
Hanafi melepas kepergian pak Sun dengan berat hati. Hanafi sebenarnya ingin menempatkan makam pak Sun di samping makam kedua orang tuanya. Agar Hanafi lebih mudah untuk mengunjunginya.
Tapi Hanafi tak berdaya ketika pak Sun sendiri yang sempat mengatakan pada sang istri sebelum kepergiannya, ia ingin di makamkan dekat dengan villa yang sekarang di tinggalinya.
Pak Sun berfikir dengan begitu ia tetap bisa berdekatan dengan istri tercintanya yang usianya juga mulai menua.
Selesai pemakaman pak Sun yang cukup di hadiri oleh banyak orang, karna pak Sun memang cukup terkenal di kalangan para pebisnis negara. Kepribadiannya yang di kenal tegas dan disiplin, ramah dan juga baik mampu membuatnya mempunyai banyak teman di dunia bisnis.
Tak heran banyak yang mengantar kepergiannya di tempat peristirahatan yang terakhir, sebagai bentuk penghormatan kepada pak Sun.
Hanafi pun memilih untuk pulang ke rumah utama setelah berbagai acara pemakaman itu selesai. Kriss yang slalu mengantarkan dan menemani tuan muda akhir-akhir ini, merasa sangat sedih dengan segala yang menimpa tuan mudanya.
Kriss duduk di belakang kemudi, mencoba melihat di spion tengah mobil, memandang pada Hanafi yang berada di kursi belakang.
Hanafi tampak bersandar di kursi sambil memejamkan mata.
Tiba-tiba saja Hanafi berbicara pada Kriss.
"Katakan padaku Kriss...apa lagi alasanku untuk tetap hidup...aku sudah tak kuat dengan semua ini...hidupku sudah terasa hancur...semua karna kesalahanku sendiri..."
Kriss terdiam sejenak menunggu tuan mudanya benar-benar menyelesaikan kalimatnya.
"Nona Khanza tuan....dia sangat membutuhkan tuan di sampingnya..."
"Kau benarr Kriss...Khanza adalah satu-satunya alasanku untuk tetap menjalani hidup ini..."
Hanafi menghela nafas panjang sebelum meneruskan kalimatnya.
"Dan Insha...apa kau sudah menemukan dimana dia Kriss..."
"Menurut informasi yang saya peroleh..bisnis pakaian rajut yang sedang menjadi trend di kota adalah milik nona Insha tuan..."
"Benarkah...."
mata Hanafi berbinar senang
"Bukankah itu bisnis yang cukup meledak di pasaran sekarang Kriss.."
"Benar tuan...bahkan hasil penjualannya mencapai jumlah terbanyak bulan ini dari pada model pakaian yang lain..."
"Dia benar-benar wanita yang mandiri bukan Kriss...tapi apakah dia mau memberikan kesempatan padaku lagi ...mengingat aku tak lagi sekaya dulu...."
__ADS_1
Seketika Hanafi menatap punggung Kriss yang masih fokus menyetir dengan sedih.
"Nona Insha adalah wanita yang baik hati tuan....saya yakin pasti nona Insha bisa memaafkan tuan...bukankah nona Insha juga tak pernah mempertanyakan harta tuan...saya rasa itu juga bukan masalah besar untuknya..."
Kriss mencoba meyakinkan Hanafi, ia berusaha menghibur tuan mudanya. Tapi jujur dalam hati kecilnya Kriss pun tak tau apakah Insha bisa kembali lagi dalam pelukan Hanafi, mengingat semua yang sudah terjadi.
"Kau benar Kriss...Insha memang wanita yang baik..."
Hanafi pun kembali tersenyum tipis pandangannya mengarah ke depan, ntah apa yang sedang terbayang dalam fikirannya, Hanafi terlihat tersenyum dan tersenyum.
Maafkan saya tuan...tapi dari informasi yang saya dengar bahwa nona Insha tinggal di lingkungan pondok pesantren milik orang tua tuan Prass...bukan tak mungkin lagi jika nona Insha dan tuan Prass semakin dekat...apalagi tuan Prass sepertinya memiliki perasaan untuk nona Insha....semoga saja...masih ada cinta nona Insha untuk tuan muda...aku benar-benar tak tega melihatnya dengan kondisinya yang sekarang....
Gumam hati Kriss sambil sesekali menatap tuannya yang tersenyum dengan pandangan yang kosong ke depan.
"Kriss..."
"Ya tuan..."
"Apa kau tau dimana Insha tinggal sekarang..."
Kriss terdiam, ia ingin menjawab bahwa ia tau dimana Insha sekarang. Tapi jika dia mengatakan itu tentu Hanafi pasti akan mengajaknya menemui Insha. Dan Kriss tau apa yang terjadi selanjutnya, pasti tuannya akan semakin terluka jika mengetahui Insha tinggal di pondok pesantren milik orangtua Prass, dan mengetahui kedekatan mereka berdua.
Kriss pun memilih untuk menyembunyikan semuanya, ia tak ingin Hanafi semakin terluka. Hanafi baru saja kehilangan pak Sun yang tentu menjadi sebuah kesedihan yang mendalam di hidupnya, Kriss tak mau menambah beban fikiran Hanafi lagi dengan mengetahui semua fakta tentang Insha. Karna Kriss tau benar bagaimana perasaan Hanafi pada Insha yang tak pernah berubah.
jawab Kriss mencoba menyembunyikan semua dari Hanafi, ia memberikan sedikit harapan untuk Hanafi.
