
Hanafi memgambil hasil CT scan di atas meja itu, tertulis jelas sebuah nama Salma Salsabilla.
"Ini punya kakak..."
menatap Salma penuh menyelidik.
"Jelaskan apa yang terjadi Ar..cepat.."
menatap Arya dengan tatapan tajamnya, agar ia segera menjawab pertanyaannya.
Arya menatap Salma ragu, Hanafi yang mengetahui tatapan itu segera berkalimat lagi.
"Cepat katakan atau mulai besok kau akan aku libur tugaskan dari rumah sakit ini.."
ancam Hanafi penuh penekanan.
"Eeh...baiklah..baiklah..tunggu sebentar tuan muda...sabar dulu..."
Arya lalu menatap Salma dengan wajah memelasnya.
"Maafkan aku nona Salma...dia selalu saja mengancam ku...maafkan aku.."
Sementara Salma tak menjawab apa-apa ia hanya diam pasrah ketika dokter Arya mulai menjelaskan semuanya.
"Begini han....nona Salma tadi kemari..dia mengeluh sering sakit kepala beberapa bulan belakangan ini...jika sedang kambuh sakit kepalanya rasanya tak tertahankan...dan bisa tiba-tiba hilang begitu saja...aku sudah melakukan pemeriksaan tapi semua terlihat baik-baik saja tidak ada tanda dan gejala apa pun dalam tubuhnya..."
jelas Arya perlahan pada Hanafi, Arya pun menghela nafas panjang.
"Tidak mungkin tak terjadi apapun...lalu apa hasil CT scan ini..."
tanya Hanafi secepat kilat ketika Arya baru saja selesai dengan kalimatnya hendak menghela nafas.
"Iya...aku akan jelaskan...sabar dulu han...aku akan jelaskan semua..."
"Aku juga penasaran sebenarnya apa yang terjadi...mengingat sakit kepala yang sering muncul tapi tak ada penyakit apapun yang terdeteksi aku memutuskan untuk melakukan CT scan pada nona Salma dan juga MRI untuk mengetahui lebih jelas apa yang terjadi..."
"Dan dari hasil yang di dapat dari pemeriksaan tersebut nona Salma mempunyai sebuah tumor di otak berjenis oligodendroglioma stage 2..jenis ini mengindikasikan tumor berasal dari otak bukan hasil metastase atau persebaran dari organ lain..."
Hanafi terbelalak dengan fakta yang di sebutkan oleh Arya.
"Apa kau tak salah membaca hasilnya...apa itu berbahaya.."
"Tidak han...aku tak salah...berbahaya jika tumor terus berkembang dan membesar disana han..."
"Berikan pengobatan terbaik untuk kak Salma..aku yang akan menanggung semua biayanya...pastikan dia bisa sembuh Ar..."
jawab singkat Hanafi sambil menatap Salma iba.
Salma hanya menghela nafas panjang, Sementara Hanafi dan Arya membicarakan berbagai macam cara pengobatan tumor yang di derita Salma. Dengan cara yang aman dan dapat menyembuhkan dengan persentase kesembuhan yang tinggi.
Salma hanya diam, lalu tiba-tiba mengeluarkan suaranya yang membuat kedua orang itu seketika terdiam.
"Apakah seorang yang mengidap tumor tetap bisa memiliki anak.."
__ADS_1
Salma menatap dokter Arya dengan tatapan yang butuh penjelasan.
"Bisa nona...tapi tentu sangat beresiko ...beresiko terhadap anda...dan juga calon bayinya..."
"Kakak akan sembuh sebelum kekasih kakak pulang...aku bisa pastikan itu...Arya akan segera melakukan pengobatan kalau perlu operasi untuk mengambil tumor itu.."
jawab Hanafi ringan, yang menitik beratkan tanggung jawab besar pada Arya.
"Berapa lama aku bisa bertahan dengan penyakit ini..."
"Apa yang kak Salma katakan...kakak akan segera sembuh..jangan bicara sembarangan..."
jawab Hanafi secepat kilat.
Sementara Salma hanya fokus menatap Arya di depannya, yang menggelengkan kepala sambil berkata.
"Saya tak bisa memastikannya nona itu semua rahasia yang kuasa.."
"Kak percayalah dan yakin bahwa kak Salma akan sembuh...kakak hanya perlu mengikuti setiap pengobatannya.. kemoterapi atau radioterapi yang di jelaskan Arya tadi akan membantu menyembuhkan kakak..."
"Aku ingin mengandung seorang bayi...sebelum aku menyerah dengan penyakit ini..."
kata Salma dengan tatapan kosong.
"Apa yang kak Salma bicarakan...kak Salma akan sembuh...dan menikah dengan kekasih kakak dan akan memiliki seorang anak bersamanya...jangan menyerah dengan keadaan ini...kakak harus yakin untuk bisa sembuh..."
Hanafi berkata penuh keyakinan.
Seakan tak peduli dengan semua kata Hanafi Salma dengan tatapan kosongnya kembali berkalimat.
secepat kilat Hanafi menjawab.
"Ya aku sudah tahu...dan tidak perlu membahas itu...aku sudah ihklas menerima kondisinya..."
Arya pun menunduk, ingat lagi hasil pemeriksaan asli Insha kala itu.
Namun Salma kembali berkalimat,
"Ijinkan aku han..."
seakan mengerti arti tatapan Salma pada Hanafi, Arya dengan cepat menatap Hanafi dan menggelengkan kepalanya.
