2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Tamu tak terduga


__ADS_3

Sore itu Insha sedang berada di bangku taman sendirian, duduk termenung meratapi takdir yang sedang ia jalani sekarang.


Pandangannya tampak kosong menatap bunga warna-warni yang bermekaran. Cuaca hari ini tampak cerah, mentari bersinar berwarna kekuningan. Menyinari langit-langit biru menciptakan sebuah gradasi warna yang cukup menakjubkan.


Suasana di taman itu cukup tenang, beberapa hari ini Insha lebih banyak menghabiskan waktu disana, hanya terdiam dan memandang bunga-bunga di taman itu.


Sudah 3 hari belakangan ini Insha makan di meja makan bersama dengan Hanafi dan 3 pembantunya seperti dulu.


Tapi tidak seperti biasanya Insha terlihat banyak diam disana, Hanafi yang melihat Insha kembali makan bersama pun tampak sangat senang.


Hanafi bahkan terlihat sangat antusias ketika waktu makan akan segera tiba, dia selalu menunggu Insha disana. Waktu makan pun Hanafi tak segan-segan untuk mengambilkan berbagai macam makanan yang ada ke piring Insha.


Berbicara banyak meski Insha tak begitu menanggapi ocehannya.


Sementara 3 pembantu disana nampak canggung dengan keadaan yang tidak biasanya, mereka juga lebih banyak diam melihat Insha yang terlihat sangat murung. Tak ada yang tau sebenarnya apa yang terjadi antara 2 sejoli ini, mereka juga tak berani bertanya dan hanya menuruti segala kemauan mereka.


Kembali ke bangku taman, Insha mendengar suara langkah kaki yang mendekati bangku nya.


Ia sama sekali tak tertarik dengan siapa yang datang, dan tetap memandang lurus ke depan.


"Bolehkah aku duduk disini..."


Suara Hanafi tiba-tiba saja terdengar, membuat Insha tersadar dari lamunannya.


Insha sama sekali tak memberikan reaksi apapun, tetap memandang ke depan meski sekarang fikirannya sudah fokus dengan suara yang terdengar.


Tak mendapat jawaban dari Insha, Hanafi pun memberanikan dirinya untuk duduk di bangku itu, sedikit memberi jarak antara dirinya dan Insha.


Keheningan tercipta begitu lama, sampai Hanafi pun tampak gelisah dan bingung ingin memulai percakapan darimana.


Hanafi pun mulai membuka suaranya lagi.


"Kau masih marah padaku.."


Hanafi memandang Insha lekat, tatapannya terlihat lurus kedepan, wajahnya terlihat sangat natural, tak ada goresan make up sedikit pun disana, meski begitu wajahnya tetap cantik putih bersih dengan bibir yang merah merona.


"Diam mu membuatku semakin bingung Insha..setidaknya katakan sesuatu..sudah hampir 3 minggu kau tak berbicara padaku..."


"Jangan menyakiti dirimu sendiri seperti ini Insha ...aku tak tega melihatnya.."


Tanpa di duga dengan posisi yang masih tetap sama, Insha menjawab perkataan Hanafi.


"Lalu kenapa kau tega menyakitiku seperti ini..."


Insha pun segera berdiri dari sana melenggang pergi begitu saja meninggalkan Hanafi disana.


Hanafi pun diam seribu bahasa, ia tak tau harus berkata apa, memang bagaimana pun semua ini adalah salahnya.


Hanafi sendiri yang memilih terjebak dengan segala hubungan sakral ini, hubungan yang di sah kan di depan Tuhan.


Yang tak begitu saja bisa di putuskan, dibatalkan bahkan di tinggalkan.


Malam itu seperti biasa, Insha tidur sendiri merasakan dinginnya malam di dalam kamarnya yang luas itu.


Sementara Hanafi baru saja keluar dengan mobil mewahnya, mengemudikan sendiri mobilnya di jalanan yang tampak sunyi.


*


Pagi hari telah tiba, sinar mentari pun telah memanaskan seluruh isi bumi.


Seperti biasa Insha telah bersiap untuk melakukan sarapan di lantai bawah.

__ADS_1


Insha pun turun, ia menuju meja makan yang sudah terhidang banyak makanan yang lezat. Asap pun masih mengepul di beberapa makanan yang baru terhidang.


Membuat perut semakin bertambah lapar karna mencium gurihnya masakan.


Insha duduk di kursi yang biasanya ia tempati.Menuangkan susu hangat di sebuah gelas lalu menyeruput sedikit susu itu dari gelasnya.


"Selamat pagi nona.."


Sapa Fatimah dan Risna bersamaan sambil membawa makanan di tangan masing-masing lalu manaruhnya di meja makan.


"Pagi mbak.."


Jawab Insha singkat masih sambil menyeruput lagi susu di tangannya.


"Setelah ini nona akan semangat lagi menjalani hari.."


Sahut bu Ririn kemudian, sambil duduk di kursinya yang tak jauh dari kursi Insha.


"Benar..nona tak sendiri sekarang..."


mbak Risna menambahkan.


"Akan ada seorang yang akan menemani nona setiap hari mulai hari ini...nona tak perlu sedih lagi.."


mbak Fatimah menambahkan lagi.


