
Suatu pagi Insha dan Hanafi mendapat telpon dari rumah utama mengabarkan bahwa baby sister Mirna baru saja jatuh dari tangga dan kakinya terkilir tidak bisa berjalan.
Atas perintah dari Hanafi pak Tono segera membawanya ke rumah sakit agar Mirna segera mendapatkan pengobatan dengan cepat.
Hanafi pun kebingungan karna selama ini Mirna lah yang mengasuh Khanza. Hanafi dan Insha pun selalu di sibukkan dengan berbagai pekerjaannya.
Tidak mungkin juga kalau mereka menyewa jasa baby sister baru untuk Khanza, mengingat sifat Khanza yang tak akan mudah bergaul dengan orang asing yang tak pernah ia temui.
Untuk itu Insha memutuskan untuk mengasuh Khanza selama beberapa hari sampai Mirna di nyatakan sembuh dan dapat berjalan lagi.
Pagi itu pun Khanza di jemput oleh Hanafi ke rumah mewah Insha. Khanza akan tinggal disana selama beberapa hari ke depan.
Khanza yang tak pernah datang ke rumah Insha pun senang, ia bahkan berlarian di dalam rumah yang luas itu. Sempat menyuruh seorang pembantu untuk membantu mengasuh Khanza, tapi Khanza terlihat takut-takut bahkan tak mau mendekat.
Setiap bertemu dengan para pembantu Insha disana Khanza selalu berlindung di belakang Insha maupun Hanafi, ia masih terlihat takut bertemu dengan orang-orang yang tak pernah ia temui.
Tepat di hari itu juga jadwal Insha berkunjung ke area pabriknya, sekedar mengecek segala aktivitas dalam pabrik apakah semua berjalan lancar. Sedangkan Hanafi akan pergi keluar kota menemui klien barunya dan tak dapat di gantikan oleh siapapun, mengingat klien yang satu ini adalah seorang investor terbesar di kota B, Hanafi pun harus menemuinya secara langsung dan tak mungkin juga ia membawa Khanza karna mungkin akan sedikit mengacaukan konsentrasinya nanti dalam bekerja, karna keaktifan Khanza yang senang berlarian kesana-kemari.
Akhirnya Insha pun membawa Khanza untuk ikut pergi ke pabriknya, Insha fikir hanya kunjungan saja dan Khanza tak akan mengganggu sama sekali aktivitasnya.
Benar saja Khanza didalam pabrik hanya banyak terdiam, kadang bertanya pada Insha tentang alat-alat besar yang ada di hadapannya, Tangan Khanza juga selalu menggenggam erat tangan Insha saat berjalan-jalan di area pabrik.
Siang harinya Insha mengajak Khanza untuk memakan sesuatu di restoran. Insha memesankan Khanza 1 porsi ayam goreng lengkap dengan nasi dan saus tomat.
Disana Insha cukup kewalahan menghadapi tingkah laku Khanza yang selalu berlari-lari tak tentu arah, kadang ia memutari meja beberapa kali hanya untuk 1 suap nasi.
Lewat penuturan Mirna memang Khanza sulit untuk makan, setiap hari Mirna harus membujuknya, memberikannya mainan atau apapun yang dapat mengalihkan perhatiannya dan duduk diam, dengan cara itulah Mirna perlahan menyuapinya.
Terkadang Mirna harus main kejar-kejaran dengan Khanza sambil terus menyuapinya, hanya untuk menghabiskan 1 posi makanan.
__ADS_1
Seperti yang di lakukan Insha sekarang, ia harus membawa priring Khanza kemana pun Khanza berlari, sambil memberikan suapan demi suapan padanya.
Insha sendiri belum memakan apapun di siang itu, ia mendahulukan untuk menyuapi Khanza, baru setelahnya ia akan memakan makanannya. 1 jam sudah Insha habiskan hanya untuk menyuapi Khanza, lalu Insha yang sudah sangat lapar segera menyantap makan siangnya, belum juga dapat separuh dari porsinya. Khanza sudah merengek Ingin keluar dari resto itu dan ingin membeli mainan di ruko tepat di depan resto yang di datangi Insha.
Ketika Insha memintanya untuk diam terlebih dahulu memberikan waktu untuknya makan, Khanza malah menangis dan menginginkan segera untuk pergi membeli mainan di tempat yang sudah di tunjuk-tunjuk dengan jari mungilnya itu.
Insha pun hanya memakan sedikit dari porsinya, melihat Khanza yang menangis ia segera menyudahi acara makannya dan segera menemani Khanza pergi ke toko yang di tunjjuknya.
