
"Mas han kenapa membelinya banyak sekali...aku hanya butuh satu..."
memandang Hanafi dengan gemasnya karna selalu membeli sesuatu dengan berlebihan.
"Mas han..."
"Mas han kenapa diam saja sih..."
"Aku kan sudah bilang..aku ingin di panggil apa tadi...itu bukan panggilan mu buatku.."
melengos dengan wajah cemberutnya.
"Iya...iya..sayang maafkan aku.."
ya ampun..salah memanggil saja sudah cemberut begitu..menggemaskan sekali sih..
Mencubit-cubit pipi Hanafi dengan gemas.
"Sayang.."
"Iya sayang..."
"Aku kan cuma butuh satu kenapa beli sebanyak itu.."
"Tak apa sayang...aku takut kalau-kalau nanti ada alat yang rusak saat kau memakainya.."
"Hmm ...terserah lah.."
gumam Insha lirih yang tak dapat di dengar oleh Hanafi.
"Ayo..."
sudah berdiri dan mengulurkan tangan pada Insha.
"Ayo kemana mas....eh..sayang.."
Menarik uluran tangannya dan cemberut lagi secepat kilat mendengar panggilan Insha padanya.
"Iya..iya maaf sayang...aku kan belum terbiasa.."
kini berdiri dan melingkarkan tangannya pada lengan Hanafi.
"Hmmm...kau harus biasakan mulai sekarang.."
"Iya sayang..."
tersenyum manja menatap Hanafi, yang membuat Hanafi tak bisa menahan diri saat melihat Insha dengan senyuman manjanya itu.
cuupp...satu kecupan lembut mendarat di kening Insha, mereka berdua pun terkikik bersama, sedangkan Insha makin mempererat genggaman tangannya pada lengan Hanafi.
__ADS_1
"Tadi mau mengajakku kemana.."
"Memastikan ini sayang..ayo.."
mengelus-elus perut Insha lembut sambil menenteng paperbag kecil yang di bawa pengawal tadi.
"Sekarang...?"
"Iya...memang mau kapan lagi..."
"Sayang..tapi yang aku tau alat test itu akan bekerja lebih baik jika di gunakan saat bangun tidur.."
"Jadi..aku harus menunggu besok pagi..."
Hanya menjawab dengan manggut-manggut sambil menatap Hanafi.
"Hmmm..baiklah..kalau begitu ayo kita tidur ....aku mengantuk sekali.."
"Hooam...iya sayang aku juga..."
menguap yang nampak di buat-buat.
Mereka manaiki tangga, Hanafi memencet tombol otomatis untuk mematikan semua lampu yang berada di lantai bawah.
Hanafi dan Insha pun terlelap dalam dekapan malam dengan suara deburan ombak yang masih terdengar sayup-sayup di luar sana.
Tepat jam 3 pagi..
Insha sudah menggeliat di bawah selimutnya, ia menoleh ke arah Hanafi yang masih terlelap menghadapnya.
hmmm..kenapa ada manusia yang sangat sempurna sepertimu sih...aku jadi semakin jatuh hati...
hihihi....sayang..sayang..sayang...cukup manis dan menggelikan juga kalau di dengar...
Di tengah suara hatinya yang terus meracau kemana-mana, mengagumi seseorang yang kini ada tepat berada di hadapannya. Tiba-tiba Insha teringat pada kejadian tadi malam.
test kehamilan..oh ya dimana ya mas han menaruhnya...
Insha pun seketika beranjak dari tempat tidurnya, meninggalkan Hanafi yang masih terlelap dalam selimutnya.
Insha memandang ke segala arah di kamarnya, mencari-cari paperbag kecil yang semalam di bawa Hanafi masuk ke dalam kamarnya, paperbag kecil yang berisikan banyak alat test kehamilan di dalamnya.
Akhirnya dia menemukannya tepat di samping tempat tidur. Di bukanya paperbag berwarna putih, ada sebuah logo kesehatan di bagian tengahnya, sepertinya menandakan nama toko tempat membelinya.
Terlihat banyak sekali alat test kehamilan disana, yang tentu saja berbeda merek dari yang Insha tau, karna ini sudah beda negara.
