanya terdiam di tempatnya. Bersamaan dengan itu, suara sepeda motor terdengar mendekat


Teryata Prass kembali ke rumah Insha, dengan membawa beberapa paperbag di tangannya.


kak Prass kenapa dia datang lagi kemari...tidak biasanya dia datang 2 kali dalam sehari...


Insha tampak terkejut dengan kedatangan Prass, dengan tatapan penuh tanya.


Prass yang melihat Hanafi sedang ada di teras rumah Insha, seketika api cemburunya membara.


Kenapa dia berada disini...pria bodoh itu bisa tau rumah Insha...pantas saja perasaan ku tidak enak dan memaksaku untuk kembali kesini...


Saat Prass siang tadi pulang dari rumah Insha, tak sengaja ia melihat beberapa gaun yang bagus dan menurutnya cocok untuk Insha. Prass pun menuju toko itu, memilah-milah beberapa gaun dan baju yang cocok untuk Insha.


Setelah membayarnya, ia ingin langsung menuju pulang, karna jaraknya untuk pulang sudah cukup dekat ia ingin memberikannya pada Insha esok hari. Tapi entah kenapa saat ia menuju jalan pulang hatinya terasa mengganjal, ia pun memilih untuk memutar arah dan kembali lagi ke rumah Insha takut terjadi sesuatu pada Insha.


Dan setelah ia sampai pemandangan tak menyenangkan ia dapatkan, ia melihat Hanafi duduk di teras dan rupanya sedang berbicara pada Insha.


memang benar dia yang selama ini menyembunyikan Insha dariku...bahkan baru tadi pagi pengawal bilang dia kemari...sekarang dia sudah berada disini lagi....apa jangan-jangan mereka tinggal satu rumah....

__ADS_1


Gumam hati Hanafi, yang tiba-tiba menyulut sebuah gejolak dalam hatinya.


Bersambung....


__ADS_2