2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Musim 2 Awal baru kehidupan Insha


__ADS_3

Insha menjalani hari-harinya dengan ceria, ia bebas kemana pun dan bertemu dengan siapa pun.Hanya dalam waktu 2 minggu semenjak dia pindah ke rumah sewaannya itu, ia telah mengenal dengan baik orang-orang dan tetangga yang ada di sekitar rumahnya.


Sifatnya yang ceria dan ramah mampu membuat siapa saja mudah dekat dengannya.


Parasnya yang cantik juga membuat banyak pemuda mendekat kepadanya, tapi Insha tak serta merta menerima setiap ajakan pemuda-pemuda itu.


Walau hanya sekedar mengobrol, menemani jalan-jalan di desa itu, atau bahkan mengajaknya untuk keluar dan makan.


Insha selalu menolaknya dengan berbagai macam alasan. Karna masih sulit juga untuknya mengenal lelaki di dekatnya.


Ia lebih memilih untuk berjalan-jalan sendiri ataupun dengan anak-anak kecil yang suka bermain di halaman rumahnya, atau dengan gadis-gadis desa untuk sekedar menghibur rasa bosannya di rumah.


Beberapa hari ini Insha merajut sebuah topi kecil berwarna hitam dan putih dari benang wol. Sebuah ilmu baru yang ia dapatkan dari gadis-gadis desa yang ia temuinya.


Topi berbentuk bulat kecil dengan sedikit bergelombang di bagian tepinya. Juga bertuliskan di bagian depan topi itu sebuah inisial "K".


" Topi ini mungkin bagus untuk Khanza.."


tanpa ia sadari, Insha memberikan perhatiannya pada Khanza, ia slalu berfikir Khanza hanyalah seorang bayi dan dia tak tau apa-apa tentang semua ini. Itu yang membuat hati Insha perlahan terbuka untuk Khanza.


2 hari yang lalu bahkan Insha membeli sepatu lucu untuk Khanza yang di temuinya di sebuah toko di salah satu gang di dekat rumahnya. Ia merasa membenci Khanza adalah sebuah kesalahan, mengingat ia hanyalah sosok mahkluk mungil yang tercipta karna ketidak sengajaan orang-orang di sekitarnya. Dan mungkin juga sudah takdir Tuhan yang menghadirkan bayi mungil Khanza dalam kehidupan ini.


Tapi Insha tak berniat untuk kesana, ke rumah utama yang tentu akan bertemu dengan Hanafi mantan suaminya. Ntah kenapa ia hanya membeli dan merajut topi itu untuk Khanza tapi tak berniat untuk memberikannya.


Insha menggantungkan topi itu di udara, topi yang baru saja selesai ia kerjakan. Insha memandang topi itu lekat-lekat.


"Lucu sekali...sepertinya aku ingin membuatnya lagi..."


"Ya benar lucu...kau sangat pintar membuatnya Insha..."


Suara Prass tiba-tiba saja memenuhi ruangan itu. Insha sengaja duduk di ruang tamu, ia membiarkan pintu terbuka agar udara sejuk dari luar bisa masuk dan di hirupnya secara langsung.


Insha terkaget dengan suara itu dan hampir saja menjatuhkan topi yang ia pegang.


"Astaga....kenapa dengan kau ini kak...selalu saja muncul tiba-tiba..seperti hantu saja...


dan ya dimana mobilmu...aku sama sekali tak mendengarnya..."


"Hahaha...aku suka sekali expresi kagetmu...terlihat sangat lucu...."


Prass berjalan menghampiri Insha yang masih duduk di tempatnya, lalu menyahut topi yang Insha pegang dan mengangkatnya tinggi-tinggi.


"Apaa ini....topi..kecil sekali...kau berbakat juga ya rupanya...eehh...K....siapa K...."


Prass terlihat mengeryitkan dahinya berfikir nama siapa yang di awali dengan huruf K.


"Khanza....apakah topi ini untuk Khanza.."


Prass sekarang menatap serius Insha.