Setelah di teliti oleh Insha setiap merek terdapat 3 buah alat kehamilan yang sama, dan ntah berapa macam merek yang ada di dalamnya.
Insha pun mengambil salah satunya, menaruh lagi paperbag di tempat dia menemukan tadi, lalu membaca cara-cara memakainya dengan seksama sambil berjalan ke kamar mandi.
__ADS_1
Tentu saja karna Insha pun sama sekali tak pernah memakainya bahkan memegangnya pun baru pertama kali ini.
Di dalam kamar mandi Insha membuka kemasan alat test tersebut, tangannya terlihat gemetar memegangnya, perlahan ia masukkan alat itu ke dalam urin yang sudah di tampungnya.
setelah beberapa detik ia melihat hanya ada 1 garis merah disana, Insha membaca lagi secarik kertas yang tertempel di kemasan yang dibuka tadi.
Hmm..butuh waktu sekitar 3 menit ya untuk mengetahui hasilnya..baiklah..aku akan menunggu..
Insha pun membuka bajunya lalu membasuh tubuhnya dengan air, ia membersihkan diri sebelum melakukan sholat, juga menghilangkan rasa kantuk yang kadang masih tersisa meski sudah tertidur lelap semalaman.
Di sela-sela Insha mandi, ia bolak-balik melihat alat test kehamilan itu, tak sabar untuk melihat hasil yang sebenarnya.
Tetapi beberapa kali di amati olehnya alat itu tetap menunjukkan 1 garis saja.
"Bukankah ini sudah lebih dari 3 menit ya.."
berguman pelan pada diri sendiri.
Fikirannya teringat pada kata-kata Hanafi tadi malam.
"Tak apa sayang...aku takut kalau-kalau nanti ada alat yang rusak saat kau memakainya.."
kata-kata itu tiba-tiba terngiang begitu saja di telinga Insha.
Akhirnya Insha segera menyelesaikan ritual mandinya, dengan rambut yang masih basah kuyub ia membalut tubuhnya dengan handuk lalu segera berlari kecil keluar kamar mandi.
Mengambil alat test kehamilan dengan 3 merek yang terbeda lalu membawanya lagi ke kamar mandi.
Insha mengulangi lagi cara yang sama seperti tadi pada ketiga alat tersebut. Sambil mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk dia menunggu selama beberapa menit lagi untuk melihat hasilnya. Karna ia membaca setiap merek alat test mempunyai waktu yang berbeda untuk mengetahui hasilnya.
5 menit...10 menit..
Insha melihat dan menerawang alat test itu di bawah pantulan cahaya lampu yang terang, tapi tak terlihat sama sekali garis kedua yang tergambar, semua menunjukkan hasil yang sama yaitu garis satu atau negatif.
Insha pun menyerah lalu meninggalkan alat itu begitu saja di sana, dan segera melaksanakan sholat shubuh sebelum Hanafi bangun.
Tak seperti biasa Insha tak membangunkan Hanafi pagi itu, ia keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah menuju dapur menghangatkan dua gelas susu. Insha menaruh satu gelas di kamar di meja sebelah Hanafi yang masih terlelap, dan satu gelas lagi ia minum dengan bersandar di sofa.
Insha tak mau membangunkan Hanafi karna ia sudah merasa membuat Hanafi kecewa, ia tak mau melihat wajah suaminya sedih sepagi ini.
Insha menatap kosong ke arah pintu kaca di depannya, membayangkan Hanafi dan ia berlarian mengejar seorang anak kecil, tertawa bersama. Tergambar jelas sebuah keluarga bahagia di fikirannya dengan hadirnya buah hati.
Senyumnya tampak merekah sambil meneguk susu di tangannya, sekelebat ingatan alat test kehamilan muncul dengan hasil negatif, seketika itu juga senyumnya menghilang, berganti dengan wajah sedih.
betapa bodohnya aku...kenapa aku membuat mas han berharap terlalu dalam dengan mengatakan aku telat datang bulan..dan sekarang lihat apa yang terjadi...hasilnya jauh dari yang di inginkan..maafkan aku mas han..aku telah mengecewakanmu....
Tak terasa air mata mengalir begitu saja di kedua pipinya...
Bersambung...
__ADS_1