"Apa maksud kak Salma.."
"Kabulkan satu permintaanku padamu...aku ingin mengandung han... itu adalah sebuah anugrah terbesar untuk seorang wanita bisa melahirkan seorang anak...aku ingin itu sebelum aku tiada..."
"Apa aku perlu menjemput kekasih kakak sekarang...untuk mewujudkan permintaan kakak....aku bisa menjemputnya pulang...hanya katakan dimana dia berada...alamatnya...orang-orangku yang akan kesana..."
"Untuk Insha..."
jawab Salma ringan namun tegas.
"Maksud kakak..."
__ADS_1
Hanafi menatap Salma penuh kebingungan.
"Aku ingin melahirkan bayi untuk Insha...melanjutkan keturunanmu..."
"Tidak....tidak...aku tidak akan melakukan itu...dengan keadaan kakak yang seperti ini...Insha juga pasti tidak akan setuju...terlebih Insha juga tak mengetahui keadaan yang sebenarnya..aku tak ingin dia tau dan bersedih akan semua hal itu..."
"Maka rahasiakan semua darinya han...aku mohon padamu.."
Hanafi terdiam menatap kesegala arah dengan penuh amarah,
"Aku akan antar kakak pulang sekarang.."
Hanafi berkata sambil beranjak meninggalkan ruangan dokter Arya.
"Han tunggu..."
Salma pun setengah berlari mengekor di belakang Hanafi yang sudah cukup jauh berjalan.
Dokter Arya pun hanya bisa terdiam di ruangannya, mendengar semua percakapan yang terjadi disana.
jika kau benar-benar mengabulkan permintaan nona Salma yang satu ini...kau akan menciptakan sebuah perang batin untuk dirimu sendiri han...terlebih dia adalah kakak istrimu...meski nona Salma juga istrimu sekarang...lebih tepatnya istri kontrakmu...
Arya bergumam dalam hati sambil menggaruk-garuk kepala yang bahkan tidak terasa gatal sedikit pun.
Di dalam mobil.
Salma duduk di sebelah Hanafi yang sedang mengemudikan mobilnya.
Cukup lama keheningan terjadi, Salma pun memutuskan untuk berkata sesuatu.
"Aku mohon han...ijinkan aku mengandung keturunan kalian...kau dan Insha..aku mohon..."
"Tidak kak..aku tidak mau membuatmu dalam suatu keadaan yang mengancam nyawa..terlebih kondisi kakak yang sekarang.."
"Aku ingin membalas kebaikan ayah dan ibu...yang telah merawatku sejak dulu...setidaknya buat aku berguna...aku akan membalasnya lewat Insha anak kandungnya...tidak mungkin juga jika kalian akan terus berumah tangga tanpa adanya seorang anak...kau butuh penerus han...juga Insha...kalian butuh seorang anak untuk kelanjutan kehidupan kalian...bukankah kau juga sangat menginginkan hadirnya seorang anak...."
"Aku tak akan memintamu untuk melakukannya padaku han...aku ingat janjimu pada Insha...cukup dengan bayi tabung...benih milikmu dan juga Insha....aku siap mengandungnya...aku siap melahirkannya...baru setelah itu aku bisa tenang menjalani kehidupanku....melihat kalian bahagia...aku mohon..."
Hanafi tak menjawab satu katapun di dalam mobil itu, ia mengantarkan Salma sampai depan rumahnya, lalu pergi begitu saja.
Tapi di dalam perjalanan pulang, ia selalu mendengar kata-kata Salma tadi, ia mulai memikirkan rencana itu, juga memikirkan untuk membicarakannya pada Insha tentang semua hal yang terjadi. Hanafi tak ingin terjadi salah faham disana, apalagi status Salma sekarang adalah istri mudanya. Hanafi tak ingin melukai Insha.
Hari pun telah berganti, hari ini Hanafi tak pergi ke kantor dia malah mengunjungi rumah sakit bersama Salma, menemui dokter Arya disana yang akan menemani rencananya untuk melihat sampel sel telur Insha yang masih tersimpan di rumah sakit setelah melakukan pemeriksaan beberapa minggu sebelumnya.
Dari hasil pemeriksaan, tim medis disana mencoba untuk melihat bisakah sel telur Insha untuk di buahi oleh ****** milik Hanafi.
Cukup sulit untuk menembus sel telur karna ukurannya yang terlalu kecil dari ukuran normal juga cangkang luar yang terlalu keras.
Setelah sel ****** berhasil masuk pun, sel telur tidak dapat membelah diri atau tidak berkembang. Dari 3 sel telur yang di buat percobaan semua menunjukkan hasil yang sama.
Hanafi pun mengurungkan niatnya untuk memberitahu Insha, karna rencananya gagal, itu semua malah akan membuat Insha tersudut dan meratapi takdirnya.
Salma juga telah menjalani beberapa tes kelayakan kandungan untuk mengandung seorang bayi dengan kondisinya. Salma pun yang semula bersemangat dan siap, ia nampak bersedih, apalagi mengetahui keadaan sel telur sang adik yang abnormal itu, Salma pun seakan merasa dirinya juga gagal dalam hidup. Ia tak bisa membantu apapun pada adiknya, semua bayangan bahagia rumah tangga Insha seakan Sirna begitu saja.
__ADS_1
Bersambung...