Disana Khanza membeli berbagai mainan, seperti lego, barbie, boneka dan masih banyak lainnya. Insha sengaja membelikannya banyak mainan agar Khanza senang dan lebih banyak bermain, karna Insha masih harus melakukan kunjungan ke beberapa pabriknya.
Hari itu Insha hanya menyelesaikan 2 kunjungan saja, sebenarnya total kunjungan yang harus di lakukan hari ini ada 6 pabrik. Tapi Insha yang kewalahan dengan sikap Khanza, membuatnya mengurungkan niatannya untuk melakukan kunjungan lagi, dan memulainya lagi esok hari.
Malam itu Hanafi belum pulang, Insha masih di sibukkan dengan menemani Khanza bermain hingga hampir larut malam Khanza bahkan belum menunjukkan rasa kantuknya. Membuat Insha yang sudah lelah memaksakan dirinya untuk terus menemani Khanza sampai ia tertidur.
Di jam 11 malam Khanza baru bisa tertidur, ketika Insha berinisiatif untuk memberi Khanza segelas susu dan membacakannya sebuah dongeng sebelum tidur, dari itulah Khanza pun akhirnya bisa terlelap di kamar Insha.
Hanafi membuka pintu kamar dan mendapati banyak mainan berantakan di bawah lantai, juga Khanza yang sedang tertidur di tengah tempat tidurnya, sedangkan Insha berada di sampingnya masih terjaga dengan mata yang sedikit tertutup karna rasa kantuk dan lelah yang di rasakannya.
Hanafi mengecup kening Insha dan mengusap-usap lembut beberapa kali puncak kepalanya.
"Kenapa kau belum tertidur..."
"hmm..baru saja aku mau tertidur dan kau datang sayang....Khanza baru saja tertidur..."
jawab Insha sekenanya sambil mencoba membuka matanya yang sudah sangat berat.
"Dia baru tertidur selarut ini..."
"Ya...aku sudah berkali-kali membujuknya untuk tidur... tapi dia masih asyik dengan mainannya..."
__ADS_1
"Maafkan aku sayang...aku merepotkanmu dengan membawa Khanza kesini..."
Hanafi duduk di samping Insha dengan wajah penyesalannya, memandang Insha dengan penuh rasa bersalah.
"Tak apa sayang mau bagaimana lagi...aku cukup menikmati kegiatan baruku ini...."
jawab Insha sambil meringis tipis.
"Besok aku akan menyewa jasa baby sister sayang...agar kau tak sampai seperti ini...kau terlihat sangat lelah..."
"Khanza tak akan semudah itu mau dengan orang yang belum pernah di temuinya sayang...kau tau sendiri sifat Khanza yang satu ini...bahkan dia saja belum akrab dengan para pembantu disini..."
"Kau memang benar sayang...tapi bagaimana nanti denganmu...kau bisa kelelahan...besok aku masih harus berangkat ke kota A untuk meresmikan anak cabang baru disana..."
"Tak apa sayang...aku akan mengajak Khanza lagi besok...tenanglah...bukankah ini hanya beberapa hari saja..."
"Kau akan kemana besok...."
"Aku masih harus melakukan kunjungan ke 4 pabrikku yang lain sayang...hari ini aku hanya bisa mengunjungi 2 pabrik saja...karna Khanza yang terus merengek meminta pulang padaku...aku tak bisa meneruskan perjalanan menuju pabrik-pabrik yang lainnya...dan besok aku akan memulainya lagi...."
"Maafkan aku sayang...sungguh maafkan aku...aku akan membawanya bekerja setelah aku selesai meresmikan kantor cabang besok...agar kau dapat melakukan pekerjaanmu lagi tanpa terganggu....tapi untuk besok maafkan aku....aku masih harus keluar kota lagi ta mungkin aku membawa Khanza karna kau tau kan kota A sangat jauh membutuhkan beberapa jam untuk sampai disana...aku takut nanti Khanza mengajakku untuk pulang sementara berbagai jadwalku di kota A sudah tertata bahkan dengan jam-jamnya yang harus aku tepati....aku..."
Hanafi menghentikan kalimatnya ketika melihat Insha yang ternyata sudah terlelap disampingnya. Hanafi bahkan tak tau sejak kapan Insha mulai terlelap, dan apakah Insha mendengar semua penuturannya tadi.
"Maafkan aku sayang...kau tak pernah terlihat lelah seperti ini...pasti Khanza telah banyak merepotkanmu...pasti kau sangat lelah hari ini...tidurlah...aku mencintaimu..."
Hanafi menyelimuti Insha lalu mencium kedua pipinya. Lalu ia segera membersihkan diri dan ikut terlelap juga di samping Khanza kecilnya.
Bersambung....
__ADS_1