"Heemmm...itu untuk Khanza..."


jawab Insha sekenanya, ia kini membereskan sisa benang wol dan juga alat rajut yang ada di pangkuannya, ia menaruhnya dengan rapi di sebuah kotak di atas meja.


"Apa kau berniat untuk kesana..."


"Sama sekali tidak kak...ya tepatnya aku hanya ingin membuatnya saja....siapa yang mau pergi kesana..."


jawab Insha dengan tatapan sinisnya.


"Hehe...aku kira kau sudah mulai rindu dengan mantan suamimu itu..."


Prass berusaha tertawa ringan, jujur saja ia khawatir dengan apa yang di katakannya barusan. Bahwa Insha rindu pada Hanafi dan mulai ingin menemuinya lagi.


"Sudah gila ya...."

__ADS_1


Insha berdiri, ingin berjalan ke arah dapur yang masih terlihat dari ruang tamu itu.


Rumah yang Insha tempati bergaya modern minimalis, tidak terlalu besar hanya terdiri dari ruang tamu, dapur, kamar mandi, dan satu kamar. Tentunya rumah yang sudah cukup luas untuk di tempati satu orang saja.


Prass mengekor di belakang Insha, menuju ke arah dapur juga, ia melemparkan topi mungil itu sembarangan di atas sofa.


"Insha..."


"Hemm....kakak Ingin minum apa...teh atau kopi.."


"Terserah kau saja...tapi apa kau tak ingin bertanya apa yang aku bawa ini Insha..."


Prass menenteng sebuah kantong putih di depan wajahnya, menggoyang-goyangkan sedikit kantong itu.


"Hemm..apa itu..."


Jawab Insha yang sudah mulai menuangkan air panas dalam gelas, sambil melirik kantong yang di bawa Prass.


"Ayam goreng kering..."


"Benarkahh.."


Insha langsung mengalihkan pandanganny melihat Prass dengan wajah berbinarnya.


"Iya tentu saja..apa kau sudah makan..."


"Sudah kak..tapi mendengar ayam goreng sepertinya aku mulai lapar lagi..."


Insha mencoba menutupi rasa senangnya dengan mengaduk segelas teh di depannya.


"Kalau begitu ini ambil dan makanlah...aku khusus membuatkannya untukmu...dan ya..kau goreng lagi terlebih dulu sebelum memakannya ya agar rasanya tetap enak...."


"Waahh...kak Prass yang membuatnya sendiri....sungguh...kak Prass bisa memasak..."


"Ini teh nya kak..."


"Hemm...terimakasih...teh buatanmu selalu enak..."


"Hemm...semua teh sama saja kali kak...kakak belum menjawab apa kak Prass bisa masak.."


"Aku serius In...ya tentu saja....memang siapa yang akan memasakkanku setiap hari selama 2 tahun di kairo....aku bahkan belum mempunyai istri....kau lupa tentang fakta itu..."


Prass menaruh kantong itu di dapur, tepat di samping Insha membuat teh tadi, lalu berjalan mengikuti Insha lagi ke arah ruang tamu.


"ya...ya...ya...aku tau...kita kan jomblo ya sekarang...hahaha.."


jawab Insha sambil meletakkan segelas teh itu di meja ruang tamu.


ya....mungkin akan menjadi sepasang kekasih setelah ini....jika dia mau menerimaku sih..


gumam Prass dalam hati.


"Loh kak Prass tadi kesini bawa sepeda...."


Insha melihat keluar dan melihat sebuah sepeda motor dengan model sepeda Pria yang cukup besar dan tinggi, membuat siapa saja yang menaikinya terlihat gagah, apalagi perawakan Prass yang tinggi dan tampan dengan badan besarnya membuatnya sangat cocok dengan sepeda itu.


"Heemm...ya aku bawa sepeda....aku pikir sulit membawa mobil dengan medan seperti jalan kampungmu ini...lebih mudah memakai sepeda...Makanlah In...cobalah pasti enak...aku khusus membuatnya untukmu..."


Prass mengambil segelas teh itu lalu keluar dan duduk di teras.


"Tentu aku akan mencobanya kak..."


jawab Insha sedikit berteriak, karna Prass yang sudah ada di teras rumah.


