2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Sehari bersama Salma


__ADS_3

Tepat jam 3 pagi seperti biasanya Insha sudah terbangun, ntah kenapa pagi ini dia terlihat sangat bersemangat.


Ia ingin menepati janjinya untuk menemani Salma jalan-jalan kemana pun itu, ia ingin seharian ini ia habiskan dengan kakaknya.


Insha semalam sudah meminta ijin kepada Hanafi untuk pergi keluar bersama Salma hari ini, sedikit bersenang-senang dengan uang belanja yang sudah di berikan Hanafi tiap bulan.


Kebetulan Hanafi juga akan melakukan kunjungan di kantor anak cabang di kota B, sepertinya dia juga akan pulang terlambat hari ini.


Insha meraih ponselnya, dan mengetikkan pesan singkat untuk Salma.


'Kak..bersiaplah...aku akan menjemputmu jam 8 pagi...kita akan bersenang-senang hari ini..'


Setelah di pastikan pesan terkirim, Insha pun menggeletakkan ponsel itu begitu saja di tempat tidur, lalu segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Hanafi pun telah berangkat bekerja, jam sudah menunjukkan pukul 07:30.


Seperti biasa Insha melambaikan tangannya sampai mobil tak terlihat lagi dari pandangan, sambil mengedarkan senyum manis yang tiada habisnya.


Setelah itu Insha pun masuk ke dalam kamar segera bersiap diri, setelah mandi tadi dia mengirimkan pesan lagi kepada kakaknya, ia ingin Salma memakai dress yang sama yang sudah di berikan Hanafi untuknya. Salma pun mengirim pesan balasan mengiyakan untuk semua yang telah Insha minta.


Insha pun berpamitan pada ketiga pembantunya untuk pergi dan berkata mungkin akan pulang malam hari ini, dia ingin ke rumah kakaknya di desa.


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang di jalanan desa, Insha sudah sangat handal memacu mobilnya di segala medan, seperti jalan-jalan sempit dan berlubang seperti sekarang.


Mobil pun sampai di ujung jalan di depan kediaman Salma, dari dalam mobilnya Insha melihat Salma yang sedang mengunci pintu dan berjalan ke arahnya, menggunakan dress dengan model sama sepertinya.


Insha membuka pintu mobil di sampingnya dari dalam.


"Hay kak...ayo masuk..waah kau cantik sekali memakai dress ini.."


"Hay Insha..kau juga terlihat sangat cantik..wah benar ya modelnya sama.."


Salma terlihat memandangi dress yang di kenakan Insha dan yang di kenakannya bergantian.


"Iya kak..hanya warnanya saja yang beda...ayo cepat masuk...kita mau kemana dulu hari ini..."


"Terserah kau saja Insha...aku ikut kau saja.."


*


Untuk sedekar Informasi ya, dress yang di kenakan mereka adalah jenis dress simple tapi elegan, yang membuatnya cocok untuk di pakai kemana pun, bukan hanya di pakai untuk ke pesta atau acara mewah saja.


"Hmm..kalau kakak Ingin kemana..."


Insha sudah melajukan mobilnya, sambil sesekali memandangi Salma.


"Sepertinya aku kangen Ingin makan jajanan pinggir jalan Insha..."


"Oke...baiklah...ayo kita cari jajanan yang enak..."


Mobil pun sudah memasuki jalanan kota dengan kendaraan yang cukup ramai namun tetap lancar.


Insha dan Salma tampak memilih-milih jajanan pinggir jalan yang mereka inginkan.

__ADS_1


Di dalam perjalanan itu Salma juga tak henti-hentinya memuji ketangkasan tangan Insha dalam memegang kemudi mobilnya, dia kagum dengan kemampuan Insha yang sekarang.


Mereka pun menemukan sebuah jajanan yang cukup mereka rindukan mengingat masa dulu bersama ayahnya. Insha pun menepikan mobilnya di sebuah tempat parkir di dekat taman yang sudah tersedia.


Mereka pun membeli jajanan itu dan memakannya di taman sambil berbincang-bincang, mereka juga terlihat tertawa di beberapa waktu.


Sudah tampak berkali-kali Insha menepikan mobil itu, membeli berbagai jajanan yang mereka sukai, terik matahari pun sama sekali tak mematahkan semangat mereka mencari jajanan dan memakannya di pinggir jalan.


Sampai hari berganti sore, Insha ingin mengajak kakaknya makan di restoran andalan yang sering di kunjunginya dengan Hanafi. Restoran yang menyajikan makanan paling lezat versi Insha sendiri. Ia juga sudah memesan tempat untuknya dan Salma.


Mereka pun sampai di restoran itu, para pelayan tampak memberikan salam hormat mereka kepada Insha dan Salma.


Salah seorang pelayan pun mengantarkan mereka pada meja yang sudah di pesan sebelumnya.


Tak berselang lama, semua hidangan tiba-tiba sudah memenuhi meja makan mereka. Salma sampai tercengang dengan semua hidangan yang ada.


"Insha...kau yang memesannya.."


memandang Insha dengan tatapan heran.


"Tentu saja kak...ini semua makanan terlezat disini...ayo cobalah...kakak pasti suka.."