Insha mengeryitkan dahinya heran dengan peryataan 3 orang disana.


Hendak bertanya siapa yang akan menemaninya, mbak Fatimah sudah berkata lagi.


"Nah itu dia orangnya.."


Melihat ke arah belakang Insha.


Insha menoleh ke belakang terlihat Hanafi yang sedang berjalan ke arahnya sambil tersenyum manis pada Insha.


Insha yang memang enggan melihat Hanafi pun segera berpaling, tapi sekelebat ia melihat seorang lagi di belakang Hanafi yang juga berjalan ke arahnya. Insha pun menoleh lagi ke belakang dan seketika terkaget dengan siapa yang dibawa Hanafi menuju meja makan.


Salma...


Seketika Insha meluruskan lagi pandangannya. Sekarang ia mengepalkan tangannya di samping piring yang masih tampak kosong di hadapannya.


kenapa Hanafi membawa Salma kesini...


tak ada lagi sebutan kakak atau panggilan sayang nya untuk Hanafi, ia sudah tak lagi menghormati kedudukan mereka sejak kejadian itu.


"Selamat pagi Insha.."


Salma menyapa dengan senyuman manisnya, berharap Insha juga menjawab sapaannya.


Hanafi pun mengelus bahu Insha lembut, sambil tersenyum padanya.


Insha sama sekali tak merespon Hanafi maupun Salma, sekarang tangan nya semakin terkepal kuat disana.


Ketiga pembantu itu menyapa Salma yang baru saja bergabung di meja makan dan sekedar bertanya basa-basi padanya.


Hanafi pun menawarkan berbagai makanan yang ada kepada Salma ia pun mengambilkan beberap lauk untuknya. Hanafi juga menaruh beberapa lauk kesukaan Insha di piringnya, menuangkan juga jus jambu segar ke sebuah gelas lalu menyerahkannya kepada Insha.


Ketiga pembantu itu juga terlihat mengambil makanan di piring mereka, setelah semua piring penuh dengan makanan selera mereka masing-masing mereka semua pun menyantap makanan di piringnya.


Berbeda dengan Insha dia hanya sekedar mengutak-atik lauk yang ada di piringnya tanpa memakannya.

__ADS_1


Di tengah keheningan itu Hanafi tiba-tiba membuka suara.


"Mbak Ris, mbak Fat, Bude kalian sudah mengenal kan siapa dia.."


Hanafi berkata sambil menunjuk ke arah Salma.


"Tentu saja den"


sahut Risna


"Tentu den, dia kan kakaknya nona muda.."


Sahut Fatimah dengan mengunyah makanannya.


sementara bude hanya mengangguk faham memandang Hanafi.


"Dia sekarang juga nona muda kalian...mulai sekarang dia akan tinggal disini...jadi tolong jaga dan hargai dia sama seperti kalian menghargai nona Insha.."


Hanafi menatap serius pada ketiganya.


Seakan ada suatu penjelasan yang terdengar janggal ketiga pembantu itu hanya menatap Hanafi dengan wajah yang kebingungan.


Hanafi yang menyadari kebingungan dari ketiga pembantunya pun meneruskan kalimatnya.


"Salma adalah istri saya sekarang..."


Kata Hanafi sambil melahap makanan di sendoknya.


Ketiganya tampak terkejut Menatap Hanafi, Insha dan Salma bergantian, Salma pun tak membalas tatapan itu ia hanya menunduk fokus pada piringnya.


"Dan dia juga sedang mengandung sekarang...Tolong jaga dia dengan baik"


Imbuh Hanafi lagi.


Bu Ririn yang mendengar kata imbuhan dari Hanafi semakin membulatkan bola matanya, sedikit berfikir apa dia tidak salah mendengarnya.


Begitu juga dengan Fatimah dan Risna yang tampak sangat terkejut dengan penjelasan Hanafi, mereka berdua saling memandang dengan kebingungan.


Seakan memiliki pemikiran yang sama mereka seakan tengah berbicara dalam tatapannya.


jadi ini yang membuat nona Insha terlihat murung dan sangat sedih beberapa minggu ini...


Mereka berdua pun sekarang memandang Insha dengan penuh rasa iba.


Sedangkan yang tengah menjadi pusat perhatian itu tengah mengaduk-aduk makanan dalam piringnya, menggenggam sendok dengan sangat erat sampai terlihat guratan lembut nadi-nadi di tangan putih bersihnya.


Pandangan nya menunduk menatap piring di depannya, terlihat wajahnya sekilas yang memerah karna di penuhi amarah.


Taaakk...


Insha menghempaskan sendok yang ada di tangannya di meja makan yang terbuat dari kaca, sedikit membuat suara nyaring yang mengaggetkan semua orang.


Insha mendorong kursi yang di dudukinya mundur dengan kedua kakinya, ia segera berdiri.


"Mbak bawakan makanan saya ke kamar dan temani saya makan..."


Insha berkata dengan penuh amarah, ia pun melenggang pergi, sedikit tergesa menaiki tangga dan memasuki kamarnya.


Braakkk...


terdengar suara pintu kamar yang di tutup dengan kasar.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2