Setelah hari itu, saat Prass sudah mengetahui bahwa Insha bercerai dengan Hanafi. Prass sering mengunjungi Insha disana, Prass yang mencukupi segala kebutuhannya. Ia kadang berkunjung dengan membawa beberapa kantong berbagai macam kebutuhan Insha.

__ADS_1


Dan itu juga yang slalu Prass lakukan, meminum teh atau pun kopi di teras rumah Insha. Ia tak mau timbul fitnah nantinya, kalau pun mereka mengobrol pasti Prass akan mengajak Insha keluar. Mengingat Insha dengan statusnya, juga karna tak ada siapapun di rumahnya.


Insha telah memakan separuh dari ayam goreng yang Prass bawa. Kemudian dia menghampiri Prass di teras dan duduk cukup jauh darinya.


"Enak sekali kak ayam goreng buatanmu..."


Insha berkata dengan senyuman yang merekah.


"Tentu saja...aku khusus membuatkannya untukmu..."


jawab Prass sambil tersenyum manis pada Insha.


"Hehe terimakasih ya kak..."


Prass tak menjawab ia diam sebentar, terlihat memikirkan sesuatu.


"Insha..."


"hemm...ada apa kak.."


"Apa kau berniat untuk memberikan topi itu pada Khanza..."


tanya Prass yang mulai serius menatap Insha.


"Ya...lebih tepatnya hanya sekedar niat...aku tak mau kesana lagi..memangnya kenapa..."


"Aku bisa membantumu...memberikannya langsung pada Khanza..."


Insha nampak terdiam, menatap Prass dengan penuh pertanyaan.


"Apa kak Prass akan kesana..."


"Ya...aku akan kesana dan membawa topi itu untuk Khanza..."


tak dapat di pungkiri Insha sangat senang kala itu, ia bisa memberikannya pada Khanza yang hanya sebuah angan-angannya, meski tak secara langsung, paling tidak topi itu sampai padanya.


"Bawa kemari...aku akan membawanya..."


Insha tak menjawab ia langsung mengambilnya, juga sepatu kecil yang telah ia beli 2 hari lalu, Insha memasukkan keduanya ke dalam sebuah paperbag kecil, lalu segera menyerahkannya pada Prass.


"Apa kak Prass akan kesana sekarang.."


"Tentu...aku akan kesana dulu ...lalu baru pulang ke rumahku..."


"Maaf ya kak...aku merepotkanmu...sampaikan salamku pada Khanza ya..."


apa yang tidak buat orang yang aku cintai ini...


gumam Prass dalam hati.


Itulah juga yang selalu di lakukan Prass ia tak pernah berlama-lama disana mengunjungi Insha, ia hanya sekedar mengantarkan beberapa kebutuhannya dan memastikan Insha baik-baik saja. Setelah itu Prass segera pulang. Meski jarak yang ia tempuh cukup jauh menuju rumah Insha, tapi ia rela bolak-balik mengunjungi Insha disana, hanya sekedar untuk melihat wajah cantik wanita yang di pujanya sekarang.


Prass meletakkan gelas yang sudah kandas itu di atas meja teras, lalu meraih paperbag yang di berikan Insha.


"Baiklah..aku pergi dulu ya...jaga dirimu baik-baik....aku akan kesini lagi esok hari...hmm..apakah ada yang ingin kau makan lagi...atau ada yang kau butuhkan mungkin..."


"Tidak kak Prass semua yang kakak beri sudah terlalu banyak...bahkan mungkin akan cukup untuk satu minggu ke depan...terimakasih ya kakak slalu membantuku...terimakasih juga untuk ayam goreng itu..."


Insha berkata pada Prass sambil tersenyum manis.


"Bukankah itu sudah menjadi tugas seorang kakak...ya sudah jaga dirimu baik-baik ya..."


Prass pun sedikit diam di tempatnya terpaku pada senyum manis Insha, sebelum ia sadar lalu melenggang pergi menaiki sepedanya. Ia pun melambaikan tangan pada Insha sebagai tanda perpisahan, dan sepeda pun hilang dari pandangan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2