"Baiklah Kriss itu juga ide yang bagus...segera kabari aku jika kau sudah menemukan keberadaannya...."
Setelah percakapan itu Kriss dan Hanafi pun terdiam, sampai mobil tiba di halaman rumah utama. Kriss memarkir mobil di tempat biasanya, ia tak langsung pulang karna akan mengambil beberapa berkas pekerjaan yang harus ia selesaikan.
Mereka pun masuk ke dalam rumah utama, sedikit berbincang perihal pekerjaan yang akan mereka jalani besok. Pembicaraan tiba-tiba terpotong saat pak Tono masuk dan memberikan satu amplop coklat kepada Hanafi.
"Tuan maaf menggangu...tapi ini ada sebuah paket untuk tuan ..."
pak Tono menyodorkan amplop itu pada Hanafi dan langsung di terimanya.
"Siapa pengirimnya pak..."
tanya Hanafi sambil menerima amplop itu.
"Kurir tidak mengatakan apapun tuan...tapi di amplop tertera nama Prasetyo..."
__ADS_1
jawab pak Tono dengan polosnya.
"Prass...."
Hanafi memandang pak Tono dengan sedikit tatapan tajam, ketika mengingat nama Prass lagi ntah kenapa hati Hanafi slalu saja dipenuhi dengan amarah. Terakhir kali dia melihat Prass juga ketika ia mengunjungi Insha, dan Prass terlihat dekat dengannya, yang membuat hati Hanafi terbakar cemburu saat itu.
Mendengar kata Prass, Kriss menatap amplop yang di pegang Hanafi dengan tajam. Ia penasaran apa isi dari amplop itu, hatinya seperti merasa ada sesuatu yang akan terjadi.
tuan Prass...kenapa tiba-tiba mengirimkan sesuatu untuk tuan Hanafi....bahkan setelah sekian lama tak menampakkan diri....tuan Prass juga tak memiliki kerja sama apapun dengan Wijaya group...semoga amplop itu bukan suatu hal yang menimbulkan masalah baru untuk tuan muda....
Gumam Kriss yang mulai merasa cemas dengan isi amplop itu.
Hanafi pun dengan posisi berdiri segera membuka isi amplop coklat itu, Ia mengeluarkan isinya dan ternyata adalah sebuah undangan resepsi pernikahan.
"Undangan pernikahan...."
kata Hanafi sambil memandangi undangan di tangannya.
"Haha...aku salah sangka ternyata Prass mencintai wanita lain..."
ntah apa yang ada dalam fikiran Hanafi, kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya, sambil terus membuka undangan itu dan membacanya. Raut wajah yang semula tertawa ringan seketika menghilang dari wajah Hanafi. Berubah menjadi expresi terkejut, Hanafi bahkan membelalakan matanya ketika melihat tulisan nama mempelai wanita dalam undangan tersebut.
"Ii...in..Inshaa...."
Hanafi membaca sambil terbata.
Kriss dan pak Tono yang ada di dalam satu ruangan yang sama pun juga sangat terkejut dengan apa yang di pegang Hanafi. Apalagi mereka sama-sama mengetahui betapa Hanafi sangat mencintai Insha dan menginginkannya kembali ke rumah ini.
Kriss dan pak Tono saling memandang dalam keterkejutannya, bahkan Kriss sampai berdiri mendekati Hanafi dan membaca sendiri undangan itu.
Kriss mengambil undangan dari tangan Hanafi yang sudah mulai melemas, dan ia membacanya, memang benar bahwa nama Insha dan Prass tertera sebagai sepasang pengantin.
Kriss melempar undangan itu bersamaan dengan jatuhnya Hanafi ke lantai, tubuhnya seakan tak kuat lagi menopang berat badannya.
Baru saja Hanafi berhenti menangis karna kepergian Pak Sun tapi sekarang matanya di paksa lagi untuk mengeluarkan air mata untuk kesedihannya yang bahkan lebih pilu dari sebelumnya.
Ya...karna wanita yang sangat ia cintai akan melangsungkan pernikahan dan melabuhkan cintanya pada orang lain. Dan itu adalah sebuah hal yang sangat di takutkan oleh Hanafi sejak perceraiannya. Dia selalu berusaha mencari dan melakukan banyak hal untuk merebut hati Insha kembali, dan mencegah Insha untuk mencintai pria lain selain dirinya.
Tapi apa yang di takutkan Hanafi ternyata terjadi sekarang, dan Hanafi pun benar-benar tersadar bahwa memang sudah tidak ada lagi cinta Insha untuknya, tidak ada lagi kesempatan kedua untuknya dan tidak akan ada lagi kebahaagiaan dalam hidupnya.
Tubuh Hanafi kembali meringkuk di samping sofa ia menangis sejadi-jadinya disana. Dan Kriss berada di sampingnya memeluk tuannya dan mengelus lembut pundaknya, Kriss juga menitikkan air mata seakan juga merasakan rasa sakit yang di rasakan tuannya.
__ADS_1
Bersambung....