Insha tersenyum meyakinkan dan sudah memegang garpu dan pisau di tangannya, siap menyantap segala hidangan yang ada.


Salma dan Insha mencicipi satu persatu hidangan yang ada. Mereka terlihat saling menyuapi hidangan berbeda yang mereka makan, berharap agar merasakan juga setiap hidangan yang ada.


Sampai suatu saat Salma terlihat sedikit diam sambil mengunyah makanan nya.


Insha terus memasukkan makanan dalam mulutnya.


"Tak apa Insha..makanlah.."


Pandangan nya terlihat sedikit melamun ke arah makanan yang ada.


"Hey kau kenapa kak...kau baik-baik saja.."


Insha memegang bahu Salma.


"Tak apa Insha sungguh.."


"Kau terlihat sedikit pucat kak.."


Ntah kenapa kepala Salma memang tiba-tiba saja sakit yang luar biasa, ia terlihat sedang berusaha menguasai dirinya supaya tak disadari oleh Insha.


Tetapi Insha lebih sensitif, dia melihat setiap perubahan dari sang kakak yang seharian ini bersamanya.


"Kau tak terlihat baik-baik saja kak..."


Insha mulai terlihat panik, ia berusaha meminta bantuan dari para pelayan disana.


"Insha aku tak apa-apa..ayo kita lanjutkan makannya.."


Sakit kepalanya tiba-tiba sudah berangsur menghilang. Salma terlihat bisa tersenyum ceria lagi seperti sebelumnya.

__ADS_1


Tapi bukan Insha namanya, jika tak perhatian pada semua orang, ia tak mau terjadi sesuatu pada kakaknya yang merupakan keluarga satu-satunya itu. Insha pun memutuskan untuk membawa Salma ke rumah sakit, untuk memeriksakan keadaan nya. Meski Salma menolaknya dengan keras itu sama sekali tak bisa mencegah keinginan adiknya.


Sudah sampai di rumah sakit terbesar di kota itu, rumah sakit berlogokan Wijaya group yang sering di kunjungi Insha setiap bulannya, untuk menjalani program kehamilannya.


Insha pun mereservasi kedatangannya, bukan untuk menemui dokter Vina seperti biasanya, Tapi dia mencari dokter kepercayaan suaminya yaitu dokter Arya.


"Maaf nona muda..tetapi dokter Arya sedang berada di ruang operasi dan mungkin akan baru keluar satu jam lagi..apa mungkin nona ingin saya mencarikan dokter yang lainnya.."


ucap sang resepsionist dengan sangat sopan.


Melihat kakaknya yang bahkan kondisinya sudah lebih baik itu tetap saja Insha sangat khawatir. Insha pun memutuskan untuk memeriksakan Salma pada dokter lain agar segera mengetahui kondisinya.


Langkah kaki keduanya berayun mengikuti seorang perawat yang akan membawa mereka berdua pada sang dokter pengganti benama Rizal.


Dalam setiap langkah itu, Salam masih saja merengek pada Insha mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja dan tak ingin memeriksakan dirinya, tapi Insha terus saja menyeret Salma dengan menggandeng tangannya tanpa bicara apapun.


Selesai melakukan pemeriksaannya, Salma mengatakan apa yang di rasakannya tadi. Dokter pun sempat bingung dengan gejala yang di alami Salma, dia kini bahkan tak menunjukkan rasa sakit dan gejala apapun. Sampai dokter pun meminta Salma menjalani beberapa pemeriksaan untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya.


Salma tampak menolak, tapi Insha yang bersikukuh untuk menyuruhnya memeriksakan keadaannya.


Beberapa sampel pun berhasil di ambil dari tubuh Salma atas paksaan dari Insha tertunya.


Mereka pun menunggu hasilnya beberapa saat setelahnya.


Setelah menunggu cukup lama akhirnya hasilpun keluar, Insha dan Salma memasuki ruangan dokter Rizal untuk mengetahui hasilnya.


Salma dan Insha tampak duduk bersebelahan di depan dokter Rizal yang sedang membuka sebuah amplop coklat hasil dari pemeriksan Salma.


Sekarang Insha yang tampak sangat cemas akan hasilnya, terlihat dari gerak tubuhnya, ia sedikit gusar bergerak kesana kemari, menunggu dokter yang sedang mengamati dengan jeli sebuah kertas di tangannya.


Dengan senyum merekah sang dokter pun menjelaskan, ada setitik kelegaan Insha ketika melihat dokter itu tersenyum, berharap semua baik-baik saja.


"Nona Salma tak perlu khawatir...semua hasil pemeriksaan nona baik-baik saja.."


Salma tampak bernafas lega, begitu juga Insha yang tampak mengembangkan senyumnya lagi.


Dokter pun berkata lagi.


"Ini semua normal terjadi saat kandungan HCG dalam tubuh meningkat..."


Insha masih terlihat bingung dengan kata dokter,


HCG aku seperti sering mendengar istilah itu..apa ya aku lupa..


Dokter itu melanjutkan kalimatnya lagi,


"Karna gejala awal kehamilan setiap orang memang berbeda-beda..."


Mendengar perkataan dokter itu,Insha seketika membulatkan bola matanya, ia menjawab dengan nada suara yang sedikit meninggi.


"Apaa...ke..kehamilan..."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2